My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 37 : Perubahan Ali


__ADS_3

Navier bekerja dengan rajin dan teliti, ia sesekali melirik Seline yang sedang bekerja


di ruangan sebelah. Sudah sebulan lebih mereka berpacaran, keluarga Seline


masih menganggap jika hubungan mereka hanya palsu. Navier memang jarang datang


ke rumah Seline dikarenakan papa Seline mendekati Navier dengan cara


berlebihan. Navier tahu jika beliau hanya akting baik padahal dibelakangnya


beliau masih memperlakukan Seline secara tidak baik.


Seline datang, ia membawakan berkas yang harus ditandangani. Navier menerima berkas


tersebut dan tidak lupa untuk mengeceknya.


“Ehmm... Tuan Navi, nanti malam....”


“Aku akan datang, tenang saja!” jawab Navier sambil memberikan berkas itu kepada Seline


setelah di tandangani.


Seline tersenyum senang, malam ini adalah ulang tahunnya dan papanya merayakan dengan


meriah asalkan Navier harus datang. Ini adalah ulang tahun pertama Seline yang


dibuat pesta oleh papanya. Sebenarnya dia tidak ingin membuat pesta ulang tahun


tetapi papanya bersikeras untuk membuatnya supaya terlihat jika sang papa


menyayangi Seline di depan Navier.


“Hari ini aku akan membawakan hadiah spesial untukmu sayang.


“Terima kasih Tuan Navi, jika begitu aku ingin kembali ke ruanganku.”


Navier menganggukkan kepala, dia segera melanjutkan pekerjaannya. Dia kembali melihat


layar laptop melihat naik turunnya grafik saham di semua cabang, papanya sudah


memutuskan untuk memecah perusahaan Young Group menjadi dua bagian. Ini membuat


Navier jauh lebih mudah memimpin perusahaan. Sang kakak sudah berusaha keras


untuk menjalani bisnis tersebut dan bahkan kini dia sudah memimpin kantor


cabang walaupun Sean masih mengawasinya.


“Ali, tolong bawakan ponselku!” teriak Navier.


Ali bangun dari tempat duduknya, ia menuju ruangan Navier. “Tuan bilang apa?”


“Tolong ambilkan  ponselku yang tertinggal di


mobil!”


Ali menundukkan kepala, Navier sedikit heran kenapa semenjak Kim sudah tidak ada


justru Ali selalu mengikuti perintahnya dan tidak pernah membantah. Ini membuat


Navier semakin semangat untuk mengerjai Ali.


Berselang menit kemudian, Ali datang. Dia mengatakan jika ponsel Navier tidak ada didalam


mobil. Navier mengambil ponselnya dilaci dan menunjukkannya kepada Ali.

__ADS_1


“Aku lupa jika aku menaruh ponselku di laci,” jawab Navier dengan santai.


Ali tersenyum kecil lalu menundukkan kepala, dia segera berpamitan untuk kembali


keruangannya.


“Tunggu! Tolong ambikan aku minum!” pinta Navier.


Ali tanpa membantah membuatkan Navier minuman, Navier tertawa kecil karena bisa menyuruh


Ali tanpa bertengkar terlebih dahulu seperti dulu. Ali membuatkan susu favorit


sang tuan, dengan sabar dia menuangkan susu kental manis dan tidak lupa


ditambah gula. Air hangat ia tuangkan dan tidak lupa untuk diaduk. Setelah


siap, ia memberikannya kepada Navier.


“Ini tuan.”


“Letakkan di meja!”


Setelah


meletakkan  dimeja, Ali masih berdiri


menghadap sang tuan. Navier terheran. “Menunggu apa?”


“Ada yang


ingin tuan inginkan lagi?” tanya Ali.


Navier


menggelengkan kepala tetapi dia bertanya akan satu hal yang membuatnya ingin


“Ayah saya


ingin saya seperti itu, melayani anda sepenuh hati. Dia tidak ingin aku


bertengkar dengan anda, itu wasiat ayah saya,” terang Ali.


Navier


tersenyum tipis, ia berdiri lalu memeluk Ali. Dia tahu jika kakak sepupunya itu


masih merindukan sang ayah yang biasanya memanjakannya. “Jangan merasa sendirian!


Ada aku disini,” ucap Navier.


Ali merasa


sangat terharu, ia memeluk Navier dengan erat. Kerinduan dengan ayahnya begitu


nyata bahkan beliau belum melihat Ali menikah dan sukses. Ali meneteskan air


mata lalu mengusapnya dengan segera. Mereka melepaskan pelukan masing-masing.


“Terima


kasih sudah mau menjadi temanku,” ucap Ali.


“Kau bahkan


lebih dari sekedar teman, kau sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri.”

__ADS_1


Setelah Ali


cukup tenang, ia kembali ke ruangannya. Melanjutkan pekerjaan sebagai asisten


presdir. Seline yang melihat kedekatan mereka begitu haru. Walau Navier


terkadang susah di mengerti tetapi Navier mempunyai hati yang baik.


Disisi lain,


Mauren tengah melakukan panggilan video dengan putranya yaitu Jackson. Mauren


sangat merindukan putranya itu. Putra yang bertemu setelah dia dewasa, Mauren


begitu menyesal karena tidak bisa membesarkan putra biologisnya. Hanya wajah


putranya yang bisa dia lihat melalui panggilan telepon, walau dia tidak pandai


berbahasa Inggris tetapi mereka tidak kebingungan saat berbicara satu sama lain


karena jiwa mereka terikat sebagai ibu dan anak.


“Huuuueeek....


mama... ma...”


Seina


merasakan mual berlebih, ia hamil satu bulan. Mauren segera mengakhiri


panggilan video dengan Jackson dan menghampiri Seina.


“Mual lagi,


sayang?” tanya Mauren.


Seina


menganggukkan kepala, dia meminta sang mama untuk memijat tengkuk lehernya.


Mauren melakukannya karena tidak tega melihat Seina yang begitu lemas.


“Biar bibi membuatkan


teh hangat ya?” tanya Mauren.


Seina


menggelengkan kepalanya, bahkan aroma minuman apapun dia merasa begitu mual.


Seina hanya minum air putih dan hanya makan nasi saja. Mauren tahu saat hamil


akan terjadi seperti itu, dia sudah menyiapkan beberapa vitamin untuk putrinya.


“Mama, aku


tidak enak dengan papa. Papa menunggu Darsen disekolah,” ucap Seina.


“Biarkan


saja! Papamu juga tidak ada kerjaan. Oh ya, bentar lagi Dale pulang. Kita makan


bersama-sama, ya?”


“Iya mah,

__ADS_1


kalo gak makan nanti aku kena omelannya.”


__ADS_2