My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 38 : Makan siang


__ADS_3

Berselang menit kemudian, Daleon datang bersama putra dan papanya. Bekerja di perusahaan


cabang membuatnya lelah. Dia juga tidak lupa menjemput putranya. Daleon masuk


ke kamar dan melihat Seina begitu pucat. Dia menggantikan mamanya untuk memijat


tengkuk leher Seina.


“Biar aku saja, ma.”


“Baiklah,


nanti kita makan siang bersama.”


Setelah


mamanya keluar, Daleon melepas jasnya dan meletakkannya dipinggir ranjang.


Melihat sang istri tidak bertenaga membuatnya merasa bersalah. Kenapa dia harus


menghamili Seina lagi?


“Sayang


makan saja! Aku bisa lakukan ini sendiri,” ucap Seina.


“Tidak


apa-apa, aku merasa bersalah kepadamu karena membuatmu hamil lagi,” ucap


Daleon.


Seina


tersenyum kecil, ia menggenggam tangan Daleon. “Terima kasih sudah menjagaku


sedari kecil.”


“Bukannya


aku yang harus bilang begitu? Kau selalu menjagaku dan aku sangat bahagia kini


kita sudah menjadi keluarga yang sah.”


Seina


memeluk Daleon, 5 tahun sudah mereka menjalani cinta terlarang ini dan pada


akhirnya mereka bisa bersama.  Memiliki


keluarga sendiri yang utuh bersama anak-anaknya. Darsen masuk, ia membuka


pintu. Bocah kecil itu membawa mainan pemberian kakeknya.


“Anak mama

__ADS_1


sudah pulang? Sini mama cium!” ucap Seina.


Darsen


menghampiri mamanya, ia memberikan pipinya kearah sang mama. Seina mengecupnya.


Daleon juga ikut mengecup putranya. Putranya yang tidak pernah rewel. Setelah


itu Seina mengganti seragam Darsen dengan pakaian biasa setelah itu mereka


keluar untuk makan bersama. Di meja makan sudah terdapat makanan yang sudah disiapkan


oleh pembantu. Sean, Mauren, dan keluarga kecil Daleon makan bersama. Mereka


makan dengan niikmat, Mauren melirik kursi kosong yang biasanya dipakai Navier.


Semenjak Navier sudah punya pacar menjadi jarang makan dirumah.


“Navi kecil


kita sudah besar ternyata,” ucap Mauren.


“Huh... anak


itu masih bertingkah seperti bocah.”


“Tapi Navier


diluar nampak mandiri. Dia seperti pada umumnya,” celetuk Seina.


hanya sedikit serta menahan nafas karena tidak betah dengan bau makanan yang


ada didepannya. Daleon dengan sigap memberi istrinya minyak air putih.


“Seina, jika


kau memberi papa cucu perempuan maka apartemen papah yang ada di gedung X akan


menjadi milikmu,” ucap Sean.


“Katanya


papa tidak suka anak perempuan?” tanya Seina.


“Anak papa


laki-laki semua, papa ingin cucu perempuan.”


Mauren


tersenyum, ia mengusap punggung Sean. Membicarakan anak perempuan, dia juga


masih mencari anak perempuannya bersama Kim tetapi dia tidak ingin membahas


dengan Sean karena pasti akan menyakitinya.

__ADS_1


“Oh ya,


Dale. Nanti malam kita bermain game bersama Navi, papa ikut turnamen juga.”


“Baik, pah.”


**


Navier


sedang menikmati makan siang bersama Seline, Seline masih nampak malu jika


berhadapan dengan pacarnya. Mereka makan nasi beserta rendang sapi favorit


Navier, mereka makan dengan tenang.


“Kita bisa


pulang cepat untuk mempersiapkan pestamu,” ucap Navier.


“Bolehkah,


tuan? Saya juga ingin membantu papa saya mendekor rumah. Saya senang sekali


karena ini adalah pesta pertama ulang tahun saya.”


“Tentu saja.


Aku juga ingin mempersiapkan kadoku untukmu, kita bisa pulang jam 5 sore.”


Seline


menganggukkan kepala, mereka melanjutkan  makannya dengan tenang. Sesekali Navier melihat wajah Seline yang begitu


cantik. Ali mengetuk pintu lalu setelah itu masuk menghampiri Navier.


“Tuan Navier


kenapa memanggil saya?” tanya Ali.


“Sini makan


bareng kita ketimbang makan sendiri, oh ya pacarmu akan datang ‘kan nanti


malam?”


Ali menarik


kuris lalu duduk dihadapan mereka. “Saya tidak janji, tuan. Pacar saya juga


kebetulan masuk kerja malam.”


Navier


mengambil air putih lalu meminumnya. “Aku juga ingin melihat perempuan mana

__ADS_1


yang kau sukai. Kau selalu tertutup padaku.”


__ADS_2