
Navier dan Ali masih duduk disofa dan merasa resah. Ali langsung menarik Navier keluar mengendap-endap. Navier menyetujuinya tetapi saat sudah berada didepan pintu terdapat petugas satpol PP yang menyergap tempat diskotik itu.
“Semuanya, matikan musiknya dan nyalakan lampu utamanya!” ucap salah satu anggota satpol PP.
Ketika Navier dan Ali akan keluar mereka langsung di tarik dan menyuruhnya tetap berada disitu.
“Kami ingin pulang,” ucap Navier.
“Sana masuk ke mobil satpol PP, tempat ini melanggar jam malam dan kalian semua harus dibawa ke kantor.”
Navier dan Ali terkejut, dia membela diri jika tidak melakukan apa-apa. Tetepi para satpol PP itu tidak mau tahu dan tetap membawa Ali dan Navier menuju mobil satpol PP.
“Sialan! Aku seorang presdir diangkut satpol PP,” gumam Navier kesal.
Setelah sampai di kantor satpol PP, orang-orang yang berada di diskotik itu dimintai identitas diri. Navier dan Ali menyerahkan KTP mereka. Anggota satpol PP itu terkejut setelah mengetahui yang dia tangkap adalah
seorang presiden direktur tetapi mereka tidak mau tahu karena mereka hanya menjalankan tugas.
“Karena kalian berdua masih lajang dan masih tanggung jawab orang tua maka telponnya orang tua
kalian! Jika tidak maka kalian tidak boleh pulang!” ucap satpol PP itu.
Navier menyenggol Ali untuk menelpon ayahnya tetapi Ali tidak mau, dia takut kepada ayahnya. Ali menyuruh menelpon papa Navier tetapi Navier juga tidak mau karena juga takut kepada papanya.
“Kita suit saja, yang kalah harus menelpon bapak kita masing-masing,” ucap Navier.
“Oke.”
Mereka langsung suit dan Navier yang kalah, ia dengan takut menghidupkan ponselnya yang sedari tadi ia matikan. “Mau menelpon papaku rasanya kek mau meninggal,” gumam Navier membual Ali tertawa. “Mau menelpon
papaku rasanya kek nelpon malaikat maut,” sambung Navier.
“Cepatlah telpon! Supaya kita cepat pulang ke rumah.”
Navier menekan nomor papanya dan seketika Sean mengangkatnya.
“Anak kurang ajar kau! Dimana sekarang? Papa sudah ada didepan diskotik,” teriak Sean membuat kuping Navier berdengung.
“Maaf, apa benar ini nomor malaikat maut? Jika benar maka perpanjanglah hidup saya,” ucap Navier
ketakutan.
“Wah, kau mabuk pasti. Dimana sekarang? Awas kau saat pulang nanti!”
Navier beringsut menampilkan ekspresi sedih, “Uaaaa... Papa.... Kami diangkut salpol PP. Tolong kami, Pah!”
Sean sangat terkejut, ia langsung menyuruh Kim yang menyetir mobil segera ke kantor satpol PP. Sean semakin murka kepada putra terkecilnya itu.
**
Sesampainya di kantor satpol PP. Sean dan Kim langsung dipertemukan dengan anak-anak mereka. Kim langsung terjongkok didepan Ali yang duduk disofa, ia memandangi wajah Ali. Dia takut jika putra satu-satunya
terluka. Sedangkan Sean langsung menjewer telinga Navier, Navier meminta ampun dan merasa iri kepada Ali.
“Lepaskan, pah! Papa tidak khawatir jika aku terluka? Lihatlah uncle Kim langsung menanyakan keadaan Ali sedangkan papah datang-datang langsung menjewerku,” ucap Navier.
__ADS_1
“Ini belum seberapa, awas kau!”
“Maaf, Pak Sean. Mereka kami bawa ke kantor karena melanggar jam malam, harusnya sesuai aturan pemerintah diskotik tutup jam 12 malam,” jelas salah satu anggota.
“Kenapa malah kami yang ditangkap? Harusnya pemilik diskotiknya dong!” ucap Navier.
“Diam kau! Kau juga salah kenapa sudah pagi tidak cepat pulang?” ucap Sean.
Sean dan Kim lalu disuruh menandatangani surat pernyataan lalu mereka diperbolehkan untuk pulang. Setelah keluar dari kantor, mereka menaiki mobil. Sean dan Kim berada di depan sedangkan Navier dan Ali duduk
dibelakang. Navier dan Ali sudah terlelap dibelakang, mereka kelelahan.
“Jika ada berita aneh-aneh tentang mereka segera redam, Kim!” ucap Sean.
“Baik, kak.”
Sesampainya didepan gedung apartemen, mereka berdua masih terlelap. Sean dan Kim membangunkan anak mereka masing-masing. Ali langsung terbangun dan keluar dari mobil. Kim merangkulnya bahkan dia tidak terlihat
marah sedikitpun. Sedangkan Navier tidak mau bangun.
“Navi, bangun kau! Sudah sampai,” ucap Sean.
Navier mendengus, ia tetap terlelap dan tidak ingin bangun. Sean menyeretnya untuk keluar dari mobil tetapi tetap tidak bergeming. Sean dengan terpaksa menggendong Navier dipunggungnya.
“Apa saya yang gendong saja, kak?” ucap Kim.
“Tidak usah.”
Mereka naik keatas bersama-sama, Navier tidur sambil mengigau tidak jelas.
“Haduuuh... Suara musik disko menggema di telingaku, jedug... jedug... jedug... mantap. Goyang sampai pagi,” ucap Navier.
“Oppa, tempat tidur ‘kan ada disana,” ucap Mauren.
“Enak sekali tempat tidur,” jawab Sean.
Sean langsung meletakkan Navier di bak mandi yang terisi air penuh.
Byuuuuuuurrr....
Navier langsung bangun dan kelabakan, bahkan dia sampai terbatuk –batuk karena hidungnya kemasukan air. Mauren begitu terkejut, tak hanya itu saja Sean juga menyipratkan air ke wajah Navier.
“Papa heran denganmu, Navi. Saat sekolah kau tidak pernah membuat masalah tetapi kenapa kini saat sudah lulus selalu membuat ulah? Kenapa kau juga pergi ke diskotik sampai pagi bahkan sampai di tangkap satpol PP?”
tanya Sean dengan sangat murka.
“Pah, aku hanya menemani Mbah Matsumoto botak itu. Dia klien terpentingku dan tidak enak jika menolak ajakannya.”
“Harusnya kau tahu waktu dan langsung pulang setelah menemaninya sebentar. Kau seorang presdir harusnya lebih pandai. Kau dan Ali sama saja, sama-sama bodoh,” jawab Sean.
Navier memasang wajah cemberut, ia yang masih didalam bak mandi melihat ponselnya. Dia sangat terkejut saat mengetahui ponselnya basah.
“Uaaaa... Ponselku basah.”
Navier lalu berdiri lalu melepas jasnya. “Uaaaa... Oh my.... Jas importku basah.”
__ADS_1
Navier setelah itu membuka jasnya dan melihat kemejanya. “Uaaaa... Kemeja dari Hongkongku basah,” ucap Navier semakin panik.
Navier kini melorotkan celananya didepan orang tuanya. “Uaaaaaaa... sempakku basah.”
Sean memukul bahu Navier dengan keras, dia geram dengan putra alaynya itu. “Cepat mandi! Setelah ini kau harus berangkat kerja lagi, papa tidak mau tahu.”
Sean langsung meninggalkan kamar mandi, Mauren mendekati Navier dan langsung mengelus kepalanya. “Cepat mandi, sayang! Setelah ini tidur.”
**
Sean duduk di sofa dan melamun, Mauren mendekatinya dan menyodorkan kopi untuk sang suami tercinta. Sean memikirkan keadan anak-anaknya yang kacau, Sean dan Daleon sudah sembuh dari sifat aneh mereka justru kini gantian Navier.
“Aku akan konsultasi dengan psikiater, sepertinya Navi ada yang salah dari otaknya,” ucap Sean.
“Navier itu normal, oppa tidak ingat saat masih muda dulu juga alay begitu?”
“Tapi tidak separah Navier. Bahkan Navier tidak tahu malu didepan orang tuanya melorotkan celananya, apa itu disebut normal?”
Tiba-tiba Daleon dan Darsen keluar dari kamar mereka, mereka sudah membawa koper kecil. Mereka menghampiri Sean dan Mauren.
“Mau kemana?”
“Darsen ingin liburan ke kota sebelah. Kami seminggu akan berada disana,” jawab Daleon.
Sean langsung memeluk cucunya, dia pasti akan rindu dengan mereka berdua. Mauren mengusap
wajah Daleon. Putra terbesarnya harus menjalani kehidupan yang berat. “Semoga saat kau pulang kesini sudah membawa ibu untuk Darsen,” ucap Mauren.
Ibu Darsen adalah Seina, mah. Maaf jika aku belum bisa jujur.
“Papa dan mama mau minta oleh-oleh apa?” tanya Daleon.
“Seperti yang dikatakan mamamu, kau harus membawa calon ibu untuk Darsen,” ucap Sean.
Daleon tersenyum lalu memeluk papanya. Dia menyesal belum bisa menjadi anak yang baik diusianya yang kini hampir 28 tahun.
***
Beberapa jam kemudian, Daleon dan Darsen sudah sampai di kota sebelah dengan menaiki mobil. Mereka langsung menjemput Seina yang berada di stasiun TV.
“Hai anak mommy,” ucap Seina, dia langsung memangku Darsen dan duduk disamping Daleon yang berada di bangku kemudi. “Kita langsung ke apartemenku saja.”
Daleon menganggukkan kepala. Dia dengan cepat melajukan mobilnya ke apartemen Seina yang tidak jauh disana. Setelah menempuh 15 menit, Darsen rupanya tertidur. Seina langsung menggendongnya dan masuk ke apartemen
yang tidak terlalu luas itu. Dia membaringkan Darsen di ranjangnya.
“Dale, mau makan apa?” tanya Seina.
Daleon langsung memagut bibir Seina, lidahnya menyesap masuk dan bermain-main didalamnya. Tangan nakalnya menelusup kaos Seina dan membelai punggung mulus milik Seina. Setelah puas berciuman, mereka saling berpandangan. Mereka sangat merindukan masing-masing.
“Ayo kita segera menuju ke pelaminan! Kasihan Darsen yang tidak bisa masuk sekolah karena tidak punya akta kelahiran karena kita belum menikah, kasihan Darsen jika hanya homeschooling saja, dia juga pasti butuh
teman,” ucap Daleon.
__ADS_1
****
GIVE AWAYNYA MASIH BERLAKU GAES.