
Kim memandangi lemari kosong bekas menyimpan baju milik Sera.
Memang kini ia belum resmi bercerai tetapi ia sudah pisah ranjang dengan Sera.
Jika waktu bisa di putar, ia ingin menebus kesalahan pada Sera yang belum bisa
membahagiakan Sera selama ini. Kim lalu mengambil foto pernikahannya, ia
memeluknya dengan erat. Memori-memori yang indah terbayang diingatannya.
“Ayah,” panggil Ali membuat Kim kaget.
Kim membalikkan badan, ia tersenyum kepada putranya.
“Jangan mengingat masa lalu! Ayah harus bangkit! Aku akan
sedih jika ayah seperti ini terus.”
“Kadang masa lalu tidak harus dilupakan, ayah hanya ingin mengenangnya
saja. Hampir 30 tahun bersama mama mu
tidak akan pernah ayah lupakan,” jawab Kim.
Ali memang tidak bisa egois pada dirinya sendiri, bahkan ia
masih merindukan sang mama. Sang mama
selalu memanjanya dan memberinya kasih sayang lebih kini hanya tinggal
kenangan.
“Ali, kapan kau akan memberikan cucu pada ayah? Dale sudah
memberikan cucu untuk ayah,” tanya Kim mengalihkan pembicaraan.
Ali hanya tersenyum, ia bahkan tidak mempunyai pacar dan
belum ingin mempunyai pacar. Setelah beberapa tahun Ali menjadi presdir
menggantikan Sean dan kini ia hanya seorang asisten setelah Navier
menggantikannya, dia tidak ada rasa ingin mencari pasangan hidup. Pikirannya
terus terpusat pada perusahaan.
Disisi lain,
Sera menikmati permainan indah Louis, ia sangat puas dengan
keperkasaan bule tersebut. Louis mengecup pucuk kepala Sera, ia sangat
mencintainya. Jemari Louis bergerak indah menyusuri wajah Sera, wajah imut Sera
membuatnya terbaui asmara yang memabukkan.
“Setelah aku bercerai, aku ingin pindah,” ucap Sera.
“Pasti. Kita akan ke luar negeri.”
Ponsel Sera yang berada diatas nakas bergetar, ia meraihnya
dan ternyata sang anak yaitu Ali menelponnya. Ketika akan mengangkatnya, Louis
merebutnya dan menggelengkan kepala.
“Kau sudah berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan
mereka,” ucap Louis.
“Tapi Ali tetap anakku.”
Louis tersenyum kecut, ia malah mematikan ponsel Sera. Louis
******* bibir mungil sang kekasih dan memagut dengan penuh sensual. Mereka kini
sudah bersiap untuk melakukan ronde kedua, Sera sangat kagum dengan Louis. Pria
perkasa itu tidak mengenal lelah, tidak seperti suaminya yang mudah lelah.
Sedangkan Ali hanya menatap nanar ponselnya, ia hanya ingin
mendengar suara mamanya. Dia duduk disudut ranjang dan menghela nafas, ia
berpikir jika mamanya sungguh melupakannya.
“Ali,” suara Navier mengagetkan Ali. Anak laknat itu
tiba-tiba berada dikamarnya.
“Kenapa kau ada disini?”
Navier merebahkan dirinya di ranjang milik Ali. Dia melamun
tidak jelas.
__ADS_1
“Aku benci Daleon,” ucap Navier.
“Sampai kapan kau tidak akur dengan kakakmu?”
Navier berdecih, bahkan dia tidak akan bisa akur dengan
kakaknya itu. Baginya, Daleon terlalu dimanja oleh papa dan mamanya. Umurnya
sudah matang tetapi hanya bisa meminta uang kepada orang tuanya, bahkan
kebutuhan Darsen juga dibiayai oleh papa dan mamanya.
“Oh ya, kau sudah mengurus berita laknat itu?” tanya Navier.
“Sudah, semuanya sudah beres.”
“Cewek sialan itu beraninya melakukan itu. Awas saja! Besok
akan ku kerjai habis-habisan.”
“Awas, nanti jadi cinta!” ejek Ali.
Navier langsung menarik baju Ali dan menindihnya, ia
menggeelitiki tubuh kakak sepupunya itu. Ali meronta, ia bergantian menggelitiki tubuh Navier.
**
Angelica terkejut, ia sudah dibebaskan dari penjara. Padahal
dia baru dipenjara selama 10 tahun dan harusnya ia bisa keluar dari penjara 10
tahun lagi. Dia tidak terlalu memusingkan, akhirnya dia sudah bebas dari
penjara diusianya yang sudah 35 tahun. Perempuan berparas bule itu masih cantik
dengan rambut ombrenya.
Dia ditangkap polisi atas dugaan kasus penjualan organ tubuh
dan memutilasi pacar-pacarnya. Angelica
ditangkap bersama Albert yaitu anak Louis yang kini masih dibalik jeruji sel.
Louis sangat licik, dia menggunakan kedua anaknya untuk melakukan perbuatan
keji itu dan namanya bersih karena dia tidak ikut turun tangan dalam
mengeksekusi maupun menjual organ tubuh di pasar gelap.
yang mengaku kerabatmu yang sudah menebusmu keluar dari penjara,” ucap polisi.
Angelica mengerutkan dahi? Padahal dinegara ini dia tidak
memiliki kerabat selain Louis. Dia melihat punggung pria yang familiar
dimatanya, pria itu membalikkan badan dan memandang wajah tersenyum.
“Uncle Kim?”
Pria yang tidak terlalu dikenalnya setelah 10 tahun ini tidak
banyak berubah, ia masih tampan dan terlihat masih seperti dulu saat terakhir
mereka bertemu.
“How are you?” tanya Kim.
“Uncle yang membebaskanku?”
Kim menganggukkan kepala. Dia lalu mengajak Angelica dan masuk ke
mobil. Angelica masih bingung kenapa
pria itu membebaskannya dari penjara. Kim menyetir mobil sambil terdiam,
Angelica masih meliriknya.
“Wajah uncle tidak berubah sama sekali.”
“Kau pun sama.”
“Huh.. bahkan kulitku sangat kusam,” ucap Angelica sambil
mengusap pipinya.
“Besok kita ke salon.”
Angelica mengerutkan dahi, ia tidak menghiraukan ucapan Kim.
Kim melajukan mobilnya menuju gedung apartemennya. Angelica masih meliriknya
dengan heran.
Sesampainya di apartemen, Kim menyiapkan apartemen sendiri
__ADS_1
untuk Angelica disebelah apartemennya persis. Dia membuka pintu dan menyalakan
lampu, Angelica tidak mau masuk. Dia
trauma dengan pria asing.
“Aku tidak akan melakukan hal jahat kepadamu,” ucap Kim.
“Apa maksud uncle? Uncle akan memperalatku seperti Uncle
Louis?” tanya Angelica.
Manik mata berwarna biru memandang Kim dengan ketakutan. Kim
menggelengkan kepala. Angelica mulai menangis mengingat kisahnya yang sangat
pilu, saat dia di Italia dulu ia harus menjadi wanita malam dan saat Louis
membebaskannya dari dunia malam itu malah ia menjadi seorang pembunuh yang
diperalat oleh Louis.
“Setelah ini uncle akan membelikanmu tiket pesawat dan
kembalilah ke negaramu,” ucap Kim.
Angelica menggelengkan kepala. Dia berlari kearah Kim dan
memeluknya. “Jangan! Aku tidak mau pulang, disana jauh lebih menyeramkan,” ucap
Angelica.
Kim melepaskan pelukan Angelica, ia mundur 2 langkah dari
wanita bule itu. Mereka saling berpandang, apalagi Angelica memandang penuh
harap.
“Uncle masih ingat saat kita berciuman dulu? Duniaku terasa
berbeda, uncle membukakan mata hatiku dan saat itu juga aku mulai menyukai
uncle tapi aku sadar jika kita tidak mungkin bersama. Aku memendam perasaan itu
mengingat uncle sudah berkeluarga,” jelas Angelica.
“Angelica, ku harap kau tidak salah paham. Aku membebaskanmu
karena kasihan denganmu dan maksudku juga ingin memulangkanmu ke Italia.
Mulailah kehidupan barumu disana.”
Angelica menggelengkan kepala. Kehidupan dinegaranya jauh
lebih keras dan kejam bahkan ia trauma untuk kembali ke sana.
“Aku akan membalas kebaikan uncle. Terima kasih.”
**
“Mama... Navi pulang...”
Navi menatap jengah papanya yang sedari tadi bermain dengan
Darsen. Mereka bermain lego dan menyusunnya menjadi istana.
“Cucu teroooooos...,” sindir Navier.
“Jangan banyak omong kau! Urusi berita sampah itu, baru
beberapa hari dilantik sudah membuat ulah,” ucap Sean.
“Sudah.”
Navier mendekati mereka yang tengah duduk dilantai. Dia
dengan iseng menendang istana lego yang susah payah dibangun oleh Darsen dan
Sean. Darsen seketika menangis, Sean yang geram menimpuk Navier dengan bantal.
“Wueek.. tidak kena,” ejek Navier.
Daleon menarik kaos Navier, dia sangat kesal melihata adiknya
selalu membuat anaknya menangis.
“Keparat. Aku sudah bersabar tapi kau terus membuat anakku
menangis,” ucap Daleon kesal.
Sean melerai kedua putranya, Navier tidak takut justru
menantang. “Ayah macam apa kau yang tidak mampu menafkahi anaknya? Bahkan jajan
anakmu pun ditanggung papa dan mama,” ucap Navier.
__ADS_1