My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 14 : Navier laknat


__ADS_3

Seline terdiam di ranjangnya, setelah ia menolak Navier pasti akan terjadi hal yang tidak mengenakkan kedepannya. Dia memeluk guling sambil membayangkan wajah menyebalkan Navier. Navier memang tampan tetapi sifatnya yang aneh membuatnya kesal sendiri.


"Seline...." teriak mama tirinya.


Seline langsung membuka pintu kamarnya, sang mama melempar baju yang nampak kusut.


"Tolong setrikakan! Kami mau makan malam bersama pacar Via," ucap mama.


Seline melempar kembali baju itu, mama tirinya terkejut dan menjambak rambut Seline. Seline meronta kesakitan, dia meminta ampun kepada mama tirinya.


"Kau tau jika pacar Via adalah manajer dari perusahaan besar? Jika baju kami kusut maka mau ditaruh mana wajah kami. Jadi tolong setrikakan baju kami!"


Seline menganggukkan kepala, sang mama melepaskan tangannya dari rambut Seline. Seline harus menyabarkan dirinya sampai papanya pulang dari luar kota. Dia segera menggosok baju tersebut.


Sejak Mama kandungnya meninggal dan papanya menikah lagi, hidup Seline menjadi berantakan dan tidak diurus. Bahkan Seline terkadang harus menjadi pembantu jika tidak ada papanya. Tetapi Seline tidak mau mengeluh, ia harus bersabar.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata dari nomor yang tidak dikenal. Dia segera mengangkatnya.


"Kau tidak akan pernah hidup tenang selagi membuatku terluka," ucap suara pria di telpon itu.


Seketika telpon itu mati, Seline mengerutkan dahi lalu merinding dibuatnya.


Kira-kira siapa yang mengancamku seperti itu? Apa Tuan Navier? Tapi suaranya bukan Tuan Navier.


Disisi lain, Navier tertawa terbahak-bahak. Sedangkan pamannya yaitu Juna menyerahkan telponnya. Ternyata suara tadi adalah suara Juna.


"Hebat sekali Suhu Juna, Suhu memang fakboy sejati," ucap Navier dengan bangga. "Suhu adalah orang penakluk wanita terbaik."


Juna menganggukkan kepala, ia menepuk dadanya seolah bangga. Juna lalu mengajari Navier sedetail mungkin cara meluluhkan hati wanita sampai membuat wanita itu klepek-klepek.


Sean yang keluar dari kamarnya melihat sang anak sedang berguru dengan serius.


"Juna, jangan mengajari anakku aneh-aneh!" ucap Sean sambil mendekati mereka.


"Tidak, Sean. Aku mengajarinya dengan batas wajar."


Navier mendekati papanya, dia menunjukan foto Seina bersama Darsen. Navier sudah curiga dengan kedekatan antara mereka. Sean tidak mau ambil pusing, ia menganggap biasa saja karena Seina adalah tante dari Darsen.


"Kau dengan anak kecil seolah mengadu domba, jika anakmu yang digitukan bagaimana perasaanmu?" ucap Sean.


"Pacar saja belum punya sudah membahas anakku," jawab Navier.


Navier kembali duduk disebelah Juna, mereka kembali membahas tentang bagaimana menjadi fakboy sejati. Sean menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka berdua.


Navier mencoba menelpon Seline, Seline seolah tidak mau mengangkatnya.


"Jika kau jantan, datangi rumahnya. Dasar pengecut!" sindir Sean.


Navier menatap jengah papanya tetap beberapa detik kemudian. "Pah, ayo ke rumah Seline! Temani aku!" pinta Navier.

__ADS_1


"Apa kau bilang?"


**


Navier sedang didalam mobil dengan papanya. Mereka memutuskan untuk ke rumah Seline. Sean juga merasa bodoh mengikuti keinginan anaknya yang kampret itu.


Dalam perjalanan, Sean terus mengoceh seperti burung beo. Navier yang sedang menyetir mobil hanya mendengarnya sambil lalu.


"Dulu saat Kak Sein pacaran juga papa antar," ucap Navier.


"Karena dia perempuan. Kau laki-laki mau ke rumah gebetanmu saja meminta diantar papanya. Dasar!" jawab Sean.


Navier seketika menghentikan mobilnya dipinggir jalan, dia teringat sesuatu yang pasti membuat papanya marah.


"Kenapa berhenti?" tanya Sean.


"Hehehe... Navi tidak tahu rumahnya."


Disisi lain,


Seline setelah selesai menyetrika ia langsung duduk didepan piano. Dia memainkannya dengan pelan, kamarnya terdapat peredam suara yang tidak akan membuat nenek lampir dan anaknya marah karena terganggu dengan permainan piano Seline.


Seline memainkan melodi favoritnya yang mungkin bisa menghilangkan rasa lelahnya. Dia merindukan mamanya sampai ia menitikkan air mata


Jika ada mama pasti hidupku tidak akan seperti ini. Pasti mama akan mendukungku menjadi pianis terkenal.


Seline menghentikan permainannya, dia mengusap air matanya dan memutuskan untuk tidur saja.


**


"Cukup! Aku tidak mau mendengar permintaan konyolmu. Kau membuang waktuku, aku harus melayani suami kerenku," ucap Sera.


"Tunggu! Pasti ada suatu alasan kau meninggalkanku? Salahku apa, Sera?"


Sera menaikan alisnya, ia terkekeh mendengar Kim tidak mengetahui alasannya.


"Aku sudah banyak sakit hati denganmu Kak Kim, kau masih tidak mau mengakuinya. Daleon adalah putra kandungmu dan kau masih menyangkalnya. Kau masih berhubungan dengan Mauren wanita sialan itu. Kau sering keluar masuk ke hotel dengan wanita anjing itu," ucap Sera.


Kim sangat terkejut dengan ucapan Sera. Dia semakin mendekati Sera tetapi Sera langsung mundur.


"Apa aku perlu melakukan tes DNA dengan Dale? Dale itu putra kakakmu. Kenapa kau memfitnahku seperti itu? Dan buktinya apa jika aku keluar masuk ke hotel dengan Mauren?"


Sera tersenyum kecut, maling mana ada yang mau mengaku? Dia bahkan sudah mempunyai bukti dari Louis. Louis juga yang memberikan surat hasil DNA nya. Louis mengambil rambut Kim dan rambut Daleon lalu secara diam-diam dia melakukan tes DNA.


Walau hasil tes DNA itu palsu tetapi Louis berhasil mengecoh Sera.


"Sudahlah, persidangan kita tinggal seminggu lagi. Aku tidak mau banyak basa-basi," ucap Sera sambil masuk.


"Kau sedang dimanfaatkan oleh Louis. Louis mengincar Mauren," teriak Kim.

__ADS_1


Langkah Sera terhenti, dia membalikkan badan. "MAUREN, MAUREN DAN MAUREN. Wanita genit itu apa bagusnya? Cih... Aku sudah tidak ingin lagi mendengar namanya," ucap Sera sambil menutup pagar rumah Louis.


Louis yang memperhatikan dari balkon kamar hanya menyunggingkan senyuman. Kim menatapnya dengan tajam. Louis lalu masuk ke kamarnya dan tidak memperdulikan Kim yang sangat kesal dengannya.


Kim masuk ke mobilnya, dia segera pulang.


...****************...


Sean begitu geram dengan Navier, putra kampretnya malah tidak tahu rumah gebetannya. Mereka langsung pulang ke apartemen. Navier yang sedang menyetir mobil melihat wanita yang dikenalnya.


"Pah, itu 'kan mama."


Navier langsung menepikan mobilnya mamanya sedang berada di cafe sendirian. Sean memperhatikannya dengan serius.


Berselang menit kemudian, seorang pria datang lalu duduk bersama Mauren dan ternyata pria itu adalah Kim.


"Kak Kim mau bicara apa?" tanya Mauren.


"Sera rupanya meninggalkanku karena masalah Daleon, dia menyangka jika Daleon itu anakku. Aku meminta izin kepadamu untuk melakukan tes DNA. Aku tidak mungkin meminta izin kepada suamimu."


Mauren merasa heran, dulu Sera begitu mempercayainya. Kenapa kini Sera serasa berubah? Pasti ada yang janggal. Feeling Kim merasa tidak enak, ia menengok kebelakang dan melihat mobil yang familiar berjarak 10 meter dari tempat duduk mereka.


"Mobil Tuan Muda Navier dibelakang," ucap Kim kepada Mauren.


Mauren terkejut, dia langsung menatap mobil putranya itu. Disaat bersamaan Navier langsung duduk disamping mamanya.


"Mamaaaaa..." teriak Navier.


Navier langsung membuka buku menu makanan, dia langsung memesan makanan.


Disisi lain Sean begitu geram melihat putranya yang bodoh.


"Anak setan, disuruh menguping dari jauh malah ikut bergabung bersama mereka," ucap Sean kesal.


Mauren memperhatikan Navier yang santai tanpa merasa berdosa. Navier lalu tersenyum maut kepada sang mama. "Mama dan uncle kenapa berduaan disini? tanya papa. Kalau aku sih tidak mau tahu tapi papa ingin tahu," ucap Navier.


"Dimana papamu?" tanya Mauren.


"Tuh, dimobil." tunjuk Navier. "Paaaaaah..Sini......," teriak Navier memanggil papanya.


Sean menepuk jidatnya, dia ingin mengumpati anak laknatnya itu. Sean menahan emosinya lalu keluar dari mobil dengan perasaan kesal.


Setelah sampai di meja mereka, Sean langsung menjewer telinga Navier. Navier meminta ampun.


"Ampun, pah. Ketimbang ada salah paham mending papa ikutan kesini juga 'kan? Aku tidak mau Papa salah paham dengan Mama dan uncle Kim," ucap Navier.


***


__ADS_1


Lebih suka tim mana? Sean dan Kim (saat muda) atau anak mereka yaitu Navier dan Ali?


__ADS_2