
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Yakin lah," balas ku berusaha untuk memalingkan pandangan ku.
"Eh, kayaknya kak Bian berjalan menuju ke arah sini deh." ucap Ola.
Mendengar ucapan Ola barusan,tanpa menunggu lama aku langsung buru-buru berlari ke arah kelas ku.
"Ya ampun Ara, kenapa kamu harus lari sih?" bisik ku dalam hati.
Sesampainya di dalam kelas,aku langsung duduk di meja ku dan meraih buku pelajaran yang tergeletak di atas meja.
Tidak lama kemudian,Ola dan Lukas pun datang dan langsung menghampiri ku.
"Ara kenapa kamu tadi langsung ninggalin kita berdua sih? Padahal kan,tadi aku hanya becanda aja." ucap Lukas.
"Tidak ada, hanya saja aku baru ingat ada ya g harus aku kerjakan."
"Lah, emangnya kita ada PR yah? Setahu aku tidak ada deh," timpal Ola.
"Ya memang tidak ada, hanya saja aku belum sempat mengulas pelajaran fisika."
"Ah seperti itu, aku kira kamu ngambek gara-gara tadi aku kecengin kamu sama kak Bian."
"Tidak.......''
"Syukur deh kalau tidak, aku merasa lega."
Lukas dan Ola pun sama-sama kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Sedangkan aku,hanya membolak-balik setiap helai kertas tidak jelas.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sepulang sekolah aku sengaja mampir ke toko swalayan,karena ada beberapa barang yang aku butuhkan dan sudah tidak ada lagi stok di kost an.
Setibanya di sana,tanpa basa-basi aku langsung mencari apa saja yang aku butuhkan dan memasukannya ke dalam keranjang.
"Ara......!" seru seseorang.
Aku pun langsung melihat ke arahnya dan ternyata itu kak Bian yang ternyata juga tengah berbelanja di swalayan yang sama dengan ku.
"Eh kak,"
"Kamu lagi belanja juga?" tanya nya.
"Iya kak, kebetulan ada beberapa barang yang sudah habis."
"Sama dong, kebetulan sekali yah."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis saja.
"Kamu sendirian aja ke sini nya?" lanjut kak Bian.
"Iya kak, tadi aku sempat ajak Ola tapi dia udah ada janji sama Lukas."
"Ah seperti itu,"
__ADS_1
"Bagaimana kalau nanti kita pulang bareng? Kebetulan aku juga sendiri."
Aku sempat kebingungan harus menjawab apa, aku takut salah langkah saja.
"Kenapa? Apa kamu keberatan dengan ajakan kakak?" tanya nya.
"Um itu....."
"Gimana ya kak,hanya saja aku takut nanti ada yang lihat kita berdua. Aku takut aja nantinya ada masalah baru karena itu,"
"Masalah apa? Lagi pula aku merasa tidak ada yang akan mempermasalahkannya juga. Atau mungkin jangan-jangan....."
"Iya deh kak, aku mau." dengan cepat aku langsung mengiyakan ajakan nya.
Kak Bian pun langsung tersenyum puas setelah mendengar jawaban ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Akhirnya kami berdua pun pulang bersama dengan berjalan kaki. Sedangkan kak Bian hanya memapah sepeda miliknya dan tidak menumpanginya.
"Padahal kakak bisa saja pulang dengan mengendarai sepeda kakak itu, kenapa kakak malah lebih milih untuk jalan sama aku?"
"Tidak apa-apa,itung-itung olahraga." balasnya.
"Oh iya, tadi pagi aku menitipkan sesuatu sama Lukas. Apa kamu sudah menerimanya?"
"Ah itu......."
"Aku sudah menerimanya, ngomong-ngomong makasih ya kak."
"Kakak tidak tahu apa kesukaan kamu, jadinya kakak berinisiatif untuk kasih coklat saja sama kamu. Setahu aku, anak cewek itu paling suka sama coklat." jelas kak Bian.
Aku pun tersenyum sedikit mendengar penjelasan kak Bian barusan.
"Kalau boleh tahu,kenapa kakak kasih aku coklat? Perasaan ulang tahun aku masih lama."
"Tidak ada, kakak hanya ingin kasih aja.Anggap saja itu sebagai hadiah,karena waktu itu kamu sudah nolongin kakak. Lagi pula, kakak kan tidak tahu tanggal ulang tahun kamu kapan. Bagaimana bisa kakak tahu,"
"Iya juga......."
Tanpa terasa setelah berjalan sekitar 10 menitan,kami berdua pun sampai di kostan. Setelah itu aku langsung berpamitan untuk langsung masuk ke kamar ku,karena aku lihat ada beberapa orang yang tengah nongkrong di ruang makan. Aku takut mereka akan salah paham,karena melihat aku pulang berdua dengan kak Bian.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Eh Ara......" tegur kak Yuda.
"Kenapa?"
"Tadi aku tidak sengaja lihat kamu pulang bareng sama Bian. Apa mungkin sekarang kamu malah lagi dekat dengan dia?"
"Tidak juga,"
"Tadi aku tidak sengaja ketemu sama dia di swalayan yang ada di depan itu."
"Aku kira, setelah kejadian kemarin itu hubungan kalian berdua malah jadi dekat."
__ADS_1
"Kenapa? Memangnya nggak boleh yah?" tanya ku sambil melihatnya.
"Tidak sih, hanya saja setahu aku si Bian itu banyak yang naksir. Kamu emangnya mau bersaing sama cewek-cewek itu?"
"Apaan sih, lagi pula aku merasa tidak sedang mendekatinya. Kita dekat, ya karena hanya kenal aja tidak lebih."
"Ah......." balasnya kak Yuda sambil tersenyum sinis.
Kak Yuda pun membuka kulkas dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Kamu mau?" dia menawarkan susu coklat kemasan pada ku.
"Boleh....." aku langsung meraih nya.
"Makasih ya,"
"Ah iya, kemana teman kamu itu siapa namanya? Si Ola bukan sih?" tanya nya.
"Dia lagi pergi sama temen ku yang satu lagi,Lukas."
"Kamu kok nggak ikut?"
"Mau duduk di mana aku? Mereka perginya pakai motor."
"Oh seperti itu,"
Saat kami berdua tengah mengobrol di dapur, kak Bian pun keluar dari kamarnya dan sempat melihat ke arah kami berdua. Namun setelah itu, dia langsung pergi ke lantai bawah dengan membawa tas berisikan pakaian.
"Kayaknya dia marah deh," ucap kak Yuda.
"Siapa?" tanya ku heran.
"Bian....."
"Marah kenapa? Memangnya....."
"Sepertinya dia tidak suka lihat kita berdua fi sini,kamu emang nggak lihat apa. Tadi kan dia sempat melihat ke arah kita dengan tatapan nya yang tajam itu."
"Alasannya, kenapa dia harus marah. Aneh aja kamu,"
"Mungkin ini perasaan aku aja, tapi sepertinya Bian suka deh sama kamu."
Mendengar ucapan kak Yuda barusan cukup buat aku kaget dan bingung.
"Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu? Aku sendiri yang sering jumpa sama dia tidak merasakan hal semacam itu." timpal ku.
"Ya itu perasaan kamu saja, tapi aku kan cowok. Aku tahu lah, cowok yang lagi naksir sama cewek itu seperti apa."
"Ah kamu sok tahu banget," balas ku langsung duduk di kursi.
Dan kak Yuda pun ikut duduk di kursi yang tepat berada di depan ku sambil menikmati susu coklat miliknya.
"Tapi bener tau, seingat ku dulu tuh pernah ada yang naksir sama dia. Tapi Bian langsung menolaknya mentah-mentah dan tidak pernah menghiraukan atau pun berbicara sama cewek itu." jelas kak Yuda.
"Sekarang juga sama,seingat aku dia tengah di dekati oleh Anggi teman satu angkatan kami. Tapi tidak pernah sedikit pun dia menggubris Anggi,yang ada dia selalu mencoba untuk menghindari Anggi." lanjut kak Yuda.
__ADS_1