
Hans terus didampingi oleh psikiater untuk melihat perkembangan, supaya tidak berlarut larut dalam kesedihan.
Hans masih enggan untuk bangun, Efek dari obat itu sangat kuat hingga ia tidur hampir seharian.
Sedangkan Syeril melanjutkan aktivitas seperti biasa, Dia terus berdo'a semoga tidak ada apa apa yang terjadi pada nya.
_________________________________________
Hanum dan Zain duduk dibangku ruang tunggu, Hanya keheningan diantara keduanya.
" Emm ... Kau kesini untuk studi ? " Memecahkan keheningan
" Aku ?, iyaa aku kesini untuk studi "
" Ohh yaa ? , Apa jurusan yang kau ambil ? "
" Emm ... Kedokteran "
" Pantas saja, tadi kau tidak salah saat aku meminta mengambilkan peralatan medis. "
" Tentu saja, Aku sudah belajar sedikit tentang peralatan medis "
" Emm ... Baguslah "
" Kalau kau, Apa kau pun studi di sini ? "
" Yaa... Aku sudah mendapatkan gelar sarjana kedokteran, dan sedang menjalani koas di sini "
" Di rumah sakit ini ? "
" Bukan, rumah sakit di Busan "
" Emm Baiklah, Sampai kapan kita disini ? "
" Sampai keluarga pasien datang "
" Bolehkah aku pergi duluan dari sini ? "
" Kau tahu jalan ? "
" Tentu saja aku tahu, Kalo begitu aku pamit dulu " Berlalu meninggalkan Zain sendirian
" Tunggu ... " Mengejar Hanum
Hanum dan Zain terhenti langkah nya saat ada pasien kecelakaan lewat di hadapan keduanya.
__ADS_1
Zain panik dan teringat akan masa lalu nya, Tubuhnya gemetar, Keringat dingin mulai keluar dari tubuh nya.
Hanum melihat itu pun khawatir, dan menutup mata Zain dengan tangan. Hanum mengerti mungkin dia trauma akan sesuatu.
" Tutup mata mu " Memapah Zain untuk duduk
Zain memegang tangan Hanum yang sedang menutup mata nya. Hanum berdiri di hadapan Zain karena pasien terus berdatangan, mungkin tejadi kecelakaan beruntun karena banyak sekali pasien yang datang.
" Aku takut ... " Memegang tangan Hanum yang ada di bahunya
" Kau seorang dokter, Kau harus tebiasa melihat hal ini "
Zain melepaskan tangan Hanum yang menutupi matanya, Mencoba melihat yang terjadi dihadapan nya.
Setelah melihat, Zain kembali menutup mata nya. Tubuhnya semakin gemetar dan sangat ketakutan.
" Kita pergi dari sini " Merogoh tasnya mencari sesuatu
" Pakailah ini " Memakaikan kaca mata hitam
" Jika kau takut, tutuplah mata mu " Memegang tangan nya untuk keluar dari sana
Zain hanya mengikuti arahan Hanum, Hanum seperti sedang menuntun orang yang tidak bisa melihat karena Zain memakai kaca mata hitam.
" Aku seperti sedang menuntun orang yang tidak bisa melihat haha... " Tertawa geli melihat Zain
" Tidak ada "
" Aku bisa mendengar mu "
" Kita sudah sampai, Duduklah " melepaskan genggaman nya
" Huffttt .. " Membuang napas berat
" Nih ... " Memberikan botol minum
" Terimakasih ... " Mengambilnya
" Kaki mu masih lemas ? " Memegang kakinya
" Sedikit "
Handphone Hanum berbunyi, ada telpon masuk. Dan segera Hanum mengangkat nya
" *Hallo Assalamualaikum Imo "
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam ... Kamu dimana ? Kok di bandara tidak ada "
" Hanum di rumah sakit "
" Kamu sakit ?
" Tidak imo, Tadi ada kecelakaan di bandara "
" ... "
" Wa'aliakumsalam* "
" Itu bibi mu ? " Hanum mengangguk
" Bibiku akan kesini, kau akan ikut dengan ku ? "
" Bolehkah aku ikut ? "
" Tentu saja "
____________________________________________
" Syeril .... " Memutar badannya
" Hannaaa .... ? " Menghampiri nya
" Kau melihat Hanum ? "
" Tidak ... "
" Dia kemana yaa ? "
" Emm bagaima kita cari Hanum di perpustakaan ? "
" Ide bagus, yuk kita cari kesana "
Mereka pun mencari di perpustakaan, Namun nihil tidak ada Hanum ataupun Hans disana.
" Mereka tidak ada Hana "
" Iyaa syeril, mereka tidak ada "
" Coba aku telpon yaa ... " Mengambil handphone di sakunya
" Diangkat ? "
__ADS_1
" Tidak ... " Menggelengkan kepala
____________________________________________