My Dosen I Hate You

My Dosen I Hate You
Demi Baby


__ADS_3

Hans menyusul Syeril yang sedang menonton televisi, Sambil membawa sayur yang ada di tangannya.


" Aaaaa.... " Menyuapkan sendok ke Syeril


" Engga.... Aku gak mau " Menolaknya


" Kenapa ?, Ini enak loh " Menyuapkan ke dalam mulutnya


" Gak mau aja, Kenapa yaa tiap ada bapak bawaannya tiba tiba bad mood " Menatap Hans


" Lahh kenapa dong ? " Balik bertanya


" Uwekkk ... Uweekk " Berlali ke kamar mandi


Hans mengejar nya dan memijat lehernya, berharap itu akan sedikit menghilangkan mual yang dirasakan Syeril.


Syeril bangkit dan menatap Hans.


" Kenapa ? Pusing ? " Mengusap kepala Syeril


Syeril mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada dada Hans.


" Mau ke dokter, Hmm ? "


" Tidak ... " Melingkarkan tangannya memeluk pinggang Hans


" Yasudah kau duduk dulu " Menggendong tubuh Syeril


" Kau sudah makan ? " Syeril menggeleng


" Mau makan apa ? " Syeril tetap menggeleng


Hans khawatir, Akhirnya memanggil dokter pribadi nya untuk datang ke apartemen.


" Minum dulu " Memberikan gelas


Syeril mengambilnya " Makasih " Meminumnya.


" Kau ingin makan sesuatu ? "


" Tidak " Menyimpan gelas


" Lalu kau mau apa ? " Duduk di samping Syeril


" Tidak ada, Hanya tiba tiba aku ingin dirimu saja " Menundukkan pandangan nya

__ADS_1


" Emm kau sedang manja padaku baby ? " Mengusap perut


Syeril tersenyum melihat Hans menyapa janin yang ada di perutnya.


" Dia suka usapan mu " Menatap Hans tersenyum


" Benarkah ? "


" Iyaa ... "


" Kau sudah lebih baik ? "


" Iyaa ... Karena usapanmu "


Hans pun ikut tersenyum, Dan tiba tiba dia mencium keningnya, Syeril terkejut mendapatkan dirinya diperlakukan seperti itu,


Mereka berdua saling bertatapan.


" Ini salahku, Jadi apapun yang terjadi aku harus bertanggung jawab " Hans bergumam dalam hati sambil mengusap puncak kepala Syeril


Dalam hati" Apa yang harus aku lakukan pada Hanum, Dia begitu mencintai Hans. Namun aku malah merebut nya " Syeril tersenyum dihadapan Hans tanpa terasa air matanya mengalir


" Lah ... kok nangis " Mengusap air mata nya


" Ini apa dong ? " Memperlihatkan tangan nya yang basah


" Enggak tahu " Memutar tubuhnya menatap televisi


Hans meraih tangan nya. " Lihat ke sini dong "


Syeril membalikkan badan menatapnya


Hans memeluk Syeril " Ini salahku, Maafkan aku. Kalau saja waktu itu aku tidak bertemu dengan teman teman ku, Aku tidak akan mabuk dan melakukan itu padamu " Mempererat pelukannya


" Aku harus bertanggung jawab, dan aku ... Aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan pertunangan ku dengan Hanum " Ucap nya menahan tangis


" Apa...!!! " Syeril terkejut dan melepaskan pelukan nya


" Bapak tidak perlu melakukan itu !, Aku tidak perlu bapak nikahi. Tetaplah bersama Hanum " Melangkah menuju kamar dan menguncinya


" Aku pun tak mau melakukan ini, Tapi ... Demi bayi ku akan aku lakukan " Bersandar di depan pintu, memeluk kedua lututnya dan teringat akan masa kecil nya.


Hans tak mau anaknya kelak harus merasakan apa yang dia rasakan dulu, Bagaimana pun caranya dia harus membahagiakan anaknya dan merasakan apa yang dia tidak rasakan dulu.


___________________________________________

__ADS_1


Hanum keluar dari kelas dengan membawa tumpukan kertas, karena dia di tunjuk oleh salah satu dosen menjadi asisten nya. Maka mau tak mau dia harus mengumpulkan setiap tugas teman teman nya.


" Sini aku bantu " Mengambil sebagian kertas yang dibawa Hanum


" Zain " Tersenyum menatapnya


" Hentikan tatapan itu " Melotot kepada Hanum


" Matanya sipit sih jadi gak bisa melotot, dasar haha... " Tertawa melihat nya


" Aish dasar pendek, mentang mentang matanya gak sipit " Membalas ledekannya


Mereka sampai di ruangan dosen dan menyimpan tumpukan kertas di atas meja, dan kembali keluar.


" Hanum kita main itu " Menunjuk ke arah tangga yang panjang


" Main tangga ? " Bingung dengan ucapan Zain


" Iyaa " Menganguk " Kita main kertas gunting batu, yang menang naik satu tangga. Yang sampai atas duluan akan di kabulkan permintaan nya oleh yang kalah " Menjelaskan kepada Hanum


" Akan di kabulkan ? " Zain mengangguk


" Yaudah ayo main "Berlari mendekati Zain


" Kertas gunting batu " Ucap mereka bersama sama


Zain akan sampai menuju tangga paling atas, Namun sengaja ia mengalah pada Hanum, Karena akhir akhir ini dia selalu murung. Zain ingin menghiburnya maka terpikir untuk melakukan permainan agar Hanum bisa mendapatkan keinginannya.


" Yeee... Hanum menang " Melompat lompat


" Iyaa kau menang, jadi apa yang kau inginkan ? " Tersenyum melihat Hanum yang kegirangan


" Aku punya 2 keinginan " Melipat jarinya menunjukkan dua


" Tidak bisa, kau hanya boleh meminta satu keinginan "


" Hanya satu ?, Yasudah kau saja yang menang " Turun dengan wajah lemas


" Tidak tidak, Baiklah akan aku kabulkan keduanya " Menahan tubuh Hanum untuk kembali ke atas


" Benarkah ? "


" Iyaa ... Jadi cepat beritahu apa itu "


____________________________________________

__ADS_1


__ADS_2