
...Grup Chat Cowok Ketceh Baday...
Vero
Gengs... Tolongin! Takut....
^^^Navier^^^
^^^Keluar rumah! Teriak-teriak! Bawa kentongan, muter kampung, minta bantuan, panggil pak rt, panggil polisi, damkar, ambulance, baru matiin kompor. Gitu saja repot.^^^
Ali
Makanya, masak indimi jangan pake detergen. Berbusa kan?
^^^Navier^^^
^^^Tau bunyi air mendidih gak?^^^
Vero
Haha Kak Ali bisa saja.
Bunyinya blubub... blubub... blubub...
^^^Navier^^^
^^^Salah.^^^
^^^Nih bunyi air mendidih^^^
Logan
Anak kecil dibully. Adukan ke Papa Juna, Vero!
Vero
Kak Logan membela aku.
Daleon
Vero jangan di bully!
^^^Navier^^^
^^^Kenapa kakakku ada disini?^^^
Navier mengeluarkan Daleon
Ali
Kenapa Dale kau keluarkan?
^^^Navier^^^
^^^Kang tusuk dia. Pembuat onar^^^
^^^Navier^^^
^^^Makan oi^^^
Logan
Wkwkwk... Makan versi kuli.
Ali
Tidak mencerminkan orang kaya. Katanya presdir, makan mie pakai nasi sekebon.
^^^Navier^^^
^^^Laper njir...^^^
Logan
Jangan banyak makan mie! Tidak baik, mengandung banyak formalin dan tidak baik untuk tubuh. Kasihan tubuh kalian jika dimasukin mie sampah itu.
Vero
Baik pak dokter
^^^Navier^^^
^^^Ceramah terooooooos^^^
Ali
Lalu jika ingin makan mie gimana?
__ADS_1
Logan
Ini porsi yang benar
Vero
Papaku Dokter tapi gak segitunya
Logan
Ini beda. Aku dokter perfeksionis
^^^Navier^^^
^^^Loganpret kalau ngomong sok iyesss^^^
Ali
Navi, kata-kata anda bagus. Luar biasa, jadi bolehkah saya melamar ibunda anda?
^^^Navier^^^
^^^Belum sunat sok-sok.an melamar mamaku. Sunat dulu kau, Ali!^^^
Logan
Yang belum sunat angkat tangan dibawah
Ali
Gaya sekali kau, Navi. Sunat nangis-nangis 7 hari 7 malam
Vero
Kak Navi lebay, sunat secuil saja nangisnya sampai terdengar di kampung durian runtuh
^^^Navier^^^
^^^Kok aku yang malah kena bully^^^
Logan
Senjata makan tuan
^^^Navier^^^
^^^Ku laporkan mamaku atas perbuatan tidak menyenangkan^^^
Ali
Vero
Hahaha
Logan
Tidur masih pakai popok banyak tingkah si Navi ini
^^^Navier^^^
^^^Baru kali ini presdir di bully. Sialan kalian!^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Via dan Gita mengintip kepulangan Seline yang diantar cowok misterius. Via dan Gita melihat Seline keluar dari mobil mewah. Disana tidak terlihat wajah dari pria itu karena cukup gelap. Seline mendapat kecupan dikening oleh pria itu.
Setelah berselang detik kemudian, pria itu masuk ke dalam mobil dan Seline seketika juga masuk ke dalam rumah.
Baru membuka pintu, Seline mendapat pertanyaan dari kedua adik tirinya.
"Siapa pria itu? Supir taksi online?" tanya Seline.
"Bukan urusan kalian." Seline berjalan melewati mereka tetapi mereka menarik tangan Seline.
"Sebentar lagi pacarku akan naik pangkat menjadi general manajer. Dia akan mengadakan pesta dan mengundang keluarga kita. Kau harus datang dan ku harap kau tidak menyewa tukang ojek untuk mejadi pacar pura-puramu. Jangan mempermalukan dirimu, Seline!" ucap Via.
"Hahaha, pasti akan menjadi pesta yang menarik saat dia datang tanpa seorang pasangan yang sempurna seperti pacar kami," ucap Gita.
Gita dan Via lalu menabrak tubuh Seline dan berjalan meninggalkannya. Seline meremas jemarinya. Entah mengapa dia memang tidak suka cara kedua adiknya yang memamerkan pacar mereka.
Seline bergegas ke kamarnya dan mandi menggunakan air dingin. Dia berpikir, sepertinya dia harus mengumpulkan uang sendiri untuk membeli sebuah piano. Akhir-akhir ini dia tidak bermain piano semenjak pianonya dijual oleh Papa.
Aku harus membuktikan kepada mereka jika aku tidak kalah dari mereka. Aku adalah seorang pacar dari presdir Young Group.
Setelah mandi, dia menuju ke dapur untuk makan tetapi saat membuka tudung saji hanya ada nasi tanpa lauk. Seline menghela nafas, dia mengambil bawang goreng didalam kulkas lalu berniat makan dengan berlaukkan bawang goreng.
Setelah aku mendapat gaji, aku akan pergi dari sini.
***
Keesokan harinya,
__ADS_1
Hari ini Seline menggunakan seragam hitam putih. Dia berdandan cantik dan tidak lupa mengikat rambutnya tinggi.
Dia keluar dari kamar dan bergabung sarapan dengan keluarganya.
"Kau menggunakan seragam itu tetapi disana berganti menggunakan seragam petugas kebersihan? Jangan bersandiwara lagi, Seline! Kami semua tahu jika kau adalah seolah petugas kebersihan," ucap Via.
Papa hanya melirik kesal Seline. Putri kandungnya membuatnya sangat malu. Seline tidak memperhatikan tatapan tajam dari mereka. Dia makan dengan lahap dan segera menghabiskan makanannya.
Ting tong ting tong...
Suara bel rumah berbunyi. Via dan Gita kegirangan dan mengira jika pacar mereka menjemput. Mereka segera membukanya tetapi dia tercengang saat pria familiar yang ada di depan pintu.
"Permisi, apakah ini rumah Seline? Jika benar bisakah kalian memanggilkannya?" tanya Ali dengan ramah.
"Bukannya kau adalah Ali Aldebaran?" tanya Gita.
Ali tidak menjawab, ia melihat Seline menghampirinya. "Seline, Navier sudah menunggu dimobil."
Seline memandang mobil Navier yang sudah terparkir didepan rumahnya. Sedangkan Via dan Gita hanya tercengang mendengar semua itu.
"Sebentar, aku akan mengambil tas dulu."
Ali menganggukkan kepala, dia menunggu dengan sabar. Via dan Gita kembali ke meja makan dengan perasaan mendongkol. Papa dan mamanya heran melihat perubahan wajah kedua putrinya.
"Kenapa sayang?" tanya mama.
"Gapapa kok, mah."
Disisi lain, Seline berangkat bekerja tanpa berpamitan. Dia menuju ke mobil lalu Ali membukakan pintunya. Seline masuk dan duduk disebelah Navier.
"Selamat pagi sayang," ucap Navier.
"Pagi juga."
"Sudah sarapan?"
Seline menganggukkan kepala. Ali segera melajukan mobilnya menuju kantor. Dalam perjalanan, Navier menggenggam tangan Seline. Seline tersenyum walau sangat terpaksa. Dia sadar jika dia memanfaatkan Navier saat ini untuk pembalasan dendam ke keluarganya yang selalu meremehkannya.
"Ali, putarkan lagu karaoke payung teduh - akad! Aku ingin bernyanyi untuk Seline ku," pinta Navier.
Ali memutar matanya dengan jengah, dia segera memutarkan yang di minta oleh Navier tetapi bukan namanya Ali jika tidak iseng dengan adik sepupunya.
Tit...
"Kelakuan si kucing garong..." Ali malah memutar lagu kucing garong membuat Navier murka.
"Cari mati kau?" ucap Navier marah.
"Sorry salah pencet. Yok... ulangi," jawab Ali langsung mengganti lagu tersebut.
Lagu dari Payung teduh dengan judul akad sudah diputar. Alunan lagu merdu itu mengaluni perjalanan mereka ke kantor dan saat itulah Navier bernyayi.
"Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku"
Sambil bernyanyi, Navier menggenggam tangan Seline. Seline juga ikut bernyanyi, rupanya dia juga memiliki suara yang begitu bagus. Kedua pasangan kompak itu bernyanyi bersama-sama sedangkan Ali hanya tersenyum kecil melihat Navier yang sangat manja sekarang sudah mempunyai pacar.
***
Daleon sedang mempelajari bisnis papanya. Dia ingin bekerja dan membuktikan jika dirinya mampu untuk menjadi seorang presdir yang tidak kalah hebat dari Navier.
Sean yang melihatnya langsung menghampirinya. Didepan kolam renang mereka lalu mengobrol.
"Dale, kau yakin ingin belajar?" tanya Sean.
"Kenapa, pah? Belum terlambat 'kan?"
"Jika sangat ingin, papa akan menempatkanmu di perusahaan cabang. Cobalah untuk memimpin satu cabang!" jawab Sean.
Daleon mengernyitkan dahi, dia membanting buku yang dia pelajari. "Cabang? Papa meremehkan kemampuanku? Navier saja langsung menjadi presdir dan memimpin semua perusahaan atas nama Young Group," ucap Daleon tidak terima.
Sean tersenyum. "Navier memang anak yang pandai. Bahkan sedari kecil dia sudah mengerti tentang perusahaan. Jangan iri dengan adikmu! Kau pimpin dulu satu cabang jika kau berhasil maka papa akan membukakan perusahaan baru untukmu. Biarkan Young Group dipimpin Navier beserta Ali."
Daleon terdiam. Dia lalu mengambil buku yang dia lempar tadi. Dia membacanya lagi, Sean yang melihatnya tersenyum senang. Setidaknya ada perkembangan pada diri Daleon.
"Oh ya, anak uncle Juna yaitu Vero juga akan lulus. Kau bisa bekerja sama dengannya untuk membuka perusahaan baru jika kau sudah sanggup memimpin. Young Group akan papah pecah dan sebagian untuk membuka perusahaan barumu. Papa tidak ingin kalian berebut kekuasaan. Kita sama-sama keluarga Adinata sebaiknya saling membantu bukannya saling menjatuhkan. Anak papa, anak Tante Sera dan anak Tante Zara semuanya akan mendapat bagian," jelas Sean.
Daleon memandangi papanya. Entah kenapa dia sedih mendengar ucapan dari sang papa.
"Papa bilang begitu seperti mau meninggal saja?" ucap Daleon.
__ADS_1
"Umur tidak ada yang tahu. Jika kau sering bertengkar dengan adikmu maka itu sama saja memperpendek umur Papa. Papa hanya ingin kalian akur."