
"Hai, cewek kurang ajar," sapa Navier.
Tubuh Roseline seakan membeku. Jantungnya berdegup kencang dan rasanya ingin meledak. Dia menundukkan kepala tidak mau menatap Navier.
Ekor mata Seline justru melihat disekelilingnya yang seperti ruangan anak kecil.
Parah, cowok ini memang sinting. Ada ya ruangan bos besar terdapat boneka boneka?
"Hei!" bentak Navier.
"Ya?" jawab refleks Seline.
"Tak cuman matamu saja yang bermasalah sepertinya telingamu juga bermasalah."
Sial, malah kebelet pipis. Batin Seline.
Navier berdiri, ia melangkah mendekati Seline. Semakin dekat, semakin dekat sampai tubuh Seline bergetar hebat. Ketika Navier ingin memegang sesuatu dikepala Seline tiba-tiba saja ia berteriak kuat.
"Uaaaaaaaah... GAK TAHAN!" teriak Seline.
Navier terkejut, ia hanya memperhatikan larinya Seline. Navier mengerutkan kening dan menduga jika cewek itu benar-benar aneh.
Apanya yang gak tahan? Gak tahan melihat ketampananku? Gak tahan melihat kekerenanku?
Disisi lain, Seline berlari kearah lift. Dia kebelet pipis sampai ke ubun-ubun dan sampai menitikkan air mata. Saat lift terbuka ia bertemu Ali. Ali keluar dari lift dan keheranan tetapi belum sempat bertanya si Seline sudah masuk lift duluan dan memencet tombol.
Ali tidak menghiraukan, ia justru berjalan cepat ke ruangan sang presdir. Dia melihat adik sepupunya itu sedang berkaca dengan ekspresi yang membingungkan.
"Kau apakan dia?" tanya Ali.
"Huh.. Dia tidak tahan dengan ketampananku. Kau tau aku ini begitu tampan."
Ali melempar berkas ke meja, Navier menatapnya dengan tajam.
"Ups... tidak sengaja tuan muda," ejek Ali.
**
Sean mengantar putrinya ke stasiun kereta api. Hari ini Seina harus bekerja kembali, Sean sudah menyuruh Seina mencari pendamping hidup karena Seina sudah sangat matang untuk menikah tetapi Seina selalu berkata tunggu waktu yang tepat.
"Pah, papa yakin jika ibu Darsen sudah meninggal?" tanya Seina didalam mobil.
"Dale sudah tidak ingin membahas itu. Papa juga tidak ingin ikut campur masalah Dale, kau tahu sendiri 'kan sifat Daleon bagaimana? Dia mudah depresi."
Seina menganggukkan kepala. Ingin sekali dia mengatakan jika dirinya lah ibu dari Darsen yang malang. Dia bahkan hidup berjauhan dengan putranya.
Setelah menempuh waktu setengah jam, akhirnya sampai juga di stasiun. Seina menarik koper kecilnya dan mencium tangan sang Papa.
"Aku berangkat dulu, pah."
"Iya, hati-hati! Jangan telat makan disana!"
Seina menganggukkan kepala. "Pah, jika aku menikah nanti aku tetap butuh seorang wali. Ayahku belum diketahui keberadaannya apakah masih hidup atau justru telah meninggal. Aku juga tidak punya saudara dari kerabat ayahku," ucap Seina.
"Sein, papa akan menjadi walimu. Bagaimanapun aku tetap papamu. Papa yang membesarkanmu."
Apa jika aku menikah dengan Dale, papa tetap mau menjadi waliku? Itu yang selama ini aku pikirkan.
Setelah mengantar Seina, Sean memutuskan untuk mampir ke kantor putranya. Beberapa hari setelah dipimpin oleh Navier, perusahaan baik-baik saja. Tidak sia-sia, ia memperkenalkan bisnis kepada Navier sedari kecil.
__ADS_1
Dikantor,
Navier sedang membaca dokumen penting dan sedari tadi Seline berdiri didepan meja direkturnya. Navier belum memperbolehkan Seline untuk duduk.
"Pak Navier, bolehkah saya mulai bekerja?" tanya Seline.
"Pak katamu? Bahkan kau lebih tua dariku. Huh.. Panggil aku, tuan!"
Seline menganggukkan kepala, dia bingung harus melakukan apa. Navier masih menatap Seline dengan seksama. Dia berdiri lalu mendekati Seline, tangannya langsung memencet hidung mancung Seline.
"Ini hidung silikon?" tanya Navier.
"Anda menuduh saya operasi plastik?"
Navier terus saja memencet hidung pegawai barunya membuat gadis itu tidak nyaman lalu mundur menjauhi Navier.
"Kenapa kau mundur?" tanya Navier mendekati Seline.
Seline terus mundur kebelakang sampai ia menabrak sofa dan dirinya akan terjatuh ke belakang. Navier seketika refleks menahan punggung Seline agar tidak terjatuh. Mereka saling bertatapan, memandang setiap sorot mata yang seolah mengikat satu sama lain.
"Navi?" ucap suara yang tidak asing yaitu Sean.
Navier dan Seline langsung memandang Sean. Seketika Navier segera melepaskan punggungnya dan Seline jatuh kebelakang dan kepalanya membentur tembok.
Duaaaaak...
Navier dan papanya terkejut, Navier malah kembali ke kursi direkturnya dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Awas kau Tuan Navier! Kau memang tidak sopan. Batin Seline.
Sean membantunya berdiri. "Ada yang terluka?" tanya Sean khawatir.
Seline menggelengkan kepala, ia memegang rok span belakangnya yang robek. Seline sangat terkejut dan memegangi roknya.
"Ingat mama dirumah, pah! Lihat cewek cantik modusin mulu," sindir Navier sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sean memelototi Navier, Navier menahan tawanya. Seline memutuskan untuk segera keluar tetapi Sean mencegahnya.
"Tanggung jawab kau, Navi! Kau melukai perempuan dan membuat roknya sobek," ucap Sean.
"Tidak Papa, paman. Ini bisa dijahit. Saya permisi," ucap Seline sambil menundukkan kepala.
Seline keluar dari ruangan Navier, saat berjalan dia merasa tidak nyaman dan memegangi rok belakangnya. Sean menatap anaknya yang merasa tidak bersalah lalu mendekatinya.
"Kau harus sopan dengan perempuan."
"Sudahlah, pah. Papa kenapa datang kesini?" tanya Navier.
Sean menarik kursi lalu duduk, dia menjelaskan jika ia baru mengantar Seina di stasiun. Navier terus membaca dokumen pentingnya dan mendengar keluh kesah dari papanya.
"Papa tidak usah mengurusi rumah tangga orang! Itu sudah keputusan Tante Sera," ucap Navier.
"Tantemu itu tetap adik papa. Keputusannya bersama Louis itu salah, kasian Kim dan Ali."
"Oh my... Terus Navi harus bagaimana, pah? Berlari menuju stasiun TV terus rebutan microphone dengan pembawa acara lalu harus teriak-teriak didepan kamera gitu?"
Sean menatap kesal putranya itu, ia berdiri. Curhat dengan putra kampretnya satu ini memang tak ada gunanya. Kakinya mulai melangkah meninggalkan ruangan Navier.
"Awas kesandung, pah! Nanti nangis, mengadu mama," ejek Navier.
__ADS_1
"Anak setan kau! Tidak ada sopannya dengan orang tua. Memangnya aku temanmu kau ajak bercanda begitu," ucap Sean sambil melepas sepatunya dan akan melempar kearah Navier.
"Ampun, pah!" ucap Navier langsung bersembunyi dibawah kolong meja.
Sean tersenyum menyeringai.
"Ular... Ular... Ular dibawah meja," teriak Sean.
Navier terkejut, ia langsung berdiri tetapi kepalanya terbentur meja dengan kuat.
Duaaaaak...
"Buahahahha... Kualat kau! Itulah sebabnya jangan main-main dengan orang tua. Nangis... Nangis... Nanti mengadu mamanya," ejek Sean sambil tertawa terbahak-bahak.
Navier mendengus kesal, ia mengusap kepalanya. Dia langsung mengirim pesan kepada mamanya saat sang papa sudah keluar.
Navier
Mama, papa nakal. Kepalaku terbentur meja karena papa.
Mama
Apa sih, Navi? Sudah besar begitu saja mengadu pada mama.
Navier
Malu lagi jika mengadu pada Tuhan, mah.
Mama
Sudah lanjutkan pekerjaanmu, nanti malam mama buatin pudding.
Pintu terbuka, Seline masuk ruangan. Dia mengeha nafas panjang dan berdoa didalam hati supaya sang tuan menyuruhnya langsung bekerja.
Navier segera langsung menyuruhnya mendekat, Seline merasa kebingungan.
"Lihat kepalaku! Apakah terluka? Tadi aku terbentur meja," ucap Navier.
Navier duduk kursi direkturnya dihampiri oleh Seline. Seline melihat kepala Navier lalu menggelengkan kepala.
"Tidak ada, tuan."
"Lihat yang benar!"
Seline melihat dengan seksama dengam membungkuk ke kepala Navier. Navier menengok kearah Seline dan kini mereka bertatapan lagi. Seline mundur dan hampir terjatuh lagi, dengan cepat Navier memeganginya.
"Kau miss jatuh, dalam sehari bisa jatuh berapa kali?" ucap Navier.
***
Navier Alister.
Agatha Roseline.
__ADS_1