
Navier bekerja dengan rajin dan teliti, ia sesekali melirik Seline yang sedang bekerja
di ruangan sebelah. Sudah sebulan lebih mereka berpacaran, keluarga Seline
masih menganggap jika hubungan mereka hanya palsu. Navier memang jarang datang
ke rumah Seline dikarenakan papa Seline mendekati Navier dengan cara
berlebihan. Navier tahu jika beliau hanya akting baik padahal dibelakangnya
beliau masih memperlakukan Seline secara tidak baik.
Seline datang, ia membawakan berkas yang harus ditandangani. Navier menerima berkas
tersebut dan tidak lupa untuk mengeceknya.
“Ehmm... Tuan Navi, nanti malam....”
“Aku akan datang, tenang saja!” jawab Navier sambil memberikan berkas itu kepada Seline
setelah di tandangani.
Seline tersenyum senang, malam ini adalah ulang tahunnya dan papanya merayakan dengan
meriah asalkan Navier harus datang. Ini adalah ulang tahun pertama Seline yang
dibuat pesta oleh papanya. Sebenarnya dia tidak ingin membuat pesta ulang tahun
tetapi papanya bersikeras untuk membuatnya supaya terlihat jika sang papa
menyayangi Seline di depan Navier.
“Hari ini aku akan membawakan hadiah spesial untukmu sayang.
“Terima kasih Tuan Navi, jika begitu aku ingin kembali ke ruanganku.”
Navier menganggukkan kepala, dia segera melanjutkan pekerjaannya. Dia kembali melihat
layar laptop melihat naik turunnya grafik saham di semua cabang, papanya sudah
memutuskan untuk memecah perusahaan Young Group menjadi dua bagian. Ini membuat
Navier jauh lebih mudah memimpin perusahaan. Sang kakak sudah berusaha keras
untuk menjalani bisnis tersebut dan bahkan kini dia sudah memimpin kantor
cabang walaupun Sean masih mengawasinya.
“Ali, tolong bawakan ponselku!” teriak Navier.
Ali bangun dari tempat duduknya, ia menuju ruangan Navier. “Tuan bilang apa?”
“Tolong ambilkan ponselku yang tertinggal di
mobil!”
Ali menundukkan kepala, Navier sedikit heran kenapa semenjak Kim sudah tidak ada
justru Ali selalu mengikuti perintahnya dan tidak pernah membantah. Ini membuat
Navier semakin semangat untuk mengerjai Ali.
Berselang menit kemudian, Ali datang. Dia mengatakan jika ponsel Navier tidak ada didalam
mobil. Navier mengambil ponselnya dilaci dan menunjukkannya kepada Ali.
__ADS_1
“Aku lupa jika aku menaruh ponselku di laci,” jawab Navier dengan santai.
Ali tersenyum kecil lalu menundukkan kepala, dia segera berpamitan untuk kembali
keruangannya.
“Tunggu! Tolong ambikan aku minum!” pinta Navier.
Ali tanpa membantah membuatkan Navier minuman, Navier tertawa kecil karena bisa menyuruh
Ali tanpa bertengkar terlebih dahulu seperti dulu. Ali membuatkan susu favorit
sang tuan, dengan sabar dia menuangkan susu kental manis dan tidak lupa
ditambah gula. Air hangat ia tuangkan dan tidak lupa untuk diaduk. Setelah
siap, ia memberikannya kepada Navier.
“Ini tuan.”
“Letakkan di meja!”
Setelah
meletakkan dimeja, Ali masih berdiri
menghadap sang tuan. Navier terheran. “Menunggu apa?”
“Ada yang
ingin tuan inginkan lagi?” tanya Ali.
Navier
menggelengkan kepala tetapi dia bertanya akan satu hal yang membuatnya ingin
“Ayah saya
ingin saya seperti itu, melayani anda sepenuh hati. Dia tidak ingin aku
bertengkar dengan anda, itu wasiat ayah saya,” terang Ali.
Navier
tersenyum tipis, ia berdiri lalu memeluk Ali. Dia tahu jika kakak sepupunya itu
masih merindukan sang ayah yang biasanya memanjakannya. “Jangan merasa sendirian!
Ada aku disini,” ucap Navier.
Ali merasa
sangat terharu, ia memeluk Navier dengan erat. Kerinduan dengan ayahnya begitu
nyata bahkan beliau belum melihat Ali menikah dan sukses. Ali meneteskan air
mata lalu mengusapnya dengan segera. Mereka melepaskan pelukan masing-masing.
“Terima
kasih sudah mau menjadi temanku,” ucap Ali.
“Kau bahkan
lebih dari sekedar teman, kau sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri.”
__ADS_1
Setelah Ali
cukup tenang, ia kembali ke ruangannya. Melanjutkan pekerjaan sebagai asisten
presdir. Seline yang melihat kedekatan mereka begitu haru. Walau Navier
terkadang susah di mengerti tetapi Navier mempunyai hati yang baik.
Disisi lain,
Mauren tengah melakukan panggilan video dengan putranya yaitu Jackson. Mauren
sangat merindukan putranya itu. Putra yang bertemu setelah dia dewasa, Mauren
begitu menyesal karena tidak bisa membesarkan putra biologisnya. Hanya wajah
putranya yang bisa dia lihat melalui panggilan telepon, walau dia tidak pandai
berbahasa Inggris tetapi mereka tidak kebingungan saat berbicara satu sama lain
karena jiwa mereka terikat sebagai ibu dan anak.
“Huuuueeek....
mama... ma...”
Seina
merasakan mual berlebih, ia hamil satu bulan. Mauren segera mengakhiri
panggilan video dengan Jackson dan menghampiri Seina.
“Mual lagi,
sayang?” tanya Mauren.
Seina
menganggukkan kepala, dia meminta sang mama untuk memijat tengkuk lehernya.
Mauren melakukannya karena tidak tega melihat Seina yang begitu lemas.
“Biar bibi membuatkan
teh hangat ya?” tanya Mauren.
Seina
menggelengkan kepalanya, bahkan aroma minuman apapun dia merasa begitu mual.
Seina hanya minum air putih dan hanya makan nasi saja. Mauren tahu saat hamil
akan terjadi seperti itu, dia sudah menyiapkan beberapa vitamin untuk putrinya.
“Mama, aku
tidak enak dengan papa. Papa menunggu Darsen disekolah,” ucap Seina.
“Biarkan
saja! Papamu juga tidak ada kerjaan. Oh ya, bentar lagi Dale pulang. Kita makan
bersama-sama, ya?”
“Iya mah,
__ADS_1
kalo gak makan nanti aku kena omelannya.”