
Dia hanyalah seorang gadis biasa. Setidaknya dia tidak memiliki bakat, maupun keistimewaan yang didapatkannya sejak lahir. Satu-satunya hal yang dapat dia banggakan adalah usaha dan kerja kerasnya.
Dia pantang menyerah.
Karena kerja kerasnya lah dia dapat mencapai puncak, setidaknya di kelasnya sendiri. Dia menjadi ketua kelas karena nilainya menjadi yang tertinggi dari seluruh murid di kelasnya. Dia juga menjadi anggota komite disiplin setelah mendapatkan rekomendasi dari Pak Alex. Semuanya dia dapatkan dengan kerja keras.
Namun, posisinya mulai terancam. Seorang siswa dari kelasnya mulai menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Siswa tersebut baru saja memecahkan sebuah kasus tepat di depannya. Dia sempat kagum pada saat siswa tersebut memecahkan kasus pencurian di ruang OSIS. Sedikit demi sedikit rasa kagum itu berubah menjadi rasa cemas.
Seandainya siswa tersebut menggunakan seluruh kemampuannya pada ulangan nanti, dia akan kalah. Karena itu, dia merasa harus mencegah hal itu terjadi.
* * *
Seminggu telah berlalu sejak aku menyelesaikan kasus penganiayaan di kelas B.
Hari ini akan diadakan kuis Sastra. Kuis dilaksanakan agar para murid dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi soal yang akan keluar pada saat UAS nanti. Saat tiba di kelas, aku menemukan teman baikku, Maya sedang tertidur di mejanya.
Aku bergumam, "Padahal masih pagi, tapi dia sudah tidur."
Setelah menaruh tas, Aku melangkah cepat menuju Perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi. Gedung perpustakaan terletak di belakang gedung utama, persisnya di samping kantin dan toko es krim. Sehingga aku harus melangkahkan kaki agak jauh.
Setibanya di perpustakaan, suasana damai kian terasa. Rasa sejuk pun datang dari ruangan yang ber-AC. Di setiap rak, buku tersusun rapi, sesuai dengan warna, jenis, dan abjad. Rasanya nyaman melihat kerapihan susunan buku itu. Perpustakaan SMA Rajawali memiliki buku yang cukup banyak dan lengkap. Aku segera menuju rak Sastra, untuk menemukan buku yang kucari. Yaitu buku pedoman Sastra Dasar.
Aku menemukannya, di rak sastra tersisa satu buah buku, buku yang kucari memiliki sampul cantik dan tipis. Kupikir ini cukup untuk materi kuis hari ini. Aku segera menuju bagian peminjaman, untuk mendaftarkan buku tersebut dalam daftar pinjamanku.
Cukup banyak siswa yang mengantri hari ini, sehingga aku harus menunggu beberapa saat sebelum namaku dipanggil.
Akhirnya namaku dipanggil. Sekarang buku tersebut telah ku pinjam. Setelah keluar dari Perpustakaan, aku berniat pergi ke kantin untuk menghabiskan waktuku membaca buku ini.
Kantin sekolah sekarang sedang ramai, sehingga tidak banyak kursi kosong yang tersisa. Aku menemukan satu di sudut ruangan.
Sebelum memesan, aku meninggalkan bukuku di atas meja dan pergi ke bagian pemesanan untuk memesan dua donat untuk pengganjal perut. Ketika aku kembali ke mejaku, Aku mencari buku Sastraku yang tadi sempat ku taruh di atas meja. Namun benda itu telah lenyap tanpa jejak.
Aku harus tenang dan menanyakan hal ini kepada Karyawan yang bertugas, pikirku.
Seorang karyawati melintas di dekat mejaku.
"Ibu Maria, apa kau melihat buku tipis di meja ini."
Sesaat dia menoleh ke arahku. Dia terlihat mengingat sesuatu. "Coba kuingat, sepertinya aku melihat seorang siswi memegang sebuah buku tipis seperti yang kau jelaskan dan pergi keluar."
Aku menyerah. Buku itu telah lenyap.
Aku melihat keluar, dan menemukan Amelia sedang menikmati es krim stik di ambang pintu kantin.
"Mel, apa kau melihat seseorang keluar membawa sebuah buku tipis?"
Dia memalingkan wajahnya. "Tidak tahu, aku baru tiba di sini. Sejak tadi aku berada di kelas."
"Benarkah?"
"Kalau kau tidak percaya, ya sudah. Yang jelas, aku tidak mungkin mencuri bukumu."
Dia pergi dengan tak acuh sambil menjilati es krim di tangannya yang mulai mencair.
Aku mendekatinya perlahan. Dan dengan mengumpulkan keberanian aku berusaha menyentuh punggungnya.
Setelah aku menyentuh punggungnya, dia membalikkan badan. "Hei Aria, apa yang kau lakukan?!" Dia marah.
Hal tersebut membuatku takut. Namun, aku mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Aku harus melawan rasa takutku.
"Amelia, kaulah yang mengambil bukuku."
Itulah kalimat yang kukatakan kepadanya. Untuk beberapa saat kami saling menatap dalam keheningan.
Dia terlihat kesal "Buktinya? Jangan menuduh seseorang tanpa bukti. Kalau tidak aku akan menangkapmu sebagai anggota Komite Disiplin."
Bukankah itu penyalahgunaan kekuasaan?
__ADS_1
Komite Disiplin merupakan badan yang mengurusi masalah keamanan dan kedisiplinan siswa SMA Rajawali. Mereka layaknya polisi. Beberapa anggotanya membantu Kak Virga menyeretku ke ruang OSIS beberapa waktu yang lalu. Kupikir, itu juga termasuk penyalahgunaan kekuasaan bukan?
Tidak. Bukan itu yang harusnya kubahas sekarang.
"Kau berkata baru saja tiba di sini. Padahal es krim yang kau beli sudah mencair. Itu artinya kau sudah lama membelinya, jadi kau ada di sini sejak tadi. Yang kedua, sikapmu jadi terlihat sedikit marah ketika aku bertanya, padahal aku tidak menuduhmu."
"Hey aku tidak marah!" Dia mengatakannya dengan marah, berkebalikan dengan ucapannya sendiri.
Namun, bukan itu masalahnya, pikirku.
"Ini adalah bukti yang terakhir, dari mana kau tahu bukuku telah dicuri? Aku tidak memberitahumu tentang hal itu. Aku tidak menerima jawaban bahwa itu hanya semacam firasat, keberuntungan dan semacamnya."
Amelia menarik napas pelan. Sesaat dia terdiam.
"Kupikir jika kau menggunakan seluruh kemampuanmu seperti saat kau memecahkan misteri pencurian di ruang OSIS atau bahkan seperti saat ini, posisiku sebagai peringkat satu di kelas bakal terancam. Karena itu, aku berusaha menghalangimu untuk belajar." Akhirnya dia mengaku.
"Aku tidak sepintar yang kau bayangkan." Sepertinya dia terlalu memujiku. Padahal aku sendiri lupa kalau hari ini ada kuis Sastra, karena itulah aku datang pagi ke perpustakaan.
Dia tersenyum "Baiklah, kupikir kau telah memaafkanku."
Aku mengangguk. "Tentu saja. Ini hanya masalah sepele."
"Jadi, buku ini akan kukembalikan nanti setelah ulangan."
Tunggu sebentar.
"Hey! Itu curang. Tolong kembalikan sekarang. Aku juga memerlukan buku tersebut."
Aku menatap arlojiku. Dua belas menit lagi bel masuk berbunyi. "Aku mohon, tidak ada waktu lagi."
Amelia bersikeras akan mengembalikan bukuku nanti dan kabur. Wanita memang menyebalkan. Sayangnya aku tidak pernah berani melawan wanita. Pada akhirnya aku mengalah dan membiarkan dia pergi dengan bukuku.
Aku hanya bisa menyadari bahwa waktuku membaca buku telah berakhir. Dengan pasrah aku menikmati donatku yang mulai di kerubungi lalat.
* * *
"Baiklah, siapa yang sudah selesai boleh keluar."
Beberapa siswa segera mengumpulkan lembaran kertas kuis. Saya termasuk dari para siswa yang sudah selesai itu.
Sebenarnya soal yang diberikannya itu mudah. Saya dapat menjawab seluruh pertanyaannya dengan cepat. Namun, saya harus mengendalikan nilai saya agar tidak mencolok. Nilai tinggi akan membuat saya mencolok, saya sudah mendapatkan pelajaran berharga pada saat ujian masuk. Sementara nilai jelek dapat beresiko menghambat saya di kemudian hari. Jadi hasil terbaik adalah mendapatkan nilai di pertengahan.
Setelah selesai ulangan, saya membaca novel yang saya pinjam dari perpustakaan. Beberapa murid telah pergi dari kelas ini sehingga suasana di sini cukup tenang. Setengah jam telah berlalu. Sudah saatnya saya pulang. Saya merapikan peralatan menulis sebelum pulang.
"May."
Seseorang memanggil saya. "Siapa kau?"
"Kau tidak mengenali ketua kelasmu sendiri?"
Ketua kelas? Oh mungkin orang ini yang diceritakan oleh Aria kemarin. Jadi dia yang menyuruh Aria untuk membujuk saya.
"A...ada apa?"
Saya berusaha tersenyum sambil memprediksi apa yang akan dilakukan gadis ini. Namun, saya putuskan untuk berkata seadanya. Tidak ada ruginya berkata jujur.
"Apa kau sibuk?"
Saya menggeleng. "Setelah ini aku akan pulang."
"Bagus."
Tiba-tiba dia menarik lengan saya dan membawa tas saya. Dia membawa saya ke suatu tempat. Pada saat itu, yang saya rasakan hanyalah sebuah penyesalan.
* * *
Akhirnya aku dapat bernapas lega. Kuis Sastra hari ini berjalan dengan lancar. Meskipun pagi tadi aku tidak sempat belajar. Ah, tentu saja itu hanya bualan belaka.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku dapat bernapas lega, padahal pada saat kuis tadi banyak soal yang tidak dapat kujawab. Aku hanya dapat pasrah dengan hasilnya nanti.
Dengan lesu aku menuju ke kantin sekolah. Semoga saja donat kesukaanku belum habis terjual.
"Aria!"
Seseorang memanggilku. Dia adalah kakak kelas yang menyebalkan, Kak Virga.
"Ayoo makan bersamaku."
"Apa aku akan ditraktir?"
Dia mengangguk dan menarikku ke meja. Aku tidak dapat menolak sogokan dua buah donat rasa coklat yang telah disediakannya di meja. Rasa manis dan harumnya donat coklat membuat air liurku hampir menetes. Pada saat aku memakannya, ada sedikit rasa renyah di setiap gigitannya. Ini benar-benar nikmat dunia.
"Jadi ada perlu apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin lebih mengenal seseorang yang telah menarik perhatian ketua."
Sepertinya aku telah menarik perhatian orang penting. Karena berbagai kasus dan insiden yang telah kuselesaikan beberapa waktu yang lalu. Sekarang, SMA Rajawali telah mendapatkan kedamaiannya kembali.
"Ketua? Maksudmu si ketua OSIS?"
Kak Virga mengangguk.
"Jadi siapa ketua OSIS kita yang tidak pernah keliatan batang hidungnya ini?"
"Ketua OSIS kita memang misterius bukan? Banyak yang belum pernah bertemu dengannya. Bahkan di antara beberapa anggota OSIS pun, hanya segelintir siswa yang mengetahui sosok ketua OSIS kita ini."
Tidak seperti sekolah lain. Anggota OSIS di SMA Rajawali dipilih langsung oleh Kepala Sekolah. Siswa yang dipilih adalah siswa yang memiliki nilai tertinggi di ujian masuk, dan ulangan semester bagi tahun kedua dan ketiga. Karena itu, OSIS memiliki otoritas yang cukup besar bagi murid.
Bahkan mereka dapat memberhentikan para murid yang di anggap nakal dan tidak taat aturan. Karena itu, aku tidak dapat meremehkan siswa tingkat kedua yang duduk di hadapanku ini. Dia berhasil menjadi sekretaris OSIS karena nilainya yang memuaskan.
"Yah tapi karena ketua OSIS yang seperti itulah, semua tugasnya diserahkan kepadaku. Sementara dia sibuk menyembunyikan diri." Kak Virga menghela napas panjang.
Segerombolan siswa berjalan kompak menuju kantin. Mereka berjalan ke arah meja kosong yang cukup besar di tengah kantin. Rasanya seperti melihat iring-iringan orang penting. Salah satu dari mereka tampak menoleh ke arah kami.
"Siapa mereka? Ribut sekali."
Kak Virga menunjukkan tawa kecilnya yang menakutkan. "Mereka adalah fraksi ketua OSIS yang terdahulu, Noah. Sayangnya mereka telah digantikan oleh murid baru tahun ini."
Murid yang bernama Noah itu melirik tajam ke arah kami. Meskipun hanya sekilas, lirikannya begitu tajam. Ada sebuah kebencian tersirat di matanya.
"Dia menatap kita dengan tajam," bisikku.
Kak Virga tertawa kecil. "Abaikan saja. Mereka mungkin sedang dongkol karena telah kukalahkan. Dari segi nilai, akulah yang paling tinggi di kelasku."
Kak Virga mengatakan hal tersebut dengan bangga. Dia bahkan tidak segan membusungkan dadanya dengan bangga.
"Karena merasa tidak puas, rumornya mereka merencanakan kudeta terhadap OSIS."
Sesaat aku tertegun. Tidak kusangka OSIS saat ini mengalami hal yang sulit. Apalagi beberapa kasus baru saja selesai.
Ngomong-ngomong masalah kasus....
"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Kak Virga.
Aku menggeleng. "Aku hanya penasaran, bagaimana nasib 26A kemarin?"
Aku sengaja menggunakan kode tersebut untuk mencegah orang lain mengetahui arti ucapanku. Setidaknya aku harus waspada.
"Dia di skors selama seminggu dan mendapatkan surat peringatan."
Jadi begitu. Karena hari ini sudah seminggu itu berarti Manuk telah kembali bersekolah. Kupikir pihak OSIS akan mengeluarkannya, tetapi rupanya mereka lebih lembut dari yang kukira.
"Ehem. Apa kami boleh bergabung?"
Aku dan Kak Virga terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang ke meja kami. Amelia berdiri bersama dengan seseorang yang tidak pernah kusangka akan pergi ke kantin.
__ADS_1