
“Ayah, aku sudah menemukan posisi Anderson berada. Dia tidak jauh dari sini, terakhir dia terlacak dikota sebelah dan saat ini dia sudah sampai di hotel Grandnine,” ucap Jackson.
Kim menuangkan minuman cola ke gelas mereka. Dia tersenyum tipis. “Butuh bantuan ayah untuk menangkapnya?”
Jackson menggelengkan kepala, dia akan menyergap orang itu dengan teman seangkatannya. Jackson kini menatap PC nya, memperhatikan setiap laporan dari sesama timnya.
“Mamamu, Jia barusan menelpon, Kau rupanya tidak pernah mengunjunginya?” tanya Kim.
“Suaminya sangat benci denganku.”
Kim lalu meletakkan gelas yang telah dia minum. Dia ikut terduduk disebelah Jackson. Jackson tumbuh besar dengan baik walau tanpa kedua orang tuanya. Jackson adalah keegoisan Kim, Kim hanya memikirkan dirinya sendiri. Dirinya yang sangat naif sampai lahirlah Jackson.
“Ayah bisa memberikan ciri-ciri ibu kandungku yang lebih spesifik? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Ayah tidak mau kau bertemu dengannya, ibumu sudah bahagia dengan keluarganya,” jawab Kim.
Jackson meremas kertas yang digenggamnya, dia merasa kecewa dengan ucapan ayahnya. Jackson hanya ingin melihat ibunya dan tidak ingin menganggunya yang mungkin sudah bahagia dengan keluarga barunya.
“Ayah tidak ingin kau mengacaukan keluarganya. Kau masih punya ayah, kau tidak memerlukan ibumu,” ucap Kim.
Jackson berdiri lalu membanting dan melempar apa yang ada didepannya, ia begitu frustasi sampai rasanya ingin mati. Dia menganggap ayahnya dengan tega memisahkan dengan ibu kandungnya.
Aku pasti akan membunuhmu, Fai wang. Aku bersumpah demi ibu jika akan membunuh pria bajingan sepertimu.
Kim hanya menatap dingin putranya yang sangat kesal. Dia menyunggingkan senyuman, dia sangat mirip dengan Daleon ketika sedang marah tetapi Jackson masih bisa mengendalikan amarahnya.
Jackson menghampiri Kim yang sedang duduk memperhatikannya. “Jadi bagaimana hasil tes DNA nya? Daleon sungguh anak ayah? Jika iya maka ayah memang harus mendapat piala bajingan sejati.”
Kim tersenyum kecut. “Hasilnya akan keluar sebelum persidangan yang pertama tetapi Daleon memang bukan anak ayah. Kau tahu jika ayah termasuk orang dari negara asing? Apa wajah Daleon mirip dengan ayah? Apa wajah Daleon mirip orang Cina?”
“Hahaha... Semua bisa saja terjadi.” Jackson memungut gelas kaca yang dia pecahkan sambil berjongkok. “Ayah tinggal membujuk Angelica untuk bersuara, hanya wanita itu yang bisa mengungkap siapa Louis sebenarnya dan mungkin saja setelah kebenaran terungkap maka Mama Sera akan kembali kepada ayah,” ucap Jackson.
Kim mengerutkan dahi, gadis bule itu memang gila bisa-bisanya terosebsi oleh Kim yang sudah tidak muda lagi. Kim berpikir sejenak, bahkan dengan hasil tes DNA itu tidak sepenuhnya membuat Sera mau kembali kepadanya.
“Kau ingin ayah tidur dengannya? Itu tidak mungkin. Ayah tipe orang yang setia dengan satu pasangan untuk tidur,” jawab Kim.
“Buahahahha... Kau pikir jika kau suci? Bahkan kau yang bilang sendiri jika kau memperkosa ibu kandungku. Kenapa omonganmu selalu berubah? Dasar bajingan!”
“Aku tidak memperkosa ibu kandungmu dan bahkan aku tidak menyentuhnya sama sekali.”
Jackson semakin tertawa dengan keras. Tidak memperkosa? Tidak menyentuhnya? Semua omongan pria itu membuat Jackson semakin tertawa terbahak-bahak.
“Kau lahir karena bayi tabung. Semua ini memang salah ayah. Semua keegoisan ayah membuatmu menderita. Pantas saja kau menyebut ayah sebagai bajingan. Memang benar jika ayah bajingan,” jelas Kim.
__ADS_1
Kim lalu beranjak dari tempat duduknya, ia ingin menyiapkan makanan untuk Ali yang sebentar lagi akan pulang dari bekerja. Jackson menatap punggung ayahnya dengan kesal, ia mengambil pecahan gelas lalu berjalan mendekati ayahnya. Dia berniat ingin menikam ayahnya dari belakang. Tetapi tiba-tiba saja Kim langsung membalikkan badannya.
“Jangan bunuh ayah sekarang! Ayah masih berharap bisa melihat cucu dari kau dan dari Ali. Kapan kalian menikah? Ayah sangat mendambakan seorang cucu,” ucap Kim.
“Buatlah sendiri! Bahkan wanita bule itu siap untuk ayah tiduri,” jawab Jackson sambil meninggalkan Kim.
**
Daleon mengusap rambut putranya yang sudah terlelap, ia tersenyum bahagia karena sang papa akan menikahkannya dengan Seina besok pagi. Sampai ketika Navier yang masih menggunakan jas lengkapnya masuk ke kamar Daleon.
“Yang bahagia diatas penderitaan orang lain,” ucap Navier.
“Apa maksudmu?”
Navier bersedekap memandang Daleon dengan tajam. “Selamat jika besok kau akan menikah.
Setidaknya si Darman punya orang tua yang lengkap.”
Daleon tersenyum, ia tidak memandang Navier sedetikpun. Navier lalu keluar dan menuju kamar orang tuanya. Dia ingin melihat keadaan papanya tetapi saat membuka pintu ia melihat sang mama sedang berada dipangkuan papanya.
“Oh my eyes... Kenapa kalian tidak mengunci pintunya?” ucap Navier malah mendekati mereka.
Mauren langsung turun dari pangkuan Sean, Sean menatap kesal putranya yang kini duduk
“Kau sudah besar untuk masalah seperti ini saja mengadu orang tua. Harusnya kau malu,” ucap Sean.
“Malu lagi jika mengadu kepada Tuhan,” jawab Navier.
Sean sedikit mendorong Navier lalu memandang wajah anaknya yang terluka, Sean tahu jika Navier sakit hati dengan kakaknya tetapi mau bagaimana lagi, Sean masih memikirkan Darsen yang masih kecil.
“Hallo? Ini Seline? Bisakah tante bertemu denganmu?” ucap Mauren yang rupanya menelpon
Seline.
Navier begitu terkejut, ia mencoba mengambil ponsel mamanya tetapi sang mama lari
menjauhi Navier. “Bisakah kau datang ke gedung apartemen kami dilantai teratas? Oke, tante tunggu.”
“Untuk apa mama memanggil Seline datang kemari? Mama membuat aku malu saja,” ucap Navier.
“Akhir- akhir ini mama melihat kau sedih, rupanya masalah wanita? Huh... Navi ku sudah besar rupanya.”
Navier memeluk papanya yang duduk diranjang lagi, Sean terus mendorongnya. Anak terkecilnya memang begitu manja. “Navi, tolong panggilkan!” pinta Sean.
__ADS_1
“Panggil siapa, pah? Panggil Tuhan? Papa mau bertemu Tuhan?” ucap Navier.
“Anak setan kau, papanya didoakan cepat mati.”
Navier tertawa, ia menjauhi Sean dan menjulurkan lidah. Sampai ia mundur dan terpentok kaki meja dengan keras.
Duaaaak....
“Arrrgh....”
“Nah, kan kualat dengan orang tua. Makanya orang tua jangan diajak bercanda. Cepat panggilkan Daleon kemari!”
Navier
mendengus lalu keluar dari kamar Sean.
Setengah jam kemudian, Seline datang, ia menggunakan pakaian sederhana tetapi tidak mengurangi
kecantikannya. Mauren lalu mengajaknya duduk didepan kolam renang sambil menikmati secangkir teh dan biskuit.
Seline begitu gugup, ia masih heran kenapa mama Navier memanggilnya datang ke rumah.
“Kau pasti kaget kenapa tante memanggilmu kemari, akhir-akhir ini mood Navier sedang buruk
apalagi ditambah dengan masalah keluarga kami. Tante tidak menyalahkan dirimu
jika menolaknya tetapi kumohon untuk saat ini cobalah dekat dengan Navi, beri
dia perhatian yang lebih! Tante tahu jika kau juga menyukai Navi.”
“Mohon maaf, tante. Saya belum bisa merima Tuan Navier karena saya tidak pantas bersanding
dengan keluarga anda. Saya bukan orang kaya dan saya juga anak piatu.”
Mauren tersenyum, dia mengusap rambut Seline yang lurus dan panjang. Seline seperti
Mauren yang dulu saat pertama kali berjumpa dengan Sean. Tetapi Mauren begitu
yakin jika dia pantas bersanding dengan Sean.
“Mah, mama membuat Navi malu saja. Aku sedih bukan karena masalah wanita ini dan kau
Seline, cepat pergi dari rumahku!” ucap Navier yang datang dari belakang mereka.
__ADS_1