My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 35 : Kepergian Kim


__ADS_3

Navier pulang bersama Daleon ke rumah. Pekerjaannya yang begitu melelahkan membuatnya


ingin berendam air panas. Navier membuka pintu apartemen. Dia melihat Sean


sedang bermain bersama Darsen. Darsen yang melihat kepulangan papanya langsung


memeluk Daleon. Sedangkan Navier, duduk disebelah Sean. “Misi, Mbah,” ucap


Navier sambil membuka sepatunya.


“Maaaa... Navi pulang,” ucap Navier memanggil mamanya.


“Cih... Rasakan kau punya kakak baru. Mamamu pasti lebih sayang dia,” ucap Sean.


Navier langsung bangun dan mencari keberadaan mamanya. Dia mencari di kamar, di dapur


dan di seluruh ruangan. Mamanya tidak ada. Navier begitu kelimpungan.


“Pah, mama mana?” tanya Navier kepada Sean.


“Kau sudah besar masih saja mencari mamamu, kalah dengan Darsen yang tidak pernah rewel sepertimu.”


Navier duduk dilantai di depan Sean. Dia merengek seperti anak kecil, seharian dia tidak


bertemu mamanya tetapi saat pulang bekerja malah mamanya tidak ada di rumah.


Sean kembali ke kamarnya karena sakit telinga mendengar rengekan Navier. Naveir memegangi kaki Sean.


“Jangan bilang jika mama pergi ikut Jackson? Aku bagaimana? Aku masih kecil kok di tinggal,” rengek Navier.


“Kecil pala kau. Sudah besar, sudah tahu cinta-cintaan masih menganggap dirimu kecil.”


Pintu apartemen terbuka, Mauren masuk dengan ceria. Masalahnya sudah beres dan dia tinggal menemukan keberadaan Jenny yang entah dimana. Sorot matanya tertuju pada Navier yang memegangi kaki papanya.


“Navi?” ucap Mauren.


Navier berdiri, ia menghampiri mamanya. Navier meminta untuk tetap menyayanginya


walaupun kini sudah mempunyai anak baru. Mauren tersenyum. “Navi akan tetap menjadi anak mama yang paling menggemaskan.  Sudah sana mandi, nanti kita makan malam bersama. Oh ya, Seline tidak


datang kesini?”


“Besok mah, aku mau malam mingguan dengan Seline. Besok mama ajari aku untuk bersikap


romantis ya?” pinta Navier.


Mauren menganggukkan kepala, Dia lalu mendorong Navier ke kamarnya, tak lupa


menyiapkan baju tidurnya. Navier tetaplah Navier, anak terkecilnya.  Navier tetaplah manja dengannya tetapi Mauren


tidak masalah.


Setelah Navier mandi, dia memakai baju yang sudah disiapkan oleh mamanya. Tak lupa dia


berkirim pesan kepada Seline. Pacarnya membuatnya sungguh amat gila. Hanya


Seline yang ada di otak Navier seorang.  Sambil rebahan, Navier membuka sosmednya. Dia memang anak gaul yang suka menggunggah foto diinternet, maka dari itu dia sangat terkenal. Tiba-tiba dia


mengingat Ali, dia harus menjenguk Ali dan menanyakan dirinya akan mulai


bekerja. Navier beranjak dari tempat tidur, ia berjalan menuju keluar dan


menuju ke apartemen yang di tinggali Ali beserta orang tuanya.


Saat naik ke lift, lift malah eror dan menuju ke lantai paling dasar. Navier memencet tombol


tetapi tetap saja tidak mau ke lantai yang akan dia tuju. Navier menunggu


sampai beberapa menit kemudian pintu lift terbuka. Sesuatu yang  janggal dilihatnya. Seorang tergelatak


dibawah mobil dengan bersimbah darah.


Navier yang begitu terkejut menghampirinya. Mulutnya ternganga kala mengetahui yang ada


disitu rupanya Kim. Kim sudah tidak sadar lagi, perutnya masih tertancap sebilah pisau.

__ADS_1


“Uncle, siapa yang melakukan ini? Bangun uncle!!!”


Navier dengan cepat menelpon papanya. Papanya datang bersama anggota keluarga lain.


Sera dan Angelica menangis histeris, Navier yang masih syok mundur secara


perlahan. Nafasnya tersengal-sengal, ia terhuyung lalu pingsan seketika.


Satu minggu


kemudian,


Navier, menemani papanya yang sangat sedih didepan batu nisan yang bertuliskan sahabat


sejatinya. Sudah seminggu dari insiden pembunuhan itu tetapi sang pelaku belum


tertangkap. Sean sangat terpukul dengan kepergian Kim yang secara tiba-tiba.


Jika bunuh diri sepertinya tidak mungkin, Sean yakin pasti ada yang membunuh


Kim dengan sengaja.


“Papa, ayo kita pulang! Sudah 2 jam papa disini,” ajak Navier.


“Papa masih ingin disini menemani sahabat papa,” ucap Sean sambil mengelus batu nisan Kim.


Seline yang


berada disana hanya terdiam. Navier menarik tangan Seline untuk ke mobil.


Mereka membiarkan Sean untuk sendirian disana. Didalam mobil juga ada Mauren,


Mauren tidak berani melihat makam Kim karena akan membuatnya begitu sedih.


Sebuah mobil


hitam datang, rupanya itu Sera bersama putranya. Ali ingin melihat makam sang


ayah setelah seminggu acara pemakaman. Sera juga memilih berada didalam mobil


karena tidak kuat menahan kesedihan kehilangan suami tercintanya.


batu nisan Kim, air mata menghujani wajahnya. Kehilangan sang ayah saat dia


belum menemukan pasangan hidup membuatnya begitu sedih. Kim selalu menanyakan


pacar Ali tetapi Ali selalu mengatakan belum mempunyai pacar, disaat dirinya


sudah mulai membuka hati malah sang ayah pergi untuk selamanya.


“Ali,


jadilah anak yang baik. Ayahmu pasti bangga denganmu,” ucap Sean.


Ali


menganggukkan kepala. Ali menangis menumpahkan semua kesedihannya. Sean berdiri


lalu melangkah meninggalkan makam yang masih basah itu. Dia sudah kehilangan


teman terbaiknya.


**


Angelica termenung, dia mengusap perut yang sudah ada janinnya. Mereka semua belum tahu


jika dirinya sedang mengandung anak Kim. Dia juga tidak ingin memberitahu


kepada mereka. Hari ini ia memutuskan untuk tetap kembali ke Italia.  Dia akan merawat janin itu sendirian.


Koper besar dia tarik, sebelumnya dia sudah berpamitan kepada seluruh anggota keluarga


Adinata untuk kembali ke Italia. Dengan pikiran mantab dia segera menuju ke


bandara dan menaiki pesawat menuju ke negara asalnya.

__ADS_1


Aku berjanji akan membesarkan anak


ini dengan baik.


(Kisah Kim,


Sean, Mauren selesai. Itu hanyalah pemanis cerita saja walau kenyataannya


sangat pahit karena Kim harus meninggal. Kim mendapatkan karma nyata. Jika


sudah baca kisahnya di K B M pasti mengerti)


**


Satu bulan kemudian.


Kehidupan mereka mulai normal seperti biasanya. Walau kini tanpa Kim, mereka sudah mulai


bangkit. Termasuk Ali, dia sudah mulai bekerja dengan Navier. Menjadi asisten


pribadi yang hebat seperti almarhum ayahnya kini adalah tujuannya. Ali belajar


beladiri dengan giat supaya bisa menjaga orang-orang disekitarnya.


Ali menekan bel apartemen Navier. Inilah kebiasaan Kim dulu yang selalu datang pagi-pagi


untuk menjemput sang tuan. Ali menundukkan kepala tatkala Mauren membuka pintu.


“Masuk dulu Ali, Navier sedang sibuk mencari kaos kaki coklatnya.”


Ali masuk, dia terkejut melihat Navier sudah memakai jas rapi tetapi dibawahnya masih


memakai kolor bermotif hewan. Navier mengobrak-abrik sofa mencari kaos kaki coklatnya.


“Dasar anak ini! Sudah besar masih saja kekanakkan. Pakai kaos kaki yang lain!” ucap Sean marah.


“Tidak mau, aku ingin pakai kaos kaki itu. Itu pemberian Seline.”


Navier mencari kesana kemari sampai dia melihat Ali yang hanya berdiri memandanginya.


“Ali, kenapa diam saja? Cepat bantu cari kaos kakiku!” ucap Navier.


“Baik, tuan.”


Ali mencari kaos kaki Navier. Sean semakin pasrah akan kekonyolan kedua pria itu. Mereka


mencari kesana kemari tetapi belum juga menemukannya.


“Grandpa....”


Darsen si bocah TK itu menghampiri kakeknya, ia sudah terlihat rapi menggunakan seragam


TK nya. Sean mengambil dompet dan memberikan uang saku kepada cucu


tersayangnya.


“Tuan Navi, bukankah kaos kaki Darsen adalah kaos kakimu?” tanya Ali sambil memperhatikan kaos


kaki coklat yang digunakan Darsen dan nampak kebesaran.


Navier memandanginya, dia terkejut. “Hei Darman. Itu kaos kaki punya Om.”


Darsen beranjak ke pangkuan Sean. Dia meminta perlindungan kepada Sean. Navier tidak


tinggal diam, dia berusaha melepas kaos kaki pemberian pacarnya dari kaki


mungil Darsen. Darsen meronta lalu menangis kencang sampai Seina dan Daleon


menghampiri putranya.


“Kenapa sayang?” tanya Seina.


“Kak Sein, yang dipakai anakmu adalah kaos kakiku,” ucap Navier.


Seina memandangi kaos kaki yang dikenakan putranya. Dia tertawa kecil. “Nanti pulang

__ADS_1


sekolah aku kembalikan. Darsen juga tidak mau melepasnya.”


“Itu pemberian dari Seline kak. Lagipula juga kebesaran dikaki Darman.”


__ADS_2