
Malam ini rembulan menampakkan diri dengan malu-malu sehingga cahayanya meredup. Di luar angin bertiup cukup kencang. Saya sedang membaca novel detektif favorit saya sambil berbaring santai di ranjang.
Krink....
Ponsel saya berdering. Itu artinya ada seseorang memanggil. Tentu saja ini tidak perlu saya jelaskan, kan?
Ketika saya mengambil ponsel tersebut, ada sebuah nama yang muncul. Dari namanya, beliau adalah orang yang sangat penting. Dia adalah Kepala Sekolah SMA Rajawali.
Untuk apa orang penting seperti beliau menghubungi saya? Sepertinya ini akan merepotkan.
"Halo, Pak Kepala. Selamat malam."
"Malam juga. Tanpa basa-basi aku akan memberitahumu. Hari ini telah diputuskan tentang pembentukan Central oleh pihak Yayasan. Organisasi ini akan dipimpin oleh seorang murid, kalau tidak salah namanya Naoh?"
Naoh? Bukankah itu kode zat kimia untuk sabun?
Mungkin yang dimaksud adalah dia. Ketua OSIS terdahulu yang akhirnya diganti oleh Kepala Sekolah.
"Noah?"
"Ahh itu dia."
Seperti yang saya duga. Mereka telah bergerak. Sepertinya mereka telah mendapatkan pion baru di sekolah ini.
"Lalu?"
"Besok kemungkinan besar pihak Central akan memberitahu kalian tentang hal ini dan mengambil alih wewenang OSIS. Itu saja yang dapat kukatakan saat ini."
Dan panggilan pun berakhir. Beliau sepertinya tergesa-gesa. Seperti ada yang mengawasinya. Memikirkannya saja membuat saya hampir tertawa.
Saya tidak menyangka, kepala sekolah dapat terpojok oleh Organisasi bentukan para siswanya sendiri. Yang kupikirkan adalah, pihak Yayasan berada di balik semua ini. Jika hal ini dibiarkan, kehidupan SMA saya yang damai akan terancam.
Saya akan memulai rencana saya. Malam itu pun saya habiskan dengan menelpon beberapa orang yang saya anggap penting.
* * *
Malam telah tiba. Aku sedang duduk di kursi belajarku untuk mencatat semua petunjuk yang ada untuk mengungkapkan rahasia gadis itu. Gadis itu telah banyak meninggalkan jejak untukku. Setiap kejadian dan kasus yang kuselesaikan, sepertinya semuanya saling terhubung.
__ADS_1
Kejadian pertama adalah pada saat perjanjianku dan Maya. Kejadian tersebut sangat janggal, karena nilainya yang tiba-tiba meningkat drastis dari perkiraanku.
Kemungkinan, dia telah memanipulasi nilainya Namun saat berpikir bagaimana caranya, aku hanya dapat memikirkan dua cara.
Cara pertama adalah dengan mengetahui bocoran soal. Namun sesuai dengan perkataan Kak Virga sebelumnya, para guru selalu mendapatkan buku pelajaran yang baru dan berbeda untuk setiap angkatan.
Kemungkinan besar mereka juga selalu membuat soal yang berbeda setiap tahunnya. Jadi, cara pertama tidak mungkin untuk dilakukan.
Kemungkinan, Maya memang jenius. Setelah kupikir baik-baik. Maya kemungkinan sengaja membuat nilai kuis dan ulangan sebelumnya sesuai dengan rata-rata kelas agar tidak mencolok.
Cara ini masih mungkin dilakukan, meskipun aku tidak dapat mengukur seberapa jauh Maya mengetahui jawaban di setiap soal yang keluar. Apakah dia memang benar-benar mengetahui semua jawabannya?
Jika benar, dia dapat memanipulasi nilainya dengan mudah. Dengan ini terpaksa kusimpulkan bahwa Maya benar-benar jenius. Jadi, apakah dia selalu memanipulasi nilainya sepanjang semester?
Meskipun ini kesimpulanku sendiri, aku masih merasa bimbang. Selanjutnya pada kasus kedua, yaitu pada kasus pencurian di ruangan OSIS, jejak yang ditinggalkannya jauh lebih banyak dibandingkan kasus lainnya. Rasa penasaranku selama ini pun kembali muncul ke permukaan.
Mengapa Maya mengetahui dengan detail kasus di ruangan OSIS? Mengapa pula dia sempat melintasi lorong di lantai ketiga pada saat itu, padahal dia sangat jarang pergi ke tempat lain?
Itu sangat aneh. Kemungkinan dia memiliki hubungan dengan OSIS sangat tinggi. Aku kembali melihat deretan kasus lain yang kuselesaikan. Tidak ada jejak yang signifikan di kasus lainnya.
Setelah itu aku teringat perkataan Kak Virga tentang aku yang telah menarik perhatian seseorang. Dan dari beberapa kali obrolan dapat kupastikan orang yang tertarik kepadaku adalah seorang gadis dan seseorang yang saat ini menjabat sebagai ketua OSIS.
Aku kembali merasa bimbang. Seolah tidak percaya dengan kesimpulan yang kudapat.
Detak jam pun berlalu. Rasa kantukku sudah tidak tertahankan lagi. Aku melihat jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Aku harus segera tidur. Hari ini aku merasa sangat letih. Mau bagaimana lagi, hari ini adalah hari yang panjang.
* * *
Pagi ini saya ke ruang UKS. Karena mata pelajaran hari ini sangat membosankan, saya memutuskan untuk membolos dan bersantai dengan nyaman. Tempat yang saya tuju adalah ruang UKS. Karena kemarin saya sakit, saya diizinkan oleh penjaga sekolah untuk menggunakan ruangan tersebut.
Seandainya saja saya tidak memikirkan banyak hal, mungkin hal ini telah saya lakukan sejak dulu.
Saya menyesal telah melewatkan banyak waktu di kelas yang membosankan itu. Mengapa ide ini baru saja saya dapatkan sekarang? Apakah ini semua karena murid itu? Saya akan terus mengawasi dan menjaganya.
Semuanya telah bergerak sesuai irama. Suatu hari nanti, saya pun akan keluar dari persembunyian ini. Menuju ruang tanpa batas dan melampuinya.
Hal itu akan mengejutkan semua orang. Sekarang, untuk mempersiapkan hal tersebut, hari ini saya akan memberitahukan sebagian dari identitas saya yang asli kepada seseorang yang penting. Demi kerja sama jangka panjang kami untuk ke depannya. Ah, tidak juga.
__ADS_1
Saya hanya ingin memberitahunya, karena dia adalah satu-satunya teman bagi saya. Saya tidak ingin kehilangannya.
* * *
Aku menyusuri lantai demi lantai. Menaiki tangga demi anak tangga menuju ke UKS. Alasannya sederhana, karena ketua kelasku kembali mengomel tentang Maya yang membolos di jam pertama.
Karena itu kami memutuskan untuk mencarinya pada waktu Istirahat. Amelia mencari di perpustakaan, sementara aku disuruh untuk mencari Maya di tempat lain. Satu-satunya tempat Maya yang terpikir olehku setelah perpustakaan adalah UKS.
Kupikir, dia pasti akan berpura-pura sakit agar dapat bersantai dengan nyaman. Kesimpulan ini kudapatkan dengan menimbang sifatnya yang pemalas, bahkan lebih pemalas dibandingkan denganku.
Ketika aku tiba di UKS, Maya berbaring dengan santai sambil tersenyum kepadaku. Matanya yang keemasan mengkilap memantulkan cahaya.
Seperti biasa, di balik senyumannya terdapat banyak rencana yang berjalan sesuai keinginannya.
Aku harus waspada.
"Sepertinya kaulah yang pertama kali menemukanku."
Aku menghela napas panjang. "Sayangnya aku tidak bangga dengan hal tersebut."
Maya tertawa kecil. "Kau harusnya bangga.
Ah, lupakan saja. Mari kita serius sekarang."
"Dari tadi aku serius tau." Aku menggerutu.
"Ehh... benarkah?"
Aku mengangguk dengan serius.
Maya kembali tertawa lepas. Beruntungnya suara kami tidak sampai keluar.
"Jadi apa jawaban dari teka-teki yang kuajukan kemarin?"
Huh? Apa?
Dengan tiba-tiba dia menagih jawaban dari pertanyaannya kemarin. Aku berpikir sejenak. Pertanyaan dari teka-teki itu sangat sederhana, tetapi disampaikan dengan cara rumit untuk menyulitkan si penjawab. Intinya adalah, apa yang dirahasiakannya? Aku telah mengetahui beberapa fakta dari berbagai sumber. Hal terakhir yang harus kubuat adalah kesimpulan.
__ADS_1
Namun, aku masih kekurangan informasi. Petunjuk yang kudapatkan masih sangat sedikit. Aku merasa bimbang.
Sekarang, aku hanya dapat pasrah. Jawaban yang terpikirkan olehku berdasarkan petunjuk seadanya yang kudapatkan adalah....