
Note : Kim dan Jackson berbicara dengan bahasa Cina.
“Ayah bilang jika bule itu adalah mafia, bagaimana jika kita bekerja sama untuk mengungkap mafia itu. Siapa tahu bule itu salah satu buronan kami atau bisa jadi dia dalang dibalik mafia dipenjuru dunia?” ucap Jackson.
Kim menaikkan alisnya. Dia berpikir sebentar lalu tersenyum. Ini adalah kesempatannya untuk mencari tahu Louis sampai ke akar-akarnya. Louis yang pandai bersilat lidah bahkan tangannya bisa bersih dari dosa-dosa yang dia perbuat.
Jackson membuka kopernya, dia mengeluarkan berkas-berkas mafia buronan yang harus dia dapatkan hidup-hidup untuk mengetahui siapa dalang dibalik kejahatan ini. Kim membacanya dengan seksama, disitu terdapat foto-foto mafia dari berbagai negara dan data mereka tetapi kini mereka memalsukan data diri mereka untuk bersembunyi di negara orang lain.
Sampai ketika dia melihat foto seseorang yang dia kenal.
"Bukankah ini Tuan Chai seorang politisi dari provinsi Jiangsu?" tanya Kim menunjuk pria bermata sipit dan berkacamata yang berada didalam foto.
"Yups benar, dia sudah tidak berpolitik lagi setelah mempunyai skandal dengan gadis muda padahal dia sudah beristri dan beranak. Tapi kini dia menjadi buronan karena terbukti menjadi sindikat penjualan bubuk mesiu ilegal di pasar gelap. Dia memasok negara-negara di timur tengah secara diam-diam atau ilegal."
Kim lalu membuka lembar selanjutnya, seorang bule perempuan juga ikut terlibat. Kim tersenyum tipis, sepertinya akan menjadi permainan yang menarik setelah puluhan tahun tidak melakukan penyelidikan yang mempertaruhkan nyawa.
"Tapi dimana ibu ku? Jangan-jangan ayah membohongiku?" tanya Jackson.
"Bukankah aku sudah mengirimkan foto ibumu, kenapa kau tidak mencari sendiri?"
"Wah, bajingan ini mengajak bercanda. Ayah hanya mengirim foto tanda lahir di perut wanita. Ayah menyuruhku untuk membuka baju setiap wanita yang lewat di depanku? Sialan! Bikin kesal saja," ucap Jackson menatap jengah Kim.
Kim menatap Jackson dengan heran, dia bahkan tidak bisa memarahi Jackson yang selalu melontarkan ucapan kasar kepadanya. Kim sadar jika dia memang bersalah karena sudah meninggalkan Jackson dikeluarga lain yang dia percayai.
Ceklek...
Ali masuk setelah pulang kerja seharian, Kim langsung menyambutnya. Dia langsung membuatkan susu untuk Ali. Ali mengerutkan dahi saat melihat pria yang baru dikenalkan duduk sambil kakinya diatas meja.
"Bisakah kau menurunkan kakimu?" ucap Ali.
Jackson yang tidak mengerti ucapan Ali hanya menatapnya karena Ali menggunakan bahasa sehari-harinya. Ali yang geram langsung menurunkan kaki Jackson lagi tetapi Jackson menaikkan lagi ke atas meja.
Ali lantas menendang kaki Jackson, Jackson langsung berdiri dan berbicara bahasa Cina.
"Jaga sikapmu!" ucap Jackson.
Ali sangat mengerti bahasa ayahnya itu. Dia juga membalas dengan bahasa Cina.
"Kau yang seharusnya menjaga sikapmu!"
__ADS_1
Jackson menarik kerah jas Ali, dia terkesan karena Ali sungguh berani.
"Bajingan kecil ini sangat mirip dengan ayahnya," ucap Jackson mengejek.
Ali mendorong tangan Jackson lalu berjalan masuk ke kamarnya. Dia segera membersihkan diri dan memutuskan langsung tidur.
***
Navier menggenggam erat tangan papanya. Dia begitu merindukan ocehan dan omelan sang papa. Mauren mengelus punggung Navier dan menyuruh Navier pulang ke apartemen.
"Kenapa keluarga kita menjadi begini? Kak Dale dan Kak Sein pergi mengkhianati kita. Bahkan Papa sedang sakitpun mereka seolah tidak peduli," ucap Navier.
"Navi pikirkan nasib perusahaan saja, tantemu Sera sudah bertindak. Dia mengumpulkan saham dari beberapa orang untuk merebut dan mengambil alih Young Group. Untuk masalah kedua kakakmu, mama yang akan menyelesaikannya."
Navier mengepalkan tangannya, andai saja papanya sudah sembuh pasti dia akan membantunya menghadapi semua ini. Navier harus berjuang sendirian padahal dia baru 2 minggu dilantik menjadi presdir.
"Navi pulang, ya? Biar mama yang menjaga papamu. Kau pasti lelah sudah mengurus perusahaan seharian ini."
Navier menganggukkan kepala, ia mencium pipi mamanya dan berpamitan pulang. Setelah keluar dari rumah sakit, dia melihat ponselnya.
Saya sudah menemukan keberadaan Daleon bersama Seina.
Navier tersenyum, ia segera menaiki mobilnya.
"Tidak, tuan. Bisakah anda mengantar saya pulang?"
Navier menganggukkan kepala, dia segera melajukan mobil ke rumah Seline. Seline cukup tidak enak karena sang tuan mengantarnya pulang. Seline melirik Navier yang sedari tadi sedih dan terlihat bingung, wajar saja jika Navier sedih karena sang Papa sedang sakit.
"Aku masih menunggumu untuk menjadi pacarku," ucap Navier.
"Tidak bisa, tuan."
"Aku akan menunggumu sampai kau bisa menerimaku."
Tiba-tiba mobil yang dia kendarai dihentikan oleh beberapa orang. Navier lansung mengerem mendadak dan disaat bersamaan, mobilnya dipukuli dan dirusak oleh orang itu. Seline berteriak histeris, Navier langsung memeluknya dengan erat. Tak hanya itu saja, mobilnya disiram dengan bensin. Navier tak tinggal diam, dia menyelinap keluar lewat pintu belakang dan berlari menuju ke pepohonan yang rindang dan gelap. Mobil Navier langsung dibakar dan beberapa menit kemudian meledak. Seline sangat syok berat bahkan dia memeluk Navier dengan erat.
Sialan! Siapa yang berani menantang presdir Young Group?
Navier segera menelpon Ali untuk segera datang ke lokasinya.
__ADS_1
Disisi lain, Ali yang baru saja mandi dan belum sempat makan langsung menyusul Navier.
"Ali, makan dulu! Ayah sudah memesan makanan," ucap Kim.
"Tidak, yah. Navier dalam bahaya. Dia dicegat dan mobilnya dibakar."
Kim terkejut, Jackson yang tidak mengerti ucapan mereka melanjutkan makannya. Kim berdiri, dia ikut bersama Ali. Kim menyuruh Jackson untuk segera tidur. Pria itu hanya menganggukkan kepala.
Dalam perjalanan, Kim mengumpati putranya sendiri kenapa dengan lalai membiarkan sang tuan menyetir mobil sendiri. Ali menjelaskan jika Navier meminta menyetir sendiri sambil pendekatan dengan gebetannya.
Disisi lain, Navier langsung dipukul dari belakang oleh seseorang yang bertopeng. Seline begitu histeris.
"Lari! Lari Seline!" teriak Navier.
Seline menggelengkan kepala. Dia tidak tega membiarkan sang tuan di pukuli tanpa ampun. Seline mengambil batu besar lalu melemparnya tepat mengenai kepala pria bertopeng itu. Saat pria bertopeng itu akan menghampiri Seline dengan cepat Navier menendang kakinya dan membuat pria bertopeng itu terjatuh.
Navier mendekatinya dan membuka topengnya, betapa terkejutnya jika itu adalah Daleon.
Navier begitu syok, ternyata yang mencoba mencelakainya adalah sang kakak sendiri.
"Kenapa kau yang harus menjadi presdir?" tanya Daleon sambil berdiri.
"Bukankah kakak yang tidak mau?"
"Papa yang mengatakan itu bukan aku," ucap Daleon.
Navier mendengus, ia mengelap darah yang berada dibibirnya. Dia tersenyum tipis membuat Daleon semakin kesal.
"Berikan aku saham 50 persen dari yang kau punya!" ucap Daleon.
"Kak Dale gila? Bahkan Papa dan Mama masih hidup dan kau sudah meminta warisan? Kau pikir aku memimpin perusahaan ini untuk diriku sendiri? Asal kakak tahu, aku hanya menjalankan saja tanpa mengotak-atik setiap saham yang ada."
Daleon semakin geram, dia menarik kerah jas Navier. Adik dengan mulut embernya sungguh membuat dia muak. Tetapi tiba-tiba tangan Daleon ditarik oleh Kim. Kim menengahi pertengkaran kakak adik itu.
"Ali, jebloskan dia ke penjara karena percobaan pembunuhan sang presdir Young Group dan cari teman-temannya yang sudah kabur duluan," ucap Navier sambil membetulkan kerah jasnya.
Navier lalu menarik tangan Seline yang masih syok dan masuk kedalam mobil Ali dan duduk dibangku belakang. Seline masih syok atas kejadian tadi. Baru pertama kali ini dia melihat secara langsung aksi percobaan pembunuhan tadi, telat sedikit saja mereka keluar dari mobil maka pasti mereka ikut terbakar dan meledak.
"Maafkan aku jika kau jadi terlibat," ucap Navier.
__ADS_1
Seline tersenyum lalu menganggukkan kepala, Navier mendekatinya dan mencoba mencium bibir Seline. Jantung Seline berdegup dengan kencang sampai bibir mereka bersentuhan. Navier memagut bibir Seline dengan mesra sampai mereka lupa jika sedang diperhatikan pemilik mobil dari liar yaitu Ali.
"Ayah, bocah itu malah mesum di mobilku yang suci," ucap Ali merasa mendongkol.