MY BOY

MY BOY
2.


__ADS_3

vote dan comment nya ya, comment kalian berguna buat saya, terima kasih.


happy reading


• Bara Pov


   Hari pertama sekolah? Aah menyebalkan, sungguh. Aku belum memperkenalkan diri. Aku Bara King Evan. Hari pertama masuk sekolah. Sebenarnya aku tak berniat untuk melanjutkan sekolahku tapi bagaimana lagi, terlalu sulit untukku untuk menolak suruhan ibu, menolak suruhan ibu adalah hal yang paling mustahil untukku, why?  Jawabanya simple, aku terlalu menyayanginya.


   Aah sudah waktunya bel istirahat pertama, tapi percuma saja, dari awal pelajaran aku sudah tak mengikutinya, bosan menurutku, membosankan.


   Kalian bertanya aku berdiam diri dimana? Tidak? Baiklah aku akan tetap memberi tahu kalian. Aku berkumpul dengan ke-3 teman lainnya—Agam, Erick, Rendy—,kami memang tergabung dalam sebuah geng saat kami masuh duduk di bangku SMP. BTN → Bastard In The Night (Bajingan di Malam Hari) sebenarnya tidak hanya pada malam hari, disiang hari pun kami tetap dikenal dengan Bastard, begitulah. Masih banyak anggota lain sebenarnya tapi memang tidak bersekolah disekolah yang sama. Tujuan nya sederhana agar makin banyak orang yang masuk geng ini.


Aku malah menjelaskan mengenai hal ini, bodoh.


Baiklah kita kembali ke inti.


   Kami ber-3 hanya berdiam diri di rooftop sekolah, lumayan untuk tempat berdiam diri atau melampiaskan kekesalan. Ah iya tadi Agam meminta sebatang rokok, itu sudah menjadi kebiasaan untuk kami—BTN—. Kami lebih memilih menghisap asap dari pada harus menelan air keras, ya walaupun kedua barang itu tak menjamin kita akan hidup lebih lama.


Karena memang tak ada yang membawa rokok jadi aku yang harus turun tangan dan membelinya, sembari aku ingin ke kamar kecil.

__ADS_1


   Setelah membeli sebungkus benda tabung itu dan menyelesaikan urusan pribadiku dikamar kecil, aku kembali ke rooftop dan memang jika ingin sampai ditempat itu kita harus melewati keramaian kantin.dan aku benci itu.


   Aku terus berjalan dan hanya terfokus pada tali sepatuku yang membuka sampai sampai aku tak melihat kalau ada seorang gadis yang aku tabrak. Sialnya sudut bungkusan rokok yang aku beli mengenai lengan atasnya saat aku melipat lengan baju seragam ku. Entah siapa yang bersalah, aku tak peduli, aku hanya ingin dia yang bersalah walau kenyataan nya akulah yang bersalah. Untuk apa panggilan Bastard ditujukan kepadaku jika tak kugunakan panggilan itu.


"Kau tak lihat jika aku sedang berjalan? " ucap gadis dihadapan ku. Dia membawa botol air ditangan kirinya dan tangan kanan nya menutupi  tangan kiri yang terkena sudut bungkusan rokok yang barusan aku beli.


"Aku pikir kau yang bersalah" aku hanya ingin menang, apalagi dalam perdebatan kecil seperti ini, bagaikan satu butir pasir dilautan. Mudah sekali didapatkan.


"Lihatlah tangan ku terluka dan kau harus bertanggung jawab" dia menaikan nada bicaranya dan—namanya Septy Ahra W. Tertulis jelas di atas name tag nya.


"Hanya goresan kecil saja, atau—kau ingin memerasku? Kau sengaja kan menabrakku? " aku berbicara lebih keras dari pada dirinya.


"Itu kebenaran nya" aku pergi dari hadapanya, aku tak peduli, tidak penting.


   Aku pergi berjalan ke rooftop dan membuka pintu rooftop yang tertutup rapat, mereka ber-3 hanya memandang benda persegi panjang yang mereka pegang dan tak perduli dengan kedatanganku. Aku membuka bungkusan rokok mengambil salah satu jajaran rapih didalam sana dan membakarnya dengan korek api yang selalu aku bawa. Asap dari rokok ku melewati hidung mereka—Agam, Erick, Rendy—barulah mereka menyadari kedatanganku, dasar anak kekurangan asap rokok.


   Aku duduk diantara mereka dan terus menghisap batang rokok ku. Aah kenapa aku mengingat kejadian dikantin tadi padahal aku sering menabrak seseorang dan efeknya tidak sejauh ini. Lampiaskan pada rokok. Lampiaskan pada rokok.


"Sedang memikirkan apa kau? " tanya Erick sambil menghembuskan asap dari mulutnya.

__ADS_1


Aku hanya menggeleng untuk menjawab nya.


"Tak biasanya kau diam begitu" saut Agam disisi kiriku.


"Iya, biasanya kau yang paling gila hahahah" saut Randy. Aku hanya mengedikan bahu tak peduli.


"Nanti malam berkumpul lagi? " tanyaku sambil membaringkan tubuhku dimeja yang sudah tak terpakai disana.


"Mungkin iya, karena BTN akan melawan SCORPION—musuh dari BTN—untuk balapan malam ini dan taruhan nya sedikit mengiurkan " jelas Agam. Dia termasuk pengurus yang aktif dalam geng ini, segala informasi yang diberikan oleh Jack—ketua BTN—akan dia sebarkan kepada anggota lainya.


"Memangnya apa? " tanya Erick mewakili pertanyaan ku.


"3 miliyar uang cas dan 2 buah mobil Lamborghini, sangat menggiurkan" jelas Agam lagi.


"Hey pendekar BTN kau akan ikut serta dalam balapan nya kan? " tanya Rendy. Aah sebutan oendekar itu tercipta untukku, ya karna aku petarung terkuat dan pembalap yang sangat bisa diandalkan oleh BTN.


"Tentu saja, pendekar Bara tak selemah itu, semua hadiah itu akan berada ditanganku" ucapku percaya diri. Itulah diriku selalu optimis dalam segala hal. Kami semua tertawa saat mendengar kalimat percaya diriku tapi


Brakk

__ADS_1


Pintu rooftop dibuka keras oleh orang diluar sana,


__ADS_2