My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Si Cewek Multiattitude (Alex)


__ADS_3

 


Aku baru saja selesai menangani data-data siswa yang terlambat masuk. Ternyata, banyak sekali yang terlambat dan rata-rata yang terlambat adalah siswi dan tentu saja aku tahu alasannya. Itu karena aku. Mengapa mereka harus telat gara-gara aku? Aku benci cewek. Benci sebenci-bencinya kepada mereka karena menurutku mereka makhluk yang sangat genit, terlalu ribet, dan terlalu memusingkan hal sepele. Bahkan saking bencinya, semua anggota OSIS hanya berisi cowok. Punggungku masih terasa ngilu sedikit karena cewek itu telah melemparkan bukunya ke arahku. Cewek itu siapa ya? Kalau tidak salah, namanya Kayla Meila Salsabila. Sepertinya aku agak tidak terlalu asing dengan nama tersebut dan nama tersebut agak susah karena ila-ilanya mengganggu ucapanku. Aku mengambil buku yang dilemparnya bersampul merah dengan corak bunga dan aku mengerutkan dahiku setelah tahu bahwa buku ini cukup tebal. Saat aku ingin membukanya, tepukan di bahuku mengagetkanku walaupun kututupi dengan wajah datarku.


 


“Oi, selamat pagi.” sapa Andre, sahabatku sejak SMP.


“Apa?” tanyaku masih dengan wajah yang sama.


“Dasar kau ini, jangan datar-datar begitu. Nanti kamu tidak punya pacar loh. Btw, ini buku siapa? Cie, si Alex ambil buku cewek nih.” Jawaban itu membuatku reflek memukul wajah Andre dengan buku yang disebutkannya.


“Kamu diam saja. Buku ini milik Kayla dan aku penasaran apa isinya." ungkapku jujur.


"Aku baru tahu kalau Alex penasaran dengan isi buku, apalagi itu punya cewek. Habis kesambet apa kamu kek gini?" tanya Andre bergurau.


"Bukan apa-apa, hanya penasaran saja. Dia itu kayak beda sama cewek lainnya. Kamu tahu gak apa itu?" tanyaku yang membuat Andre menganga tak percaya dengan kata-kataku barusan.


"Kamu siapa? Ini bukan Alex, kamu siapa?" tanya Andre balik sembari menempelkan tangannya ke dahiku dan langsung saja kutepis dengan kasar.


" Apa?! Ini aku, Alex. Jawab saja pertanyaanku." jawabku memaksa.


" Iya-iya, gak bisa diajak becanda nih kutub. Banyak rumor yang beredar kalau dia itu aneh." Pernyataan Andre tadi membuat alisku terangkat sebelah.


"Aneh bagaimana?"


"Menurut pandanganku, cewek di sini pasti jatuh hati kepadamu dalam waktu kurang dari sebulan. Si Kayla ini gak suka bahkan rumornya pernah bikin mejamu berantakan di ruang OSIS kan pas kelas 11 saking bencinya sama kamu." jelas Andre. Aku pernah mendengar rumor tersebut dan benarkah bahwa si cewek telat itu membuat mejaku berantakan?


"Dari mana kamu mendengar rumor tersebut?" tanyaku memastikan.


"Si Anaya." jawabnya dan aku langsung tahu siapa cewek itu. Anaya Claris Johnson, anak dari perusahaan PT. Cakrawala dan cewek yang tiada kapoknya mendekatiku, padahal aku jelas tidak suka dengan kehadirannya.


"Jangan pernah percaya dengan........" Tiba-tiba, ada yang memegang lenganku dengan manja. Siapa lagi kalau bukan Anaya.


"Pagi beb, gimana kabarmu?" tanya Anaya namun kusambut dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Hm."


"Kamu udah sarapan?"


"Hm."


"Tadi kamu naik apa?"


"Hm."


"Kamu kok gak jawab sih?" cemberut Anaya. Aku menatapnya lebih tajam dan mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggungnya.


"Minggir atau tanganmu tidak akan utuh kembali!" Tentu saja, peringatan itu membuatnya kesal dan meninggalkanku bersama Andre. Lalu, aku membersihkan lenganku takut ada bakteri yang menempel pada lenganku.


"Tangan Anaya tuh idaman banget, bahkan banyak cowok yang modus biar bisa pegang tangannya. Kamu emang aneh, sama kayak Kayla." Aku menghelas napas kasar dan tidak ingin melanjutkan obrolan tadi dan ingin kembali ke kelas.


"Aku ke kelas dulu."


"Oke, sampai jumpa Pak Ketos. " Aku berpisah dengan Andre di koridor lantai 2 dan menaiki lantai 3. Aku berpikir sejenak mengenai rumor yang Andre katakan kepadaku. Kayla, dia mungkin teman sekelasku karena anak seperti dia sering berkeliaran di dalam kelas. Jadi, dialah Kayla yang melempar dan membuat mejaku berantakan? Mengapa ia melakukannya? Jarang sekali aku berbicara dengannya, kecuali saat diskusi kelompok kalaupun kita satu kelompok. Bodoh amat mau ngurusin rumor itu. Aku berjalan dan sampai di kelasku yang cukup ramai, XII IPA 5 dengan tatapan tajam memastikan keramaian tersebut bisa ternetralisir dan ternyata ampuh. Para cowok yang sedang main game di tengah jalan langsung memberiku jalan dan tak sengaja tatapanku bertemu dengan iris hitam milik seorang siswi. Bukankah dia ini si cewek telat yang melemparkanku buku? Ternyata benar, dia adalah Kayla yang sering kudengar rumornya. Kulihat ia menatapku sambil mencibikkan bibirnya dan aku acuh dengan sikapnya. Aku mulai duduk dan suasana kelas tiba-tiba hening karena wali kelas kami, Bu Wiwik masuk ke kelas dan aku melamun selama penjelasan dari Bu Wiwik karena saking penatnya mengurus pekerjaan OSIS akhir-akhir ini. Selama melamun, aku mencoba mengaitkan kejadian mejaku berantakan dengan kebiasaan yang ia lakukan. Ternyata tidak bisa, karena aku jarang berinteraksi dengannya. Saking pusingnya dengan hal tersebut, meja milik cewek telat itu jatuh dan ia menghampiri mejaku dengan emosi yang berkecamuk.


“Ternyata benar rumor itu. Kayaknya aku deh yang diuntungkan. Makasih banyak loh ya. Aku gak ngeremehin kamu kalau kamu lemah. Lain kali, kamu resmikan ekskul bikinanku dan kamu harus gabung sebagai ganti rugi moodku.” Aku membuka mataku dan di hadapanku dia tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. Benarkah ini cewek telat tadi? Bukankah ia sedang emosi tadi dan ke mana hilangnya emosi tadi dan dia bilang ekskul miliknya. Memangnya dia pernah mengajukan izin ekskul? Semua siswa melihat ke arah kami dan aku berdeham dengan wajah datar.


“Ini hanya drama belaka, dan kamu, cepat bentuk kelompok di sini.” titahku dan ia pun tersenyum lalu mengajak temannya ke sini. Suasana kembali ramai, namun tak seramai sebelumya. Aku duduk tenang untuk menutupi rasa malu yang kudapat tadi. Ada 5 orang yang menjadi kelompokku, termasuk aku. Seorang cewek berkacamata, cowok yang tadi main game, teman dari cewek telat itu dan dia. Ia mempermainkanku seolah aku tak berani menghadapi perempuan. Maaf saja, aku bukan orang yang pilih kasih dalam menaruh dendam, tak terkecuali perempuan. Aku mengusap wajahku dengan kasar dan mencoba memulai percakapan.


“Baiklah, untuk pembagian artikelnya lebih baik kita masukkan 5 poin yang penting yang terdiri dari pengertian, perluasan globalisasi dalam berbagai bidang, manfaat dan negatif, peran kita sendiri beserta kesimpulan yang akan kita diskusikan bersama. Ada tambahan?” jelasku dengan wajah datar dan cewek telat itu mengangkat sebelah tangannya dan aku mempersilahkannya.


“Dalam hal ini, untuk perkembangan globalisasinya bisa kita buat perbandingan pada generasi 4.0 dengan 5.0, namun tetap ada 5 karena perbandingannya kita masukkan pada perluasan tadi beserta buktinya yang dapat kita telusuri di sekolah atau sekitar tempat tinggal kita agar artikel kita terkesan real dan akan mendukung pernyataan kita jika suatu saat ada pertanyaan yang sulit." usul Kayla. Menurutku, pendapatnya cukup membantu dalam membuat artikel tersebut walaupun aku membencinya.


"Aku harus tetap profesional dalam keadaan apapun." gumamku.


"Menurut kalian, apakah pendapatnya bisa kalian terima?" tanyaku dan semuanya mengangguk tanda setuju dengan pendapatnya.


"Baiklah, untuk pembagian tugasnya terserah kalian, biar kucatat agar hari Sabtu kita buat artikelnya." kataku sambil mengambil buku.


"Aku Rio, bagian pengertian globalisasi." jawab Rio, cowok yang tadi bermain game.

__ADS_1


"Ih, itu bagianku Rio. Ganti namaku aja, Laily" kesal cewek yang merupakan temannya si cewek telat alias Kayla.


"Kasih namaku aja." keukeh Rio.


"Ganti namaku aja." jawab Laily ngotot.


"Aku."


"Aku."


"Aku."


"Aku."


"A......"


"Diam atau kalian kutulis tidak ikut kerja kelompok!" peringatku dan mereka diam membisu. Kata-kataku mendapat respon lemparan kotak pensilnya ke arah wajahku.


"Gak usah deh sok adil deh mentang-mentang kamu ketua OSIS di sini. Seharusnya Laily kebagian itu dulu dan jangan pernah membuatku kesal.” kesalnya.


"Enak aja, aku juga bagian itu." bela Rio.


"Maaf saja, aku gak urusan sama kamu. Jadi, bisa gak kamu diam?!" sinisnya. Wajahnya terlihat ceria dan orang akan mengira ia tak bisa marah, namun teori itu dipatahkan setelah melihat buktinya.


“Lebih baik kalian suit saja agar tahu siapa yang berhak mengambil bagiannya.” usulku dan ternyata ia tak setuju dan malah melayangkan pukulannya ke arahku. Aku sempat kaget, namun pukulannya berhenti dan hanya berjarak 5 cm dari wajahku karena cewek yang bernama Laily memegang lengan cewek ini.


“Kamu memang punya dendam kepadaku?” tanyaku dengan wajah khasku yang sering dikenal oleh siswa-siswi di sini. Kulirik dan matanya seolah memperjelaskan jawabannya.


“Laily, kamu mau mengalah? Gantinya kamu kebagian poin manfaat dan negatif bersama........kamu namanya siapa?” tanyaku kepada cewek berkacamata.


“A....aku Rena dan a...aku menerimanya.” jawabnya gugup karena kejadian ini.


“Aku menerimanya.” jawab Laily yang mendapat pelototan dari Kayla dan Laily tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Untuk bagian Rio tetap, bagianku dan Kayla akan dikerjakan bersama dan ini nomor WA ku.” jawabku malas dan meninggalkan kelas menuju ruang OSIS demi mengerjakan tugas yang belum selesai. Entah mengapa, dia bisa cepat berubah. Dasar si heboh, si aneh, muka dua, pemarah, si telat, si sensian dan aku tak bisa sebutkan yang lain. Baru pertama kali ada yang membenciku sampai segininya dan aku tidak tahu alasannya.

__ADS_1


“Hah?! Mengapa aku memikirkannya dan ingat bahwa kamu membenci perempuan karena mereka adalah makhluk bermuka dua. Berbicara dengan cewek di kelompokku membuatku agak lelah. Lebih baik aku meminum obatnya di ruang OSIS.” gumamku sambil berlari menuju ruang OSIS.


__ADS_2