MY BOY

MY BOY
3.


__ADS_3

hai hai dukung terus novel ini ya,


vote comment nya ya


happy reading


• Ahra Pov


   Bel istirahat telah usai sudah berbunyi dari setengah jam yang lalu dan aku hanya duduk dikursi kantin berharap laki laki yang tadi kembali kesini, tapi kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. Bahkan hanya aku yang ada dikantin ini, Mira dan Sinta telah lembali kekelas karena aku yang menyuruh mereka.


   'Apa aku harus mencarinya? ' batinku. Sepertinya iya aku harus mencari Bara, kalau tidak darahku akan habis dan mat—ti.


   Aku berjalan melewati ujung kantin seperti yang dilakukan lelaki tadi, mungkin di—rooftop?  Semacam tempat persembunyian mungkin? Ah benar aku harus keatas sana jika ingin tahu dia ada disana atau tidak.


   Aku berjalan melewati tangga yang kotor, sampah dimana-mana, sebuah jejak kaki dari sepatu sekolah mungkin, karna tepat dibawah tangga ini ada sebuah genangan air. Setelah sampai diujung tangga aku menemuka sebuah pintu yang hitam, karatan, banyak coretan coretan dan aku yakin kalau itu adalah jalan menuju rooftop sekolah ini.


   Aku mencoba mengetuk dan membuka pintu itu, tapi sayang tenagaku lebih kecil dari yang aku bayangkan dan dengan sekali tendangan pintu terbuka dan mengeluarkan suara yang teramat keras.


Brukkk


   Aku hanya menganga saat melihat 4 orang yang duduk didalam sana dan masing masing dari mereka menghisap rokok. Aah iya, salah satu diantara mereka adalah laki laki itu.


"Ka—kalian merokok? " tanyaku tanpa ada niat untuk masuk lebih dalam kedalam sana. Aah benar darahku menetes melalui selah jariku dan itu terjadi dari setengah jam yang lalu. Itu perih, sungguh.


"Iya memang ken—hei sikutmu mengeluarkan banyak darah! " lelaki bernama Bara itu menghampiriku dan melihat lukanya.

__ADS_1


"Apa kau melukainya lebih dalam? Bodoh! " ucapnya sambil membuang puntung rokok dan menginjaknya.


"Kau pikir aku gila?! Aku hanya ingin kau tanggung jawab! " teriaku kencang didepan mukanya dan teman-teman nya hanya melihat pertunjukan aku dan Bara.


"Ba—baiklah ayo kerumah sakit" dia hendak menarik tanganku tapi aku tahan karna rumah sakit bukan obat untuk lukaku, kalian tahukan?


"Kenapa? " tanyanya.


"Cium" aku tak banyak bicara, aku hanya langsung berbica intinya saja agar rasa perih ini cepat hilang.


"Hah? Kau gila! Aku memang Bastard tapi aku tak  berani melakukan hal hal seperti itu kepada perempuan" ucapnya sarkas. Bodoh! Aku lupa membertahu nya kalau dia hanya harus mencium lukaku bukan bagian lain. Pasti dia mengiraku wanita murahan.


"Mak—maksudku bukan di—disitu tapi dilukaku" jelasku.


"Kau berfikiran apa Bar? " tanya teman nya yang bernama—Agam.


   Kita sudah didepan UKS. Di dalam UKS ada sekitar 3 orang PMR dan dengan seenaknya Bara mengusir mereka dengan tatapan tajam nya, yang baru saja aku lihat.


   Dia menyuruhku duduk dipinggir kasur yang ada disana dan menarik salah satu kursi untuk nya duduk, dan itu tepat dihadapan ku. Dia menatapku dengan tatapan bingung.


"Ap—apa? " tanyaku, kepalaku mulai sedikit pusing, tanganku sudah sedikit lemas, dan yahh aku punya riwayat darah rendah dan tentu itu karna penyakit menyebalkan ku.


   Bara menempelkan telapak tangan nya dikeningku dan melespaskan lengan kananku yang dari tadi digunakan untuk menutupi darahku.


"Perih? " tanyanya dan aku menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Ahhh, harusnya sekarang aku sedang tertawa dengan temanku bukanya mengurusi kau" ucapnya frustasi. Dasar bajingan!


"Kau boleh pergi setelah mencium lukaku" ucapku sambil mendekatkan lukaku kewajah nya.


"Cium? " aku hanya mengangguk nganguk.


"Kau ingin sekali di cium olehku? " aku ingin sekali memukul wajahnya, tapi apalah daya, aku sangat lemas sekarang.


"Cepatlah, aku sudah pusing karna banyak membuang darahku" ucapku lirih.


"Oke, dengan bibir? " tanyanya.


"Pantat! Tentu saja dengan bibir" ucapku gemas.


"Baiklah"


   Dia mendekatkan bibirnya dengan lukaku dan.....


Dia menjauhkan kembali wajahnya, karna aku geram jadi aku langsung menarik kepala nya kearah lukaku dan berhasil, itu berhasil, lukaku sembuh. Aku membersihkan darah ditangan ku dengan kapas yang ada dipinggir kasur dan Bara tengah sibuk dengan melepeh lepeh darah yang ada disekitar bibirnya.


"Sekarang kau boleh pergi bersama teman teman mu, terimakasih. Ahhh satu lagi tolong katakan kepada guru dikelas ku bahwa aku sedang sakit" ucapku seraya membaringkan tubuhku diatas kasur.


"Apa aku adalah pembantumu nona? " ucapnya sambil menatapku.


"Bu—kan, tapi bantulah aku sekali ini saja, aku tidak akan melupakan bantuan mu. Aku tak mau guru menganggap ku murid yang buruk, yaaa walaupun memang sedikit buruk. Pokoknya izinkan saja terima kasih" aku mulai menutup mataku dan aku tak sengaja mendengar ucapan Bara sebelum dia benar benar pergi dari sini.

__ADS_1


'Menyedihkan sekali aku, seorang bastard pro sepertiku membantu seorang perempuan yang tak kukenal, pupuslah panggilan kebanggaan itu.' itu yang aku dengar. Tapi aku tak peduli, memangnya seorang bastard tidak punya hati? Pasti punya, benarkan?


   Dasar bastard menyebalkan! Diberi gelar menyedihkan dia malah bahagia, aku saja yang di SMP diberi gelar ANGEL tidak sombong sepertinya, dasar!


__ADS_2