My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 26 : Melamar Seline


__ADS_3

Malam hari,


Navier bersama Ali memutuskan untuk bersama membeli hadiah untuk Daleon dan Seina. Mereka menyambangi toko emas. Navier dan Ali membeli emas  terbaik untuk Seina. Ali juga terlihat membeli emas lain untuk hadiah Angelica.


“Beli dua buat apa?” tanya Navier.


“Untuk seseorang.”


Karena Navier tidak terlalu kepo maka dia hanya menganggukan kepala. Navier lalu memandang sebuah cincin permata biru, dia meminta pelayan untuk memperlihatkannya. Cincin putih dengan batu biru membuat Navier ingin


membelinya untuk Seline.


“Kak, tolong sekalian yang ini,” pinta Navier


“Baik, tuan.”


Setelah yakin ingin membeli beberapa emas itu mereka lalu membayarnya.  Hadiah sudah ada digenggaman tangan, mereka segera pulang ke apartemen. Acara Daleon dan Seina memang hanya mengundang saudara dekat saja karena jika terlalu mewah maka akan mengundang kontroversi di masyarakat karena Seina dan Daleon dikenal  sebagai kakak adik.


“Cincin permata itu kau membelinya untuk Seline?” tanya Ali.


“Kepo.”


Ali berdecih lalu Navier bergantian menanyainya. “Kalung kedua itu kau berikan ke siapa?”


“Kepo,” jawab Ali.


Mereka sama-sama berdecih dan lalu terdiam saat perjalanan ke apartemen Kedua pria itu memang tidak bisa akur dalam segala hal. Tetapi berselang kemudian Navier seolah kepo dengan nama asli dari Ali. Dia tahu jika nama Ali bukan nama asli sebenarnya.


“Kenapa kau kepo sekali?” Tanya Ali sambil menyetir mobil.


“Ingin tahu saja.”


“Namaku…….” Navier sudah menunggu ucapan Ali tetapi. “Tanya saja pada ayahku!” ucap Ali menggoda Navier.


Navier mengeluarkan ponselnya dan lantas menelpon pamannya itu. Ali heran padahal dirinya hanya bercanda tetapi Navier menanggapinya dengan serius. Beberapa detik kemudian, Kim mengangkatnya dan Navier tanpa basa-basi menanyakan nama asli Ali.


“Kenapa tuan muda tiba-tiba menanyakan itu?”  tanya Kim.


“Aku penasaran uncle siapa nama asli Ali?”


“Nama asli Ali ya tetap Ali, itu pemberian nama dari mamanya tetapi nama Cina Ali adalah Michael Wang.”


Navier tersenyum, dia sudah mengetahui nama lain dari Ali. Navier berterima kasih kepada Kim lalu menutup telponnya. Ali tersenyum kecut, baginya nama terbaik tetap pemberian dari mamanya karena mengandung arti


yang mendalam.


Setelah sampai diapartemen, keluarga besar sudah datang. Bahkan Sera pun datang saat mengetahui Kimtidak bisa datang ke acara pernikahan keponakannya.  Sera langsung menghampiri Ali tetapi Ali langsung menghindar.


Seketika Navier masuk ke kamarnya untuk sekedar mandi, mamanya menyiapkan pakaian formal untuk Navier. Hem lengan panjang warna coklat muda dipadu dengan celana warna coklat tua. Mauren tersenyum lalu meletakkan pakaian Navier di ranjang. Navier mandi secepat kilat karena dia sudah sangat lapar. Setelah itu, ia keluar dan langsung memakai baju yang disiapkan oleh mamanya.


“Mama....”teriak Navier.


Mauren seketika datang lalu melihat Navier sudah memakai pakaian yang disiapkannya. Mauren tersenyum lalu membenarkan kerah Navier.


“Hasduknya mana, ma?” tanya Navier.

__ADS_1


“Hasduk apa?”


“Hasduk pramuka, mama menyiapkanku baju coklat-coklat begini memangnya kita mau pramuka?” jawab Navier.


Mauren memperhatikan penampilan Navier,dia tersadar dan langsung tertawa terbahak-bahak. Navier tersenyum karena bisa membuat sang mama tertawa lepas.


“Ya sudah, ganti baju saja.” Mauren berjalan mengambil baju kemeja Navier dilemari. “Bagaimana jika warna putih?” tanya Mauren.


“Ya bagus, mah.Tinggal pakai peci lalu seperti guru agamaku dulu. Mama yang bener dong! Aku mau pilih baju sendiri,” ucap Navier.


Navier memilih bajunya sendiri, dia memilih baju berkerah warna biru tua dengan celana jeans biru. Mauren membiarkan Navier memilih baju yang akan dipakainya dan keluar dari kamar Navier.


Berselang menit kemudian, Navier segera keluar dari kamarnya, ia melihat keluarga besar dan kerabat dekat sudah datang. Hal yang dilakukan Navier adalah mengambil makanan, dia begitu lapar sampai mengambil beberapa kue dan nasi. Navier mengambil makanan bersebelahan dengan papanya. Papanya juga terlihat mengambil


banyak makanan dalam satu piring.


“Ambil yang banyak! Jangan sungkan! Anggap saja saudara sendiri,” ucap Navier sambil mengelus punggung Sean.


“Aku bapakmu, pe’ak,” ucap  Sean.


“Buahahaha... katanya aku dulu nemu ditempat sampah?” ucap Navier.


“Mulutmu tidak bisa di rem,” jawab Sean kesal.


Navier lalu membisikkan sesuatu ditelinga Sean. “Menantu papa yang mana? Kakak iparku yang mana?


Sesuatu yang masih mengganjal dipikiranku.”


Sean berdecih lalu Navier membawa piringnya ke tempat duduk disebelah kolam renang. Dia tidak memperdulikan saudaranya yang datang, dia asyik memakan semua makanannya. Logan yang membawa minuman ditangannya menghampiri Navier dan duduk disampingnya.


pidana karena memalsukan hasil pemeriksaan dari pasiennku?” ucap Logan.


“Diamlah! Turuti saja perkataanku. Aku baik-baik saja.”


Daleon langsung menghampiri mereka, dia seolah ingin bergabung bersama mereka tetapi


Logan langsung  berdiri. Mereka memang memiliki masalah sebelumnya. Daleon menatap adiknya yang sedang makan, Navier tidak memperhatikannya.


“Kakak meminta maaf kepadamu,” ucap Daleon.


“Aku tidak peduli.”


“Maafkan kakak yang selalu menyerangmu tanpa sebab. Kau mau memaafkan atau tidak itu bukan masalah besar yang jelas aku akan merebut gelar presdir darimu,” ucap Daleon sambil meninggalkan Navier.


Navier meremas jemarinya, dia menatap punggung  Daleon yang berjalan meninggalkannya. Navier tersenyum kecut lalu meminum sirup yang berada digelasnya.


Daleon menghampiri Seina, Seina memakai gaun malam yang sangat cantik. Daleon mengecup kening Seina tidak lupa Darsen yang ada disebelahnya. Seina begitu terharu karena perjuangannya sudah selesai dan dia sudah menikah dengan pria yangdicintainya.


“Bagaimana jika kita berdansa?” tanya Seina.


“Baik.”


Mereka berdansa diiringi musik, beberapa pasangan juga terlihat berdansa. Daleon merapatkan tubuhnya pada Seina, tubuh mereka bergerak mengikuti irama. Semua orang menjadi saksi jika begitu kuatnya cinta mereka walau awalnya dianggap kesalahan. Mauren dan Sean memperhatikan mereka, Sean masih menyalahkan dirinya


karena tidak memperhatikan anak-anak mereka begitu baik sampai benih cinta tumbuh diantara mereka tetapi Sean memikirkan Darsen, bocah kecil itu memang harus tumbuh dengan orang tua lengkap.

__ADS_1


Seline datang, Mauren langsung menyambutnya. Seline membawa kado untuk pengantin yang sedang berdansa itu. Mauren menerimanya dan meletakkannya di meja.


“Seline mau makan apa? Mau minum apa? Jangan sungkan!”


“Terima kasih tante.”


Navier langsung menghampiri Seline, dia terkejut melihat Seline datang. Seline menundukkan kepala. Dia malu dengan Navier.


“Navi, ajak si cantik ini makan!”


Navier menganggukkan kepala. Seline langsung diajak Navier mengambil makanan dan minuman. Seline begitu canggung karena bukan Navier yang mengundangnya kemari.


“Kau terlihat begitu cantik malam ini,” ucap Navier.


“Terima kasih, tuan.”


Navier tersenyum, semua orang terlihat memandangi Seline. Mereka belum pernah bertemu


dengan Seline sebelumnya. Navier memandang Seline yang sedang makan tersenyum


sendiri sampai diperhatikan oleh Juna dan Sean.


“Anakmu memang pandai dalam mencari wanita,”ucap Juna.


“Cih...Siapa dulu bapaknya?”  jawab Sean sambil membusungkan dadanya.


Setelah Seline menghabiskan kuenya, Navier langsung mengajaknya ke tengah. Dia menyuruh


Ali untuk menghidupkan musik. Navier sudah berada didalam posisinya yaitu


berjongkok sambil membawa microphone didepan Seline yang berdiri tetapi Navier


dan orang  yang disana terheran saat Ali


malah menghidupkan musik dangdut tepatnya lagu sambalado. Navier berdiri lalu


menghampiri Ali dan menarik kerah bajunya.  Ali hanya tertawa seolah memang di sengaja.


“Sialan kau! Aku menyuruhmu untuk memutar lagi Yovie n Nuno kenapa malah Ayu Ting Ting yang


kau putar?” ucap  Navier.


“Sorry,  sorry. Yok ulangi!”


Navier berdiri lalu Ali memutar lagu itu. Navier mulai bernyanyi untuk Seline.


“Dengarkanlah! Wanita impianku. Malam ini akan ku sampaikan. Janji suci satu untuk selamanya,


dengarkanlah kesungguhan  ini! Aku ingin.... mempersuntingmu, tuk yang pertama dan terakhir.  Jangan kau tolak dan buatku hancur! Ku tak akan mengulang untuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini, kau lah yang terbaik


untukku,” ucap Navier sambil berjongkok dan mengulurkan kotak cincin kepada Seline.


Semua orang terkejut, tak terkecuali papa dan mama Navier. Mereka bahkan tidak tahu jika


Navier melamar Seline malam ini. Seline begitu syok, pasalnya ajakan berpacaran saja dia tolak apalagi ini.

__ADS_1


“Maukah kau menjadi pacarku?” tanya Navier.


__ADS_2