My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Dialah Si Kutub (Kayla)


__ADS_3

Pagiku cerahku


Matahari bersinar


Kugendong tas merahku di pundak


Nyanyian tersebut menghiasi pagiku. Hari ini aku sudah menginjak masa akhir SMA ku di SMA Shine Wish, SMA yang merupakan kategori 10 besar sekolah terbaik di Indonesia. Aku bernyanyi tiada henti dan sesampainya di kelas XII IPA 5, keadaannya kosong melompong. Pada jam segini, aku masih molor di tempat tidurku dan kadang-kadang terlambat ke sekolah. Aku mengeluarkan buku fisikaku dan mencoba mengerjakannya sendiri, namun apa daya otakku tidak kuat mengerjakan segitunya rumus dan angka yang memburuku. Aku keburu ngantuk dan aku terkejut bukan main karena seseorang mengagetkanku.


“Dor.”


“Eh emak Ijah suka karaoke.” Sontak si Laily, sahabatku tertawa keras sambil memegang perutnya dan untung saja keadaan di kelas masih sepi.


“Ih, Laily. Aku tuh ngantuk banget tahu gak. Jangan ganggu incess Kayla mau bocan.” kataku dengan alaynya.


“Dih, incess dari hidungmu. Lagian, tumben datengnya pagi? Palingan lagi nunggu doi nih ye.” goda Laily sambil menoel-noel pipiku dengan gemas.


“Apaan sih? Doi aja kagak punya.” jawabku jengah.


“Aku tahu, palingan kamu pingin ngurangin daftar anak telat di OSIS bukan?”


“Itu tahu.”


“Napa sih segitunya gak pingin telat? Padahal, siswi-siswi di sini pingin banget telat dan dihukum sama ketos kita, termasuk aku juga ya.” harap Laily dengan penuh imajinasi. Aku melihatnya dengan tatapan ngeri saking otak sahabatnya terlalu miring untuk masalah ini.

__ADS_1


“Laily anaknya Bapak Wibowo yang sangat miring bahkan kemiringannya mencapai minus 1, ketos kita itu sumpah bikin emosiku naik turun sampe-sampe aku debat setengah jam sama tuh kutub nyebelin cuma buat nego hukuman telatku. Tuh ketos kagak punya rasa kasihan atau tubuhnya kagak ada saraf kek gitu? Aku tuh udah kasih tahu berkali-kali kalau daerah rumahku tuh kadang-kadang macet plus mukanya yang bikin aku bogem tuh muka datar.” keluhku sembari mengingat kilasan-kilasan lalu yang membuatku agak malas mengingatnya.


*Seminggu yang lalu


“Sudah kubilang, kalau daerah rumahku tuh kadang-kadang macet dan walaupun aku udah berangkat pagi, tetep aja kek gitu. Tolong ya, ringanin hukumanku ya.” pintaku memelas kepada ketos yang selalu stand by di gerbang sekolah. Namun, ia menunjukkan wajah datarnya seolah ingin mengulitiku.


“Kamu sudah beberapa kali telat dan hukumanmu seharusnya ditambah, namun karena kamu telah menyumbangkan prestasi di sekolah ini, aku telah meringankan hukumanmu dan hari ini, aku tidak bisa mentolerir keterlambatanmu. Sekarang, kamu bantu Pak Wahid membersihkan toilet putri." perintahnya dengan muka datar dan suasana di sekitarnya serasa kutub utara mendominasinya. Aku pun melotot ke arahnya dan mengeluarkan uneg-unegku yang selama ini kutahan.


"Aku udah kasih alasannya, seharusnya kamu kasih keringanan ke aku. Bentar lagi kita pelajarannya Bu Wiwik yang killer, kamu kan tahu sendiri gimana killernya guru itu. Aku kan teman sekelasmu, tolonglah temanmu ini." pintaku sembari menggunakan puppy eyes ku yang merupakan senjata pamungkasku ketika keadaan terjebak seperti ini. Namun, tatapan pamungkasku ternyata tidak meluluhkan simpatinya dan malah menambah hukumanku.


"Nanti aku izinkan ke Bu Wiwik dan hukumanmu ditambah dengan lari di aula olahraga sebanyak 5 kali dan akan kuawasi setelah mengurus siswa yang telat hari ini." tambahnya lalu meninggalkanku di depan gerbang. Aku pun kesal dan saking kesalnya, aku membuka tas dan mengambil sembarang buku, lalu melemparkan buku tersebut ke arahnya. Ternyata, buku tersebut mengenai punggungnya dan cepat-cepat lari menuju toilet putri untuk melaksanakan hukuman yang diberikan ketos tersebut.


.......................................................


“Kamu kok bisa sih cari gara-gara sama ketos kita? Cewek-cewek di sini banyak yang jatuh hati sama tuh ketos, termasuk aku loh ya.” jawab sahabatku membentuk jarinya menjadi hati.


“Memang aneh cewek sini sama kamu, apa yang disukai dari tuh ketos. Dia itu ya dingin kayak kutub, suka seenaknya sendiri, muka datar dan masih banyak lagi deh.” sindirku yang mendapat pukulan ringan dari sahabatku.


“Masa sih? Awas loh nanti kamu suka sama dia.” kelakar Laily. Aku meliriknya dengan tatapan malas dan mencoba menanyakan sesuatu yang tidak penting.


“Ketos kita itu siapa namanya? Aku agak lupa.” Pertanyaan tersebut membuat Laily menganga dan heran mengapa orang sepertiku kudet tentang hal tersebut.


“Kamu lupa? Dia itu temen sekelas kita, Alex sekaligus ketua OSIS di SMA Shine Wish yang terkenal ganteng banget dan gayanya itu cool banget plus kacamatanya bikin gantengnya nambah, cuma sayangnya rumor sering banget ada di sekitarnya kalau dia itu Gynophobia alias takut sama cewek.” jelas Laily alay dan aku hanya mengangguk malas mengiyakan penjelasannya. Keadaan kelas mulai dari tadi ramai, para cowok membentuk golongan mereka dengan bermain game di tengah jalan dan cewek-cewek memulai pagi ini dengan unsur gosip seketika suasananya hening ketika seseorang yang tadi kami bicarakan datang. Cowok berambut lurus hitam dengan hidung mancung dan iris berwarna hazelnut beserta kacamata yang menghiasi wajah tampannya menatap bagai elang mengawasi teritorinya sejenak dan menuju tempat duduknya. Para cowok yang awalnya berkumpul tadi seolah mengerti tatapan tersebut dan membuka jalan untuk cowok tersebut. Yaps, dia ketua OSIS di sekolah ini sekaligus cowok yang digandrungi oleh semua cewek di SMA Shine Wish, Teuku Farhan Alexandro. Aku melihat kejadian tadi dan saat ini, tatapan kami beradu tajam dan aku mencibikkan mulutku dan reaksinya hanya menatapku datar dan berlalu begitu saja menuju tempat duduknya. Untung saja, letak tempat duduknya di dekat jendela dan tempatku di tengah sehingga membuatku menghembuskan napas lega karena tidak perlu membalas dendam kepada cowok itu.

__ADS_1


Kring


Kring


Kring


Bel berbunyi dan murid-murid tadi kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dengan ketakutan mendominasi keadaaan saat ini karena salah satu guru killer sekaligus wali kelas kami akan datang, yaitu Bu Wiwik, guru PKN yang menggantikan Pak Ali yang terkenal sabar dan saat ini, beliau berada di luar negeri dalam rangka ikut domisili keluarga istrinya di sana dan dia adalah pamanku yang paling kusayangi. Lalu, guru yang tadi dibicarakan telah datang dan menatap tajam ke sekeliling kelas dan menghembuskan napas panjang.


“Selamat pagi, anak-anak.”


“Selamat pagi, bu.”


“Hari ini, tempat duduk kalian akan dibentuk kelompok dan biar Ibu yang menentukan kalian duduk dengan siapa.” Sontak perintah tersebut membuat suasana kelas ramai dan mengganggu pendengaranku. Karena keramaian tersebut, Bu Wiwik mendobrak papan tulis dengan kepalan tangannya. Seketika, suasana kembali hening dan beliau menuliskan nama-nama yang akan dibentuk kelompok tadi.


“Kalian lihat siapa saja kelompok kalian di papan tulis ini dan ibu beri tugas kelompok membuat artikel tentang kiat-kiat kalian dalam menghadapi teknologi yang semakin berkembang karena saya ada rapat wali kelas dan ingat, jangan membuat keributan di kelas! Paham?!” semua siswa mengangguk paham dan Bu Wiwik meninggalkan kelas. Suasana kembali ramai dan aku berencana untuk tidur, namun Laily mengagetkanku dengan penuh riang.


“Kayla, aku sekelompok sama kamu beb.”


“Serius?” tanyaku


“2 rius malah dan aku punya good news nih.” seru Laily sambil menggoyangkan bahuku.


“Apaan?” tanyaku malas sembari membuka hpku.

__ADS_1


“Alex satu kelompok sama kita.” Jawaban tersebut membuatku melotot dan melihat ke papan tulis secepat kilat dan menendang mejaku dengan kesal. Mejaku sampai jatuh dan tentu saja menarik perhatian semua orang. Aku mengepal kuat tanganku dan segera menghampiri meja milik orang yang dimaksud Laily.


__ADS_2