
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Ya tapi sayangnya kamu juga di jemput, ya udah lah." lanjut kak Yuda.
Tidak terasa kami pun sampai di stasiun tujuan kami, kak Yuda pun langsung berpamitan untuk langsung keluar dari stasiunnya.
"Kalai begitu aku duluan yah,soalnya yang jemput aku sudah nunggu di depan." ucapnya.
"Iya kak,"
Dia pun berjalan menuju gerbang depan,sedangkan aku langsung meraih HP ku dari dalam tas untuk menghubungi kak Bian.
"Kak....."
"Di mana?"
"Di belakang kamu."
Aku langsung berbalik dan mencari keberadaan kak Bian. Ternyata benar saja,dia tengah berdiri tepat tidak jauh dari posisi ku berada.
"Ayo....." ajak ku.
Dia pun langsung berjalan ke arah ku sambil tersenyum.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di parkiran,kak Bian langsung menunjukan mobil miliknya yang sudah terparkir di sana.
"Ini mobil ku," ucapnya sambil menunjuk mobil berwarna merah.
"Merah sekali,"
"Ini hadiah dari abang aku, bang Tian."
"Oh kakak punya kakak juga,"
"Punya, tapi sekarang dia tinggal di Australia bersama keluarganya."
"Oh nikah sama orang sana?"
"Tidak, kebetulan kakak ipar aku lagi kuliah S2 di sana. Terus kak Tian pun mendapat kerjaan di sana juga,karena awalnya emang kak Tian sekolah di sana."
"Maksudnya kak Tian ketemu sama istrinya itu di sana juga." timpal ku.
"Yup benar sekali,"
"Lah kenapa aku malah ngebahas abang ku."
"Tidak apa-apa,lagian aku juga harus tahu kan keluarga kakak. Aku juga sama punya kakak laki-laki,namanya bang Fahri. Dan sekarang dia lagi meneruskan kuliah S2 nya di Jerman."
"Fahri? Perasaan nama itu tidak asing bagi aku. Sebelumnya aku pernah mendengar tentang abang kamu itu dari siapa yah,"
Aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku tidak tahu maksud perkataan kak Bian.
"Dia juga dulunya sekolah di sekolahan kita."
"Aku ingat, aku pernah lihat fotonya di album klub basket di sekolah kita. Yang pakai kaca mata itu bukan?"
"Iya......."
__ADS_1
"Ah itu abang kamu,"
"Ya udah yuk, takut keburu malam. Tapi sebelum pulang gimana kalau kita mampir ke M*D dulu, aku lapar nih."
"Gimana yah......"
"Tenang aja, kita bawa pulang aja. Drive true....."
Aku pun tidak berpikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan kak Bian itu,karena memang aku sendiri juga sudah merasa lapar.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku tidak menyangka,ternyata kak Bian membeli ayam M*D nya cukup banyak juga. Dia juga sempat cerita kalau dia punya usaha online juga yang di urus oleh sepupunya.
Aku sangat kagum padanya,di usianya yang masih terbilang muda dia sudah punya usaha sendiri.
"Nah ini rumah aku....." ucap ku sambil menunjuk gerbang rumah ku yang sudah terbuka.
Kak Bian pun memarkirkan mobilnya tepat di depan garasi rumah.
"Padahal kakak bisa parkir di depan aja,nggak harus sampai di dalam."
"Tidak apa-apa."
Saat aku turun dari mobil kak Bian, dia pun ikut turun sambil membawa makanan yang tadi kami beli di jalan.
Aku sangat terkejut dengan apa yang di lakukannya,aku pun langsung menghampirinya.
"Lah, kenapa kakak juga turun?''
"Kamu becanda, masa iya aku tidak menyapa orang tua kamu. Aku sudah di sini Ara," balasnya sambil tersenyum.
Belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku,bunda sudah keluar dari dalam rumah. Beliau tampak terkejut melihat aku pulang bersama seorang laki-laki.
"Ara......" ucap bunda sedikit canggung.
"Bunda......"
Bunda pun langsung berjalan mendekati aku dan kak Bian. Dia tampak terus memperhatikan kak Bian mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Eh Em......"
Aku berdehem,karena merasa tidak enak dengan sikap bunda di depan kak Bian.
"Kamu bukannya temannya Yoga kan?" ucap bunda.
"Iya tante, perkenalkan saya Bian." balas kak Bian langsung menyalami bunda.
"Lah bunda udah pernah ketemu sama kak Bian?"
"Iya nak, bunda sempat bertemu sama Bian saat bund main ke rumahnya Yoga."
"Tapi bunda lupa namanya,ternyata Bian yah...." lanjut bunda.
"Iya tante......"
"Ara, ayo ajak masuk Bian nya." ucap bunda.
"Ayo kak......."
__ADS_1
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah berbincang-bincang sebentar,maklum namanya kepo. Apalagi mendapati aku yang sudah berani pulang membawa seorang laki-laki ke rumah.
Kami pun akhirnya makan malam dengan makanan yang tadi di beli oleh kak Bian,meskipun kak Bian sendiri lebih memilih untuk makan malam dengan masakan bunda.
"Sudah lama loh,bunda nggak makan ayam goreng M*D ini."
"Semenjak Ara sekolah di Jakarta,bunda lebih sering masak di rumah." lanjut bunda.
"Iya tante......."
"Tapi kan memang lebih sehat dan enak masakan rumah dari pada makanan cepat saji." balas kak Bian.
"Iya juga......."
Kami pun menikmati makan malam ini,kak Bian sendiri tampak menikmati masakan bunda dan nambah beberapa kali juga.
Sekitar jam 9 malam kak Bian berpamitan untuk pulang. Aku pun langsung mengantarnya sampai ke depan rumah.
Sesampainya di dalam rumah,bunda langsung mengajak ku duduk di ruang keluarga.
"Sejak kapan Ara dekat dengan Bian?" tanya bunda.
"Baru-baru ini bunda,belum lama kok."
"Kalian pacaran?" tanya bunda kembali.
Aku langsung terkejut mendengar perkataan bunda barusan,karena baik aku atau pun kak Bian kami sama-sama belum meresmikan hubungan kami berdua.
"Kita hanya dekat saja bunda, tadi aku kebetulan ketemu dia saat di stasiun."
"Seingat bunda Bian itu anaknya cukup baik, bunda sudah beberapa kali bertemu dengan dia. Dia sangat sopan saat di depan orang yang lebih tua dari dia,anaknya bisa menyesuaikan."
"Ih bunda sok tahu banget, kayak kenal aja." balas ku sambil tersipu.
"Kalau nggak percaya,tanya aja sama paman kamu paman Hendra." ucap bunda seolah tidak terima.
"Memangnya nggak apa-apa yah,kalau Ara pacaran?"
"Itu kan hak kamu nak, bunda tidak bisa larang kamu. Ibu hanya akan membimbing kamu,"
"Setiap anak itu punya hak dan kewajibannya masing-masing. Hak kamu untuk menentukan pilihan kamu itu, bunda akan mendukungnya. Yang terpenting kamu harus tahu,batasannya seperti apa." jelas bunda.
Mendengar penuturan bunda barusan,aku langsung memeluk bunda sambil tersenyum.
"Makasih bunda,karena bunda sudah ngertiin aku."
"Bunda tidak mau kamu merasa terkekang nak, tapi kamu juga harus nurut apa yang bunda katakan.Bunda hanya ingin yang terbaik buat kamu,buat masa depan kamu nantinya."
"Iya Ara tahu bunda,"
"Ara sayang banget sama bunda,makasih ya bunda. Karena bunda selalu ada di sisi Ara dan selalu mengerti Ara."
"Itu sudah kewajiban bunda nak,"
Aku sangat terharu atas apa yang di lakukan bunda selama ini pada ku. Meskipun aku tahu,bunda sendiri mempunyai kekhawatiran yang cukup besar setelah aku memutuskan untuk sekolah di luar kota.
Bunda tidak pernah menunjukannya di depan aku, terlebih lagi beliau di rumah hanya bertiga saja dengan pegawai di rumah ku. Karena ayah seringkali dapat kerjaan di luar kota.
__ADS_1