My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 36 : Navier bocah


__ADS_3

Seina memandangi kaos kaki yang dikenakan putranya. Dia tertawa kecil. “Nanti pulang sekolah aku kembalikan. Darsen juga tidak mau melepasnya.”


“Itu pemberian dari Seline kak. Lagipula juga kebesaran dikaki Darman.”


Darsen mengotot tidak mau mengambilkannya. Dia memandang Navier dengan penuh ejekan tetapi dia masih memasang wajah menangis.


"Om Napret, nanti pulang sekolah Darsen akan kembalikan," ucap Darsen sambil sesegukkan.


Mauren datang sambil membawakan kaos kaki milik Navier yang lain. Sang mama menenangkan Navier lalu menyuruh duduk putranya itu. Mauren menatap wajah Navier yang cemberut. Putra terkecilkan memang masih kekanakan.


"Sudah jangan marah! Pakai saja yang ini. Ini sudah cukup siang. Katanya ada meeting?" ucap Mauren.


Navier berdecak, ia memakai kaos kaki dan sepatunya sedangkan Mauren mengambilkan celana kerja Navier. Ali menunggu sang tuan dengan sabar, ia harus menjadi asisten yang patuh.


Setelah mamanya membawakan celana kerjanya, Navier mencoba memakainya tetapi tidak bisa karena kakinya sudah memakai sepatu.


"Mah, tidak bisa...." rengek Navier.


Sean yang melihat putranya kekanakan membuatnya kesal sendiri. Dia menghampiri Navier, mendorongnya ke sofa lalu menarik sepatu dari kaki Navier.


"Tinggal lepas saja banyak tingkah! Kau sudah besar, apa-apa masih saja merengek mamanya dan kau Mauren. Jangan memanjakannya! Badannya saja yang besar tapi otaknya masih bocah," ucap Sean.


Navier berdecih, ia segera memakai celananya tanpa memperdulikan ucapan sang Papa. Setelah selesai, ia bersalaman dengan mamanya tetapi tidak dengan papanya.


"Nah, 'kan. Anak kurang ajar," umpat Sean.

__ADS_1


Navier tidak mengindahkan papanya. Dia keluar bersama Ali. Mereka berjalan menuju lift dan keluar dari gedung apartemen mewah itu. Dalam perjalanan ke tempat parkir, Ali membacakan jadwal apa saja yang akan dilakukan oleh Navier.


Navier hanya manggut-manggut saja, dia sedari tadi malah memikirkan pacarnya.


"Eh, Ali. Hari ini aku ingin makan siang berdua bersama Seline."


"Tapi, tuan. Siang ini anda akan makan malam dengan..."


"Rubah jadwalnya!" pinta Navier.


Ali menganggukkan kepala, dia tidak ingin berdebat dengan Navier walau Ali sendiri sudah sangat kesal dengan sifat Navier yang menang sendiri dan tidak memikirkan orang lain.


Setelah masuk kedalam mobil, Navier memainkan game di ponselnya. Kebiasaan Navier memang seperti papanya saat muda ketika perjalanan menuju ke kantor selalu memainkan game sembari menunggu sampai tempat kerjanya.


Ali hanya bisa bersabar dengan tingkah laku bos sintingnya itu.


10 menit kemudian, Navier tersadar jika dirinya sudah sampai di depan kantor. Dia menatap kesal Ali yang hanya diam.


"Sialan kau! Sudah sampai seharusnya bilang! Cih..."


"Saya tidak mau menganggu anda, tuan."


"Bodoh kau!"


Ali hanya bisa sabar setiap kata umpatan Navier yang terlontar dari mulut lemesnya. Ali keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk sang tuan. Navier keluar dengan gagahnya, ia masuk ke gedung dengan gagah. Banyak pegawai wanita yang memandangnya tetapi Navier tidak memperdulikan mereka.

__ADS_1


Navier tertuju kepada sang pacar yang sudah menunggunya didepan lift. Dia tersenyum sumringah dan menghampiri Seline. "Morning," ucap Navier.


"Morning too."


Mereka masuk ke lift bersama-sama, seperti biasanya. Ali masih menjadi obat nyamuk ketika ia bersama sang tuan. Tetapi ia tidak mau memikirkan hal tersebut karena kini dia sudah mempunyai pacar walaupun pacar rahasia.


"Maaf, tidak bisa menjemputmu. Ada urusan mendadak," ucap Navier.


"Tidak Papa, tuan."


Hahaha... urusan penting katanya? Dia saja bertengkar dulu dengan keponakannya. Batin Ali.


"Maaf, tuan. Kaos kaki yang saya berikan tidak dipakai?"


"Besok aku akan memakainya. Ku simpan di brankas kaos kaki pemberianmu," jawab Navier.


Di brangkas? Bukannya dipakai keponakanmu ke sekolah? Navier memang ngelawak.


Setelah sampai di ruangannya, Ali membukakan ruangan Navier dan tidak lupa menyalakan laptop serta AC. Seline juga terlihat menarik kursi untuk sang tuan sekaligus pacarnya.


Navier duduk dan menyuruh mereka untuk keluar.


Ini adalah aktivitas Navier sehari-hari, entah sampai kapan ia akan menggelutinya tetapi ia sudah berpikiran untuk berhenti menjadi presdir setelah ia mempunyai anak.


Jika papaku jadi presdir saat lulus SMP, aku jadi presdir saat lulus SMA, anakku nanti akan menjadi presdir saat masih menjadi embrio.. Hahahaha...

__ADS_1


__ADS_2