MY BOY

MY BOY
Chapter 16


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Yuda........" ucap kak Anggi tampak terkejut.


"Kamu lagi ngapain di sini? Terus pake acara ngetuk-ngetuk gerbang segala."


"Ini aku......."


"Sini, nanti yang ada kamu malah ganggu penghuni kost yang lainnya lagi."


Kak Yuda langsung menarik kak Anggi dan membawanya ke arah jalan yang menuju sekolah.


"Apa ini? Aku tidak mengerti." ucap Ola.


"Ya sama aku juga nggak ngerti,"


"Sejak kapan kak Yuda dekat dengan kak Anggi?"


"Aku juga tidak tahu,"


"Tapi kan emang mereka satu angkatan bukan? Kadi sewajarnya juga mereka dekat atau tahu satu sama lain." lanjut ku.


"Iya juga sih, tapi kalau di lihat tadi cara kak Yuda bersikap agak kasar seperti itu sih,tampaknya emang merek dekat. Bukan hanya sekedar tahu aja." timpal Ola.


"Udah lah, sebaiknya kita masuk aja."


Ternyata bapak penjaga kosan nya sedang keluar,pantas saja tadi kak Anggi mengetuk-ngetuk gerbangnya. Sesampainya di lantai dua, aku melihat kamar kak Bian masih tertutup dan tampaknya dia belum kembali.


"Aku masuk duluan yah," ucap Ola.


"Aku juga, mau langsung mandi. Oh iya,gimana kalau habis mandi nanti kita masak mie rebus. Kayak nya enak tuh,"


"Setuju, tapi aku nggak punya mie instannya."


"Tenang,kemarin aku sengaja beli mie cukup banyak. Sengaja buat stok juga kan,"


"Oke deh,"


Kami pun langsung masuk ke dalam kamar kami masing-masing.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Saat aku dan Ola tengah menikmati mie rebus yang kami buat,kak Yuda pun datang dan langsung mengambil air mineral dari dalam kulkas.Dia tampak kelelahan dan langsung menghabiskan semua isi air mineralnya.


"Kakak habis lari apa gimana? Ampe itu habis seketika." ucap Ola.

__ADS_1


"Capek Ola......."


"Ah......"


"Oh iya,ini kami masak mie cukup banyak. Kalau kakak mau,ambil mangkuknya." ucap ku.


"Kebetulan sekali saya lapar,"


Kak Yud pun langsung mengambil mangkuk dari dalam lemari piring dan kemudian duduk tepat di depan ku.


"Kayaknya enak nih," ucapnya sambil mengbil mie nya dari dalam panci.


Tanpa menunggu lama,kak Yuda langsung menyantap mienya dengan lahap dan menghabiskannnya dengan cepat. Aku sendiri agak terkejut,karena mie milik kami pun masih ada. Sedangkan kak Yuda yang baru datang udah habis dalam sekejap.


"Tampaknya emang kakak lapar banget," ucap Ola.


"Emangnya kakak habis ngapain sih?" lanjutnya.


"Ah itu......."


"Kali aku tadi kan tahu sendiri,aku tadi habis mengamankan Angggi."


"Mengamankan,bahasa kamu itu loh." timpal ku.


Ucapan kak Yuda cukup buat aku dan Ola melongo dan kaget.


"Ekspresinya biasa aja, aku tahu ini pasti buat kalian terkejut."


"Di sekolah emang tidak semua siswa yang tahu kalau kami berdua saudaraan,hanya beberapa orang terdekat kami saja yang tahu. Termasuk Bian," lanjut kak Yuda.


"Ah seperti itu,"


"Sejujurnya aku merasa tidak enak sama Bian, karena ulah Anggi yang terus mengejar-ngejar dia. Sebelumnya aku dan Bian cukup dekat makanya kami bisa bareng kost di sini. Tapi aku merasa malu dan tidak enak sama dia,karena ulah Anggi." jelas kak Yuda.


"Ya kan itu bukan salah kakak, emangnya kakak yang nyoblangin kak Anggi sama kak Bian?" tanya Ola.


"Tidak lah, meskipun Anggi sepupu ku. Aku tidak berani untuk nyomblingin,hanya saja ora ng yang pertama ngenalin dia sama Anggi. Aku merasa bersalah saja sama Bian,dia pasti tertekan karena ulah Anggi."


"Pantas, saat kamu ketemu atau tidak sengaja bertemu seolah tidak dekat satu sama lain. Padahal kan kalian satu angkatan juga kan," ucap ku.


"Ya seperti itu, padahal sebelumnya kami tidak terlibat masalah sama sekali. Aku saja yang sedikit menghindari Bian,"


"Padahalkan kamu bisa ngomong sama dia,kalau kamu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kak Anggi."


"Bian itu tipe orang yang tidak mau tahu menahu dan terkesan cuek. Sulit untuk aku ajak dia bicara,apalagi kalau harus membahas masalah ini. Yang ada nantinya malah bikin dia marah lagi."

__ADS_1


"Ya tapi kan setidaknya kakak berusaha aja dulu, siapa tahu kak Bian bisa ngerti." sambung Ola.


Kak Yuda hanya terdiam sambil melihat ke rah kamarnya kak Bian.


"Kalau seperti ini,baik kakak atau pun kak Bian hanya akan salah paham satu sama lain seterusnya. Ini mungkin tidak mudah untuk kakak,tapi setidaknya kakak harus mencobanya."


"Iya kak, emangnya kakak mau seperti ini terus? Jaga jarak sama orang yang dulunya dekat sama kakak." sambung Ola.


"Tidak lah......."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Dua hari setelah kejadian kak Anggi yang datang ke tempat kost, aku sama sekali tidak pernah bertemu atau melihat kak Bian. Baik di sekolah ataupun di tempat kost. Menurut penuturan pak Yudi, kak Bian sudah tidak pulang ke kosan selama tiga hari kebelakang.


Sampai akhirnya aku tidak sengaja bertemu dengan dia saat aku ke perpustakaan saat habis makan siang, aku tidak sengaja melihat dia tengah tertidur di ujung lorong yang tidak banyak di lewati oleh siswa lain.


Aku tidak sengaja melihat sepatu yang biasa dia kenakan,yang menjulur terlihat dari lorong di mana aku tengaj mengambil buku pelajaran Geografi.


"Iya itu kak Bian," ucap ku pelan.


Aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya dengan berjalan perlahan,karena takut buat dia terbangun.


Setelah berhasil mendekatinya, perlahan aku pun duduk tepat di hadapannya. Aku memperhatikan wajahnya yang tampak tenang dan terlelap dalam tidurnya.


Aku melihat ada bulu mata yang jatuh di pipinya,entah dari mana aku mendapatkan keberanian. Aku pun perlahan mengulurkan tangan ku untuk mengambil bulu matanya.


Namun saat aku hampir saja berhasil meraihnya,kak Bian pun terbangun dan mata kami pun langsung berpandangan satu sama lain.


*Deg......Deg......Deg......


Degup jantung ku berdetak tidak karuan, aku merasa ku panas serasa terbakar.


"Ara......" ucapnya parau.


"Kak......."


Kak Bian langsung mendekatkan wajahnya dan membuat jarak antara wajah aku dan kak Bian hanya berjarak sangat dekat,perlahan kak Bian terus mendekatkan wajahnya. Anehnya aku diam seperti patung dan membiarkan kak Bian terus mendekati wajah ku yang sudah memerah.


Dengan sekejap mata,kak Bian langsung menciumku. Tangannya langsung memegang bagian leherku, aku sangat terkejut dengan apa yang di lakukannya saat ini.


"Apa ini? Apa dia tengah bermimpi?" bisik ku dalam hati.


Aku langsung memejamkan mata ku dan malah merespon ciumannya. Kami pun akhirnya berciuman cukup lama dan tangan ku pun memegang bagian tangan kak Bian yang memegang leher ku.


"Aku pasti sudah gila, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini." bisik ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2