My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 23 : Karaouke


__ADS_3

Navier menyeret Seline untuk keluar dengan kasar. Sang Papa yang melihatnya langsung memarahinya. Papa dan mamanya mengajak Seline untuk makan bersama. Seline tidak bisa menolak karena Mauren memaksanya.


Makan malam kali ini begitu menyenangkan apalagi keluarga mereka sangat lengkap.


Navier sedari tadi canggung saat harus duduk disebelah Seline apalagi Seina terus menggoda mereka.


"Seline, kau kerja dimana?" tanya Seina.


"Saya hanya petugas kebersihan di kantor milik Tuan Navier."


Sean yang mendengarnya heran, terakhir kali dia melihat Seline bekerja sebagai sekertaris pribadi Navier. Navier langsung menenggak air putih begitu banyak ketika sang Papa meliriknya dengan tajam.


"Navier memperlakukanmu dengan baik?" tanya Sean.


Navier langsung terbatuk-batuk lalu merangkul Seline sambil tersenyum. "Aku memperlakukanmu dengan baik 'kan, Seline?" ucap Navier.


Seline menganggukkan kepala karena terlihat Navier meremas pundaknya supaya menutupi sifat Navier selama bekerja.


"Oh ya, Navi. Dokter Logan belum memberi laporan kesehatanmu bulan ini. Katanya kau belum mengunjunginya. Kau seorang presdir harus rutin cek up," ucap Sean.


"Akhir-akhir ini sedang sibuk. Besok aku akan kesana."


Mereka melanjutkan makan malam, keharmonisan mereka terlihat nyata oleh Seline. Seline merasa iri karena Navier memiliki keluarga yang harmonis tidak sepertinya.


"Seline, besok malam datang kesini lagi! Besok kakak Navier akan menikah dan malam harinya kami akan mengadakan pesta kecil. Datang ya, sayang!" ucap Mauren.


"Saya usahakan datang, tante."


Setelah makan malam selesai, Seline berpamitan pulang. Navier mengantarnya sampai di depan gedung saja, dia juga yang mencarikan taksi. Navier sedari tadi melirik Seline, dia takut jika Seline mengatakan yang tidak-tidak kepada orang tuanya.


"Tentang perasaan anda, saya akan memikirkannya," ucap Seline.


"Apakah karena mamaku? Jika iya lupakan saja ajakan berpacaranku."


Seline menggelengkan kepala. "Ini dari hatiku, aku akan memikirkannya dan terima kasih untuk makan malamnya."


Setelah itu Seline masuk kedalam taksi meninggalkan Navier dikeheningan malam sampai Navier terkejut dengan kehadiran Ali yang dibelakangnya.


"Sialan! Mengagetkanku saja," ucap Navier.


Mereka memutuskan untuk duduk dibar yang berada di lantai 1. Mereka mengobrol seperti biasanya. Keheningan dan dinginnya malam ini membuat pikiran mereka melayang bebas, mereka memiliki masalah masing-masing.


"Aku rasa ayahku dan Jackson menyembunyikan sesuatu dariku. Jackson tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai sepupuku padahal ayahku tidak mempunyai saudara," ucap Ali.


"Bukankah Jackson anak dari teman dekat ayahmu?"


"Entahlah, aku belum pernah bertemu dengannya."


Ali lalu meminta kepada bartender untuk membawakan bir. Navier terheran tidak biasanya Ali meminum alkohol. Setelah bartender memberikannya sebotol bir lalu Ali menuangkannya ke dalam gelas kecil. Dia menenggaknya sampai habis.


"Aaah... Semua ini membuatku cepat mati apalagi orang tuaku yang sebentar lagi akan resmi bercerai. Aku harus bagaimana, Navi?" ucap Ali dengan rasa putus asa.

__ADS_1


Navier menepuk bahu Ali, Ali seorang yang kalem sampai bisa menenggak alkohol berarti beban hidupnya sangat berat. "Bagaimana jika kita karaoke saja? Lepaskan beban hidup kita pada malam ini! Aku akan memanggil Logan untuk menemani kita," ucap Navier.


Setengah jam kemudian.


Logan, seorang dokter muda nan tampan adalah dokter pribadi Navier Alister. Dia seumuran dengan Daleon dan sempat menjadi dokter pribadi Daleon sebelum Daleon memecatnya karena suatu kesalahpahaman.


Logan membuka pintu ruang karouke yang berisi dua orang idiot yang sedang bernyanyi seperti orang Kesurupan.


Logan memandang keseluruh ruangan jika hanya ada mereka bertiga.


"Kalian karouke tidak memanggil cewek?" tanya Logan sambil meletakkan tasnya di sofa.


Rupanya Navier dan Ali tidak mendengar karena musik yang sangat keras sampai memekakkan telinga. Logan berdecih, dia mengambil remote dan mematikan musik itu.


"Wah Sialan! Kenapa kau mematikan musiknya?" tanya Navier sambil menarik kerah baju Logan.


Logan melepaskan tangan Navier dari bajunya, dia lalu memesan camilan dan minuman dingin.


Ali melanjutkan karoukenya bersama Navier, mereka berjoget diatas meja seperti orang gila apalagi Navier sampai membuka bajunya.


"Gan, cepat sini kita bergoyang sampai pagi!" ucap Navier.


"Kau tidak mabuk tapi kau seperti orang gila. Besok ku tunggu kau di rumah sakit," teriak Logan yang mengalahkan suara musik yang sangat keras.


Berselang menit kemudian, Daleon masuk ke ruangan itu. Logan menyambutnya dan menyuruhnya duduk. Daleon melihat adiknya yang berjoget seperti orang gila.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Daleon.


"Bukan apa-apa, sudah lama kita tidak bermain bersama."


"Lepaskan! Kenapa kau disini? Pulang saja sana! Besok 'kan hari bahagiamu," ucap Navier.


"Jangan bertingkah seperti orang gila, Navi!" jawab Daleon.


"Apa pedulimu? Jika aku gila kau juga senang 'kan otomatis gelar presdir akan jatuh kepadamu."


Daleon menggelengkan kepala, dia meminta maaf kepada Navier sebesar-besarnya. Ali yang sudah mabuk berat lalu mendorong Daleon.


"Jangan sentuh tuan mudaku! Sana urusi urusanmu saja! Ayo dedek Navi, kita goyang lagi!" ucap Ali dengan nada mabuk.


Logan hanya menertawai mereka. Dia menenggak minuman dan tersenyum kecut kepada Daleon. Daleon lalu duduk bersama Logan dengan rasa tidak nyaman.


Setelah 3 jam berada di ruang karaoke, Ali sudah tepar dan Navier sudah lemas. Mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen masing-masing. Logan mengatakan kepada Navier jika dia menunggunya besok jam 10 pagi di rumah sakit tempat dia bekerja. Navier hanya mengiyakan dengan malas dan tiba-tiba saja Navier merasa pusing lantas Daleon menggendongnya.


"Bagaimana dengan Ali?" tanya Logan yang tidak mungkin menggendong Ali.


"Aku sudah menelpon ayahnya. Kau bisa pulang," jawab Daleon.


Berselang menit kemudian, Kim datang. Dia tidak menyangka jika Ali berani mabuk padahal Ali tidak pernah seperti itu. Mereka lalu menuju ke lift, didalam lift hanya ada keheningan. Mereka menggendong bocah gila itu yang sudah tidur terlelap.


"Dale, kau masih belum menjelaskan penyeranganmu terhadap adikmu sendiri. Apakah itu ada hubungannya dengan Louis?" tanya Kim.

__ADS_1


"Aku menyerang Navi karena keinginanku sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan Uncle Louis."


"Kau pasti tahu seluk beluk tentang Louis, kenapa kau seolah ikut menyembunyikannya?" tanya Kim.


Ting...


Pintu lift terbuka. "Bukannya kau harus keluar? Kasihan Ali sudah tepar," ucap Daleon.


Kim melangkah keluar dari lift, ia lalu menghadap Daleon. "Kau bukan seperti Dale yang uncle kenal."


Daleon hanya menatapnya dingin sampai pintu lift itu tertutup kembali. Kim menghela nafas, apakah Kim harus melaporkan Daleon dan Angelica ke polisi karena berani menyembunyikan kejahatan Louis yang sebenarnya? Tidak mungkin, Louis sudah mencuci otak mereka dan mereka pasti tidak akan membocorkan rahasia louis dengan gampangnya.


Daleon membawa Navier masuk apartemennya. Mauren begitu terkejut melihat Navier yang sudah tepar.


"Dia tidak mabuk, dia hanya kelelahan," jelas Daleon.


Daleon membawa Navier ke kamar, Mauren membantunya. Dia melihat wajah Navier yang sudah terlelap.


"Aku harap mama tidak bilang ini ke papa, papa akan marah jika melihat Navi seperti ini," ucap Daleon.


**


Kim mengusap wajah Ali yang sudah terlelap, wajah Ali menggambarkan kesedihannya. Dia tahu perceraiannya akan membuat Ali terguncang.


"Bajingan kecil ini ternyata pemabuk? Haha...," ucap Jackson membuka pintu kamar Ali. "Perceraian ayah sebentar lagi dan ayah belum bisa membongkar siapa Louis, jika ayah mengandalkan penyelidikanku maka akan membutuhkan waktu lama karena baru 2 orang yang tertangkap," sambung Jackson.


"Ayah harus tidur dengan Angelica, begitu? Sama saja ayah dengan istri ayah yang berselingkuh, tidak ada bedanya."


"Ini kasus yang berbeda ayah. Tidur dengan bule itu sekali dua kali tidak akan ada yang tahu. Percayalah padaku, dengan bantuan Angelica dan beberapa mafia yang tertangkap akan tahu siapa Louis sebenarnya," ucap Jackson.


Kim menghela nafas, dia langsung menuju ke apartemen Angelica. Dia mengetok pintu dan meyakinkan dirinya sendiri.


Maafkan aku Sera! Aku harus melakukan ini.


"Uncle?" tanya Angelica sambil membuka pintu.


Kim langsung masuk ke apartemen, Angelica mengerutkan dahi melihat Kim yang nampak bingung.


"Aku sungguh membutuhkan informasi tentang Louis, aku akan melakukan keinginanmu untuk tidur bersamaku tapi aku tidak bisa menikahimu jadi kau harus berjanji untuk memberitahukanku semua tentang Louis," ucap Kim.


"Uncle tidak usah tidur dengan..."


Sebelum Angelica meneruskan ucapannya, Kim sudah menciumnya duluan. Kim menggigit bibir wanita cantik itu dengan nikmat. Jantung Angelica seakan mau meledak. Dia memegangi kaos Kim dengan kuat.


Tangan Kim mulai membuat risleting baju Angelica setelah itu tangannya bermain-main didalamnya.


Angelica tidak hanya diam, tangan nakalnya mulai memegang sesuatu yang sudah mengeras. Ciuman mereka berakhir saat sudah kehabisan nafas, mereka saling memandang penuh kenafsuan. Kim dengan cepat menyerang leher sampai dada bule itu. Angelica mendesah dengan nikmat.


Desahan Angelica membuat hasrat Kim semakin naik, Kim mendorong Angelica ke ranjang lalu menindihnya, dia mencium lagi bibir Angelica. Ciuman panas itu berlangsung cukup lama.


Setelah itu Angelica mendorong tubuh Kim.

__ADS_1


"Aku masih perawan, jadi pelan-pelan saja dan bersambung....."


Ingin tahu kelanjutannya? Jangan lupa Komen, vote dan beri hadiah pada novel ini.


__ADS_2