My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 24 : Check up


__ADS_3

Setelah sampai rumah, Seline langsung mendapat tamparan dari sang Papa. Ternyata kedua adik tirinya melapor kepada papanya jika selama ini Seline hanya sebagai petugas kebersihan dan bukan sekertaris. Seline menjelaskan jika dirinya mendapat hukuman dari Navier tetapi papanya tidak percaya.


"Kau selalu membuat malu papa saja, lihatlah kedua adik tirimu! Mereka sukses dengan usahanya padahal mereka masih kuliah dan tentunya bantuan dari pacar mereka yang kaya," ucap Papa.


"Aku ya aku, mereka ya mereka. Aku punya jalan hidup sendiri tolong jangan samakan dengan Via dan Gita."


Seline langsung masuk ke kamarnya, dia membanting tubuhnya ke ranjang. Dia menatap langit-langit kamar meratapi nasibnya yang selalu dibandingkan dengan kedua adik tirinya. Seline melirik sudut kamarnya yang biasanya terdapat piano, dia terkejut mendapati pianonya sudah tidak ada disana.


"Pah, pianoku kemana?" teriak Seline sambil keluar dari kamar.


"Sudah papa jual."


Seline begitu terkejut, bisa-bisanya piano kesayangannya dijual oleh papanya tanpa seizinnya. Seline menangis, padahal hanya pianolah yang bisa melampiaskan senang dan sedihnya. Papanya sungguh tega. Dia berlari lagi ke kamar, menangis tersedu-sedu.


Apa aku harus menerima cinta Tuan Navier Supaya mereka tidak meremehkanku lagi? Tapi jika begitu sama saja aku memanfaatkannya.


Seline mengusap air matanya, pikirannya yang kalut membuatnya memikirkan sesuatu yang aneh. Dia tidak tega jika memanfaatkan Navier yang tulus menyukainya.


***


Pagi hari,


Navier terbangun dan langsung menuju ke ruang makan. Keluarganya sudah bangun pagi-pagi dan siap menyantap makanannya.


Navier yang memakai baju coklat dan kolor coklat teddy bear langsung duduk dikursi. Dia mengambil semangkuk yang berisikan air. Dia langsung menyeruputnya.


"Naviiiiii.... itu air kobokan," teriak mamanya.


Hueeeeeeek....


Navier langsung memuntahkan air itu, Sean tertawa terbahak-bahak. Navier mengelap mulutnya lalu mengambil sepotong roti dan menjejal semuanya kedalam mulut. Navier begitu tidak semangat hari ini.


"Oi Darman... Mau main ultraman bareng om Navi?" tanya Navier.


Darsen menggelengkan kepala.


"Kau tahu kakek buyut ultraman?" tanya Navier.


Darsen menggelengkan kepala lagi.


"Noh, itu yang pake kaos ijo partai," ucap Navier sambil melirik Sean.


Sean seketika menjewernya. Navier langsung meminta ampun. "Ampun, mbah."


"Anak kurang ajar kau," ucap Sean.


Navier melepas tangan Sean yang menjewernya lalu makan dengan kenyang padahal dia belum gosok gigi dan terlihat bekas ilernya di sudut bibir.


"Nikahan kakakmu nanti siang, luangkan waktu!" ucap Sean.


"Heeeem...."


Navier lalu menatap Daleon dengan malas. Daleon melihatnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kang tusuk," ucap Navier pelan.


"Apa?" tanya Daleon.


"Eh... bukan apa-apa. Ciyee yang nanti malem nusuk menusuk. Eh... nusuknya udah sering ya kan?" sindir Navier.


"Mulutmu kuikat pakai karet jika mengoceh lagi. Sana mandi lalu pergi ke kantor," ucap Sean.


"Iya, mbah. Hahahaha," jawab Navier langsung lari ke kamar.


***


Waktu menunjukan pukul 8 pagi, Navier memutuskan untuk ke rumah sakit tempat Logan bekerja. Hari ini pekerjaan masih bisa ditinggal dan di handle oleh orang kepercayaannya. Navier dan Ali menuju ke ruangan Logan. Dokter tampan itu ternyata juga baru datang.


"Kenapa datang pagi-pagi? Aku menyuruhmu jam 10," ucap Logan.


"Cepatlah! Jangan buang waktuku!" ucap Navier.


Logan berdecih, dia menyuruh Navier berbaring. Setelah berbaring, Navier memandang wajah Logan lalu tertawa. Dia tidak tahan jika bertatap wajah dengan Logan.


"Buahahahhaa..." Navier tertawa.


"Sinting kau!"


"Alismu seperti ulat bulu," ejek Navier.


"Sedangkan alismu seperti rambut bawahmu. Hitam, lebat sampai semut pun tersesat," jawab Logan tidak mau kalah.


Navier langsung mengendorkan ikat pinggangnya lalu mengintip sedikit apa yang dikatakan Logan.


"Gila kau, Navi!" ucap Ali heran.


Logan lalu mengambil alat stetoskopnya. Dia akan mengarahkan ke dadanya. Saat itulah Navier tertawa terbahak-bahak. Logan memandang wajah Navier dengan heran.


"Sialan! Diperiksa rasanya kek mau diperkosa. Jangan tatap aku seperti itu!" ucap Navier.


"Huh... Hanya kau pasienku yang gila. Bagaimana aku akan memeriksamu jika tidak menatapmu?" tanya Logan sambil bersedekap.


Navier langsung berdiri dari posisi tidurnya, dia mengubah posisinya menjadi telungkup membuat Logan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jika begitu kau malah siap ditusuk dari belakang," goda Ali sambil tertawa.


Navier langsung duduk kembali, dia merasa jijik dengan ucapan Ali. Dia menatap Logan yang memperhatikannya dengan lekat, Navier semakin merinding dibuatnya.


"Kau disini untuk cek up atau bermain-main?" tanya Logan.


"Kau tahu sendiri 'kan jika aku tidak suka diperiksa?"


"Kau harus di periksa, akhir-akhir ini kau mengeluh seolah melihat kejadian masa lalumu. Kau memiliki riwayat trauma yang serius."


Navier terdiam, dia berdiri sambil mengendorkan dasinya. Dia lalu duduk disofa dengan kaki yang dinaikkan ke atas meja.


"Palsukan saja untuk laporan papaku! Aku sedang tidak ingin diperiksa. Jika kau tidak mau menuruti perkataanku maka akan ku hancurkan karirmu dalam sekejap mata," ancam Navier.

__ADS_1


Logan tersenyum kecut, dia duduk di seberang Navier sambil membanting yang dibawanya.


"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Jika begitu aku akan melapor ke papamu," ucap Logan sambil siap menelpon Sean.


Navier lalu merebut ponsel Logan, dia berdecih. Mau tidak mau dia harus melakukan pemeriksaan tetapi dia hanya ingin diperiksa dalam posisi duduk. Navier melalui sesi tanya jawab dan Logan menulis apa yang Navier katakan lalu menyimpulkannya. Navier mengeluh jika akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur jika tidak meminum obat tidur. Dia juga sering mengingat kejadian yang membuatnya trauma dan takut.


Sesi tanya jawab dan pemeriksaan berlangsung selama 1 jam. Setelah itu Navier mendapat beberapa obat dari Logan.


"Ali, kau tidak sekalian ku periksa?" tanya Logan.


"Tidak perlu, aku sehat."


Setelah itu mereka keluar dari ruangan Logan. Mereka kembali ke kantor. Setelah di dalam mobil, Navier melamun lagi dan pandangannya seolah kabur.


"Navi, siang ini sepertinya aku tidak bisa datang ke acara pernikahan kakakmu tapi nanti malam aku akan usahakan datang," ucap Ali.


"Baiklah, tidak terlalu penting juga."


Ali mengernyitkan dahi, ia lalu tidak menggubris ucapan Navier. Dia fokus dengan menyetir mobil, jalanan kali ini sedikit macet membuatnya harus sering berhenti tetapi saat dia melihat di kanan jalan rupanya ada sang mama yaitu Sera bersama Louis masuk ke pusat perbelanjaan. Hati Ali menjadi sangat merindukan mamanya, mamanya tidak pernah menjawab telponnya.


Tin .... tin...


Mobil dibelakang mengklaksonnya, Ali segera melajukan mobilnya kembali.


Mama kenapa bisa melupakanku? Didunia ini memang ada namanya mantan suami / mantan istri tetap jika mantan anak tidak ada 'kan? Kenapa mama seolah menganggapku bukan anaknya lagi?


**


Kim dan Jackson siap untuk menuju ke target baru yang berada jauh dari kotanya. Sepertinya Kim tidak akan datang ke perceraiannya yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Itu semua akan sedikit mengulur waktu. Setelah mengemasi pakaian dan memasukkannya ke tas punggung, mereka segera keluar dan menghampiri Angelica.


"Sudah berkemas?" tanya Kim.


"Sudah, uncle."


"Angelica, ini sangat beresiko. Setelah sampai sana kau hanya berdiam diri di penginapan saja," ucap Jackson.


Angelica menganggukkan kepala, kali ini mereka akan menangkap mafia yang kini sudah berpindah lokasi didekat perbatasan. Letaknya memang di pinggir hutan dan jauh dari kota, Kim dan Jackson memerlukan Angelica untuk proses introgasi di kota itu bersama rekan Jackson yang berasal dari Cina.


Angelica melirik Kim, permainan kemarin membuatnya kecanduan. Kim memperlakukannya dengan lembut. Mereka lalu menaiki mobil dan siap menuju ke medan perang.


"Kita lewat jalan mana, yah?" tanya Jacskon sambil melihat maps.


"Kita lewat rute yang sudah kita tentukan kemarin saja."


Jackson menganggukkan kepala, dia lalu menyetir mobil lewat jalan tikus yang telah mereka tentukan sendiri dengan bantuan GPS.


Kim dan Angelica sedang duduk dibelakang, Angelica sedari tadi melirik Kim yang sangat tampan menggunakan jaket hodie berwarna biru dongker. Angelica mencoba menggenggam tangan Kim, Kim langsung melihat kearahnya.


"Aku akan membantumu walaupun itu akan membuat uncle rujuk dengan Tante Sera. Aku mencintai uncle dan maka dari itu aku akan membantu uncle sebisaku," ucap Angelica.


Angelica mendekatkan dirinya ke wajah Kim, dia mencoba menggigit bibir seksi itu. Mereka lalu berciuman didalam mobil dengan penuh kenikmatan, Jackson yang sedang menyetir mobil memperhatikan mereka dari kaca spion.


Bajingan itu munafik juga. Pura-pura tidak mau padahal sangat mau. Dasar ayah sialan! Hahaha....

__ADS_1


Dengan iseng, Jackson mengerem mobil membuat mereka yang sedang berciuman terkejut dan kepalanya saling terbentur. Angelica langsung menatap Jackson dengan kesal.


"Ini masih pagi dan kalian sudah membuat panas dingin didalam mobil ini," ucap Jackson sambil tertawa.


__ADS_2