
Navier terbangun dari tidurnya, dia melihat jam menunjukan pukul 2 siang. Dia terkejut dan langsung berganti pakaian. Hari ini adalah hari dimana Seline akan memberikan jawaban.
Navier keluar kamar dan langsung keluar dari apartemen tanpa berpamitan dengan orang tuanya. Navier menyetir mobil sendiri menuju perusahaan hanya untuk mendengar jawaban dari Seline. Dia berharap Seline mau menerima ajakan berpacaran dengannya.
Setelah sampai kantor, Navier segera menuju ke ruangannya tetapi saat belum sampai disana ia bertemu dengan Seline didepan lift.
"Tuan Navier, kenapa anda ada disini? Katanya anda libur?" tanya Seline.
"Apa jawabanmu dari ajakanku kemarin?" tanya Navier begitu berharap.
Seline terdiam, ia tidak berani menatap wajah Navier dan ragu menjawab. "Maaf, Tuan. Ini terlalu mendadak dan lagi pula umur anda dibawah saya..."
"STOP! Aku tidak ingin mendengar kalimat menyakitkan itu." Navier menutup telinganya, ia mundur perlahan. "Anggap saja aku tidak pernah mengajakmu berpacaran!" sambung Navier lalu berlari menjauhi Seline.
Seline menatap punggung Navier, dia menelan ludah pasti akan sangat canggung ketika bertemu dengannya lagi. Dia belum bisa menerima cinta Navier yang terlalu mendadak apalagi dia pegawai baru.
Navier kembali pulang ke apartemennya dengan rasa kecewa, dia menyetir mobil sambil melamun. Padahal dia baru pertama kali mengungkapkan perasaannya tetapi malah di tolak mentah-mentah.
Sialan! Awas saja kau sudah menolakku. Kujamin hidupmu akan sengsara.
**
Sean, Juna, Zara dan Kim sedang mengobrol diruang tamu apartemen Sean. Mereka mengobrol serius tentang Sera yang sudah memutuskan hubungan dengan mereka terutama Sean, Zara, Kim bahkan anaknya sendiri yaitu Ali.
"Aku sudah memberikan Sera saham beberapa tahun yang lalu, dia mengatakan jika akan membangun bisnis baru bersamamu, Kim. Bisnis apa itu?" tanya Sean kepada Kim.
"Saya tidak tahu perihal itu, tuan. Sera tidak pernah membicarakan itu," jawab Kim.
"Aku gak nyangka Sera bakal begini. Dia bahkan sudah gak mau mengangkat telponku lagi," ucap Zara.
Juna mengelus punggung Zara, hubungan Zara dan Sera sudah retak apalagi kini sang mama sudah tiada.
"Terus maksudmu apa Kim mengeluarkan Angelica dari penjara? Dia pembunuh sadis dan seharusnya di hukum mati. Jangan bilang kau mau menikahinya!" tanya Juna.
Kim menggelengkan kepala, dia hanya merasa kasian dengan Angelica sebagai korban dari kelicikan Louis. Dia hanya ingin memulangkan Angelica ke negara asalnya.
Disaat bersamaan, Navier pulang.
"Maaaaah... Navi pulang," teriak Navier.
Dia berjalan menuju sofa lalu duduk didepan Papa, paman dan tantenya. Dia langsung melamun tidak jelas. Wajahnya sedih bercampur kesal.
__ADS_1
"Mamaaaaaaaah..." teriak Navier lagi.
"Tidak usah teriak! Mamamu sedang keluar," ucap Sean.
Navier mulai menampilkan wajah memelas. Dia berbicara sambil bergetar. Keluarga yang didepannya mendengarkan dengan serius.
"Mama sedang apa? Aku butuh mama, aku mau mengadu kepada mama. Aku ingin mengadu pada Tuhan tetapi aku malu." Navier mulai ngedrama. "Atau aku lapor polisi saja atas kasus perbuatan tidak menyenangkan?"
Sean masih menaikan alisnya, baru pertama kali ini Navier sampai sesedih itu. "Ada apa? Coba cerita pada Papa!"
Navier menggelengkan kepala, dia berdiri lalu mulai bersimpuh didepan papanya. Kim, Juna dan Zara hanya memandanginya dengan heran.
"Suhu Sean, tolong ajari aku ilmu memikat hati wanita! Aku baru saja di tolak," ucap Navier.
Juna dan Zara terbahak-bahak mendengar ucapan Navier. Sean hanya menatap putra lebaynya dengan jengah. Dia mencubit pipi Navier dengan gemas. Putra terkecilnya memang selalu membuatnya merasa geli.
"Kau salah meminta bantuan kepada papa, papa hanya dekat dengan mama mu saja. Kau tanya saja dengan Uncle Juna, dia master dari master menaklukkan hati wanita," ucap Sean.
"Sialan kau, Sean! Zara jangan dengarkan dia! Sean mulut pendusta," ucap Juna seolah tidak terima dengan ucapan Sean.
Navier langsung bersujud dibawah kaki Juna, Juna merasa risih sedangkan Zara malah tertawa. "Terima lah aku menjadi muridmu Suhu Juna!" ucap Navier.
***
Angelica membuka pintunya, dia tersenyum lalu menyuruh Kim masuk.
"Aku diluar saja, tidak enak jika aku masuk ke dalam," ucap Kim.
"Ini 'kan apartemen milik uncle. Ayo masuk!" jawab Angelica menarik tangan Kim.
Mereka duduk di ruang tamu dan Angelica langsung menyantap makanannya. Dia sesekali bercerita tentang Louis. Wanita itu mencoba menelpon Louis tetapi Louis tidak menerima panggilan teleponnya.
"Aku tidak menyangka jika Uncle Louis malah memilih istrimu. Padahal dia menyukai tante Mauren atau justru dia mempunyai rencana lain?" ucap Angelica sambil menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya.
Kim menggelengkan kepala, Angelica menguyah dengan cepat lalu menelannya. Kim memperhatikan raut wajah gadis bule itu yang awet muda dan masih seperti ABG padahal usianya sudah kepala tiga.
"Kau mau dekat dengan Ali?" tanya Kim membuat Angelica tersedak.
Kim langsung memberikan minum.
Angelica meminumnya dengan cepat dan tenggorokannya sedikit sakit. "Apa uncle bilang? Jujur saja, aku lebih memilih orang yang lebih tua dari ku dari pada orang yang lebih muda dariku. Aku tidak suka berondong, apalagi Ali begitu imut," jawab Angelica.
__ADS_1
Kim tersenyum tipis, dia malah mengira jika Ali akan cocok dengan Angelica. Ali sangat manja pasti cocok dipasangkan dengan Angelica yang memiliki sifat dewasa dan keibuan. Walaupun Angelica mantan pembunuh sadis tetapi Kim pikir dia bisa berubah jauh lebih baik.
"Kenapa uncle tidak mau denganku?" tanya Angelica.
"Sama halnya denganmu, uncle tidak mau dengan orang yang terlalu muda. Bahkan umur kita berjarak 20 tahunan."
"Pasti uncle berpikir aku wanita kotor yang sudah di pakai Uncle Louis? Aku tidak seperti itu bahkan kami tidak pernah melakukan apapun," ucap Angelica.
Kim menggelengkan kepala, ia lalu beranjak dari sofa. Dia berpamitan kembali ke apartemennya untuk membangunkan Ali yang tertidur semenjak pulang dari kantor satpol PP.
"Uncle, aku mencintaimu. Terima kasih sudah membantuku. Aku berutang banyak kepada uncle. Aku memang wanita kotor yang telah membunuh banyak orang, aku memang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan setelah perbuatanku dimasa lalu yang begitu menjijikkan."
Kim menghentikan langkahnya, Angelica langsung mendekatinya. Dia sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Kim dengan sekilas. Setelah itu Angelica mendorong Kim keluar dari apartemennya tetapi Kim menahan pintunya supaya tidak tertutup.
"Aku bahkan masih punya istri. Walau kami belum resmi bercerai tetapi aku masih menghormatinya. Tolong jangan lakukan hal ini lagi! Jika tidak aku tidak segan untuk membunuhmu," ucap Kim dengan nada dingin penuh penekanan.
Kim langsung pergi dan masuk ke apartemennya. Dia menutup pintu dan bersandar dipintu tersebut, jantungnya berdegup dengan kencang tatkala dicium oleh Angelica. "Maaf aku tidak bisa menerimamu, aku masih berharap jika Sera akan kembali kepadaku. Aku masih memikirkan perasaan Ali yang sudah kehilangan ibunya, aku hanya ingin membuat Sera kembali untuk Ali walau hatiku sendiri sudah cukup kecewa dengan Sera."
Setengah jam kemudian,
Angelica sudah membawa tas punggung, ia memutuskan untuk pergi. Dia tidak ingin merepotkan Kim lebih lama lagi. Angelica mengetuk pintu apartemen Kim tetapi yang membuka adalah Ali.
"Ini kunci apartemen milik ayahmu."
"Kau mau kemana?" tanya Ali.
"Aku ingin mencari kehidupan baruku dan mencari uang untuk kembali ke Italia. Terima kasih karena kalian masih mau menampung penjahat sepertiku disini," ucap Angelica.
Dia membungkukan badan lalu pergi berjalan menjauhi Ali. Ali masih terdiam memandangi kepergian Angelica. Setelah itu dia menutup pintu karena juga tidak mau mencampuri urusan wanita itu.
****
Untuk pembaca baru lebih baiknya baca novel ini dulu karena novel Presdir idiot ini adalah novel versi anaknya.
*****
Author akan kupas kisah Navier - Seline.
Seina - Daleon.
__ADS_1
Kim dan Ali.
Ceritanya masih panjang, mohon bersabar...