
Kamarku kubuat remang-remang karena hari ini adalah hari menyebalkan bagiku. Bagaimana dia tahu rahasiaku?
“Kamu sering tertawa sendiri dan suka melamun saat sore hari di kelas? Hari ini, kita impas dan sampai kamu menyebarkan rumorku, maka aku membalasnya 5 kali lipat. Dan ingat, bukumu ada padaku dan ambillah jika kamu benar-benar membutuhkannya.” jelasnya dengan senyum penuh kemenangan telah memiliki rahasiaku dan lari begitu saja.
Kata-katanya terngiang di pikiranku membuatku sulit memejamkan mata. Pokoknya, dia harus bergabung ke ekskulku sebagai gantinya. Mataku terasa berat dan aku pun tertidur.
..........................................................
“Kamu telat lagi? Enaknya dihukum apa agar kamu jera?” sindirnya dengan senyum jahatnya.
“Hukuman ya? Atau kusebarkan rumormu?” sindirku balik sambil mengetuk jariku di daguku.
“Lupa dengan kataku tadi malam?” Jawaban itu membuatku terpikir ide spontan.
“Kamu telah membuat moodku buruk dan sebagai gantinya kamu mengesahkan ekskulku atau kucium di depan seluruh siswa sekolah.” jawabku dengan suara lantang tanpa malu sampai perhatian sebagian siswa yang telat dan anggota OSIS yang lain teralihkan ke arah kami berdua. Kulihat wajahnya sedikit tersipu dan menatapku datar. Aku tidak suka dengan tatapannya yang senang sekali melihatku begitu dan ide jahil pun muncul.
“Aku tahu kamu tidak sabar melakukannya.” godaku. Bagaimana reaksinya ya? Takut, marah, atau menatapku datar? Namun, seulas senyumnya terukir dan membuatku sedikit terkejut dan juga sempat mengagumi ketampanannya saat tersenyum.
“Iya. Ayo kalau kamu bisa melakukannya.” tantangnya dengan menghapus jaraknya ke arahku dan langsung saja kulempar dengan paket Biologiku ke arahnya dan berlari sekencangnya. Entah mengapa, jantungku berdetak kencang saat dia mendekatiku. Mungkin ini pengaruh habis berlari menghindarinya.
.................................................
Sepanjang pelajaran sampai istirahat pertama, aku melamun karena masih kepikiran dengan kejadian tadi. Pukulan di kepalaku terasa dan aku menoleh sengit ke arah seseorang yang dimaksud. Dia lagi, dia lagi, dia lagi.
“Apa?!” tanyaku kesal.
“Ambil.” jawabnya datar sambil berlalu keluar kelas. Aku mengerutkan dahiku dan memegang apa yang ia berikan kepadaku. Emosiku langsung memuncak saat dia memberikanku sebuah bungkus permen yang ia makan dan paket Biologiku yang tadi kupakai untuk memukulnya.
“ALEX!! AWAS NANTI KAMU NIKAHNYA SAMA CEWEK YANG MULTIFACE DAN CEREWET BANGET!!!!!!” teriakku kesal sambil melempar bungkus tadi dan meletakkan paketku dengan membantingnya di mejaku dan berlalu keluar kelas dengan emosi yang masih memuncak. Aku berjalan menuruni tangga dan berbelok ke arah kanan diikuti Laily yang ingin mencegahkanku melakukan sesuatu. Di sepanjang koridor, aku menyapa beberapa kakak kelas dan adik kelas dengan senyuman yang terkesan dipaksakan, namun tidak kukentarakan. Aku berlari dan sampailah di pintu yang bertuliskan Dandelion yang terletak di ujung koridor. Aku membuka pintu tersebut dengan paksa sehingga membuat yang berada di dalam ruangan terkejut. Aku langsung duduk di sofa bekas dan melihat sekeliling ruangan.
“Aku berniat membuat ekskul di mana kita semua bisa menuangkan kekesalan maupun duka kita dalam sebuah tulisan maupun peran yang kita mainkan. Itulah tujuan Dandelion dibentuk dan sudah setahun kita menjadi ekskul ilegal.” Kalimat tersebut menyadarkan semua orang di dalam ruangan dan mulai mendekatiku.
“Kak Kay kenapa? Kak Laily, kak Kayla kenapa?” tanya Dinda, anak X IPS 2 yang merupakan calon anggota OSIS.
“Biasa.” jawab Laily dan ia mengangguk paham.
“Mending sama aku aja, Kay.” kelakar Arnold, teman SMP ku dan Laily dan ia anak kelas XII IPA 3.
“Jangan kak, kasian ketos kita pusing sama kelakuan kak Kayla yang kadang ajaib.” jawab Tio, anak kelas XI IPS 2. Aku menatap tajam ke arah Tio dan Arnold dan mereka membentuk jari mereka dengan lambang V. Aku mendengus kesal dan memijit dahiku dengan perlahan.
“Kapan ekskul kita disahkan sama tuh ketos kutub? Tambah lama tambah kesel sama tuh kutub. Apa perlu kuacak-acak tuh mejanya biar kapok bersihin sendiri?” kesalku dan Laily mengelus punggungku lembut.
“Memang kakak yang buat meja kak Alex berantakan tahun lalu?” tanya Dinda mulai serius. Aku pun menghela napas panjang dan menngangguk.
“Itu aku. Kenapa?” tanyaku.
“Kabar itu udah kesebar setahun yang lalu dan masih dibicarain. Bahkan seangkatan Dinda tahu semua rumor itu. Apa alasanmu melakukan itu?” tanya Arnold.
__ADS_1
“Gini.....”
*Setahun yang lalu
“Dasar tuh kutub bin datar triplek. Masa dia udah kerjain semua tugasnya, padahal sibuknya OSIS tuh gila-gilaan banget.” keluhku dengan setumpuk kertas dan buku milik Alex yang dititipkan oleh beberapa guru kepadaku. Mengapa guru-guru tidak bisa merasakan aura kebencianku kepada ketos kutub itu? Hanya karena kami sekelas, tidak seharusnya mereka melakukan hal ini kepadaku. Aku telah sampai di depan pintu ruang OSIS dan mengetuk pintunya.
“Masuk.” jawab seseorang di dalam. Aku pun masuk dan di dalam ada seorang cowok yang sedang membersihkan meja ketua OSIS.
“Kamu siapa? Kayla ya?” tanya cowok tersebut dan mengangguk menanggapi jawabannya. Dia kok tahu aku? Memangnya aku mengenalinya?
“Namaku Delon, wakil ketua OSIS dan pasti kamu ingin menemui Alex.” jawabnya dan kubalas dengan anggukan sekali lagi.
“Aku tahu namamu karena namamu disebut oleh Alex dalam rapat karena kamu masuk daftar sering terlambat dan kabarnya kamu ngotot ingin membuat ekskul.” tambahnya dan saat mendengar nama tersebut, tanganku bergetar dan langsung emosi di depan wakilnya.
“Alex kutub!!!!! Ekskul buatanku masih belum disahkan padahal isi ekskulnya gak aneh-aneh. Mana sih surat izin ekskulku?” tanyaku sambil emosi mengacak-acak meja ketua OSIS dan Delon memperingatkanku untuk tidak mengacak-acaknya. Namun, nasi menjadi bubur karena aku terlanjur melempar berkas maupun buku di meja itu sembarangan. Aku mencarinya di mana-mana dan akhirnya aku menemukannya di beberapa tumpukan berkas dan aku langsung meletakkannya di tengah meja tersebut.
“Delon, tolong rahasiakan ini dari semuanya, bahkan ketos kutub itu dan jika seujung jarimu atau anggota lain menyentuh surat ini dan berusaha memindahkannya, maka aku akan meneror kalian dan paksa kutub itu untuk mengesahkan ekskulku segera!” peringatku dan ia mengangguk pasrah, lalu aku pergi dari situ dan melihat Anaya tersenyum sinis melihatku. Aku melewatinya dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku jengkel.
“Ini akan menjadi berita yang besar. Semoga saja Alex tahu berita ini.” Jawaban tersebut membuat urat nadiku terlihat di dahiku karena menahan emosi, namun aku berusaha sabar dengan semua ini.
“Silahkan saja, lagian I don’t care about this. Aku bersyukur kalau dia semakin membenciku dan itu adalah bukti yang cukup untukmu agar kamu bisa mendekati kutub itu.” ucapku sambil tersenyum lebar dan langsung pergi dari hadapan Anaya. Entah kenapa, hatiku terasa teriris saat mengatakan bahwa ia membenciku seolah aku dengannya memiliki ikatan yang sangat kuat bahkan kata-kata yang kuucapkan sendiri dengan maksud menyindirnya, malah berbalik arah menujuku. Air mataku menetas bagai embun di pagi hari dan segera kuhapus dengan kasar, lalu aku pergi menuju kelasku*.
...........................................................
“Jadi, kak Kay ngelakuin ini demi kita. Aku terharu banget kak.” tanggap Dinda terharu.
“Cie, Kayla bersihin ruang OSIS biar Alex peka.” canda Arnold yang mendapat lemparan botol milik Dinda dariku.
“Ogah aja aku mau bersihin, tapi syukur deh Delon gak ngasih tahu tuh kutub masalah itu.”
“Emang bener sih, katanya anggota OSIS sekarang anggotanya cowok semuanya ya kak?” tanya Dinda.
“Itu emang bener Din, katanya sih ini udah kebiasaan dari zaman kakak kelas kita 3 tahun yang lalu dan baru diterapin pas zamannya kak Alex karena menurut rumor, dia itu Gynophobia.” jelas Tio.
“Gynophobia itu apa?” tanya Dinda dan melihat ke arahku seolah aku tahu jawabannya walaupun memang akau tahu rahasianya, namun tidak semuanya yang aku ketahui tentangnya.
“Gynophobia itu adalah phobia.................”
“Phobia apa yang kamu maksud?” tanya seseorang bersama seorang cowok yang bersamanya dengan nada khasnya. Mati aku! Dia adalah orang yang kita omongin dari tadi.
“Ada gerangan apa ketos kita datang ke ekskul ilegal kita? Setahun telah berjalan tanpa izin dari ketos dan beginilah kita. Mau ngejek kita atau ngusir kita dari sini?” sindir Arnold dengan senyum meremehkan. Cowok yang bersamanya ingin menghajar Arnold, namun ia menahan bahunya. Cowok itu hanya menghela napas kasar karena kalau bukan sahabatnya, ia pasti sudah menghajar cowok yang menyindir sahabatnya. Aku tersenyum puas dengan kedatangannya yang pasti alasaannya adalah membayar apa yang telah ia lakukan. Aku berdiri dan memperkenalkan 2 cowok yang berdiri memberi aura yang hampir sama, yaitu menakutkan.
“Kuperkenalkan anggota baru kita, yaitu ketos kita dan cowok yang bersamanya yang bernama...........” jedaku sambil menatap ke arah cowok itu dan ia tahu kode dariku.
“Namaku Andre, salam kenal.” kenalnya dan anggota di sana hanya tercengo dengan pernyataanku.
“Masa sih kak? Ketos sama kak Andre mau gabung sama kita? Habis kesambat apa ketos kita berbaik hati?” tanya Tio sambil histeris dan berlagak seperti orang gila.
__ADS_1
“Entah, mungkin saja dia habis kesentrum sama listrik.” canda Arnold.
“Ih, Arnold. Gak boleh gitu sama anggota baru, gini-gini jarang loh ketos kita datang sendiri buat ngeresmikan ekskul kita. Aku kayaknya mimpi deh. Kay, coba cubit pipiku.” ucap Laily dengan alay dan aku melihat sikapnya dengan memutar bola mataku malas dan mencubit pipinya dan ia merasa kesakitan. Kedua cowok mendengar perkataan kami hanya diam seribu bahasa.
“Sebenarnya ini ekskul apa? Kegiatannya saja tidak jelas dan ketua ekskul kalian menuliskan bahwa ekskul ini berisi drama dan future writer. Bagaimana aku meresmikannya?” sindirnya dan aku langsung menarik kerahnya dengan kasar. Andre ingin membantunya, namun ia menolaknya dan memilih untuk mengalah.
“Ekskul ini adalah Dandelion dan maknanya sangat dalam. Bahwa di mana pun kita pergi setelah kita lulus dari SMA atau meninggalkan ekskul ini, kilasan memori suka duka selalu kita ingat dan segala sesuatu tentang ekskul ini, kita akan ingat saat kita bertemu, kita bercanda, dan kita berpisah pun akan selalu seperti keluarga dan takkan terpisah oleh waktu maupun zaman meski mereka selalu berubah!” jelasku dengan emosi yang menggebu-gebu membuatnya menyingkirkan tanganku dari kerahnya.
“Segitunya kamu membenciku?” tanyanya dan seketika aku terdiam mematung dengan ucapannya.
Deg
Deg
Deg
Tch, aku membenci detak jantung yang selalu berdetak kencang saat ia berada di dekatku. Ingatlah diriku, kamu membenci cowok di depanmu, bahkan lebih membencinya walaupun aku suka menggodanya karena bagiku, dia adalah cowok yang berbeda dari yang lain dan aku masih ragu apa yang berbeda darinya.
“Ya. Dan ini ganti rugimu telah membenciku dan segala sesuatu tentangmu ada padaku.” jawabku tak kalah datar darinya. Bisa kurasakan aura heran di antara mereka semua dan aku hanya melirik sebentar lalu melihat ke arahnya.
“Mau tidak?” tanyaku sekali datar. Dia hanya mengangguk kasar dan mulai duduk di sofa yang tersedia diikuti dengan temannya tadi.
“Baiklah, kita mulai kegiatan kita hari ini. Yang akan kita bahas hari ini adalah 2 bulan ke depan, sekolah kita akan merayakan ulang tahunnya ke 60 tahun. Mungkin ketua OSIS kita akan memberikan beberapa paparan mengenai acara tersebut.” Mulaiku dengan aura yang berbeda dari yang tadi dan ia berdiri dari sofa.
“Untuk acara tahun ini, temanya adalah Tidak Takut Beda Dalam Perbedaan dan tujuan acara ini adalah sekolah menginginkan agar mereka bersih dari kasus bullying akhir-akhir ini. Kami telah mengkaji kasus tersebut dan tentu saja aku tidak bisa memberikan kelanjutannya karena ini rahasia sekolah.” jelasnya lalu duduk kembali.
“Itulah tadi sedikit penjelasan dari ketos kita dan langsung saja ada ide untuk memeriahkan acara tersebut?” tanyaku dan Arnold mengangkat tangannya.
“Karena ini tahun terakhir kita, kita buat cerpen dan drama tentang kehidupan kita sehari-hari dan biar lebih greget, angkat ceritanya tentang 2 orang yang saling membenci menjadi saling cinta. Ini bakal trending topic di kalangan sekolah sama di luar juga.” usulnya dan mendapat pelototanku dan inginku menolak usulan tersebut, namun Alex mencegahnya.
“Itu bagus dan sebelum kalian menyetujuinya, ekskul ini secara resmi disahkan olehku sendiri.” jawabnya datar dan semuanya merasa gembira karena selama setahun ekskul mereka digantung dan sering mendapat ejekan dari banyak siswa.
“Akhirnya, aku bisa mengekspresikan galau gundahku dengan penuh penghayatan.” ucap Tio alay dan mendapat tatapan datarku. Ia membentuk jarinya V sebagai tanda damai.
“Baiklah, ekskul kita sudah diresmikan dan ada yang setuju dengan usulan Arnold?” tanyaku dan semuanya mengangkat tangannya.
“Baiklah, kita setuju dengan usul Arnold dan kita akhiri rapat singkat ini.” kataku dan mengepalkan tanganku diikuti semua anggota, termasuk Andre dan Alex.
“Ekskul Dandelion.” seruku dan diikuti dengan seru mereka juga.
“Dandelion.”
Seruan itu memenuhi ruangan tersebut dan tawa menghiasi senja saat itu. Ada sesuatu yang mengganjalku dan aku tidak mempedulikannya. Semua anggota keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke rumah masing-masing. Aku kembali ke kelas sendirian karena Laily ada keperluan keluarga dan saat aku membuka pintu kelas, namun tangan besar milik seseorang menahanku di tempat. Tenggorokanku terasa kering dan berkali-kali aku menelan salivaku dan ia mendekatkan diri ke telingaku. Dapat kurasakan deru napasnya menggelitik daun telingaku dan tanpa sadar, wajahku memerah dan menutup mataku.
“Tolong minggir dari sini.” Kata-kata tersebut membuatku sadar seketika dan langsung ingin menghajarnya, namun kutahan karena tahu siapa yang melakukannya.
“Diam saja kamu! Aku ingin pergi.” jawabku buru-buru dan mengambil tasku, lalu pergi meninggalkannya dengan kesal.
__ADS_1