
Sudah seminggu lebih aku tidak masuk sekolah gara kehujanan seminggu lalu dan chat dari Alex kubisukan karena aku malas melihat membacanya. Sejak kapan dia peduli terhadapku? Dan sejak kapan dia itu bersikap begitu sama cewek cosplayer itu? Aih, kalau gini kan kesannya aku yang cemburu. Sejak saat itu, hpku kumatikan selama seminggu hanya karena ketos kutub itu.
“Semoga aja, hari ini ada kejutan yang tak terduga,” gumamku sambil memanjakan diri dengan selimut dan suara bel mengganggu aksi manjaku. Aku mengacuhkannya dan bunyi bel itu terus menggangguku dan dengan terpaksa, aku membawa bantal gulingku dengan muka bantal dan ingus yang sedikit keluar karena aku masih belum sembuh turun ke bawah. Bi Ijah yang melihatku turun tersenyum dan membantuku berjalan menuju pintu. Bi Ijah membukanya dan aku menyesuaikan cahaya yang masuk dn mendengar beberapa suara yang kukenal.
“Kay, kamu gak pa-pa kan?”
“Kayla jadi orang gila pas sakit,”
“Ih, gak boleh gitu kak,”
“Oi, ada Alex di sini,”
“Diem napa jadi orang. Ember mulu sih,”
“Oi, bangun.” Tepukan di kepalaku membuatku jelas mataku dan aku menganga tak percaya siapa yang melakukannya.
“Kya!” seruku sambil melempar guling ke arahnya. Aku berlari ke arah ruang tamu dan menatap iba ke arah Bi Ijah.
“Bi, tolong temenku diajak masuk aja, kecuali yang kacamata itu gak boleh masuk,” titahku dan Bi Ijah mengangguk lalu mempersilahkan teman-temanku masuk dan Bi Ijah menggelengkan kepalanya kepada orang yang kumaksud. Tatapan dingin itu menatap Bi Ijah dan beliau seolah mengerti dan mengabaikan titahku.
“Bi, kenapa dia diajak masuk?” tanyaku dan ia menatapku dengan tatapan tadi. Memangnya dia papaku yang seenaknya memperlakukan Bi Ijah begitu.
“Oi kutub bin triplek, balik ke tempat asalmu sana! Di sini penuh,” rajukku dan ia malah melempari guling ke arahku.
“Itu sakit woy!” seruku dan ia tersenyum jahat kepadaku.
“Itu balasan yang tadi,” jawabnya datar dan duduk di sofa yang biasanya papa duduk. Seenak udel sekali dia duduk di sana seolah dia adalah kepala keluarga di sini.
“Entah mengapa, aku merasa sebagai kepala keluarga di sini dan ada yang aneh dari rumah ini,” ucapnya dan aku menatapnya dengan sengit dan ia mengacuhkanku dan mengarah ke arah kabinet yang terdiri dari foto keluarga dan foto pribadi milikku dan Nayla. Ia mengambil salah satu pigura foto dan aku kaget apa yang dia ambil. Aku bergegas ke arahnya dan berniat menghajarnya, namun ia menahan tanganku dan menarik diriku ke arahnya. Aku bisa melihat dengan jelas iris hazelnut yang menatapku tajam bagai elang yang inilah yang kutakutkan darinya.
Deg
Deg
Suara apa ini? Detak jantung dari dua arah? Suara detakku dan siapa? Apakah di depanku ini merasakan detak yang sama? Aku meneguk salivaku berkali-kali dan dehaman Laily memecahkan keheningan kami berdua.
“Kapan kalian ada hubungan sedekat ini? Bukannya kalian itu udah kayak anjing sama kucing?” tanya Laily yang mengundang tanda tanya semua yang ada di ruangan ini. Aku menarik kembali tanganku dan kembali duduk, begitu pula dengan dia.
“Jangan bilang, Kayla sakit gara-gara kamu?” Kini Arnold bertanya dengan nada dingin dan tidak ada jawaban di antara kami berdua seolah membenarkan keadaan tersebut. Aku tahu, Arnold bertanya seperti itu karena ia sudah mengganggapku sebagai adiknya dan aku tahu ia khawatir jika masa lalu iu akan terulang bila aku bersama Alex.
__ADS_1
“Lebih baik kita melakukan pekerjaan ekskul kita dan kami butuh pendapatmu, ketua,” sela Tyo dan aku mengangguk. Ia memberikan beberapa lembar berupa naskah dan cerpen buatan mereka dan aku meneliti setiap huruf, kata, dan kalimat dalam lembaran tersebut. Aku meminta Laily untuk meminjam pulpennya dan ia memberikannya kepadaku. Aku meneruskan kegiatan yang sempat tertunda tadi dan memberikan tanda lingkaran dan garis dalam naskah tersebut hingga selesai. Aku memijit ujung hidungku dan menatap ke arah semua yang ada di sini. Aku menghela napas panjang dan mencoba tetap fokus walaupun masih pusing.
“Masih banyak kesalahan di sini, mulai dari tata bahasa yang tidak sesuai PUEBI, tanda titik dan koma yang masih berantakan, dan paling parahnya, bagian klimaksnya masih belum dikembangkan lagi,” aku melihat ke arah Alex dan ia mengepalkan tangannya kuat dan aku tahu apa yang ia rasakan.
“Alex, lihat aku sebentar,” titahku dan ia melihat ke arahku. Aku mencoba merangkai kata-kata yang sekiranya tidak akan menyakiti hatinya. Sudah cukup aku melihatnya menderita dengan phobia yang ia alami.
“Aku tahu, kesibukan di OSIS dan kegiatan kelas 12 yang tahun depan bakal sibuk sekali menghambatmu melakukannya. Namun, aku apresiasi kerja kerasmu dan biarkan aku yang membenahi semua kesalahanmu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku,” ucapku dan ia mengangguk pasrah dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia memberikannya kepadaku dan aku melihat ke arahnya dan ia menghela napasnya.
“Untuk membalas kebaikanmu,” Aku mengangguk dan semua orang di sana kaget dan mulai merecokiku dan dirinya secara bergantian.
.....................................................
Keesokan paginya, badanku terasa segar dan kemarin semua anggota ekskul diundang oleh Andre dalam acara separing dengan SMA Bima Nusantara di lapangan basket SMA Bima Nusantara. Aku dengar bahwa tim basket mereka ada kapten baru dan aku penasaran siapa dia. Aku mengambil rotiku sambil menyisir rambutku.
“Kayla, mama udah bilang berkali-kali kalau makan jangan sampai menyisir rambutmu,” peringat mama dan aku melihat ke arah mama sambil tersenyum lebar. Mama menghela napas dan melanjutkan kegiatannya.
“Papa di mana?”
“Papa ada urusan di Jepang dan hari ini, jangan pulang malam karena mama harus bertemu dengan kolega mama di hotel. Jadi, jaga adikmu selama mama tidak ada,” Aku mengangguk dan mengambil tas yang kutaruh dan Bi Ijah memberikan kotak bekal yang rasanya tak asing bagiku.
“Bi, itu untuk siapa?” tanya mamaku. Aku meneguk salivaku dan Bi Ijah tersenyum.
“Kayla, pemilik kotak itu laki-laki atau perempuan?” tanya mama datar dan aku tahu pertanda hal ini. Aku meneguk saliva dan mengetuk daguku dan tak lupa, menghela napas seolah aku akan diadili di sini.
“Laki-laki,” Bersamaan dengan itu, teleponku berdering dan aku mengangkatnya.
“Halo.”
“.................................”
“Eh, sudah di depan? Kenapa gak bilang dari tadi?”
“............................”
“Iya, iya. Segara ke sana.” Aku menutup teleponku dan melihat ke arah mama yang masih curiga denganku.
“Aku sudah ditunggu temanku dan makasih Bi Ijah atas kotaknya dan mama, nanti kujelaskan duduk perkaranya. Assalamualaikum,” ucapku sambil salim kepada mama dan Bi Ijah dan langsung membuka pintu rumah dan berlari menuju gerbang dan Laily beserta Dinda menunggu di luar. Pak Satpam membuka gerbangnya dan aku berterima kasih kepada pak satpam.
....................................................
__ADS_1
“Uwah, lumayan besar untuk ukuran sekolah SMA swasta pada umumnya dan masih kalah besar dengan SMA kita,” kagumku saat memasuki SMA Bima Nusantara. Laily mencoba menelpon teman kami dan menghampiri aku dan Dinda yang sedang mengagumi sekolah ini.
“Mereka sudah ada di lapangan basket. Kita segera ke sana,” Aku dan Dinda mengangguk dan berlari sedikit sampai aku menabrak seseorang dan aku mengelus dahiku yang sakit.
“Kayla.” Suara ini, benarkah ini dia? Aku menengok ke atas dan iris hitamku menatap iris yang selama ini ingin kukubur dalam-dalam.
“Syukurlah, kamu baik-ba.................” Saat ia menyentuhku, aku langsung menepisnya dan menatapnya datar dan ia menghela napas pendek.
“Aku tahu, kamu gak bisa maafin kesalahanku dulu. Namun, kita bisa mengulangnya dar............”
“Ulang dari awal? Maaf saja, hatiku terlalu kuat sampai-sampai pernyataanmu membuatku ingin tertawa keras. Maaf, aku harus menonton pertandingan sekolahku,” pamitku, namun ia menarik lenganku dan memperhatikan logo sekolahku di sebelah kiri.
“Jadi, kamu satu sekolah sama dia?” Dia? Siapa dia sih? Laily ingin menarik lenganku, namun seseorang dengan tenaga yang sama dengan dia menarikku ke arahnya.
“Kalau iya, kenapa?” Suara ini sepertinya aku kenal dan menoleh ke arahnya. Benar, dia adalah si ketos kutub yang sedang memakai kaos basket Tim Shine Wish. Ia tersenyum licik dan menunjuk ke arahnya.
“Lama tak berjumpa, Alex.” Kutub ketos ini malah tersenyum lebar dan mendekatkan diriku lagi kepadanya.
“Jangan ganggu pacarku dan mungkin aku tahu siapa yang membuat pacarku terbayang-bayang dengan masa laluya, Dion.” Bisa kurasakan aura sengit di antara mereka dan aku mencoba menengahi mereka.
“Oke sayang, kita pergi aja dari sini. Ayo, kalian berdua sampai kapan di sini?” ajakku sambil menarik lengan si kutub dan kedua temanku mengikutiku dan aku tidak ingin menemuinya lagi. Yaps, dia adalah Dion yang menjadi sumber traumaku sampai sekarang dan aku heran mengapa mereka berdua bisa saling kenal? Sesampainya di pintu masuk lapangan basket, ia menepis tanganku dan menatapku datar.
“Sampai di sini saja,” Aku mengambil kotak bekal yang disiapkan tadi dan mencoba membuka suaraku.
“Alex,” cicitku dan ia melihatku dengan tatapan yang sama.
“Ini dariku dan makasih buat bekal kemarin,” ucapku sambil menahan malu. Kudengar, dia tertawa kecil dan aku kesal dengannya dan hendak memukulnya, namun ia mengambil bekal yang kuberikan kepadanya.
“Makasih,” jawabnya datar lalu meninggalkan kami bertiga. Tanganku bergetar dan bisa kurasakan, getaran tangannya saat kupegang pertanda phobianya kumat. Tidak adakah cara lain untuk menyembuhkan phobianya? Laily menepuk pundakku dan menyulutkan api semangatku.
“Masa ketemu Dion bikin usaha nyembuhin Alex surut aja. Tenang aja, aku bakal bantuin kok, terutama teman-teman ekskul pingin bantu kamu juga.” Gara-gara itu, semangatku terbakar dan aku berjalan gagah menuju lapangan basket dengan bangga. Benar juga, aku tidak boleh terpuruk karena masa laluku ada di sini dan masih ada teman-temanku yang akan membantuku mencari solusi untuk Alex. Entah sejak kapan aku jadi mempedulikannya dan yang kulakukan ini sampai seterusnya tidak boleh ada campur perasaan pribadi. Setidaknya begitu menurutku. Aku tidak menyadari ada orang yang mengikutiku dari tadi. Orang itu menelpon seseorang di seberang sana.
“*Kami membawa bukti bahwa Nona Kayla memiliki masa lalu dengan Tuan Muda Dion, anak dari perusahaan Laksana Group dan mengalami persaingan ketat dengan Teuku Group dan baru-baru ini, Nona Kayla memiliki hubungan dengan Tuan Muda Alex, anak dari Teuku Group yang sempat bermusuhan dan saya masih belum mengklarifikasi apa hubungan mereka saat ini,” lapornya kepada seseorang di seberang sana.
“ Kita hentikan di sini dulu pengintaiannya,”
“Baik nona.” Telepon ditutup dan gadis itu tersenyum licik sambil menaruh hpnya di meja milikya dan mengambil sebuah foto yang di mana 2 anak perempuan dan satu anak laki-laki sedang bermain gembira di taman.
“Aku tidak sabar melihat teman masa kecilku nanti.” Senyumnya seolah mengundang sebuah firasat buruk dan saat ini, aku bisa merasakan firasat buruknya di tengah-tengah riuhnya dukungan dari masing-masing tim*. Aku tidak yakin apa yang dimaksud firasat buruk itu dan aku yakin, firasat ini akan mengubah hubunganku, Alex, dan masa laluku ke arah yang cukup rumit.
__ADS_1