Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Sesuatu Yang Hanya Ada Saat Aku Tidak Mengetahuinya


__ADS_3

Di bawah hujan deras yang mendera, dua orang sedang berdiri saling pandang. Dua orang tersebut adalah seorang pria paruh baya, dan seorang siswa tahun kedua.


Di bawah angin malam yang mengelus bulu kuduk, mereka melakukan pembicaraan.


Mereka sengaja berbicara di bawah derasnya hujan, agar tidak ada yang mendengar apa isi pembicaraan mereka. Setelah obrolan mereka tersebut selesai, sebuah perjanjian rahasia pun dibuat.


* * *


Hari ini Maya kembali dirawat di ruang UKS. Ruangan itu terletak di lantai ketiga, berdekatan dengan ruangan OSIS. Sebenarnya bisa saja dia libur hari ini dan beristirahat di asrama.


Namun, dia lebih memilih berangkat ke sekolah. Akibatnya, dia dibawa Amelia ke ruang UKS untuk beristirahat.


Di ruang UKS Maya ditemani oleh Amelia. Dia merasa bertanggung jawab atas kejadian kemarin karena telah mengajak Maya ke kantin. Namun, kupikir kesehatan Maya memang sudah bermasalah sejak awal. Rencananya, aku ingin menjenguk gadis itu pada waktu istirahat.


Waktu itu pun akhirnya tiba. Ketika aku sampai di ruang UKS, Maya terlihat sedang berbaring dengan lemah. Dia tidur dengan pulas. Aku berusaha untuk duduk di bangku di samping kasurnya tanpa mengganggu istirahatnya.


Dia terlihat lelap sekali. Dengan pintu yang tidak terkunci, bisa saja ada orang jahat masuk dan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Setelah aku membayangkan pemikiran tersebut, aku merasa bersalah. Aku membenci isi pikiranku yang kotor tersebut.


Aku melihat wajahku memerah di cermin kecil yang menggantung di ruangan tersebut. Sayup-sayup aku mendengarkan langkah kaki. Kupikir, Amelia sedang menemani gadis ini. Namun, dia tidak ada disini.


Jam terus berdetak. Tiga menit kemudian, Amelia datang. Dia tampak terkejut melihat kehadiranku di samping Maya.


"Aria? Bagaimana kau bisa masuk?"


"Aku masuk biasa saja."


"Biasa saja bagaimana? Pintu ruangan ini tadi kukunci. Bagaimana caranya kau masuk ke dalam?"


Tunggu? Apa? Pintu ini dikunci?


"Ti...tidak-tidak. Aku yakin pintu ruangan ini tidak terkunci. Makanya aku dapat masuk dengan mudah."


"Uuuhh...." terdengar seseorang merintih.


Mata Maya terbuka dengan perlahan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Perkataannya lesu dan tidak bertenaga. Suaranya sangat pelan, walaupun aku masih dapat mendengarnya.


"Ma...maafkan aku. Kau beristirahatlah dengan tenang," kataku.


Amelia segera mencubitku. Sementara Maya kembali memejamkan mata. Setelah itu Amelia segera menarikku ke luar ruangan, agar kami berdua tidak mengganggu waktu istirahatnya.


"Kau tahu perkataanmu tadi seperti seseorang yang merelakan temanmu yang telah meninggal dunia tahu!!"


Aku terkejut. "Ehh benarkah? Aku tidak bermaksud-"


"Lupakan." Dia memotong perkataanku.


"Ngomong-ngomong bagaimana caranya kau dapat masuk ke dalam?"

__ADS_1


"Su...sudah kubilang, pintunya tidak terkunci."


"Aku yakin pintunya terkunci. Karena saat aku ingin masuk tadi, pintunya terkunci."


Coba kupikirkan. "Mungkin Maya membukakan pintu untukku?"


Amelia memukulku dengan buku kecilnya. "Dia sakit. Mana mungkin dia membukakan pintu hanya untuk teman yang ingin menjenguknya."


Ah dia benar. Saat aku masuk tadi, Maya memang sedang terlelap. Sehingga tidak mungkin dia membukakanku pintu.


"Jelaskan kepadaku, bagaimana kau dapat masuk!"


Sayup-sayup aku kembali mendengar suara langkah kaki.


"Sstt... Amelia." Aku memberi isyarat kepada Amelia untuk diam. Amelia pun menurutiku.


Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang tadi kudengar.


"Sepertinya aku sudah tahu, bagaimana caranya aku masuk. Yah meskipun ini hanya sekedar dugaanku saja."


Amelia terlihat penasaran. Matanya berbinar mengkilat memantulkan cahaya dari luar jendela.


"Jelaskan!"


"Ikuti aku."


Seorang tukang sedang mengganti bola lampu yang mulai redup di kelas 2. Dia menggunakan kunci master yang hanya boleh digunakan oleh guru atau karyawan. Kami melihatnya membuka dan mengunci pintu beberapa kali.


"Kemungkinan saat bapak itu ingin mengganti bola lampu di ruang UKS, dia mengurungkan niatnya karena melihat Maya sedang beristirahat di sana.


Namun dia lupa untuk mengunci pintu, sehingga aku dapat masuk ke ruangan saat beliau pergi ke kelas lain. Nah saat dia melewati ruang UKS itu lagi, dia mengunci pintunya."


Amelia terlihat berpikir sejenak. "Sepertinya teorimu itu benar. Hanya itu penjelasan yang masuk akal."


"Baiklah. Mari kita kembali. Kasihan Maya sendirian di ruang UKS."


"Baiklah." Amelia mengangguk setuju.


Kami berdua pun kembali.


"Mel, tadi kau kemana?"


Amelia sedikit tersipu malu. "Tadi aku ke wc sebentar."


Aku terdiam. Pantas dia terlihat tersipu. Aku sedikit menyesal telah bertanya. Saat kami tiba, Maya telah duduk bersender di ranjang.


"Maya, istirahatlah lagi. Kondisi tubuhmu masih kurang sehat," kata Amelia.


"Aku sudah merasa baikkan. Lagipula, tidak aman meninggalkan seseorang yang sakit sendirian dengan pintu tidak terkunci."

__ADS_1


Aku dan Amelia saling pandang.


Kemudian dia berusaha keras untuk membaringkan Maya kembali. Dan Maya juga berusaha untuk tetap duduk.


"Baiklah. Sepertinya kau sudah baikkan," kataku kepada Maya. "Jadi aku akan pergi ke kantin."


Maya menatapku dengan tatapan yang aneh. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Karena waktu istirahat hampir habis. Aku hanya dapat berharap semoga donat favoritku masih belum habis.


* * *


"Jadi ada apa?" tanyaku kepada seorang gadis yang terbaring lemah di atas kasur UKS. Dia adalah Maya, 'pacarku'. Begitulah sebutan kami dalam perjanjian.


Sebelum aku pergi, Maya menahanku karena ada sesuatu yang ingin dibicarakannya. Amelia memberikan waktu bagi kami berdua dan pergi ke ruang Komite Disiplin dan akan segera kembali setelah urusan kami selesai.


Saat ini kami hanya berdua di ruangan ini. Maya menatapku dengan mata berbinar. Tangannya menggenggam erat tanganku. Aku dapat merasakan kehangatan dari tangannya. Namun aku takut dengan apa yang akan disampaikannya.


"Aria."


"A...apa?"


"Aku punya lima buah teka-teki. Aku ingin kau menyelesaikannya."


Sudah kuduga. Aku merasa pantas untuk mewaspadai Maya. Baru saja selesai ulangan, dan dia ingin membuatku repot.


"Maaf. Sepertinya aku tidak dapat menyelesaikannya."


Karena aku tidak ingin direpotkan, pikirku.


Maya tersenyum. Di balik senyumannya, aku mengetahui kalau dia telah merencanakan sesuatu. Dan sayangnya rencana tersebut melibatkanku.


"Apa kau ingin bebas dari perjanjian kita saat ini?"


Pantas saja dia tersenyum. Ini penawaran yang tidak terduga. Tentu saja aku mengangguk pasti. Siapa yang tidak ingin bebas dari perbudakan. Sepertinya semuanya telah direncanakan dengan baik olehnya. Aku tidak dapat keluar dari permainannya.


"Baiklah. Ini adalah teka-teki yang pertama. Jadi begini teka-tekinya. Aku punya sesuatu. Sesuatu yang hanya ada selama kau tidak mengetahuinya. Temukan sesuatu itu segera."


Kepalaku dipenuhi oleh banyak tanda tanya. Rasanya seperti ada jutaan tanda tanya yang menggerogoti otakku. "Apa maksudnya itu?"


Kepalanya sedikit terangkat dengan angkuh.


"Kau harus memecahkan maksudnya sendiri."


"Jika kau merasa tidak sanggup, tidak masalah," sambungnya dengan nada mengejek.


Baiklah. Aku merasa tertantang untuk memecahkannya. Meskipun, aku ragu apakah aku dapat memecahkan teka-teki darinya atau tidak.


Setelah memberikan teka-teki itu, kami berdua mengobrol santai sambil menunggu Amelia kembali, Karena aku tidak dapat begitu saja meninggalkan Maya sendirian di ruang UKS.


Pada saat Amelia kembali, aku pun segera pergi ke kantin dengan harapan donat kesukaanku belum habis terjual.

__ADS_1


__ADS_2