
Aku dipaksa ke psikologku karena paksaan dari orang tuaku dan itu membuatku sangat malas dan lebih parahnya lagi, mata-mata kiriman ayahku datang ke sekolah dengan penampilan yang sangat mencolok sampai mereka dikira mafia di sini. Aku pun berangkat dengan pengawasan dari mereka dengan menaiki mobil. Aku kesal dengan hal tersebut, memang benar sih aku ke psikologku untuk berkonsultasi mengenai gangguan bipolarku yang menurut mereka cukup ekstrim. Akhirnya, aku sampai di Rumah Sakit Medika Rahayu dan aku memerintahkan mereka untuk menungguku di parkiran mobil yang letaknya agak jauh sehingga aku ingin melancarkan aksi kaburku dari mata-mata kiriman papa. Mereka pun mengangguk dan menungguku di mobil dan langsung saja, aku berjalan sekitar 5 menit dari parkiran mobil dan masuk ke dalam menuju meja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu, mbak?” tanya resepsionis tersebut.
“Saya ingin bertemu dengan Dr. Indri, apakah beliau ada di sini?”
“Baiklah, tunggu sebentar.” jawab resepsionis tersebut sambil membuka buku jadwal para dokter di sini.
“Mohon maaf mbak, Dr. Indri sedang cuti selama 5 hari ke depan dan ada satu lagi dokter yang masih bertugas di sini, yaitu Dr. Hayati. Anda ingin membuat janji dengan beliau atau kembali lagi ke sini saat Dr. Indri kembali dari cutinya?” tanya resepsionis tersebut.
“Saya konsultasi dengan Dr. Hayati saja, ruangannya ada di mana?” tanyaku.
“Baiklah, tapi mbak tunggu di luar ruangan beliau terlebih dahulu karena beliau masih ada pasien. Ruangan beliau ada di ujung koridor sana dan jaraknya dekat dari sini.” jawabnya.
“Baiklah, terima kasih.” ucapku sambil tersenyum.
“Sama-sama.” balasnya dengan senyuman juga. Aku beranjak dari sana dan melihat ruangan di sekelilingku agar tidak tersesat menemukan ruangan yang dimaksud. Kulihat dari kejauhan, ada papan nama yang bertuliskan “Dr. Hayati, S.Psi, M.Psi” dan aku ke sana dengan perasaan campur aduk. Bagaimana kalau psikolog ini galak atau bahkan terkesan sadis? Terlalu banyak overthinking yang kubuat dan aku menepuk pipiku untuk meyakinkan bahwa beliau adalah orang yang baik. Sebelumnya, resepsionis tadi memberitahuku bahwa beliau ada pasien, namun aku malah melupakan pesan itu gara-gara firasatku merasa tidak enak. Langsung kutepis firasat tersebut dan mengetuk pintu dan seseorang di dalam menjawabnya.
“Masuk.” Aku membuka pintunya dan kaget bukan main siapa pasien beliau.
“HAH?! KAMU NGAPAIN DI SINI?” teriak kami bersamaan. Ia menatapku datar dan aku tak kalah menatapnya dengan datar. Jadi, inilah firasatku yang tadi? Mengapa hari ini selalu tak pernah sekalipun wajahnya tidak muncul di hadapanku?
“Kamu pasti Kayla bukan?” tanya Dr. Hayati. Aku pun mengangguk dan ia pun memegang sesuatu yang membuatku bingung.
“Saya disuruh Dr. Indri untuk menjadi psikologmu selama beliau cuti dan rekam medismu sudah ada pada saya.” jawab beliau.
“Ah, begitu ya? Mohon bantuannya, dok.” jawabku ceria dan mengabaikan seseorang yang membuatku kesal. Dr. Hayati tertawa kecil melihat tingkah kami berdua.
“Kalian ini satu sekolah kan?” tanya beliau.
“Iya.” jawab kami bersamaan.
“Kalian sekelas juga?”
“Iya.”
“Kalian pacaran kan?”
“Iy.............TIDAK!”
“Mana mau aku pacaran dengan laki-laki kutub, muka datar, tukang sindir dan menyebalkan ini.” sindirku dan mendapat tatapan tajam darinya.
“Aku juga mana mau dengan cewek multiattitude, tingkahnya aneh, pecicilan, dan suka telat.” sindirnya lebih pedas.
“Hah?! Kamu lebih buruk dari yang kusebutkan. Yang tadi masih kurang ya?” tantangku.
“Tentu saja itu kurang, bahkan kita belum sampai klimaksnya tadi pagi.” jawabnya datar.
“Keluar saja dari sini sebelum.....................” jedaku karena wajahnya mendekat ke arahku.
“Sebelum apa?” tanyanya dan aku tahu kalau dia itu sedikit takut untuk mendekat denganku.
__ADS_1
“Entahlah, hanya aku yang tahu jawabannya.” jawabku santai sambil melihat ke arah lain.
Deg
Deg
Deg
Aku membenci suara detak ini. Mengapa harus bersamanya aku merasakan ini? Kulihat, ia mengepalkan tangannya dan ia akan memojokkanku, namun dehaman Dr. Hayati mengakhiri pertengkaran kami.
“Sudah bertengkarnya? Alex, kamu sudah selesai konsultasi dan beristirahatlah serta jangan lupa, titip salamku kepada Bundamu. Lalu, jangan menguping apa yang Kayla katakan di sini.” peringat beliau.
“Baik dok, terima kasih atas konsultasinya. Saya pamit dulu.” pamitnya sambil mengambil tas miliknya dan menutup pintunya.
“Baiklah, silahkan duduk dan anggap saya sama seperti Dr. Indri.” jamunya dan aku dengan gugup duduk di tempat yang telah disediakan. Beliau melihat rekam medis milikku dan menutupnya kembali.
“Di rekam medismu, kamu mengalami bipolar tingkat I yang cukup ekstrim dulu. Namun, menurut catatan terakhir dari Dr. Indri, gejalamu sepertinya cukup stabil sekarang. Apakah ada sesuatu yang mengubahmu atau kamu ingin mengatakan sesuatu yang lain?” tanya beliau. Tidak mungkin aku bilang kalau yang menyebabkan suasana itu adalah pasien dari beliau. Dr. Hayati menghela napas dan mengatakan sesuatu yang membuatku mengerutkan dahiku.
“Mungkin saja penyebab dari semua ini adalah Alex. Kamu dan dia memiliki persamaan walaupun banyak sekali perbedaannya.” Ucapan beliau membuatku tertohok namun masih bisa kusangkal dengan jawabanku ini.
“Tidak persamaan di antara kami, hanya perbedaan yang ada dan aku masih takut percaya dengan laki-laki.” curhatku kepada beliau. Beliau membenarkan posisi duduknya dengan lebih santai, namun tidak menghilangkan sisi wibawanya sebagai psikolog.
“Dengar Kayla, kamu dan Alex itu mirip karena kalian sama-sama terluka di masa lalu dan kalian membuat “topeng kalian sendiri” untuk menghadapi semua itu. ‘Kamu yang sekarang hanyalah topeng untuk menutupi dirimu yang sebenarnya dan dunia tidak akan pernah mengampunimu jika kamu hanya membawa topeng itu’.” jelas beliau dan kata-kata yang beliau katakan, ah itu milikku. Bagaimana beliau tahu kata-kata itu? Beliau tersenyum dan mulai memberikan jawabannya.
“Saya tahu kata-kata itu dari Alex. Ternyata, saya tahu siapa yang dibenci Alex.” Ternyata, si kutub itu mengatakan kata-kata yang memalukan itu. Aku mengatakan itu saat aku sangat kesal dengan dia karena tidak mau menolongku dan semburat merah muncul di pipiku yang membuat Dr. Hayati tertawa kecil.
“Masa muda itu masa yang sangat indah, sayang jika masa kalian ini harus sia-sia karena trauma dan kejadian lain yang merugikan masa muda kalian.” Aku pun mengepalkan tanganku dan di dalam lubuk hatiku, keinginanku untuk sembuh muncul kembali.
“Ingin membantu Alex menyembuhkan phobianya.” Mengapa hati kecilku tidak bisa diajak kompromi sehingga ia mengirimkan ide itu kepada benakku dan parahnya lagi, aku mengatakannya? Jika ini diteruskan, maka semakin besar kemungkinannya aku percaya kepadanya dan aku sangat takut jika dia melakukan hal yang sama seperti seseorang di masa laluku. Dr. Hayati tersenyum dan ia pun mengatakan beberapa hal mengenai keadaan psikisku lebih lanjut dan tentu saja, tak lupa cara agar phobia dia sembuh dengan bantuanku.
.....................................................................
Aku menutup pintu ruangan beliau dari luar dan aku menemukan dia sedang duduk sambil menatap layar laptopnya dengan fokus. Aku baru ingat kalau aku menyuruhnya membawa laptop dan aku menghampirinya. Saat aku menghampirinya, ia kaget dan memandangku dengan datar.
“Kamu seperti setan yang suka muncul tiba-tiba.” Ucapannya yang terkesan datar membuatku ingin menghajarnya, namun selalu kuurungkan. Kenapa? Kenapa? Padahal aku sangat membencinya, tapi aku malah ingin membantunya menyembuhkan dirinya dari phobia itu. Yah, mungkin karena kasihan aku menolongnya. Toh, itu wajar karena ini merupakan suatu kewajiban untuk menolong sesama. Aku melihat tempat USB laptopnya kosong, lalu mengambil kabel data milikku dari tas dan langsung memasangnya ke tempat USB laptop miliknya. Ia kaget atas apa yang kulakukan dan dia mendorong wajahku menjauh darinya.
"Sakit tahu digituin." ucapku sambil memanyunkan bibirku.
"Kamu jelek." Perkataannya membuatku menarik rambutnya dan ia mengaduh kesakitan.
"Sakit, lepasin." titahnya datar.
"Enggak, sebelum kamu minta maaf sama aku." jawabku santai.
“Kamu mau apa?” tanyanya datar. Dasar kutub ini! Dia tidak peka apa kalau aku ingin memberikan hasil tugasku ke dia. Lain kali, aku tidak perlu segan untuk menghajarnya. Ia melirik ke arahku dan menancapkan kabel dataku ke USB nya. Aku tahu maksud dia melirikku dan aku mulai melepaskan tarikan di rambutnya.
“Bilang saja kalau kamu ingin memberikan hasil tugasmu kepadaku, jangan terburu-buru seperti ini. Nama perangkat hpmu itu Apple Z bukan?” tanyanya. Kenapa sih dia baru sadar sekarang? Dan baru pertama kali ini dia bicara panjang. Mungkinkah ini gara-gara aku? Jangan berpikiran seperti itu Kay, nanti kamu baper sendiri dan dia beneran cuma manfaatin kamu dan ninggalin kamu. Aih, kenapa aku berpikir sejauh itu? Bodoh banget aku harus mikirin dia, padahal dia gak pernah sekalipun mikirin aku. Ia melirikku dan menatapku datar.
“Nama filenya apa dan kamu taruh di mana?” tanyanya memecahkan keheningan sejenak tadi.
“Document and it’s name “Perbandingan globalisasi dan buktinya”.” jawabku.
__ADS_1
“Okay, thanks.” jawabnya dan itu membuatku takut lalu masih sempat aku menjauh darinya.
“Takut? Coba saja remehkan aku, maka aku akan membalasnya 2 kali lipat.” sindirnya dan aku menatap tajam ke arahnya.
“Ketua OSIS kita memang beda dari yang lain. Ia memikirkan sebegitu banyak cara agar membalas seseorang, apalagi seseorang itu adalah diriku yang hanyalah remah-remah kue di hadapanmu.” jawabku santai dan kurasakan aura dinginnya kutub utara dari suasana sekitarnya. Aku melihat ke arahnya dengan tatapan sebal.
“Kamu ini kenapa? Seharusnya kamu senang kan aku berbicara seperti itu?” tanyaku dan dia mengerutkan dahinya dan mulai berpikir lagi. Memang aneh kutub ini dalam menelaah kalimatku. Ia mencabut dan memberikan kabel data beserta hpku kepadaku dan ia mematikan laptopnya.
“Thanks.” jawabku dan ia mengangguk. Kulirik dia dan aku baru sadar bahwa ia ganteng juga untuk ukuran remaja cowok yang masih pubertas. Aku membuka suaraku dan kuurungkan karena kedua mata-mata itu malah menjemputku.
“Nona, kita akan pulang sekarang.” kata pria berjas hitam berpenampilan cukup besar.
“Nona, siapa laki-laki yang bersama nona saat ini?” tanya pria berjas serupa dengan rekannya, namun badannya agak kecil. Aku mundur ke belakang dan langsung menarik lengannya dengan keras dan lari dari kedua mata-mata tadi.
“Nona mau ke mana?” tanya mereka sambil mengejar kami. Di tengah perjalanan, ia berhenti sejenak dan itu membuatku agak sebal.
“Hei, aku masih merapikan isi tasku dulu.” keluhnya dan aku menghentikannya sejenak untuk menuruti kemauannya.
“Nona, tunggu!” seru salah satu mata-mata tersebut dan aku cepat-cepat menarik lengannya lagi dan untungnya, dia sudah melakukan kegiatannya yang sempat tertunda. Aku langsung menariknya dan berlari kecil menuju parkiran rumah sakit.
Deg
Deg
Deg
Apa ini? Detak jantungku berdebar kencang dan kurasakan wajahku terasa panas seperti kepiting rebus. Entah kenapa, tangannya terasa besar sehingga membuat tanganku tenggelam ke dalam genggamannya. Ah, aku tidak peduli dengan itu dan kami sampai di parkiran rumah sakit.
“Cepat! Di mana motormu?” tanyaku panik. Ia menunjuk ke arah motor ninja hitam miliknya dan masih menariknya agar mereka berdua tidak mengejar kami. Ia menaiki motornya dan menyalakan mesinnya, lalu ia melihat ke arahku dan aku langsung naik ke motornya dan mulai melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Kulirik dari spion motor miliknya, mobil yang tadi dipakai untuk mengantarku ke rumah sakit mulai mengikutiku. Tanpa sengaja, aku *** seragamnya seolah aku takut dengan mata-mata itu. Ia pun menambahkan kecepatan motornya dan mulai bersembunyi di daerah gang kecil yang aku tidak tahu letaknya. Ia mematikan mesin motornya dan turun dari motornya untuk mengamati apakah mata-mata itu mengikuti kami atau tidak. Untungnya, mobil mereka berjalan lurus dan ia menghela napas lega. Ia kembali dan menyalakan motornya dan mengendarainya dengan kecepatan sedang. Kurasakan angin berusaha membuat tubuhku terasa dingin, namun ia tak bisa melakukannya karena rasa hangat yang dihasilkan dari semburat merah di pipiku. Aku merasa bersalah dengan perasaan yang selalu dialami oleh anak remaja saat ini. Aku tidak ingin memiliki perasaan dengannya.
“Rumahmu di mana?” tanyanya. Aku melamun memikirkan hal tersebut dan juga suaranya kurang jelas karena kami menaiki sepeda motor. Ia mengerem motornya di trotoar dan aku tersadar dari lamunanku. Ia melihat ke arahku dan aku melihat ke arah lain.
“Rumahmu di mana?” tanyanya lagi.
“Oh, lurus aja dari sini dan belok ke kanan ada kompleks perumahan. Tahu warung mie ayam yang itu kan?” tanyaku dan ia mengangguk.
“Dari warung itu, lurus terus dan sampai pertigaan, belok ke kiri dan ada rumah besar pagarnya berwarna coklat dan emas, itu rumahku.” jawabku. Ia mengangguk dan menyalakan kembali motornya dan mengantarku ke rumah. Selama perjalanan, kami terdiam dan sampailah kami di rumah besar yang berpagar coklat dan emas.
“Benar ini rumahmu?” tanyanya dan aku mengangguk lemah karena saking ngantuknya. Aku memberikan uang 50 ribu dan ia menolaknya.
“Tidur sana. Aku tahu kamu mengantuk, ini sudah malam.” ingatnya datar dan aku melihat ke arah langit. Ternyata benar, langit menjadi gelap dan kulihat ada banyak bintang di sana.
“Terima kasih atas tumpangannya.” ucapku agak kesal dan tangannya tiba-tiba mengelus kepalaku. Otomatis, wajahku berubah merah padam dan aku meninggalkannya di luar.
Deg
Deg
Deg
Mengapa harus dengan dia? Mengapa? Ingatlah, dia adalah orang yang kamu benci. Aku langsung masuk ke kamar dan tertidur karena saking lelahnya hari ini.
__ADS_1