
Mauren hari ini memakai baju serapi mungkin dan mengenakann parfum mahal. Dia berdandan dan membuat Sean sedikit heran. Sean memperhatikan jam yang menunjukan pukul 5 sore dan akan petang.
“Mau kemana?” tanya Sean.
“Mau arisan, oppa.”
“Mau malam begini baru arisan?”
Mauren tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia berpamitan kepada Sean untuk segera berangkat. Sean nampak risau dan seolah tidak mengizinkan Mauren tetapi Mauren meyakinkan jam 8 malam dia akan segera pulang. Dengan terpaksa, Sean mengizinkannya. Mauren berangkat menggunakan mobilnya sendiri. Sean mengantar Mauren ditempat parkir dan memastikan sang istri sudah meninggalkan gedung apartemennya.
“Zi, ikuti istriku!” ucap Sean melalui panggilan telepon.
Orang suruhan Sean mengikuti Mauren, Mauren seketika tersadar saat sudah mencapai jalan besar. Dia tersenyum dan senang jika sang suami mengkhawatirkannya. Mauren tetap melajukan mobilnya ke restoran tempat mereka akan mengadakan arisan mingguan bersama para teman-teman sesama bos. Setengah jam kemudian, ia
sampai lalu turun dari mobil. Mauren masuk ke restoran dan bergabung bersama teman-temannya yang sudah datang. Orang suruhan Sean, melaporkan Sean jika Mauren memang benar jika sedang berkumpul dengan teman-teman arisannya. Sean lalu menyuruh orang suruhannya untuk pergi.
Melihat orang suruhan Sean pergi. Mauren berpamitan untuk pulang karena ada keperluan mendadak. Setelah berpamitan dia pergi ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu.
Dia menyetir mobil dengan kencang dan memastikan tidak ada yang mengikutinya.
40 menit kemudian.
Sebuah pagar raksasa dengan ornamen kebaratan nampak begitu gagah, Mauren turun dari mobil lalu menekan bel rumah. Dia menatap langit yang sudah gelap. Malam ini adalah malam yang sangat panjang baginya.
“Menunggu lama?” tanya Mauren yang melihat Louis membuka pagar.
“Tidak, aku akan sabar menunggumu.”
Mauren tersenyum lalu masuk ke rumah Louis yang besar dan misterius. Rumah Louis tidak banyak berubah tetap menyeramkan dan memiliki banyak rangka binatang. Rumah
Louis begitu sepi tetapi masih ada beberapa pelayan yang melayani mereka untuk menyiapkan makan malam.
Mauren mendekati Louis lalu membuka risleting jaketnya. Dibalik jaket itu ternyata dia hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan perutnya terlihat. Louis tersenyum, ia membopong Mauren menuju ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, mereka berciuman dan memadu lidah tetapi Louis mengernyitkan dahi saat ada sesuatu didalam mulut mereka, menyadari hal itu Mauren melepaskan ciumannya.
“Ini permen supaya ciuman kita jadi lebih manis dan nikmat,” ucap Mauren.
Louis tersenyum, dia pun juga sudah terbiasa berciuman dengan Sera menggunakan permen. Mereka lalu melanjutkan ciuman itu dan pada akhirnya Louislah yang menelan permen yang sudah hampir habis karena permainan ciuman mereka lebih
dari 5 menit.
Mauren melepaskan ciuman, ia melihat wajah Louis yang sudah berbeda. Mauren tersenyum lalu mengambil minuman di meja dan memberikannya kepada Louis.
“Minum ini, Louis!” ucap Mauren.
Louis menenggaknya.
Louis bodoh, permen itu adalah obat
tidur. Tidurlah yang tenang, sayang!
Louis memegangi kepalanya, Mauren membantu membaringkannya dan berselang menit kemudian, Louis tertidur dengan pulas. Mauren tersenyum, dia memakai jaketnya kembali dan melakukan apa yang harus dilakukan. Mauren menggeledah seluruh isi
kamar Louis dan tidak ada yang mencurigakan. Dia mencari apa yang bisa menjadi bukti jika Louis adalah sindikat mafia di pasar gelap. Dia menjual organ tubuh bahkan menjual anak-anak kecil untuk menjadi budak nafsu kaum pedofil yang berterbaran diseluruh dunia. Mauren melakukan ini hanya untuk membalas
perbuatan Louis yang telah menodai Daleon. Ternyata Louis adalah seorang
__ADS_1
biseksual yang menyukai pria dan wanita. Walaupaun begitu, Daleon tidak mau
mengaku karena mungkin dia sangat malu jika pernah diperkosa oleh pria tidak
normal itu.
Sampai Mauren membuka lemari dan menemukan sebuah ruangan, dia membuka pintu. Ada sebuah tangga yang begitu gelap membuat Mauren penasaran. Dia masuk dan
menggunakan senter ponselnya untuk penerangan dan ternyata tangga itu
menghubungkan ke ruangan kecil yang terdapat monitor dan alat-alat yang Mauren tidak paham. Satu lagi terdapat CCTV, Mauren mencoba melihat beberapa rekaman yang memperlihatkan Louis yang sedang menyiksa korbannya. Tapi yang membuatnya heran kenapa Louis bisa memasang CCTV diruang tempat dia mengeksekusi?
Mauren melihat rekaman lain, dia terkejut melihat Sera dan Ali disiksa oleh Louis menggunakan rantai. Nampak Ali dicambuk menggunakan rantai besi sedangkan Sera diikat disebuah kursi sambil menangis. Mauren tidak kehilangan kesempatan, dia menyalin semua rekaman ke dalam flashdisk yang dia bawa.
Mauren tidak banyak waktu, dia segera keluar tetapi dia menemukan pintu lagi. Mauren membukanya tetapi terkunci. Sampai ia teringat dengan ucapan Daleon.
“Semua pintu rahasia Uncle Louis menggunakan sistem kunci menggunakan kornea mata. Jadi hanya
mata Uncle Louis yang bisa membuka pintu itu,” ucap Daleon saat dia sedikit
bercerita tentang Louis.
Mauren tersenyum, dia mengambil soflen berwarna biru yang dibuat persis yang dimiliki Louis. Mauren tidak sebodoh dulu yang selalu menangis setiap ada masalah. Mauren memakai kedua soflen itu lalu mencari kamera yang tertempel di atas pintu. Dia melihat kamera itu dan beberapa detik kemudian sinar biru keluar dari kamera itu.
“Selamat datang, Tuan Louis,” ucap sistem lalu pintu terbuka.
Mauren segera masuk, anak tangga yang panjang dan gelap ada didepannya. Satu persatu anak tangga dia turuni, bau
anyir darah menusuk hidung Mauren. Saat sudah sampai diujung ia melihat Sera dan Ali yang begitu lemas tak berdaya.
Sera yang sadar dengan kehadiran Mauren berteriak.
“Ssssttts.....”
Mauren terkejut melihat Ali mengeluarkan banyak darah. Mauren melihat keadaan Ali terlebih dahulu. “Dia hanya pingsan,” ucap Mauren.
Mauren melepaskan ikatan Sera dan saat sudah terlepas Sera menangisi putranya yang sempat menyelamatkannya walau gagal. Mauren tahu kesedihan Sera tetapi mereka tidak ada waktu untuk bersedih karena mereka harus keluar dari rumah Louis yang menyeramkan ini.
Plok... plok... plok...
Sebuah tepuk tangan menggema diseluruh ruangan yang lembab itu. Louis datang dan menuruni tangga.
“Hebat sekali kau, Mauren.”
Mereka terkejut, Sera melindungi putranya yang masih pingsan sedangkan Mauren berdiri melindungi mereka. Louis semakin mendekat membuat Mauren menelan ludah sepertinya mereka akan berakhir di tempat ini.
“Tolong hentikan permainan ini, Louis! Kau sudah menyakiti banyak orang,” ucap Mauren.
Louis berdecih, dia menjambak rambut Mauren. Mata elangnya begitu mematikan seolah ingin membunuh. “Kau wanita yang menarik.”
Disaat bersamaan, Kim, Jackson dan Angelica datang dari pintu lain. Kim memandang putranya yang terkapar, Sera yang terluka dan Mauren yang dijambak Louis seketika sangat murka. Jacskon menghampiri sang adik, dia memeriksa denyut nadi Ali yang kian melemah. Sera yang baru pertama kali melihat Jackson terkejut karena sekilas mirip dengan Kim.
Apakah pemuda ini adalah anak suamiku
bersama wanita lain?
Kim mengeluarkan senjatanya dan menodongkan kearah Louis. Louis hanya tersenyum kecut, dia juga memiliki senjata dan menodongkan kearah kepala Mauren.
__ADS_1
“Kita lihat. Psikopat bersama psikopat sama-sama bertarung,” ucap Louis.
Kim hanya memandang dingin Louis, kemarahannya sudah tidak bisa dipendam lagi. Angelica
yang tidak diperhatikan Louis langsung mengambil kesempatan menyerang Louis dan refleks Louis sadar segera menembakkan kearah Angelica tetapi Kim lebih dulu yang menembak kaki Louis.
DOR....
Louis terjatuh, Mauren segera lari menjauh. Kim mendekati Louis yang sudah tidak dapat berdiri. “Aku ingin sekali menembak tepat dijantungmu tetapi kami dan pihak kepolisian masih membutuhkanmu dalam penyelidikan,” ucap Kim.
Louis tertawa kecil, dia meraih pistol dan mengarahkannya kearah Ali yang tengah
dipangku Sera. “Bagaimana jika anakmu mati didepanmu?” tanya Louis sambil
tersenyum licik.
“Kau akan kubunuh jika menarik pelatuk pistolmu,” ucap Kim.
“Kudengar kau menikahi putriku? Wow... Aku ini mertuamu jadi sangat berdosa jika kau membunuhku.”
Angelica berdecih, ia meludah disamping Louis. Bahkan Angelica tidak pernah menganggap Louis adalah ayahnya. Angelica menendang kaki Louis dan pistol yang terlempar Louis terlempar jauh.
“Jangan banyak omong! Aku benci denganmu,” ucap Angelica.
“Ali.... Ali... Bangun!” teriak Sera.
Semua orang melihat kearah Ali dan dengan cepat Louis merebut pistol yang digenggam Angelica lalu menembak dada atas Ali.
DOR...
Ali mengeluarkan banyak darah bahkan juga keluar dari mulutnya. Sera dan Mauren begitu histeris. Kim memeremas tangannya dan menatap tajam kearah Louis.
“Tembak aku!” ucap Louis menantang.
Kim berjalan semakin mendekati Louis.
Disisi lain, Mauren melepas jaketnya lalu membalutkan pada dada Ali supaya tidak
mengeluarkan banyak darah. Jackson yang sedang menelpon pihak kepolisian langsung melihat perut Mauren yang nampak dan terdapat tanda lahir yang sempat ditunjukan oleh Kim. Ponsel yang dia genggam terjatuh, dia memandangi sosok ibu kandungnya yang selama ini dia rindukan.
“Cepat bawa Ali ke mobil!” ucap Mauren yang melihat Ali sudah memucat. “Kak Kim, urusi anakmu dulu! Masalah Louis sebentar lagi pihak polisi akan datang,” teriak Mauren.
Kim yang sudah tersulut emosi langsung sadar dan melirik putranya yang sudah tidak berdaya. Dia langsung berlari
menghampiri Ali dan menggendong Ali untuk segera ke rumah sakit. Mereka
langsung pergi tetapi tidak dengan Angelica.
“Lica? Ayo pergi!” ucap Mauren.
“Tidak tante, aku masih punya urusan dengan Louis.”
Mauren menganggukkan kepala, dia pergi dari ruang bawah tanah itu dan Jackson
mengikutinya dari belakang. Sang mama tepat dihadapannya.
Mama... aku menemukanmu. Kenapa kau
__ADS_1
tidak mengenaliku? Kenapa mama meninggalkanku sejak bayi? Aku begitu membencimu
tetapi aku tidak munafik jika aku sangat ingin memelukmu.