My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 15 : Kegigihan Angelica


__ADS_3

"Ampun, pah. Ketimbang ada salah paham mending papa ikutan kesini juga 'kan? Aku tidak mau Papa salah paham dengan Mama dan uncle Kim," ucap Navier.


Sean lalu ikut duduk dengan mereka. Lalu menatap Kim yang berada di seberangnya. Kim meminta maaf kepada kakak iparnya karena mengajak Mauren bertemu diam-diam. Kim juga menjelaskan apa tujuannya bertemu dengan Mauren.


"Jika kau bilang yang sebenarnya kepadaku maka aku tidak akan marah. Kau sudah lama bersamaku seperti itu saja tidak tahu sifatku," ucap Sean.


"Maaf, kak. Saya memang tidak enak meminta izin dari anda. Maafkan saya!"


Navier yang mendengar percakapan mereka hanya bingung. Dia sampai memegangi kepala karena saking bingungnya.


"Konspirasi macam apa ini? Jadi mama dan uncle Kim pernah melakukan? Oh my... pikiranku." Navier lalu berdiri dan menunduk memberi hormat kepada Kim. "Suhu Kim terimalah aku menjadi muridmu! Suhu memang pandai sampai bisa mengecoh papaku yang mengaku pandai ini," sambung Navier.


"Anak kurang ajar! Kau menganggap papa bodoh?" tanya Sean.


"No.. No.. No.. Papa tidak bodoh, uncle Kim yang sangat pandai menyelinap ke lubang buaya," jawab Navier.


Mauren menyuruh Navier untuk masuk ke mobil saja. Navier menolak dan beralasan sudah memesan makanan.


Mereka lalu melanjutkan obrolan lagi sedangkan Navier memandang wajah mamanya dan Kim secara bergantian.


"Tapi jika dilihat-lihat Mama dan uncle mirip juga kok," ucap Navier.


"Navi, mending anak mama penurut ini masuk ke mobil saja,” pinta Mauren.


"Eh... makanannya datang. Aku mau makan. Lanjutkan saja obrolan kalian! Anggap saja aku tidak ada," jawab Navier.


Navier masih mendengarkan obrolan orang tuanya dengan serius. Dia tidak menyangka jika mamanya pernah berhubungan dengan pamannya. Satu hal yang dia pikirkan, apakah Daleon adalah putra pamannya. Konspirasi ini membuatnya gila.


"Dale sedang ada di luar kota. Jika tes DNA nya terburu-buru maka aku akan suruh dia pulang," ucap Sean sambil mencoba menelpon Daleon.


Disisi lain, Daleon yang sedang bercinta dengan Seina tidak sadar jika ponselnya bergetar disamping tubuh Seina. Tangan Seina tidak sengaja menyenggol ponsel itu membuatnya tidak sengaja mengangkat telponnya.


"Dale, sedang apa? Besok pagi bisa pulang ke rumah? Ada hal penting, Dale."


Sean tidak mendengar suara sahutan putranya. Justru mendengar hal aneh, Sean mengernyitkan kening seperti suara familiar.


"Dale, apa yang kau lakukan?" tanya Sean lagi tetapi putranya tidak merespon.


Mauren menjadi cemas, ia menatap Sean dengan heran. Navier lalu merebut ponsel papanya dan mendengarkan dengan seksama.


"Oh my.... ada suara ah.. ah.. uh... ah... Itu suara monyet. Mungkin mereka sedang berada di kebun binatang," ucap Navier.


Navier lalu meload speaker supaya mereka. Mauren cukup terkejut mendengar suara itu. Navier malah mendengarkan secara detail dan tidak mau ketinggalan suara syahdu itu.


"Kim, lacak keberadaan mobil Daleon!" pinta Sean.


Kim melacaknya, dia membuka ponsel lalu mencarinya. Dia langsung bingung. "Mobil Dale berada di gedung apartemen Velton."


Sean dan Mauren terkejut, pasalnya gedung apartemen itu juga tempat tinggal putrinya. Tiba-tiba saja suara Daleon langsung menyahut di telpon itu. Dia menguap dan berpura-pura bangun tidur.


"Ada apa, pah?" tanya Dale.


"Dale, kau sedang apa?"

__ADS_1


"Bangun tidur, aku kelelahan setelah mengajak Darsen pergi ke kebun binatang."


"Wah, kebun binatangnya pindah ke kamar ya. Kok ada suara monyet mendesah?" sahut Navier.


Sean memukul bahu Navier, dia merebut ponselnya yang di pegang Daleon. Navier mengelus bahunya yang kesakitan, ia mendengus karena papanya suka sekali memukulnya.


"Besok pulang, Dale! Ada hal penting yang akan kita lakukan. Ini terkait hubungan uncle Kim dan tantemu," ucap Sean.


"Baik, pah. Sampai jumpa."


Daleon langsung menutup telponnya. Dia bersyukur jika papanya tidak menanyakan hal aneh kepadanya. Seina yang sudah menutup tubuhnya menggunakan selimut merasa was-was. Daleon tersenyum, ia mengecup pipi Seina.


"Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan!"


"Aku merasa berdosa sekali dengan papa dan mama," ucap Seina.


Daleon menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan akan baik-baik saja. Mereka lalu melanjutkan permainan mereka dengan nikmat yang sempat terjeda karena papa mereka menelpon tadi.


**


Kim mengetuk apartemen yang di tinggali Angelica, sudah 10 menit juga dia belum membukanya. Tiba-tiba Ali keluar dan bilang jika Angelica sudah pergi sedari pagi tadi. Kim terkejut dan kesal dengan Ali kenapa dia tidak bilang jika Angelica sudah pergi.


"Kenapa ayah begitu marah?" tanya Ali.


"Dia tidak punya uang sepeserpun. Kenapa dia berani pergi dari sini?"


Kim langsung berlari keluar mencari Angelica. Dia memasuki mobil dan mencari Angelica disepanjang jalan yang dia lewati. Kim khawatir jika terjadi sesuatu dengan Angelica karena wanita itu baru saja keluar dari penjara.


Kim mencoba menelpon Angelica tetapi rupanya Angelica tidak membawa ponsel yang di berikannya.


"Ada apa ini?" tanya Kim.


"Dia mencuri diminimarket dan tidak mau mengaku padahal sudah terbukti barang curiannya berada di dalam tasnya."


Kim mengambil beberapa lembar uang lalu melemparnya ke tanah. "Ini ganti rugi untuk barang yang diambil wanita ini."


"Tidak bisa begitu, pak. Dia harus dibawa ke kantor polisi, dia maling dan harus diberi pelajaran."


Kim merasa murka. "Kenapa tidak sedari tadi dibawa ke kantor polisi? Kenapa harus di pukuli dulu padahal dia perempuan? Dia anak saya, saya bisa melaporkan kalian ke polisi atas kasus penganiayaan."


Mereka yang merasa memukuli Angelica lalu membubarkan diri. Kim langsung membawa Angelica ke mobil. Angelica hanya terdiam. Dia bahkan tidak mau memandang Kim.


"Aku ingin mati saja," ucap Angelica.


"Baiklah. Aku akan membunuhmu saat sampai apartemen."


Angelica menggigit bibirnya sendiri, ia mengeluarkan air mata. Kehidupannya begitu berat dan menyakitkan.


Setelah sampai di apartemen. Kim langsung mengobati Angelica. Angelica merasakan perih yang luar biasa di area wajahnya.


"Kapan uncle akan membunuhku?"


"Nanti."

__ADS_1


Angelica memandang wajah Kim yang rupawan tidak ada garis keriput yang terbentuk pada wajah Kim. Setelah selesai mengobati, Kim menutup mata Angelica dengan kain dan mengikat tangannya. Angelica di dudukkan pada sebuah kursi dan siap untuk di eksekusi.


"Akan mati saja kenapa tadi malah di obati?" tanya Angelica heran.


"Malaikat pasti takut dengan wajahmu yang jelek itu. Makanya harus diobati."


Angelica mengendus, ia lalu menghela nafas panjang karena sebentar lagi Kim akan mengeksekusinya.


"Buka mulutmu!" ucap Kim.


"Uncle mau memasukkan bom ke mulutku?"


Kim terdiam, setelah mulut Angelica terbuka ia segera menyuapkan makanan pada pada Angelica. Wanita itu terheran.


"Makan dulu sebelum mati. Supaya malaikat tidak kasian melihatmu kelaparan," ucap Kim.


"Uncle...." belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Kim langsung menyendokkan lagi makanan ke mulutnya. Angelica semakin kesal.


5 menit kemudian,


Makan sudah selesai. Angelica langsung berdebar kencang tatkala ia akan segera dieksekusi oleh pria itu. Kim langsung membuka penutup mata Angelica dan melepas ikatan pada tangan wanita itu.


"Uncle tidak jadi membunuhku?"


"Tanganku terlalu bagus untuk mengeksekusimu. Tidurlah! Tenangkan pikiranmu! Kita bicara besok saja."


Angelica langsung memeluk Kim. "Uncle tidak tega membunuhku karena uncle juga mencintaiku 'kan?"


Kim melepaskan pelukan Angelica. Dia merasa kesal jika wanita itu membahas masalah cinta di depannya.


"Aku mencintaimu, uncle."


"Kau salah mencintai pria yang sudah mempunyai anak yang sudah dewasa sepertiku. Uncle terlalu tua untukmu."


"Tidak! Umur bukan menjadi masalah. Cinta tidak memandang umur."


Kim mengusap wajahnya dengan kasar, ia mencoba keluar dari apartemen itu tetapi Angelica langsung mendorongnya ke ranjang dan menindihnya. Mereka saling bertatapan.


"Uncle lupa jika aku pernah membunuh 7 pacarku lalu memutilasinya? Aku menjadikan karya yang luar biasa," ucap Angelica seolah mengancam.


Angelica mencium bibir Kim, ia memagutnya dengan giras. Kim mendorong tubuh Angelica lalu bergantian menindihnya.


"Uncle lebih pengalaman darimu soal masalah bunuh membunuh."


Angelica menggelayuti leher Kim. Memberinya efek manja seolah menggoda pria itu tetapi berselang detik kemudian ia mencekiknya. Angelica mendekatkan wajahnya ke wajah Kim lalu memandangnya sambil tersenyum menyeringai.


"Jangan bohong uncle! Pria culun sepertimu mana bisa membunuh orang?" ucap Angelica sambil mengecup bibir Kim.


Kim menatapnya dengan tatapan tajam tetapi mematikan. Tangan Angelica mulai melepas kancing baju Kim satu persatu. Kim hanya terdiam melihat perlakuan Angelica kepadanya. Sampai ketika Kim mencekik balik leher Angelica. Wanita itu meronta dan meminta ampun.


"Lepaskan!"


"Katanya ingin mati?"

__ADS_1


Angelica menggelengkan kepala. Kim langsung melepaskannya cekikannya dan berdiri dari badan Angelica yang dia tindih.


"Jangan membuang waktumu untuk hal yang tidak berguna! Dan jangan harap uncle bisa menerima cintamu bahkan jika kau telanjang di depan uncle sekalipun," ucap Kim.


__ADS_2