MY BOY

MY BOY
4.


__ADS_3

• keesokan harinya


   Ahra bangun dari kasur dengan lemasnya, wajahnya pucat, rambut tak tertata, persis seperti mayat hidup.


Ahra memaksakan tubuh lemasnya untuk berdiri, ia pikir 'baru 1 hari aku sekolah apakah aku harus langsung izin sakit? ' .


"Ar—ARA! " sang kaka berteriak ketika melihat tubuh lemas sang adik sudah tumbang dipinggir kasur. Raffi segera membopong nya dan membarikan nya dikasur. Raffi dengan cepat memanggil sang ibu dan menyiapkan kompresan air hangan untuk Ahra. Ini sering terjadi sungguh.


"Ra, ahra bangun nak" sang ibu menepuk pelan pipi ahra berkali kali, meminta ahra menyadarkan dirinya. Tapi ahra tetap saja menutup mata, tubuhnya tak memberikan respon pada sang kakak maupun sang ibu, dan itu sangat mengkhawatirkan mereka.


"Bun, kita bawa ke rumah sakit saja ya, aku khawatir dia kekurangan darah, aku yakin terjadi sesuatu kemarin disekolahan nya" sang ibu mengangguk mengiyakan sambil menatap nanar pada ahra yang terbaring diatas tempat tidur.


Tak mau membuang waktu Raffi segera mengabgkat tubuh ahra dan dimasukan kedalam mobil bagian penumoang bersama sang ibu disebalahnya, untuk menjaga ahra.


"Jangan ngebut ngebut nak" Raffi hanya menganggukan kepala nya dan segera tancap gas. Wajah Raffi sangat menunjukan kecemasan, tak ingin kejadian dulu terulang lagi, kejadian dimana ahra, sang adik sudah diambang kematian, saat anak anak komplek tak sengaja melemparkan batu yang harusnya mendarat tepat diatas pohon malah mendarat diatas kepala ahra. Saat itu ahra kehabisan banyak darah dan mustahil untuk diselamatkan, namun siapa tahu rencana tuhan, ahra tetap tumbuh samoai debesar ini. Karna hal itu Raffi takut, dia merasa jadi kakak yang tidak berguna untuk adiknya.


"Tenangkan pikiran bunda" ucap Raffi, saat melihat sang ibu meneteskan air mata saat melihat anak bungsu nya tergulai lemas di pangkuan nya.


— Bara King Evan —


    Setelah melalui beberapa pemeriksaan kesehatan, ternyata dugaan terbesar sang bunda benar, ahra kekurang darah dan itu dapat membuat ahra pusing dan sakit dibagian perut.


Ahra dirawat diruang inap dengan infus yang menempel pada punggung tanganya. Dokter bilang ahra butuh istirahat yang cukup untuk membantu proses pemulihan.


— Bara King Evan —


    Seorang King Evan tengah mencari keberadaan gadis kecil yang kemarin meminjam bibirnya. Dia mencari kesana kemari, satu alasan yang pasti karna handphone gadis itu tiba tiba ada didalam tas nya kemarin. Satu tujuan terakhir, kelas gadis itu!


Tapi....


Drtt... Drt....


   Bara dengan cepat mengeser tombol berwarna hijau yang terdapat dalam layar handphone itu dan mendekatkan ke telinganya, dia yakin yang menelpon adalah gadis sang pemilik handphone ini.


"Halo ra! Ahra! "


"Kenapa tidak sekolah?! "


"Apakah terjadi sesuatu kemarin? "


"HALO?! "

__ADS_1


"Berisik! "


"Hal—halo? Ini siapa? Penculik Ahra?!"


"KEMBALIKAN AHRA KU BAJINGAN GILA!! "


"BERISIK!! "


"Kalian teman wanita itu? "


"Wanita mana? "


"Yang kau sebut tadi"


"Ahra? "


"Ya mungkin, kalian tahu dimana ah—ara ahra itu? "


"Kalu aku tau aku tak akan menelpon handphone nya bodoh! "


"Beraninya kau! Dimana kau sekarang? Datang kekantin sekarang aku akan mengembalikan handphone wanita itu pada kau"


"Baiklah aku kestu sekarang, jangan pergi bodoh! "


"Shit! Menyebalkan" Umpat Bara ketika selesai berbicara dengan Mira, teman sekelas Ahra.


Bara terduduk dipojok kantin seorang diri, dia mengambil satu batang rokok yang terdapat dibagian belakang telinganya lalu membakar ujungnya dengan korek api. Sambil menunggu teman Ahra Bara memejamkan matanya dengan kedua kaki dinaikan keatas meja kantin, punggung bersandar pada tembok dan tangan yang terlipat tepat diatas dada.


"Lambat sekali" pikirnya.


— Bara King Evan —


    Sinta dan Mira bergegas pergi kekantin setelah mendapat telpon sang sahabat diangkat oleh seorang lelaki, mereka curiga kalau orang itu menculik Ahra nya.


Sampai dikantin mereka berdua memincingkan matanya menatap setiap sudut kantin dengan cermat, namun tak ada siapapun yang ada hanya seorang bay boy, bastard, atau apalah itu yang sedang tertidur dipojok kantin. Tak mungkin kan kalau dia orangnya? Pikir mereka.


"AHRA KEMARILAH!! " Bara menyadari kedatangan teman Ahra dikantin, namun teman gadis itu tak mendekatinya, dasar tadi memaki tapi sekarang takut, lemah.


"Ehh, ki—kita? " Sinta menunjuk dirinya dengan Mira dengan suara rendah, pikirannya tidak tenang, hatinya gelisah, akan terjadi sesuatu pastinya.


Bara hanya menganggukan kepalanya pelan dan tak membuka kelopak matanya sedikitpun. Bara yakin teman Ahra sudah gemetar akibat panggilan nya, namun dia tak peduli, mereka duluan yang memakinya, dan harus membalasnya.

__ADS_1


Pelan pelan Mira dan Sinta mendekat kearah Bara, tangan mereka saling menggenggam kepalanya lemah, menunduk kebawah tanpa ada niatan sedikitpun untuk menengadahkan kepala mereka. Takut, itu yang mereka ber2 rasakan.


"Ambil handphone itu" Suara dingin Bara membuat nyali mereka ber2 semakin down, wajahnya mulai pucat pasi.


Dengan perlahan tapi pasti Mira mengambil handphone Ahra yang tergeletak diatas meja kantin tanpa ada niat mengeluarkan suara sedikitpun.


*Namun....


Hap*!


Tangan Mira diremas keras oleh Bara yang kini sudah membuka ke2 bola mata tajamnya, dikencangkan lagi cekalan nya sampai sang pemilik tangan meringis keras dan matanya mulai berkaca kaca.


Namun Bara dengan cepat melepaskan cekalan nya, telingan nya menyadari kalau handphone sang gadis ber nametag Mira itu berbunyi. Dengan segera Mira menghapus air matanya dan membuka handphone nya.


"Halo kak? "


"Halo Mir, kaka mau tanya, handphone ara ada dikamu? "


"Iya kak ini ada handphone nya, oh iya kak Ahra kenapa gak sekolah ya? "


"Ahra dirawat kekurangan darah"


"AHRA DIRAWAT?! KEKURANGAN DARAH?!" Kaget Mira, Ekspresi Sinta tak kalah kaget dengan Mira, wajah mereka samasama khawatir dan prihatin atas kondisi Ahra.


"Iya"


"Rumah sakit mana ya kak? "


"Rumah sakit ********"


"Yaudah nanti aku akan menjenguk Ahra kesana, terimakasih kak"


"Iya sama sama, handphone Ahra jangan lupa dibawa yah"


"Iya kak, "


Tutt... Tut...


   "Bagaimana ini Sin, Ahra kekurangan darah aku khawatir dengan nya" Mira.


"Akupun Mir, aku yakin ada sesuatu yang terjadi kemarin, dia pasti kehilangan banyak darahnya kemarin" Sinta.

__ADS_1


"Aku pikir juga begitu" Kondisi Ahra membuat mereka ber2 tak peduli dengan keberadaan sang bastard yang ada dihadapan nya, dengan cepat Mira dan Sinta pergi dari situ.


'Karna bungkus rokok kemarin? Arghh gila, kenapa aku jadi begini? Merasa bersalah? Bukan diriku!!!! Tak akan aku lepaskan kau, gadis pertama yang membuat seorang Bara King Evan khawatir dan cemas seperti ini, GILAAA!!! ' Bara berucap didalam hati, matanya senantiasa terpejam erat.


__ADS_2