
Setelah Navier mandi, ia keluar dari kamarnya. Dia duduk
disamping papanya yang sedang bermain dengan Darsen. Sean tidak menghiraukannya,
ia asyik bermain dengan cucunya.
“Pah, laper,” ucap Navier.
“Sana makan!”
Navier memeluk papanya dari samping seperti anak kecil. Sean mendorongnya. Navier memeluknya lagi dengan erat. “Ini papaku, minggir kau Darman!” ucap Navier.
Darsen mendekati Sean dan naik keatas pangkuannya. Tangan kecilnya mencubit tangan Navier. Navier malah menjulurkan lidah. Dia semakin memeluk Sean dari samping.
“Sudah sana kau pergi malam mingguan! Daripada gangguin anak kecil,” ucap Sean.
Navier melepas pelukannya, ia bersedekap dan kepalanya bersandar pada sofa. Malam mingguan? Orang jomblo sepertinya malam mingguan? Jika dia keluar pada malam minggu pasti ditertawakan oleh tikus-tikus dijalan
yang melihatnya tanpa bergandengan tangan.
“Cari pacar! Papa tidak melarangmu pacaran, papa pikir jika kau punya pacar jadi sedikit dewasa,” ucap Sean.
“Wah... papa menganggapku anak kecil? Aku bahkan sudah menonton DVD video dewasa bersama Ali 100 keping, aku sudah menghabiskan ribuan tisu untuk....” Sebelum ucapannya selesai, Sean menatapnya dengan kesal. Navier
beringsut memeluk sang papa lagi sambil cengengesan.
Sean menghela nafas, dia mengusap rambut Navier. Dia begitu sangat menyayanginya. Baru kemarin Navier mengajaknya bermain ultraman tetapi kini Navier sudah besar dan sudah menjadi seorang presdir. Masa-masa kecil
anak-anaknya adalah dambaan orang tua, orang tua akan memanfaatkan masa-masa emas itu untuk bermain dan menemani anak-anak mereka yang manja dan ingin mendapat kasih sayang lebih. Tetapi saat mereka sudah dewasa, semua itu tinggal kenangan. Mereka akan mencari kehidupannya sendiri dan akan memulai hidup dengan keluarga kecil mereka masing-masing. Navier melihat mata papanya yang memerah, ia mengerutkan dahi.
“Kenapa, pah?” tanya Navier.
“Seina kini sudah tidak serumah lagi dengan papa apalagi jika dia sudah punya suami pasti dia ikut suaminya, Dale juga sudah punya anak dan mungkin jika dia punya istri maka dia akan tinggal bersama istrinya. Sekarang
hanya kau saja yang masih tersisa disini, mungkin juga jika kau punya keluarga sendiri pasti keluar meninggalkan papa dan mama,” ucap Sean sedih.
Navier tersenyum, ia menatap wajah sang papa. “Aku jika sudah memiliki keluarga sendiri maka akan tetap tinggal disini bersama papa dan mama.”
Sean tersenyum, ia mencium pucuk kening putra manjanya itu dan disaat bersamaan, Mauren datang. Dia tersenyum lalu mengajak makan malam bersama dengan mereka.
**
Seline baru merebahkan dirinya diranjang, hari ini cukup melelahkan karena harus melayani permintaan sang tuan yang aneh-aneh. Dia malah terus membayangkan sosok Navier yang sangat menyebalkan, senyuman Navier
membuatnya kesal dan ingin memukuli wajahnya.
“Hei anak manja! Kau malah enak-enak tidur, ayo sapu dan pel rumah!” ucap mama tiri Seline.
__ADS_1
“Aku baru pulang kerja, besok pagi saja.”
“Sekarang!” bentak mama tirinya.
Seline dengan terpaksa mengikuti perkataan mama tirinya, ia tidak ingin diadukan oleh papanya karena dia tidak mau membantu membersihkan rumah.
Setelah aku punya uang sendiri, aku akan segera keluar dari rumah laknat ini. Aku tidak bisa terus di tindas seperti ini.
Seline membersihkan rumah, walau badannya terasa remuk tetapi dia tidak ada pilihan lain. Dia menyapu dengan cepat dan terburu-buru. Adik tirinya yang berada di dapur memperhatikannya.
“Sapu yang bener kakak! Nanti suaminya brewokkan jika tidak bersih,” ejeknya.
Seline tidak menghiraukan omongannya. Dia terus saja menyapu secepat mungkin diseluruh ruangan. Perutnya terus saja berbunyi karena dia tidak mendapat jatah makan malam. Papanya kini sedang berada diluar kota untuk
beberapa hari. Ketika menyapu, ia malah teringat senyum menyebalkan dari Navier. Dia berteriak membuat adik tirinya heran.
“Dasar gila!” ucap adik tirinya.
Seline tidak memperdulikan, ia mengusap wajahnya dan berharap senyuman dari Navier yang menyebalkan itu hilang.
**
Hari minggu yang cerah, Sean, Juna, Kim dan anak-anak mereka memutuskan untuk lari pagi. Sean tidak lupa membawa Darsen. Mereka berlari pagi di gor dekat rumah mereka. Tidak ketinggalan ada Navier, Ali dan Vero. (Vero
adalah anak Juna)
“Iya, bahkan aku sudah punya cucu,” ucap Sean.
Darsen berlari sambil menggandeng kakeknya, papanya tidak ikut karena ingin dirumah saja. Navier berlari kearah Sean yang berlari pelan. Dia ingin menggendong keponakannya. Darsen menggelengkan kepala.
“Darman, ayo beli mainan! Ada robot ultraman disana,” ajak Navier.
Darsen terus menggelengkan kepala membuat Navier ingin semakin menggodanya.
“Ayolah Dar! Beli mainan disana.”
Darsen menangis, Sean langsung mengetok kepala Navier. Navier mendengus, ia hanya ingin dekat dengan keponakan cengengnya itu.
“Mana bapakmu? Enak sekali hanya tiduran di rumah,” ucap Navier.
“Sudah sana pergi! Sudah besar masih saja menggoda anak kecil.”
Navier mundur perlahan. “Mbah Sean jangan galak-galak nanti cepat keriput.”
Sean sudah siap melepas sepatunya. Navier bersiap berlari. “Ampun, mbah,” ucap Navier berlari meninggalkan mereka.
“Anak setan kau! Tidak ada sopan santunnya dengan orang tua,” ucap Sean kesal.
__ADS_1
Juna dan Kim hanya tertawa, sifat Navier memang lebih parah dari Sean. Bahkan terkesan sering cengengesan dan menyebalkan. Navier berlari menghampiri Ali dan Vero yang sudah berlari jauh. Mereka memang 3 serangkai
yang tidak terpisahkan. Sampai ekor mata Navier melihat wanita yang familiar dilihatnya. Wanita itu tengah duduk diam di bangku gor. Navier langsung mendekatinya.
Wanita itu adalah Seline, ia melamun tidak jelas dan tidak sadar dengan kehadiran Navier, Navier dengan iseng memencet hidung Seline. Seline dengan refleks menampar pipi bosnya itu.
“Sean, anakmu ditampar cewek,” ucap Juna.
Sean justru tertawa. “Biar tahu rasa dia.”
Navier memegangi pipinya, ia menatap penuh dendam kepada Seline. Seline ketakutan dan langsung meminta maaf. Dia sampai tidak bisa berkata-kata.
“Kau...” Navier langsung membalikkan badan, mungkin sakitnya hanya sedikit tetapi rasa malunya yang besar karena disana banyak orang yang melihat.
Seline menarik tangan Navier. “ Maafkan saya, tuan! Saya tidak tahu jika itu anda.”
“Lepaskan! Bahkan mamaku saja tidak pernah memukulku dan kau sudah memukulku dua kali.”
Seline membungkukkan badan berkali-kali, ia meminta maaf dan memohon supaya tidak dipecat. Raut mukanya begitu panik. Disaat bersamaan, Ali mendekat dan menengahi mereka.
“Sudahlah, Navi! Kau juga salah, tak seharusnya tiba-tiba memencet hidung perempuan,” ucap Ali.
“Tau apa kau?” Navier jika marah memang tidak bisa diredam, ia langsung berjalan meninggalkan mereka.
Dia merasa diremehkan saat ditampar didepan banyak orang. Dia adalah seorang presdir dan harus menjaga nama baiknya. Seline mengejarnya, ia terus meminta maaf berulang kali tetapi Navier tidak menggubris.
“Aku sudah bilang minta maaf berulang kali tetapi kenapa anda tidak memaafkan saya?” ucap Seline.
“Tebus kesalahanmu saat bekerja besok, awas kau! Sekarang sudah masuk kandang singa. Jangan main-main denganku!”
**
Navier merebahkan tubuhnya diranjang, ia berguling-guling seperti anak kecil. Kejadian tadi tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Tiba-tiba ponselnya berdering rupanya dari Seina, dia lalu mengangkatnya.
“Kau baru beberapa hari menjadi presdir sudah membuat ulah.”
“Maksudmu?”
“Lihatlah di internet! Berita mengatakan jika presdir Young Group melakukan pelecehan dengan seorang cewek dan dia ditampar dengan cewek tersebut.”
Navier terkejut, ia langsung menutup telponnya dan melihat di internet. Dia mengusap wajahnya dengan kesal. Padahal kejadian itu baru satu jam yang lalu tetapi berita tersebut cepat menyebar. Navier langsung menelpon
Ali.
“Ali, kau sudah melihat beritaku? Cepat redam berita itu dan beri hukuman yang berat kepada pembuat berita laknat itu!”
“Oke.”
__ADS_1