My Crazy CEO

My Crazy CEO
Bab 7 : Kesedihan Kim


__ADS_3

Melihat wajah Seline yang sangat cantik, ia langsung memalingkan wajah dan melepas tangannya pada punggung Seline. Navier berdehem lalu kembali duduk di kursi direkturnya. Seline juga sama, ia merasa malu dan canggung tentang kejadian tadi.


“Sana kembali ke ruanganmu!” perintah Navier.


Seline menganggukkan kepala. Dia berjalan menjauhi Navier tetapi ia kembali lagi. “Maaf, tuan. Ruangan saya dimana?” tanya Seline.


“Ruanganmu saja tidak tahu. Sana tanya Ali! Aku pun juga tidak tahu ruanganmu.”


Cih... ditanya baik-baik jawabannya seperti itu. Dasar tuan sinting!


Seline keluar dari ruangan Navier dan langsung masuk ke


ruangan Ali, ia bertanya kepada Ali dimana ruangannya. Jari telunjuk Ali


menunjukkan kearah depan ruangannya persis dan hanya tersekat oleh dinding


kaca. Seline mengerti dan langsung menuju ruangannya.


Seline manarik kursi dan menghela nafas panjang, ia melirik


Navier yang serius menatap layar laptop. Dia duduk dan langsung mengerjakan apa


yang harus ia kerjakan.


Berselang detik kemudian, Navier memanggil Seline untuk ke ke


ruangannya. Seline berjalan dengan sopan lalu  menatap Navier.


“Namamu siapa?” tanya Navier.


“Agatha Roseline, tuan,  Anda bida memanggil saya, Seline,” jawab Seline.


Navier mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Seline pergi.


Seline menundukkan kepala dan kembali ke ruangannya. Dia duduk kembali, membuka


laptop dan mengerjakan apa yang harusnya dikerjakan.


“Seline, Seline...” teriak Navier.


Seline menuju ke ruangan Navier lagi, Navier menjentikkan


jarinya lalu menyuruh Seline membalikkan badan. Navier mengecek apakah rok


Seline sudah dijahit atau belum.


“Oh, sana! Hus.. hus..”


Seline mengernyitkan dahi, ia bingung dengan bos gilanya itu.


Dia kembali ke ruangannya dan berselang detik kemudian Navier memanggilnya


lagi. Seline berjalan dengan langkah kesal.


“Ada apa lagi, tuan?” tanya Seline dengan nada tinggi.


“Oh my... Kau membentak tuanmu sendiri? Mau cari mati?”


Seline meminta maaf, ia menundukkan kepala. Navier berdiri


dan menghampiri Seline, ia memencet hidung Seline sekali lagi. Seline merasa


tidak nyaman dan memalingkan wajah. Sepertinya keputusan untuk bekerja disini


sangat salah.


“Aku sangat tidak suka jika bawahanku membantah. Aku akan


memencet hidungmu saat kau berbuat salah. Ingat-ingat itu! Sudah sana kembali


ke ruanganmu. Cih... Membuang waktuku saja!”


Awas kau tuan muda


mesum! Setelah aku tahu kelemahanmu pasti akan membalas semua ini.


***


Mauren mengetuk pintu apartemen Kim, dia membawa sedikit


makan siang untuk iparnya itu. Sean yang menyuruhnya jika tidak pasti Mauren


tidak mau mengantar makanan itu karena takut terjadi fitnah. Sudah 15 menit


Mauren didepan apartemen Kim tetapi pria itu tidak membuka pintu.


“Kak Kim ada dirumah ‘kan? Aku buka pintunya, ya?” ucap


Mauren langsung membuka pintu yang rupanya tidak terkunci.


Keadaan rumah Asisten Kim begitu berantakan bahkan sofa sudah


terbalik dan banyak pecahan kaca. Mauren sempat ragu untuk masuk tetapi dia


takut jika Kim terjadi apa-apa. Mauren menuju kamar Kim, ia membuka pintu.


Pandangannya tertuju pada Kim yang tangannya sudah bersimbah darah.

__ADS_1


“Kak Kim?” teriak Mauren. “Ada apa dengan kakak? Aku akan


panggilkan oppaku.”


Mauren segera mengambil gagang telpon lalu menelpon suaminya.


Setelah itu ia menelpon Ali untuk pulang ke rumah.  Mauren melirik Kim yang menangis, ini pertama


kalinya melihat Kim yang menangis begitu menyedihkan.


“Kenapa wanita yang ku cintai selalu meninggalkanku? Apa


salahku? Aku sudah berusaha mencintainya,” ucap Kim.


Mauren berjongkok, ia mengambil tisu lalu mengelap air mata


Kim. Mauren tidak bisa menjawab apapun karena dia dulu juga pernah meninggalkan


Kim. Mauren menarik tangan Kim yang berdarah-darah, ia mengelap darah itu


dengan tisu.


“Kak Kim jangan begini! Pikirkan Ali, dia pasti akan tambah


terpuruk melihat ayahnya seperti ini. Kak Kim harus bangkit dan memulai hidup


baru bersama Ali.”


Berselang menit kemudian, Sean datang. Dia terkejut melihat


apartemen adik iparnya yang berantakan. Sean segera memangil Juna untuk


mengobati tangan Kim. Dia membantu berdiri dan mendudukkannya diranjang.


“Masih ada waktu sebelum persidangan, aku akan membujuk Sera


untuk kembali kepadamu,” ucap Sean.


Kim hanya diam melamun, ia sudah sangat putus asa.


Pernikahannya harus kandas karena ada orang ketiga. Apalagi orang itu adalah


orang yang tidak disukainya. Dia terlalu bodoh menganggap Louis akan merebut


Mauren dari Sean ternyata pria bule itu merebut istrinya sendiri. Sebuah plot


twist yang tidak terduga.


20 menit kemudian, Juna datang membawa perban dan alat


bantuan ia akan langsung datang.


“Jangan sedih, Kim! Sera pasti akan kembali kepadamu, jika


tidak maka memang kalian tidak berjodoh sampai tua. Kau pria mapan dan tampan,


hartamu juga banyak. Banyak gadis muda yang mau denganmu,” ucap Juna sambil


mengobati luka Kim.


Sean menepuk bahu Juna, ia sedikit kesal jika Juna malah


berbicara seperti itu.


“Jadi jika Zara meninggalkanmu maka kau akan mencari gadis


muda?” tanya Sean.


“Iya betul, aku akan mencari gadis cantik dan tentunya masih


muda.”


“Kau sudah rekam ucapan Juna, oren?” tanya Sean kepada


istrinya.


“Sudah, oppa.”


Juna terkejut, ia panik dan memohon supaya rekaman itu tidak


dikirim ke istrinya, jika iya maka dia tidak akan diizinkan masuk rumah.


Setelah selesai mengobati Kim. Juna berpamitan pulang karena anak laki-lakinya


sedang sendirian dirumah.


***


Ali melihat perban di tangan sang ayah. Kim merasa bersalah


membuat Ali merasa sedih, dia memeluk sang ayah yang jiwanya sedang terguncang.


Kedua pria itu menyalurkan kesedihannya satu sama lain.


“Lepaskan mama saja, yah! Biarkan  dia bahagia dengan pilihannya. Aku memang


belum berpengalaman dalam berumah tangga tapi ketimbang hubungan kalian tidak

__ADS_1


harmonis lagi dan selalu ada orang ketiga lebih baik lepaskan mama saja!” ucap


Ali tidak tega membuat ayahnya begitu tersiksa.


“Ayah hanya memikirkan masa depanmu, sebentar lagi mamamu


akan mempunyai anak lagi dari pria lain dan tentunya rasa sayangnya kepadamu


akan berkurang, rasa perhatiannya kepadamu akan berkurang.”


Ali tersenyum, ia menggenggam erat tangan ayahnya dan menatap


wajah pucat sang ayah. “Tidak masalah jika itu membuat mama bahagia, asalkan


ayah jangan ikut meninggalkanku. Aku sudah ditinggalkan mama dan aku tidak mau


ditinggalkan ayah juga.”


Mata Ali memerah, perceraian orang tuanya sangat membuat


dirinya syok tetapi ia berusaha untuk kuat. Dia tidak ingin sang ayah semakin


sedih dan malah nekat melakukan hal yang membuat diri ayahnya terluka.


Kim melihat Daleon yang berdiri didepan pintu bersama


putranya, Kim menyuruhnya mendekat. Ali seketika keluar supaya mereka berbicara


dengan nyaman.


“Kau masih di apartemen papamu?” tanya Kim.


Daleon menganggukan kepala. Dia langsung duduk di pinggir


ranjang sambil memangku Darsen. Daleon kini memang tidak banyak bicara dan


sekarang lebih penyabar semenjak kehadiran sang buah hati.


“Jangan pikirkan, uncle! Kau harus pikirkan dirimu sendiri.


Kau masih muda tidak ingin mencari ibu untuk Darsen?” tanya Kim.


Daleon menggelengkan kepala. Kim memeluk Daleon, dia sangat


sayang dengan keponakannya. Ali tersenyum melihat kedekatan mereka, setidaknya


rasa sedih sang ayah akan berkurang jika ada keberadaan Daleon di dekatnya.


**


“Mama... Navi pulang,” ucap Navier sambil membuka pintu.


Dia melihat sang papa bermain dengan cucunya.


“Darman masih disini?” tanya Navier.


“Sini ku timpuk pakai wajan. Nama bagus-bagus seenak jidat


kau ganti,” jawab Sean kesal.


Navier hanya mendengus, ia duduk dan melepas sepatu


importnya. Dia melirik papanya yang asyik bermain dengan Darsen. Navier merasa


cemburu, sejak kelahiran Darsen, ia tidak pernah dimanja lagi dengan sang papa.


“Main terooos sama cucu, anaknya pulang seharian mengurus


perusahaan tidak disambut. Cih...”


Sean hanya menatap jengah Navier yang cemberut seperti anak


kecil.


“Ketimbang banyak omong ajak main si Darsen, kau omnya tapi


tidak ada rasa sayang sama sekali dengan keponakan sendiri,” ucap Sean.


“Oh my... ucuk... ucuk... ucuk... Darman, sini main sama Om!”


Darsen menggelengkan kepala, ia memeluk kakeknya dengan erat.


Dia begitu takut dengan Navier. Daleon datang, Navier dengan tatapan malas


langsung berjalan mencari keberadaan mamanya.


“Mama oreeeen, Navi pulang. Mana puddingnya, mah?” teriak


Navier.


Sean hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putra


terkecilnya. Tubuhnya saja yang bertumbuh tinggi tapi pikirannya masih seperti


anak kecil dan untungnya Navier pandai jadi Sean cukup lega masih bisa


mengandalkan Navier.

__ADS_1


__ADS_2