
"Halo," kata Vidia
"........."
"mendadak banget, aku kan belum pulih benar." kata Vidia lagi
"......."
"Ya udah gpp, tapi jangan lama - lama ya"
"......'
"iya, iya, . . . Iya. . Iya. . . Iya" kata Vidia
"........"
"iya, iiiyyyyyaaaaaa" kata Vidia lagi
"........."
"oke" kata Vidia akhirnya mengakhiri teleponnya.
"hmmm" vidia amenarik nafas panjang seolah itu sangat berat baginya.
"Kenapa Vid," tanya Lita, Yanti pun memandang curiga ke arahnya.
Vidia melirik sekilas pada 2 teman kerjanya itu dna menarik nafas panjang lagi.
"Yuda, ktaanya orang tuanya pengen ketemu sama aku." jl ebb vidia sambil menarik nafas panjang.
"oooo," kata Yanti dan Lita bersamaan
"cepet banget hubungan lo sama Yuda, udah sejauh itu kah" tanya Lita penasaran
Vidia menggeleng, dan menjawab "sebenarnya aku masih belum yakin sama Yuda. Aku sadar siapa aku, keluarga ku, status sosial ku. Aku baru aja mau menjalaninya. Seakan orang tua Yuda sudah menganggap ini serius. Sebenarnya aku takut bertemu mereka, sebenarnya aku malah lebih ngerasa sama kak Eri tapi kau takut aku kepedean" kata Vidia
"Ya liat aja Vid, jalani semuanya. Pada akhirnya yang benar benar tuluslah yang akan tinggal. Bagaikan seleksi alam, yg tidak bisa bertahan akan gugur."kata Lita.
"Seperti aku, dlu aku jg diperlakukan seperti kamu sama kak eri. Setelah aku percaya, aku baru tahu bahwa dia bersikap begitu supaya aku betah kerja dosini. Semua karyawan baru akan diperlakukan sma." kata Yanti sambil berkaca - kaca.
Didepan pintu ada yg sedang mendengar perckaapan mereka. Dia adalah Eri, orang yang sedang mereka bicarakan. Eri jadi merasa sedih, karena kebaikan dan perhatiannya disalah artikan oleh Yanti dan Lita. Eri awalnya ingin memanggil Vidia mengurungkan niatnya, ia akan menata hatinya dulu. Eri menjadi bimbang dan ia memutuskan untuk memberitahu mereka nanti di rapat terakhir panitia.
Kriing
"Halo" kata Lita
"Iya Feb, oke kita akan segera turun" kata Lita sambil menutup teleponnya.
"Girls Rapat di mulai,kita disuruh turun." kata Lita
"kog dadakan sih?" Tanya Vidia
"udah dari kemarin vid pengumumannya. Kamu aja ga bisa dihubyngin." kata Lita
"Yah gimans dong, aku ada janji sama Yuda." kata Vidia
"Bentar doang kog rapatnya kan tinggal penutupan, dan sebenarnya tugas kamu kan tinggal rangkuman aja." kata Yanti.
"Gak ah,, aku tunda besok aja sama Yuda nya." kata Vidia
"Terserah kamu deh"
"Yah Yuda gak katif lagi nomoernya." kata Vidia
Lita dan Yanti saling berpandangan.
Mereka Akhirnya turun ke ruang rapat dan menjalani rapat sebentar.
Tak disangka rapatnya memang sebentar, Vidia tak mematikna hp nya agar tidak bisa dihubungi Yuda, tidak disangka ternyata Yuda sudah tau bahwa akan ada rapat dan itu membuat waktunya sedikit mundur.
Saat keluar dari Ruang Rapat Vidia ditarik oleh Yuda.
"Eh Kak Yuda, maaf . . . " kata Vidua terpotong oleh Yuda
"Udah ayok, aku udah ditunggu papah" kata Yuda
"tapi aku tidak bisa lama ya nanti ada penutupan" kata Vidia
"iya, aku kan juga harus hadir" kat ayuda smabil menghentikan langkah.
Mereka berjalan cepat menuju parkir mobil Yuda, saat sudah didepan mobil Yuda membukakan pintu untuk Vidia. Vidia yg canggung jadi bingung akan bersikap bagaimana.
Yuda melihat ekspresi itu, dia menggenggam tangan Vidia sambil menenangkannya.
"Kamu gugup ya,?" tanya Yuda yang hanya dibalas senyum tegang Vidia
"hmm tenang aja, ada aku. Keluarga ku tidak semengerikan yg kamu pikirkan" Sambung Yuda
__ADS_1
"iya semoga saja, canggung rasanya." kata vidia
"aku malu,penampilan ku hanya seperti ini. Apa ini pantas?" tanya Vidia lagi saat mereka sudah memasuki komplex rumah Yuda.
Mobil mereka berhenti di garasi rumah Yuda. Vidia masih dalam lamunannya. Ia masih bingung bagaimana harus bersikap.
"Ayo," kata Yyda yang telah membukakan pintu mobil Vidia dengan menawarkan tangannya untuk di gandeng.
"Vidia, sayang.." kata yuda lagi membuyarkan lamunan Vidia
"hmm iya" jawab Vidia tersenyum getir.
Mereka mulai melangkah memasuki rumah Keluarga Yuda. Vidia yg masih tkkjub dengan kemegahan rumah Yuda tertinggal dibelakang.
Iya, Rumah Keluarga Atmaja yg sangat megah,besar dengan ornamen ornamen unik tapi tidak mengurnagi keindahannya. Berbeda dengan rumah Vidia yg biasa dan sederhana, rumah ini megah indah dan unik.
Saat masih melamun,Vidia dikagetkan dengan suara dari sampingnya
"Jalan liat depan nanti kepentok" kata Ayu membuyarkan lamunan Vidia.
"Eh iya mbak" jawab Vidia
"Kenalkan saya ayu, menantu pertama keluarga Atmaja" kata Ayu
Vidia mengagumi sosok ayu yg cantik dalam balutan dress hijau sederhana. Ayu tengah menggandeng putra putri kecilnya.
"Iya, saya Vidia" jawab Vidia
"Teman nya Yuda ya, Yuda tuh sering banget ngajak cewek baru ke rumah. Tapi gak pernah diseriusin. Jangan mudah percaya Sama playboy teri macam Yuda" kata Ayu mencairkan suasana.
"Maaf ya kku ngurus anak anak dulu silahkan dinikmati mkanannya." kata Ayu karena kedua putranya merengek minta makan.
Vidia hanya mengganggukan kepala, ia masih berdiri menjauhi meja. Ia bingung mau bagaimana, Yuda yang tadi membawanya entah kemana. Vidia berkeliling ke area ruang tengah, disana ada banyak foto keluarga Atmaja.
"Hmmm" suara deheman mengagetkan Vidia
dan Prank.... 1 pas foto jatuh dan pecah
"emm Maaf saya tidak sengaja" kata Vidia sambil akan berjongkok akan memunguti pecahan kaca.
"Biarkan saja, biar pak to yg membersihkan" kata Ny. Atmaja
"Pak Harto, tolong bersihkan kaca ini ya." Teriak Ny. Livia masih dengan eksprezi biasa saja.
"Duduklah kemari, itu biar pak Harto saja yang membereskannya." kata Ny. Livia
"Awww" pekik nya
Ny. Livia hanya menarik nafas panjang dan memanggil Tri.
"Tri, ambilkan plester dan obat luka luar" kata Ny. Livia
"Udah neng, biar saya yg bersihkaan.Neng duduk saja"
"Iya pak" jawab Vidia
"Duduklah kemari" pamggil Ny. Livia
"Iya," jawab Vidia sambil mengusap darah yg keluar dr jari nya. Nyeri, batin Vidia. entah karena dia gugup atau memang nyeri.
Mbak Tri datang dan mengoles jari Vidia lalu membalutnya dg plester.
"Sudah bu, saya kebelakang" kata mbak Tri
"Iya mba, kalau makan malam sudah siap tolong kasih tau kami ya mbak" ktaa Ny. Livia
"Iya bu" jwaab mbak Tri
"Jangan tegang santai saja, Nama kamu siapa?" tanya Ny. Livia dengan nada datar tanpa ekspresi dan terlihat lebih judes
"Saya Vidia bu" jawab Vidia gugup
"Kamu berapa bersaudara? Berasal dari kota mana?" kata Ny. Livia lagi.
"Saya dari Desa Bandungan Lor kecamatan CB kota DD" jawab Vidia terputus
"Saya anak tunggal, orang tua saya hanya petani padi bu" sambungnya.
"Oh.. Berarti kamu . . . . " belum selesai Ny Livia bicara Yuda sudah dtang memotong perbincangan mereka.
"Maaf ya aku tinggal, tadi dipanggil papah terus ada telepon penting." kata Yuda yang langsung duduk mendekati Vidia.
"Kog tegang gini, santai aja lah. Mamah gak nanya yg macem - macem kan?" tanya Yuda penasaran
Mama Livia hanya melirik Yuda dan menunjukkan wajah sengitnya.
"Makan malam sudah siap Bu" kata mbak Tri memecah ketegangan.
__ADS_1
Ny. Livia hanya berlalu meninggalkan mereka menuju ruang makan.
"Ayo makan, aku kenalkan pada keluarga ku" kata Yuda
"Aku gak lapar, aku balik aja ya. Udah jam segini. Penutupan udah dimulai. Gak enak sama panitia yang lain." jawab Vidia.
"Makan dikit aja sebagai formalitas. Ya.. Ayolah" kata Yuda memohon
"Tapi, aku . . . . ."
"Tananglah, nanti akan aku jelaskan saat mengantar mu" jawab Yuda Meyakinkan
Vidia yg masih canggung dengan Yuda masih takut untuk menolak. Ia pun mengalah sebentar toh penutupan baru dimulai dan rencana acara masih panjang.
Di meja makan semua orang sudah berkumpul, Tn Sebastian kakak Yuda dan Istrinya. Mereka masih diam menunggu Yuda dan Vidia datang. Ny. Livia hari ini memiliki mood yg buruk ditambah pertemuan pertama dg Vidia yg tidak baik, itu membuat suasana hatinya buruk juga.
"Kemarilah, kami sudah menunggu kalian" kata Tn. Sebastian.
"Ayo duduk," kata Yuda sambil memundurkan kursi untuk Vidia.
Ny. Livia yang pertama mengangkat piring nya lalu mengisinya dg nasi, sayur dan lauk kemudian diletakkan di depan Tn. Sebastian. Disusul Ayu Istri kakak Yuda yang melakukan hal yang sama. Yang terakhir Yuda, Vidia yg masih bingung hanya diam saja. Akhirnya Yuda yg mengambilkannya.
"Kamu mau makan pake apa?" Tanya Yuda.
".......….....…........" diam tidak ada jawabn dari Vidia, Vidia melongo lagi.
Yuda menyenggol siku Vidia.
"Sayang," kata Yyda
"eh iya kenapa?"
"Mau makan pakai apa?" sambil menyodorkan piring yang diatasnya sudah ada nasi nya.
"Ini kebanyakan, aku gak bisa lama - lama."
"Makan dulu, nanti aku antar" kata Yuda
Vidia hanya bisa bersabar sambil menunggu rencana baik Yuda untuk mengantarnya.
Tiba - tiba
"Selamat Malam, Om Tante"
Mereka semua menoleh dan betapa kagetnya mereka yang datang adalah siska.
"Halo Siska. Baru dateng ya”
"Iya tante, maaf ya aku telat" Siska menoleh ke arah Yuda dan Vidia, lalu menyapanya "Hai Vidia, hai Hendra. Lama ya gak ketemu" kata Siska
Ya Siska memang dekat dengan Dengan keluarga Yuda. Karena orang tua Yuda adalah rekan bisnis Ayah Yuda dan Vidia.
"Sekarang sibuk apa Siska" tanya ibu Yuda
"Aku mulai ikut papa tante, kata papa aku di suruh belajar bisnis papa. Karena si Eri gak mau nerusin dia bkin usaha sendiri."
Mereka mengobrol panjang lebar, dan Vidia hanya menyimak. Vidia tidak tahu harus membicarakan apa. Dia tak siap,ditambah ia gugup dan menghawatirkan jam.
"Mas, aku mau pamit ya." bisik Vidia pada Yuda
Yuda melirik makanan dipiring Vidia lalu berkata, "Makanan kamu aja baru berkurang sedikit. Habiskan dulu dong syang".
"Aku udah terlambat mas, gak bisa dong. kalo kamu gak enak aku gak usah dianter. Aku sendiri aja ke hotelnya. Mas temenin keluarga mas makan dulu" "ya" kata Vidia
"Janganlah sayang, bentar lagi. Aku janji aku ijinin terus aku anterin kamu pulang". Jawab Yuda
"Gak bisa mas, aku harus pamit sekarang. Temen - temen sama kak eri pasti sudah khawatir."
"Enggak aku udah bilang cuma sebentar kan, ini udah 2 jam lebih. " kata Vidia
"Vid pliss. Bentar lagi" kata Yuda mebawar
Akhirnya mereka ribut kecil dan "Prankk"
Vidia berdiri dan piringnya tertarik jatuh oleh tangannya.
"Aahh ma ma maaf. Saya tidak sengajaa" kata Vidia terbata dengan posisi berdiri
Semua disana memandang kesal pada Vidia, terutama mama yang sungguh kaget dengan sikap vidia yang tiba - tiba berdiri. Sementara Tn. Sebastian mencoba mencairkan suasana agar Vidia tidak terlalu gugup dan kembali melanjutkan makan malam mereka.
"Tidak apa, tak masalah duduklah kembali sayang" kata Tuan sebastian mempersilahkan Vidia duduk kembali. Tapi Vidia seakan sudah canggung dia hanya diam dan hanya memandangi kedua orang itu dengann perasaab tidak enak beberapa saat.
Yuda yang mendengar ucapan ayahnya lalu memegang lembut tangan Vidia dan masih menunjukkan muka tak nyamannya pads Vidia dan menyuruh Vidia duduk kembali.
"Udah gak apa - apa. Duduk lagi sa . . . " Bwlum selesai Yuda berbira Vidia sudah menepis pelan tangan Yuda dan bersiap pergi.
"Ma maaf Nyonya Tuan, saya sudah membuat acara makan malamnya kurang nyaman. Ijinkan saya undur diri. Saya permisi." Kata Vidia sambil berlari pergi dari ruangan itu
__ADS_1