
Navier pulang bersama Daleon ke rumah. Pekerjaannya yang begitu melelahkan membuatnya
ingin berendam air panas. Navier membuka pintu apartemen. Dia melihat Sean
sedang bermain bersama Darsen. Darsen yang melihat kepulangan papanya langsung
memeluk Daleon. Sedangkan Navier, duduk disebelah Sean. “Misi, Mbah,” ucap
Navier sambil membuka sepatunya.
“Maaaa... Navi pulang,” ucap Navier memanggil mamanya.
“Cih... Rasakan kau punya kakak baru. Mamamu pasti lebih sayang dia,” ucap Sean.
Navier langsung bangun dan mencari keberadaan mamanya. Dia mencari di kamar, di dapur
dan di seluruh ruangan. Mamanya tidak ada. Navier begitu kelimpungan.
“Pah, mama mana?” tanya Navier kepada Sean.
“Kau sudah besar masih saja mencari mamamu, kalah dengan Darsen yang tidak pernah rewel sepertimu.”
Navier duduk dilantai di depan Sean. Dia merengek seperti anak kecil, seharian dia tidak
bertemu mamanya tetapi saat pulang bekerja malah mamanya tidak ada di rumah.
Sean kembali ke kamarnya karena sakit telinga mendengar rengekan Navier. Naveir memegangi kaki Sean.
“Jangan bilang jika mama pergi ikut Jackson? Aku bagaimana? Aku masih kecil kok di tinggal,” rengek Navier.
“Kecil pala kau. Sudah besar, sudah tahu cinta-cintaan masih menganggap dirimu kecil.”
Pintu apartemen terbuka, Mauren masuk dengan ceria. Masalahnya sudah beres dan dia tinggal menemukan keberadaan Jenny yang entah dimana. Sorot matanya tertuju pada Navier yang memegangi kaki papanya.
“Navi?” ucap Mauren.
Navier berdiri, ia menghampiri mamanya. Navier meminta untuk tetap menyayanginya
walaupun kini sudah mempunyai anak baru. Mauren tersenyum. “Navi akan tetap menjadi anak mama yang paling menggemaskan. Sudah sana mandi, nanti kita makan malam bersama. Oh ya, Seline tidak
datang kesini?”
“Besok mah, aku mau malam mingguan dengan Seline. Besok mama ajari aku untuk bersikap
romantis ya?” pinta Navier.
Mauren menganggukkan kepala, Dia lalu mendorong Navier ke kamarnya, tak lupa
menyiapkan baju tidurnya. Navier tetaplah Navier, anak terkecilnya. Navier tetaplah manja dengannya tetapi Mauren
tidak masalah.
Setelah Navier mandi, dia memakai baju yang sudah disiapkan oleh mamanya. Tak lupa dia
berkirim pesan kepada Seline. Pacarnya membuatnya sungguh amat gila. Hanya
Seline yang ada di otak Navier seorang. Sambil rebahan, Navier membuka sosmednya. Dia memang anak gaul yang suka menggunggah foto diinternet, maka dari itu dia sangat terkenal. Tiba-tiba dia
mengingat Ali, dia harus menjenguk Ali dan menanyakan dirinya akan mulai
bekerja. Navier beranjak dari tempat tidur, ia berjalan menuju keluar dan
menuju ke apartemen yang di tinggali Ali beserta orang tuanya.
Saat naik ke lift, lift malah eror dan menuju ke lantai paling dasar. Navier memencet tombol
tetapi tetap saja tidak mau ke lantai yang akan dia tuju. Navier menunggu
sampai beberapa menit kemudian pintu lift terbuka. Sesuatu yang janggal dilihatnya. Seorang tergelatak
dibawah mobil dengan bersimbah darah.
Navier yang begitu terkejut menghampirinya. Mulutnya ternganga kala mengetahui yang ada
disitu rupanya Kim. Kim sudah tidak sadar lagi, perutnya masih tertancap sebilah pisau.
__ADS_1
“Uncle, siapa yang melakukan ini? Bangun uncle!!!”
Navier dengan cepat menelpon papanya. Papanya datang bersama anggota keluarga lain.
Sera dan Angelica menangis histeris, Navier yang masih syok mundur secara
perlahan. Nafasnya tersengal-sengal, ia terhuyung lalu pingsan seketika.
Satu minggu
kemudian,
Navier, menemani papanya yang sangat sedih didepan batu nisan yang bertuliskan sahabat
sejatinya. Sudah seminggu dari insiden pembunuhan itu tetapi sang pelaku belum
tertangkap. Sean sangat terpukul dengan kepergian Kim yang secara tiba-tiba.
Jika bunuh diri sepertinya tidak mungkin, Sean yakin pasti ada yang membunuh
Kim dengan sengaja.
“Papa, ayo kita pulang! Sudah 2 jam papa disini,” ajak Navier.
“Papa masih ingin disini menemani sahabat papa,” ucap Sean sambil mengelus batu nisan Kim.
Seline yang
berada disana hanya terdiam. Navier menarik tangan Seline untuk ke mobil.
Mereka membiarkan Sean untuk sendirian disana. Didalam mobil juga ada Mauren,
Mauren tidak berani melihat makam Kim karena akan membuatnya begitu sedih.
Sebuah mobil
hitam datang, rupanya itu Sera bersama putranya. Ali ingin melihat makam sang
ayah setelah seminggu acara pemakaman. Sera juga memilih berada didalam mobil
karena tidak kuat menahan kesedihan kehilangan suami tercintanya.
batu nisan Kim, air mata menghujani wajahnya. Kehilangan sang ayah saat dia
belum menemukan pasangan hidup membuatnya begitu sedih. Kim selalu menanyakan
pacar Ali tetapi Ali selalu mengatakan belum mempunyai pacar, disaat dirinya
sudah mulai membuka hati malah sang ayah pergi untuk selamanya.
“Ali,
jadilah anak yang baik. Ayahmu pasti bangga denganmu,” ucap Sean.
Ali
menganggukkan kepala. Ali menangis menumpahkan semua kesedihannya. Sean berdiri
lalu melangkah meninggalkan makam yang masih basah itu. Dia sudah kehilangan
teman terbaiknya.
**
Angelica termenung, dia mengusap perut yang sudah ada janinnya. Mereka semua belum tahu
jika dirinya sedang mengandung anak Kim. Dia juga tidak ingin memberitahu
kepada mereka. Hari ini ia memutuskan untuk tetap kembali ke Italia. Dia akan merawat janin itu sendirian.
Koper besar dia tarik, sebelumnya dia sudah berpamitan kepada seluruh anggota keluarga
Adinata untuk kembali ke Italia. Dengan pikiran mantab dia segera menuju ke
bandara dan menaiki pesawat menuju ke negara asalnya.
__ADS_1
Aku berjanji akan membesarkan anak
ini dengan baik.
(Kisah Kim,
Sean, Mauren selesai. Itu hanyalah pemanis cerita saja walau kenyataannya
sangat pahit karena Kim harus meninggal. Kim mendapatkan karma nyata. Jika
sudah baca kisahnya di K B M pasti mengerti)
**
Satu bulan kemudian.
Kehidupan mereka mulai normal seperti biasanya. Walau kini tanpa Kim, mereka sudah mulai
bangkit. Termasuk Ali, dia sudah mulai bekerja dengan Navier. Menjadi asisten
pribadi yang hebat seperti almarhum ayahnya kini adalah tujuannya. Ali belajar
beladiri dengan giat supaya bisa menjaga orang-orang disekitarnya.
Ali menekan bel apartemen Navier. Inilah kebiasaan Kim dulu yang selalu datang pagi-pagi
untuk menjemput sang tuan. Ali menundukkan kepala tatkala Mauren membuka pintu.
“Masuk dulu Ali, Navier sedang sibuk mencari kaos kaki coklatnya.”
Ali masuk, dia terkejut melihat Navier sudah memakai jas rapi tetapi dibawahnya masih
memakai kolor bermotif hewan. Navier mengobrak-abrik sofa mencari kaos kaki coklatnya.
“Dasar anak ini! Sudah besar masih saja kekanakkan. Pakai kaos kaki yang lain!” ucap Sean marah.
“Tidak mau, aku ingin pakai kaos kaki itu. Itu pemberian Seline.”
Navier mencari kesana kemari sampai dia melihat Ali yang hanya berdiri memandanginya.
“Ali, kenapa diam saja? Cepat bantu cari kaos kakiku!” ucap Navier.
“Baik, tuan.”
Ali mencari kaos kaki Navier. Sean semakin pasrah akan kekonyolan kedua pria itu. Mereka
mencari kesana kemari tetapi belum juga menemukannya.
“Grandpa....”
Darsen si bocah TK itu menghampiri kakeknya, ia sudah terlihat rapi menggunakan seragam
TK nya. Sean mengambil dompet dan memberikan uang saku kepada cucu
tersayangnya.
“Tuan Navi, bukankah kaos kaki Darsen adalah kaos kakimu?” tanya Ali sambil memperhatikan kaos
kaki coklat yang digunakan Darsen dan nampak kebesaran.
Navier memandanginya, dia terkejut. “Hei Darman. Itu kaos kaki punya Om.”
Darsen beranjak ke pangkuan Sean. Dia meminta perlindungan kepada Sean. Navier tidak
tinggal diam, dia berusaha melepas kaos kaki pemberian pacarnya dari kaki
mungil Darsen. Darsen meronta lalu menangis kencang sampai Seina dan Daleon
menghampiri putranya.
“Kenapa sayang?” tanya Seina.
“Kak Sein, yang dipakai anakmu adalah kaos kakiku,” ucap Navier.
Seina memandangi kaos kaki yang dikenakan putranya. Dia tertawa kecil. “Nanti pulang
__ADS_1
sekolah aku kembalikan. Darsen juga tidak mau melepasnya.”
“Itu pemberian dari Seline kak. Lagipula juga kebesaran dikaki Darman.”