
Berselang menit kemudian, Daleon datang bersama putra dan papanya. Bekerja di perusahaan
cabang membuatnya lelah. Dia juga tidak lupa menjemput putranya. Daleon masuk
ke kamar dan melihat Seina begitu pucat. Dia menggantikan mamanya untuk memijat
tengkuk leher Seina.
“Biar aku saja, ma.”
“Baiklah,
nanti kita makan siang bersama.”
Setelah
mamanya keluar, Daleon melepas jasnya dan meletakkannya dipinggir ranjang.
Melihat sang istri tidak bertenaga membuatnya merasa bersalah. Kenapa dia harus
menghamili Seina lagi?
“Sayang
makan saja! Aku bisa lakukan ini sendiri,” ucap Seina.
“Tidak
apa-apa, aku merasa bersalah kepadamu karena membuatmu hamil lagi,” ucap
Daleon.
Seina
tersenyum kecil, ia menggenggam tangan Daleon. “Terima kasih sudah menjagaku
sedari kecil.”
“Bukannya
aku yang harus bilang begitu? Kau selalu menjagaku dan aku sangat bahagia kini
kita sudah menjadi keluarga yang sah.”
Seina
memeluk Daleon, 5 tahun sudah mereka menjalani cinta terlarang ini dan pada
akhirnya mereka bisa bersama. Memiliki
keluarga sendiri yang utuh bersama anak-anaknya. Darsen masuk, ia membuka
pintu. Bocah kecil itu membawa mainan pemberian kakeknya.
“Anak mama
__ADS_1
sudah pulang? Sini mama cium!” ucap Seina.
Darsen
menghampiri mamanya, ia memberikan pipinya kearah sang mama. Seina mengecupnya.
Daleon juga ikut mengecup putranya. Putranya yang tidak pernah rewel. Setelah
itu Seina mengganti seragam Darsen dengan pakaian biasa setelah itu mereka
keluar untuk makan bersama. Di meja makan sudah terdapat makanan yang sudah disiapkan
oleh pembantu. Sean, Mauren, dan keluarga kecil Daleon makan bersama. Mereka
makan dengan niikmat, Mauren melirik kursi kosong yang biasanya dipakai Navier.
Semenjak Navier sudah punya pacar menjadi jarang makan dirumah.
“Navi kecil
kita sudah besar ternyata,” ucap Mauren.
“Huh... anak
itu masih bertingkah seperti bocah.”
“Tapi Navier
diluar nampak mandiri. Dia seperti pada umumnya,” celetuk Seina.
hanya sedikit serta menahan nafas karena tidak betah dengan bau makanan yang
ada didepannya. Daleon dengan sigap memberi istrinya minyak air putih.
“Seina, jika
kau memberi papa cucu perempuan maka apartemen papah yang ada di gedung X akan
menjadi milikmu,” ucap Sean.
“Katanya
papa tidak suka anak perempuan?” tanya Seina.
“Anak papa
laki-laki semua, papa ingin cucu perempuan.”
Mauren
tersenyum, ia mengusap punggung Sean. Membicarakan anak perempuan, dia juga
masih mencari anak perempuannya bersama Kim tetapi dia tidak ingin membahas
dengan Sean karena pasti akan menyakitinya.
__ADS_1
“Oh ya,
Dale. Nanti malam kita bermain game bersama Navi, papa ikut turnamen juga.”
“Baik, pah.”
**
Navier
sedang menikmati makan siang bersama Seline, Seline masih nampak malu jika
berhadapan dengan pacarnya. Mereka makan nasi beserta rendang sapi favorit
Navier, mereka makan dengan tenang.
“Kita bisa
pulang cepat untuk mempersiapkan pestamu,” ucap Navier.
“Bolehkah,
tuan? Saya juga ingin membantu papa saya mendekor rumah. Saya senang sekali
karena ini adalah pesta pertama ulang tahun saya.”
“Tentu saja.
Aku juga ingin mempersiapkan kadoku untukmu, kita bisa pulang jam 5 sore.”
Seline
menganggukkan kepala, mereka melanjutkan makannya dengan tenang. Sesekali Navier melihat wajah Seline yang begitu
cantik. Ali mengetuk pintu lalu setelah itu masuk menghampiri Navier.
“Tuan Navier
kenapa memanggil saya?” tanya Ali.
“Sini makan
bareng kita ketimbang makan sendiri, oh ya pacarmu akan datang ‘kan nanti
malam?”
Ali menarik
kuris lalu duduk dihadapan mereka. “Saya tidak janji, tuan. Pacar saya juga
kebetulan masuk kerja malam.”
Navier
mengambil air putih lalu meminumnya. “Aku juga ingin melihat perempuan mana
__ADS_1
yang kau sukai. Kau selalu tertutup padaku.”