My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
It’s Like a Date! (Kayla)


__ADS_3

Aku bangun dengan perasaan jengkel karena Nayla tidak habis-habisnya memukul diriku dengan boneka kucing kesukaaannya. Dia dengan polosnya mengatakan bahwa mama menyuruhnya untuk membangunkanku dengan berbagai cara. Untung saja, hari ini sekolah libur dan mengecek hpku yang berada di nakas. Kulihat ada notifikasi dari si kutub dan kubuka.


Ketos Kutub


Aku akan jemput jam 9 pagi dan jangan membuatku menunggu!


Aku pun melihat jam di hpku dan terkejut bahwa jam menunjukkan pukul 8.30. Langsung saja, aku pergi mandi dan tak membutuhkan waktu lama, aku selesai mandi. Aku membuka lemariku dan memilih baju apa yang ingin kupakai. Eh, untuk apa aku melakukannya? Bukankah ini hanya kunjungan ke psikolog? Seolah aku akan berkencan dengan kutub ketos itu. Aku langsung menepuk pipiku dan memilih sweater warna maroon serta kulot warna hitam. Tak lupa mengambil tas selempang mini untuk menaruh hpku dan menaruh hpku ke dalam benda tersebut. Aku keluar dari kamar lalu turun dari tangga menuju meja makan. Di sana, Nayla sedang menikmati roti selainya yang tinggal separuh. Aku mencari keberadaan Bi Ijah, namun tidak ada.


“Nay, Bi Ijah ke mana?” tanyaku sambil duduk lalu memakan roti selai yang sudah disediakan.


“Lagi mencuci pakaian. Kak, mama bilang kakak harus ke Dr. Indri buat konsultasi. Udah lama kakak gak ke sana.”


“Kakak juga mau ke sana sama temen kakak.”


“Kenapa gak sama Mang Ujang?”


“Ada deh. Kamu gak perlu ikut campur,” elakku agar Nayla yang terkenal sering bocor ke orang tuaku tidak ikut campur.


“Ya. Kak, papa bakal pulang nanti malam sama mama. Papa bilang kalau kakak harus ada di rumah sebelum malam.” Aku mengangguk lagi dan segera menghabiskan makananku.


Tin


Aku terkejut dan langsung menghabiskan sarapan dan meminum susu. Setelah itu, aku pamit kepada Nayla dan membawa tas selempang miniku untuk melihat ke depan. Aku keluar dan pak satpam membuka gerbang lalu kusapa dan disapa balik oleh pak satpam. Di depan rumahku, terparkir mobil mewah sejenis Lamborgini atau apalah itu dan kaca mobil tersebut terbuka menampilkan si ketos kutub. Baru kali ini aku melihat cowok ini membawa mobilnya.


“Lama.” Kata itulah yang menyambutku dengan nada dingin dan aku kesal dengan sambutannya.


“Aku sedang sibuk juga,” jawabku bohong.


“Terserah! Cepat masuk.” Astaga, cowok ini benar-benar membuatku emosi, namun bisa kutahan karena hari ini adalah jadwalku bersama Dr. Indri setelah lama tidak ke sana. Aku membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil tersebut dan menutupnya. Tak lupa, aku memasang sabuk pengaman, namun aku tidak menemukannya. Melihat kebingunganku, cowok dingin tersebut membantuku dan jarak kami terlalu dekat. Bisa kurasakan embusan napasnya yang membuatku salah tingkah dan terdengar bunyi click tepat di sampingku. Langsung saja, tanganku menyentuh pipinya dan menjauhnya dari wajahku. Ia pun hanya menatapku datar dan menyalakan mobilnya. Mobil pun bergerak membelah jalanan kota dan keadaan di dalam mobil menjadi hening. Aku melihat ke arah jendela mobil agar pipiku saat ini yang memerah seperti tomat tidak terlihat. Aku mulai berpikir tentang pernyataan Arnold kemarin. Di satu sisi, aku merasa terkejut bahwa teman yang selalu bersamaku dan Laily sejak SMP menyimpan perasaan kepadanya. Di sisi lain, aku harus bisa tegas untuk menolak Arnold karena saat ini, perasaanku seperti terombang-ambing karena mereka berdua. Dion yang tiba-tiba muncul setelah apa yang ia lakukan sehingga membuatku tak percaya akan cinta dan Alex yang dingin serta memiliki phobia membuatku harus turun tangan menolongnya, namun nyatanya terselip sebuah rasa dan harapan untuk bersamanya. Aku teringat saat di Puncak di mana aku “menembak” secara langsung di hadapannya dan aku masih belum mendapatkan jawabannya. Walaupun wajahnya terkadang memerah jika berada di dekatku, mungkin ini hanya reaksinya dari pemulihan phobianya. Aku pun mulai teringat cinta pertamanya, anak laki-laki yang mengucapkan salam perpisahan denganku. Di mana dia dan bagaimana kabarnya? Entah mengapa, wajahnya serta namanya tak bisa kuingat. Kuharap dia baik-baik saja di sana.


...................................


Akhirnya, mobil pun terparkir di parkiran Rumah Sakit Medika Rahayu. Kami pun turun dan berjalan karena jaraknya yang membutuhkan 5 menit dari daerah parkiran. Entah mengapa, kenangan saat diriku berusaha kabur bersama Alex dari kejaran bodyguard papa membuat sudut bibirku terangkat.


“Aneh,” ucapnya tiba-tiba yang membuatku menatapnya tajam.


“Terserah diriku. Lagipula, bukan hanya kamu saja yang mengunjungi Dr. Hayati.”


“Oh.” Aku memaksakan senyumku karena kami sudah sampai di depan rumah sakit. Kami pun masuk dan menghampiri meja resepsionis.


“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” sambut resepsionis tersebut.


“Saya sudah membuat janji dengan Dr. Hayati.”


“Saya sudah membuat janji dengan Dr. Indri.” Kami mengatakannya secara bersamaan dan menatap satu sama lain seolah salah satu dari kami yang mengatakannya terlebih dahulu. Resepsionis pun menatap heran dan berusaha melerai kami.


“Mohon jangan membuat keributan di sini.” Kami pun menyudahinya agar tidak berkepanjangan.


“Baiklah, saat ini Dr. Hayati dan Dr. Indri sedang kosong. Anda berdua bisa ke ruangan beliau.” Kami pun mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada resepsionis tadi. Kami pun berjalan melewati koridor dan aku berhenti di sebuah pintu dengan papan nama yang bertuliskan “Dr. Indri, S.Psi, M.Psi”. Aku pun menoleh dan melihat kepergian dirinya tanpa mengucapkan sepatah kata. Aih, mengapa aku mengharapnya? Aku mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam.


“Masuk.” Aku pun masuk dan terlihat Dr. Indri yang tengah mengamati rekam medisku dan beliau mempersilahkanku duduk di tempat yang telah disediakan. Aku pun menuruti perintah beliau dan menatap ke arah Dr. Indri.


“Dokter, sudah lama tidak bertemu.”

__ADS_1


“Kamu benar dan saya memahami keadaanmu menjelang ujian.” Dr. Indri menutup rekam medisku dan mengambil sebuah kertas kecil lalu menyodorkannya bersama sebuah pulpen ke arahku. Aku menatap heran untuk apa Dr. Indri memberikan ini kepadaku.


“Tulis kejadian apa saja secara singkat selama kamu berkonsultasi dengan Dr. Hayati sampai saat ini.” Instruksi dari Dr. Indri membuatku mengangguk dan menuliskan sesuatu dengan tata letak sembarangan karena metode ini pernah kulakukan bersama beliau sebelumnya. Lagi pula, aku sudah menganggap Dr. Indri sebagai mamaku sama seperti Alex menganggap Dr. Hayati. Tanganku mulai terhenti saat terlintas nama tersebut dan berusaha menulis kembali agar diriku bisa sembuh, menemukan jawaban atas emosi yang kurasakan selain rasa suka, dan membantu Alex menyembuhkan phobianya. Tanganku kembali terhenti saat kedatangan Anna seolah masih ada rahasia di antara diriku, Anna, dan Alex yang harus terkuak. Belum lagi Dion yang selalu mengungkit masa itu dan Alex yang merupakan mantan teman Dion membuat diriku berusaha meneruskan menulis apa yang disuruh Dr. Indri. Akhirnya, aku selesai menulis dan memberikannya kepada Dr. Indri. Beliau membuat garis penghubung sesuai perkiraannya dan rekam medisku sebelumnya.


“Sejauh ini, bipolarmu belum menunjukkan perubahan secara signifikan, namun sepertinya kamu seperti ‘tidak sadar’ bahwa setiap tindakanmu selalu berakar dari lelaki yang bernama Alex.” Aku terkejut karena akar semua dari kejadian yang lalu adalah kutub ketos. Padahal, diriku menganggap bahwa kejadian yang lalu ada kaitannya dengan Anaya yang melakukan kerja sama dengan kepala sekolah dan menjebak Alex, Dion yang menjadi trauma masa laluku, kedatangan Anna si murid baru dan Arnold yang mengungkapkan rasa sukanya kepadaku kemarin.


“Mungkin kamu berpikir bahwa beberapa orang yang terlibat denganmu membuatmu seperti ini. Nyatanya, mereka hanyalah sebagian kecil ‘kejutan’ dan sebagai ‘pelajaran’ dalam penyembuhanmu. Hasilnya mungkin adalah akar dari semua ini.” Penjelasan beliau membuka selembar tabir yaitu penyebab diriku terombang-ambing di balik selumbung trauma masa lalu.


“Namun Dok, terkadang saat saya bersama Alex, bayangan dari cinta pertama saya menghampiri saya seolah ingin memberikan selamat. Saya merasa telah mengkhianatinya,” ucapku lirih dan Dr. Indri menghela napas lalu menghampiriku dan mengambil kursi yang lain untuk beliau duduki.


“Ingat Kayla! Sesuatu tak terduga akan tiba pada saatnya dan jangan merasa bersalah kepada diri sendiri maupun orang lain. Kita tidak tahu cinta pertama kita ternyata berada di dekat kita. Yang terpenting, fokuskan kesembuhanmu saat ini dan sepertinya, kita memiliki seseorang yang bisa membantumu.” Alisku terangkat sebelah dan Dr. Indri menatapku dengan tatapan mengoda.


“Bukankah lelaki yang bernama Alex pilihan yang tepat untuk kesembuhanmu?” Pipiku tiba-tiba memerah dan memalingkannya ke arah lain agar Dr. Indri tidak melihatnya.


“Jangan bilang, kejadian di Puncak yang kamu tulis membuatmu mengalami berbagai ‘hal’?” goda Dr. Indri dan aku tidak bisa berbohong kepada beliau. Aku menoleh ke arah beliau dengan tatapan serius.


“Dok, selanjutnya solusi untuk seseorang yang mengukir luka di hatiku bagaimana?” Dr. Indri tersenyum ke arahku lalu menoleh ke kanan kiri dan aku teringat dengan perkataan Dr. Indri sebelumnya.


“Bukannya itu hanya akan membebaninya? Dia juga memiliki ....”


“Phobia bukan?” tebak Dr. Indri dan aku mengiyakannya lalu beliau kembali ke tempat duduknya dan memperbaiki posisinya lalu menghela napas.


“Setidaknya, kalian berdua bisa melindungi satu sama lain. Dari rekam medismu bersama Dr. Hayati, sepertinya tugasku sebagai psikologmu terasa ringan,” kata beliau dan aku mengangguk saja agar urusan ini cepat selesai.


“Kalau begitu, saya pamit pulang dulu,” pamitku dan berdiri untuk pergi keluar.


“Baiklah, tapi tolong lelaki yang bersamamu tadi suruh masuk ke sini, ya?”


“Maksud dokter, Alex?” Dr. Indri mengangguk dan aku mengangguk lalu membuka pintu. Saat pintu terbuka, aku terkejut Alex berada tepat di depan. Refleks, aku mengangkat tasku dan memukul ke arah Alex.


“Salah siapa di depan pintu? Oh iya, Dr. Indri menyuruhmu masuk.” Tatapannya berubah menjadi heran dan aku mendorongnya untuk masuk ke dalam. Ia menatapku tajam dan kujulurkan lidahku lalu berkata “Selamat menjalan sesi kedua terapi. Kutunggu di parkiran.” Langsung saja kututup pintunya dan berjalan menuju keluar rumah sakit. Aku berpikir ternyata kejadian tadi membuat sudut bibirku tertarik dan tidak bisa berhenti.


Ternyata tidak seburuk yang kuduga.


..................................


Suasana hening di antara kami dan hanya terdengar deru mobil yang bergerak membelah jalanan kota. Sampai saat ini, aku menahan rasa penasaranku dengan pertemuan pertama Alex dan Dr. Indri. Namun, rasa penasaranku terlalu besar dan terpaksa aku harus mencairkan suasana ini.


“Lex,” panggilku dan dia berdeham.


“Apa yang Dr. Indri katakan kepadamu?”


“Bahwa kau adalah cewek yang sering membuat masalah dan sering berubah-ubah,” jawabnya santai yang membuatku emosi seketikan, namun berusaha kutahan.


“Begitu ya. Sepertinya, kamu belum merasakan pukulan diriku secara langsung.”


“Tidak perlu, mendapat benda melayang mengenaiku atau memukulku membuatku tahu rasanya.” Aku pun memukul lengannya dan ia menatap tajam ke arahku. Aku membentuk jari V sebagai tanda damai dan mendapat dehaman darinya.


“Kita ke penjual bubur sum sum di dekat sekolah.”


“Untuk apa?”


“Memangnya kau tidak lapar?”

__ADS_1


“En ....”


Krucuk


Dasar perut gak tahu diri. Di saat seperti ini malah berbunyi meminta asupan lebih banyak. Memang begini keadaanku jika hanya sarapan roti dan segelas susu. Perutku seolah meronta meminta makan lagi.


“Perutmu lebih jujur dari ucapanmu.” Rasanya tersindir dengan perkataannya.


“Mungkin aku harus terbiasa dengan dirimu.”


“Untuk apa?” Aku menoleh dan sadar dengan apa yang kuucapkan langsung memukul pipinya dengan tas selempangku.


“Mengapa kau senang sekali melakukannya?”


“Mungkin karena aku bosan. Lagi pula, dirimu kan jomblo. Makanya, aku berusaha menghiburmu agar suasananya terasa berbeda.”


“Terserah.” Aku mengembungkan pipiku saking kesalnya dengan ketos kutub ini, namun aku tak mungkin memukulnya. Akhirnya, kami sampai di tempat yang dimaksud Alex. Kami pun keluar dan Alex memesankan bubur untuk kami.


“Wah, adik pacarnya cowok ini ya?” tanya mas penjual bubur sum sum.


“Bukan, lagi pula sejak kapan aku punya pacar?”


“Yang kemarin-kemarin ke sini, bukannya


mengambil pesanannya, malah melamun.” Aku pun terkejut dan terlintas ide jahil.


“Begitu ya? Mas benar, aku adalah pacar cowok ini,” akuku sambil menunjuk ke arah Alex dan mendapat tatapan tajam darinya. Aku menjulurkan lidahku dan cowok ini menghampiriku lalu mengacak-acak rambutku.


“Akh ... sakit Lex!”


“Bilang kalau itu bohong atau kucium di sini!” ancamnya dan aku langsung mendorong Alex menjauh.


“Iya iya, maaf Mas. Yang tadi aku becanda.” Penjual bubur sum sum pun mengangguk dan membuat pesanan.


“Duduk.” Aku pun menurutinya dan menunggu pesanan kami datang dengan memainkan jari-jariku. Pesanan kami pun datang dan penjual tersebut mengatakan, “selamat menikmati dan saya berharap yang tadinya becanda jadian beneran.”


“Enggak mungkin!” teriak kami bersamaan dan penjual tersebut meninggalkan kami dengan tertawa kecil. Aku pun memakannya sesuap dan rasanya sangat enak. Baru kali ini aku memakannya. Aku memakannya dengan lahap dan tanpa sadar, tangannya yang besar mengusap sudut bibirku. Aku pun menatapnya heran dengan apa yang ia lakukan.


“Oh, seperti anak kecil,” ucapnya dengan wajah dingin. Pipiku tiba-tiba memerah dan aku memukulnya dengan sendok tepat di dahinya lalu segera menghabiskan makananku. Setelah selesai, aku menaruh mangkok kecil di tempatku lalu pergi meninggalkan Alex untuk masuk ke dalam mobil. Alex pun menyusulku dan tak lupa membayar pesanan kami. Lalu ia menahanku dan kutatap dirinya dengan tajam.


“Gak perlu dekat-dekat!”


“Hanya karena kejadian kecil tadi membuatmu marah. Ini.” Ia memberikan sebuah sebuah permen rasa mentol kepadaku.


“Buat apa?”


“Anggap saja sebagai permintaan maafku,” ucapnya sambil mengusap rambutku lembut.


Deg


Aku benci detak ini karena datangnya di saat yang tidak tepat. Mengapa hanya diriku yang memiliki rasa ini? Aku hanya takut kejadian dulu terulang kembali jika aku menaruh secercah harapan kepadanya.


“Cie, tadi gak mau ngaku. Sekarang udah pake kode,” goda penjual tadi dan Alex mengeluarkan kontak mobilnya dan membuka pintu. Reaksinya tadi membuat senyum tak bisa kutahan dan kumakan permen pemberian Alex.

__ADS_1


Dingin seperti dirinya, namun terasa hangat di mulut seperti tindakannya saat ini.


__ADS_2