
Maafkan aku, Tuan Sean. Aku memang seseorang yang sering menusukmu dari belakang. Aku bukanlah teman bahkan saudaramu yang baik. Izinkan aku untuk mendedikasikan sisa umurku yang hina ini kepada maut. Neraka sudah menungguku.
Kim berada diatas jembatan dan siap terjun bebas ke sebuah sungai yang airnya deras. Hidupnya sudah tidak berguna lagi. Keluarga dan para sahabatnya begitu kecewa saat mengetahui ia melakukan hal yang sembrono kepada Mauren. Jackson dan Jenny adalah bentuk keegoisannya di waktu muda. Bukan hanya Mauren yang menjadi korban tetapi Jackson dan Jenny menjadi korban ayahnya yang egois. Bahkan Jenny belum ditemukan, Kim begitu menyesali perbuatannya.
Kim sudah berdiri di besi jembatan, matanya menelisik ke bawah untuk mencari posisi yang tepat untuk terjun. Tanpa aba-aba, satu kakinya sudah turun disusul kaki sebelahnya. Mungkin ini adalah pilihan tepatnya supaya tidak mengecewakan orang disekitarnya.
Saat tubuh mulai jatuh ke bawah tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Kim mendongakkan kepala, ia melihat Sean dan Juna memegangi tangannya.
"Kau bosan hidup, Kim?" teriak Juna.
Sean dan Juna menarik tubuh Kim untuk keatas. Sedikit demi sedikit tubuh Kim mulai naik dan saat itulah dia selamat dari maut. Sean dan Juna terengah-engah, nafas tuanya susah untuk bernafas karena saking beratnya tubuh Kim.
"Kenapa kau ingin bunuh diri? Apa menyelesaikan masalah dengan bunuh diri langsung selesai?" tanya Juna begitu marah.
Sean memandang wajah Kim yang begitu pucat. Dia memang sangat kecewa dengan Kim tetapi disisi lain dia harus memaklumi sifat Kim yang berbeda dari kebanyakan orang. Kim tidak berani menatap wajah Sean. Dia begitu malu karena sifatnya yang laknat kepadanya.
"Kita bicarakan dirumah saja, bagaimana enaknya. Kita pecahkan masalah ini dengan kepala dingin," ucap Juna menengahi mereka.
Sean menganggukkan kepala, dia masuk ke dalam mobil. Juna merangkul Kim untuk masuk ke mobilnya dan mobil Kim akan diambil oleh orang lain. Badan Kim terasa panas, Juna menyarankan ke rumah sakit tetapi Kim menolak. Juna tahu jika Kim begitu depresi.
Sesampainya di apartemen Sean, mereka masuk ke ruang kerja Sean. Disana juga ada Mauren dan Jackson. Kim hanya terduduk lemas, ia sudah tidak bisa berpikir jernih.
"Uncle Sean, maafkan ayahku!" ucap Jackson.
Sean begitu sakit hati. Dia ingin sekali memukuli Kim. Kim sudah begitu lancang kepadanya.
"Ayahmu sudah melakukan kesalahan fatal."
"Apa yang bisa membuat uncle memaafkan ayahku? Uncle ingin aku lenyap? Aku akan melakukan itu? Kehadiranku membuat uncle Sean sakit hati 'kan?" tanya Jackson.
Mauren menggenggam tangan Jackson. Dia menggelengkan kepala. Ini bukan kesalahan Jackson. Jackson sudah banyak menderita.
__ADS_1
Jujur saja, Sean memang merasa sakit hati saat melihat Jackson. Wajah Jackson perpaduan antara Kim dan Mauren. Bahkan mata Jackson seperti milik Mauren.
Sean mengusap rambut Jackson. Jackson yang lebih tua dari Daleon membuat Sean jika melihat Jackson seperti melihat putranya sendiri.
"Mana bisa aku membenci ayahmu? Dia sudah seperti saudara laki-laki ku sendiri," ucap Sean.
Kim yang sedari tadi menunduk kini menghadap Sean. Sean merentangkan tangan seolah mengajak Kim untuk berpelukan. Kim menghampiri Sean lalau memeluk Sean. Kim meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Sean.
"Kau bisa membunuhku kak, jika kak Sean muak denganku tetapi kenapa kak Sean memaafkan kesalahanku lagi?" tanya Kim.
"Aku sudah terlalu tua untuk marah. Aku pasti malu dengan cucuku jika kita bertengkar. Aku memang kesal tetapi aku mengingat persahabatan kita dari remaja sampai sekarang. Bukankah teman harus saling memaafkan? Bahkan kita lebih dari sekedar teman," ucap Sean dengan bijak.
Kim menangis, dia memeluk Sean dengan erat. Semua orang yang ada di ruangan itu terharu dengan persahabatan mereka. Sean masih bijak seperti dulu, itu yang membuat Mauren merasa bangga dengan Sean.
"Sudah ya ini jangan ada bertengkar lagi? Lalu nasib Jackson bagaimana?" tanya Juna.
"Jack tetap putraku," ucap Mauren menggenggam tangan Jackson.
Jackson tersenyum, ia lega jika sang mama memiliki suami yang begitu baik. "Aku akan kembali ke Cina karena pekerjaan saya berada disana."
"Kita baru bersama, kenapa kau memutuskan pulang? Tinggal disini bersama mama, ya?" ajak Mauren.
"Aku cinta dengan pekerjaanku, aku berjanji akan kembali kesini membawa cucu untuk kalian," ucap Jackson.
Mauren memeluk Jackson. Dia menangis harus berpisah dengan putranya. Putra yang baru ia jumpa saat ini. Putra yang berjuang sendirian di luar sana. Apalagi keberadaan Jenny belum ditemukan membuat Mauren semakin resah.
***
Seline makan bersama dengan keluarganya. Sedari tadi keluarganya menatapnya. Mereka masih tidak mempercayai jika Seline berpacaran dengan Navier Alister. Apalagi kedua adik tirinya seolah meremehkan jika Seline hanya halu saja.
"Jika kau benar pacaran dengan Navier kenapa dia tidak pernah datang kesini untuk menjemputmu?" tanya Via.
__ADS_1
"Dia sebentar lagi akan menjemputku. Tenang saja!" jawab Seline.
Mereka berdua menatap jengah, mana mungkin seorang Navier Alister menjemput Seline si gadis mikin? Seline hanya berharap jika setelah ini mereka tidak mengusiknya saat mengetahui fakta jika Seline berpacaran dengan Navier.
Ting... tong... ting... tong...
Seline beranjak berdiri, ia membukakan pintu lalu melihat jika Navier sudah datang. Seline menyuruhnya untuk masuk dan ikut sarapan bersama. Navier tidak menolak. Anggota keluarga lain seolah terkejut dengan kedatangan Navier.
Papa Seline beranjak bangun dan menyalami Navier.
"Tuan muda Navier, saya tidak menyangka jika anda akan datang kesini," ucap Papa.
"Aku hanya menjemput pacarku saja," ucap Navier sambil merangkul Seline.
Papa Seline begitu terkejut, ia menarik kursi dan menyuruh Navier duduk. Navier menolak karena dia sudah terburu-buru berangkat ke kantor. Seline mengambil tas, mereka keluar rumah bersama. Papa Seline mengikuti mereka.
"Tuan muda, nanti malam kita bisa makan malam bersama. Saya akan menghilangkan makanan terlezat dari chef handal untuk anda," ucap Papa Seline.
Navier terhenti dari langkahnya. Dia membalikkan badan. "Maaf, aku akan makan malam bersama Seline diluar. Mungkin lain kali saja."
Papa Seline tersenyum, ia menunduk hormat.
"Sayang, nanti makan di warung tenda pinggir jalan saja ya," ucap Navier sambil berjalan menuju mobilnya.
"Baik, sayang."
Papanya seolah mendongkol dengan ucapan Navier. Dia meremas jemarinya dan hanya menatap kepergian mobil mewah itu.
Di dalam mobil, Navier puas sudah membuat Papa Seline yang sombong mati gaya. Seline juga berterima kasih dengan Navier karena sudah membuat keluarganya bungkam.
"Jika mereka meremehkanmu bilang sayang. Aku akan membuat mereka menutup mulut karena ucapannya sendiri," ucap Navier.
__ADS_1