
Navier, sedari tadi melamun tidak jelas. Dia masih memikirkan masalah mama dan unclenya. Ada hubungan apa mereka berdua sampai bisa sang paman berani
melakukan seperti itu. Seline tiba-tiba
datang dan mengagetkannya. Seline membawakan susu dan beberapa jenis kue kering untuk pacarnya.
“Tuan, makanlah kue ini! Siapa tahu suasana hati anda menjadi lebih baik,” ucap Seline.
“Jangan memanggilku, tuan! Kau sudah menjadi pacarku.”
“Tapi dikantor aku adalah bawahanmu.”
Navier tersenyum, ia meminum susu dan memakan kue yang diberikan Seline. Navier melirik Daleon yang berada di ruangan Ali untuk menggantikan Ali sementara. Daleon begitu serius walau sesekali dia kesal jika tidak menemukan
penyelesaiannya.
“Kak Dale, sudah selesai apa belum?” teriak Navier.
“Sebentar!”
Navier tersenyum kecil, dia keluar dari ruangannya dan menghampiri Daleon. Dia melihat pekerjaan yang dikerjakan sang kakak. Navier mencoba membantunya dan mengajari sang kakak yang masih awam untuk mengurus perusahaan.
“Bagaimana kakak akan membangun perusahaan sendiri jika kakak belum bisa mengerti semua ini?” tanya Navier sambil membantu merapikan pekerjaan Daleon.
“Apa menurutmu aku tidak pantas?”
“Bukan begitu, Kak Dale harus memulai dari dasar dulu seperti menjadi supervisor yang memimpin beberapa orang dalam satu tim. Setelah itu kakak bisa naik pangkat menjadi manajer, jika evaluasi bulanan kakak naik maka kakak baru bisa memimpin satu cabang perusahaan. Jangan paksa otak Kak Dale untuk berpikir!” ucap Navier.
Daleon terdiam melihat Navier, sifat Navier memang sama sabarnya seperti papa mereka. Tak heran jika Navier sering dipuji mirip Sean. Daleon memperhatikan wajah adiknya yang terus mengecek pekerjaannya. Daleon merasa bersalah karena pernah membenci Navier yang tidak bersalah.
“Kau masih minum obat penenang?” tanya Daleon.
Navier terhenti. Dia menatap Daleon. “Maksudmu?”
“Maafkan aku yang membuatmu trauma!” ucap Daleon lalu merebut kembali pekerjaannya.
Daleon melanjutkan pekerjaannya. Navier hanya tersenyum kecil melihat permintaan maaf dari sang kakak yang sungguh menggemaskan. Navier kembali ke ruangannya, dia memeluk Seline dari belakang yang sedang membantu menyelesaikan pekerjaannya.
“Aku ingin sekali makan malam bersamamu tetapi aku ada urusan lain,” ucap Navier.
“Tidak papa, tapi akhir pekan ini bisa ‘kan datang di acara pacar adik tiriku?” tanya
__ADS_1
Seline.
“Akan ku usahakan,” ucap Navier sambil mengecup pipi Seline.
Maafkan aku, tuan. Aku memanfaatkanmu
supaya membungkam mulut-mulut keluargaku yang selalu meremehkanku.
Disisi lain,
Angelica mengemasi barang-barangnya. Dia sudah tidak ada urusan lagi di negara ini. Dia akan kembali ke Italia untuk memulai hidup baru disana. Sera masuk ke apartemen yang ditinggalinya. Dia memandang Angelica yang tidak menyadari kehadirannya.
“Lica, kau yakin ingin bercerai dengan suamiku? Kau tidak menunggu dulu, bagaimana jika pulang kesana malah kau hamil?” tanya Sera.
“Tante?” ucap Angelica terkejut. “Ini memang perjanjian awal kami. Setelah masalah selesai dan kalian rujuk kembali maka kami akan bercerai. Uncle Kim juga
memberikan uang untukku.”
“Maaf membuat kau terlibat dalam masalah keluargaku.”
Angelica menganggukkan kepala. Dia memang mencintai Kim tetapi mereka tidak mungkin melanjutkan hubungan mereka. Angelica memastikan jika dirinya tidak hamil mengingat umurnya juga sudah usia kepala tiga dan yakin akan sulit untuk hamil.
Setelah selesai berberes, dia mengajak Sera untuk duduk. Angelica meminta untuk menjaga Kim yang notabenya tidak seperti pria pada umumnya. Kim memiliki kepribadian ganda yang tidak
**
Sean duduk termenung diruang pribadinya. Memandangi foto-foto yang dikirimkan oleh orang
kepercayaannya untuk mengikuti Mauren dan Navier selama ini. Mauren dan Navier
kini menjadi perhatian penuh oleh Sean karena mereka berdua seolah
menyembunyikan sesuatu darinya. Mulai dari Navier yang menyembunyikan masalah traumanya sampai Mauren yang masih bertemu dengan Kim dibelakangnya.
“Grandpa...” ucap Darsen membuka pintu.
Sean tersenyum, saat ini yang membuat dia bisa tersenyum yaitu cucunya yang
menggemaskan. Darsen baru pulang dari sekolahnya. Dia begitu dekat dengan
kakeknya yang kini sering murung.
__ADS_1
“Grandpa, Darsen punya mobil baru,” ucap bocah itu.
“Benarkah? Nanti sore grandpa belikan yang banyak lagi tapi Darsen harus ganti baju dan makan dulu. “
Bocah itu menganggukkan kepala, ia keluar dan membuka pintu tetapi didepannya sudah ada
Kim. Kim berjongkok, ia mencubit gemas pipi cucu keponakannya itu.
“Kim, cepat sini!” ucap Sean seolah tidak sabar.
Kim mengusap kepala Darsen lalu menghampiri Sean. Dia duduk didepan kakak iparnya. Bahkan Kim tidak berani menatap wajah Sean. Orang yang selalu baik kepadanya bisa-bisanya dia khianati berulang kali.
“Ada banyak hal yang aku ingin tanyakan kepadamu. Apa yang terjadi saat kau dan istriku di Cina?” tanya Sean.
Kim terdiam. Dia menyerahkan senjata api diatas meja lalu bersujud dibawah kaki Sean. Sean memandanginya dengan biasa, dia sudah tau sifat Kim sedari dulu. “Saya melakukan kesalahan fatal, kak. Tembak saya jika anda muak dengan kesalahan saya!” ucap Kim.
“Kau pikir dengan kau mati bisa menghapus kesalahanmu?” tanya Sean.
“Setidaknya saya bisa menebusnya di akhirat nanti.”
Sean berdiri, ia menyuruh keluar Kim. Sean sudah sangat sakit hati oleh Kim yang seenaknya menusuk dari belakang. Kim menundukkan kepala memberi penghormatan kepada Sean. Kim sudah tidak mungkin lagi mendapat ampunan dari Sean. Sean memandang punggung Kim yang menjauh darinya. Sean seketika menitikkan air mata.
Disaat bersamaan Mauren datang, ia menghampiri Sean. Sean langsung memeluknya. Mauren hanya korban dari Kim, Sean tidak mungkin marah kepada sang istri yang tidak tahu apa-apa.
“Oppa kenapa? Kalian bertengkar?” tanya Mauren.
“Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu jika Jackson adalah putra kalian.”
Mauren melepas pelukannya dan melihat Sean. Tubuhnya bergetar, Sean memperhatikannya dengan lembut. “Sakit sekali hatiku. Kenapa diumurku yang sudah tidak muda lagi ini selalu mendapat kenyataan pahit. Aku hanya ingin hidup tenang setelah aku pensiun,” ucap Sean.
Mauren memeluk Sean, ia meminta maaf kepada Sean yang sebesar-besarnya. Keteledorannya membuat Sean merasa kecewa dan sangat terluka. Daleon yang mengintip mereka serasa ikut kesal mengetahui sang paman melakukan hal yang tidak masuk akal kepada mamanya.
Daleon menghampiri Kim yang baru keluar dari apartemennya. Satu pukulan mengenai wajah Kim dan langsung
tersungkur di lantai. Kim hanya terdiam, ia memang pantas mendapatkannya.
“Kau yang sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri dengan tega melakukan itu ke mamaku. Kau
memang keparat.”
“Bunuh aku, Dale. Aku akan senang jika kau membunuhku,” ucap Kim.
__ADS_1
“Lakukanlah sendiri! Tanganku terlalu bersih untuk membunuh orang sepertimu,” ucap Daleon.
Daleon pergi meninggalkan Kim. Kim begitu sangat hancur. Dia ingin mengakhiri hidupnya yang sudah merusak kebahagiaan orang lain.