My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Ketahuan? (Kayla)


__ADS_3

“Mulai besok, kita persiapkan drama serta keperluan yang terkait dan jangan lupa bawa uang seikhlasnya.”


“2 ribu berarti boleh ya?” Aku menatap tajam ke arah Tyo dan ia membentuk V di jarinya sebagai permintaan maaf. Hari ini aku sedang badmood gara-gara murid baru yang bernama Anna karena dia adalah gadis yang tiba-tiba mencetuskan api saat ia bersama si kutub.


“Napa sih Kay? Badmood amat,” tanya Arnold dan aku menghela napas pendek sambil membenarkan posisi dudukku.


“Murid baru,” jawabku singkat dan ia mengangguk paham.


“Kak Kayla buat onar lagi sama kak Alex ya?” tanya Dinda yang baru saja datang dari kamar mandi dan aku menggelengkan kepalaku.


“Dia tuh main api sama murid baru,” ungkap Laily dan aku menatap tajam ke arahnya bahwa kejadian tadi tak perlu ia ceritakan. Semua yang ada di sana pun mendekat ke arahku untuk mendengarkan kejadian tersebut dari mulutku sendiri. Aku pun merasa terpojok dan terpaksa menyuruh mereka duduk lesehan di bawah.


“Tadi aku menolong Alex dari murid baru dengan menga.................”


“Sepertinya kamu senang menceritakannya,” jawabnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan tatapan khasnya.


“Mati aku, dia udah dateng!” seruku dalam hati. Ia melihatku sebentar dan langsung duduk di sofa bekas yang cukup panjang untuk diduduki oleh semua anggota ekskul.


“Mulai saja karena OSIS lebih sibuk dari ekskul ini!” Titahnya seolah ia adalah ketua ekskul ini dan tentu saja hal tersebut membuatku kesal lalu menatap tajam ke arah semua anggota, termasuk dia.


“Maaf saja, Tuan Muda Alex. Jika Anda sibuk di OSIS, mengapa Anda datang ke sini?” tanyaku dengan nada sindir saking kesalnya. Senyum terukir di wajah tampannya sambil membenarkan posisi kacamatanya dan menunjukku.


“Hanya melihat pacarku di sini dan caranya mengatur rapat ini.” Jawabannya yang terkesan datar dan terkadang serius seolah itu benar-benar sebuah fakta. Aku langsung menghampirinya dan ingin menarik kerahnya, namun Laily menahanku.


“Napa?” tanyaku datar dan suasana berubah menjadi tegang sampai tak ada yang ingin mencairkan suasana ini. Aku sempat memberontak, namun Laily tuli dan semakin menjadi-jadi. Aku langsung melepaskan dan kembali duduk di tempatku semula.


“Lupakan atas sikapku tadi dan anggap apa yang dikatakan olehnya adalah benar.” Aku memilih mengalah dan tak ingin meneruskannya, namun masalah baru muncul saat Tyo memukulku menggunakan bantal yang berada di dekatku. Aku mencubit pinggangnya sampai si empunya kesakitan.


“Aduh, sakit kak Kayla,” keluhnya sambil memegangi pinggangnya.


“Apa alasanmu melakukannya?” tanyaku dan Tyo menatap lekat ke arahku.


“Enggak, pingin becanda sama kakak aja. Kakak cepet tua kalau bikin onar dan marah-marah kalau sama kak Alex,” jawabnya asal.


“Saranku, kakak baikan deh sama kak Alex. Dilihat dari kacamata Dinda yang tranparan nan benar ini, kakak sama kak Alex cocok jadi pasangan kekasih karena sifatnya bertolak belakang bagai dua sisi koin," kata Dinda yakin.

__ADS_1


"Kami itu bagaikan tanda + dan - yang jika dikalikan, maka hasilnya akan tetap -. Jika pada dunia Biologi, kami bagaikan 2 sub spesies yang berbeda walaupun kami berasal dari spesies yang sama, yaitu Homo Sapiens. Kalian harus ingat itu," jawabku asal, namun hatiku terasa sakit saat mengatakannya.


"Seharusnya aku tak perlu menanggapinya," gumamku sambil tangan kulipat di depan dada.


"Tidak selalu + dikali - pasti hasilnya - walaupun itu ilmu pastinya. Dalam ilmu Kimia, ion dipasangkan berdasarkan proton dan elektronnya agar menjadi sebuah senyawa. Dalam hidup, tak selalu orang baik dipasangkan dengan yang baik pula, pasti ada orang baik dipasangkan dengan orang yang buruk perilakunya dan tugas sang orang baik memberikan dorongan serta membantu yang buruk agar menjadi lebih baik." Pernyataan si kutub yang terkesan bijak itu mengagetkan kami karena baru kali ini ia berbicara panjang saat ekskul.


"Wih, tumben bijak banget hari ini," puji Arnold dan yang dipuji hanya mengedikkan bahunya.


"Mengenai + dan -, siapa di antara mereka berdua yang mendapat tanda tersebut?" Tanya Andre sambil menunjuk ke arahku dan si kutub yang sedang sibuk dengan hpnya.


"Dari pandangan cewek, yang mendapat + adalah kak Kayla dan - adalah kak Alex yang terkenal dingin," ucap Dinda yakin.


"Maaf saja Dinda, tidak selalu gadis mendapat + dan kak Kayla mendapat - karena sifatnya dan kak Alex mendapat + karena sikap dingin dan cueknya menjadi panutan saat ada cewek ganjen yang mendekatiku yang gantengnya seantero SMA Shine Wish," usul Tyo dan menganggap seolah dirinya yang paling tampan. Kami semua, kecuali si kutub menatap ngeri ke arahnya dan hendak memukulnya secara bergantian, namun Laily menghalanginya lalu membuka suaranya.


"Setiap orang pasti ada baik dan buruknya dan kalian tidak perlu berdebat masalah + dan -. Mengenai apa yang kalian perdebatkan, sebenarnya aku memiliki pertanyaan." potong Laily dengan ekspresi lesu. Kami pun mendekat dan memasang wajah serius mendengar pertanyaan dari Laily. Ia menghembuskan napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dan ia melakukannya sebanyak 3 kali. Saat mulutnya mengucapkan sesuatu, bel berbunyi dan ia berlari ruang ekskul dengan meninggalkan pertanyaan tadi dalam benak kami.


.................................................


"Awh, sakit.” Aku memegang perutku setelah seminggu yang lalu dipukul oleh salah satu anggota geng Anaya. Cahaya senja menyembunyikan dirinya tuk beristirahat di balik langit jingga sambil berjalan menuruni tangga kelasku. Sakitnya menjalar sampai pipiku yang masih kelihatan bengkak dan aku mencoba menahannya.


“Ck, dasar tuh cewek alay. Bawa antek-antek dan anggotanya hanya untuk membullyku. Awas saja, aku akan membalasnya lebih dari ini.” Aku mengambil hpku dan menghubungi seseorang.


Tut


Tut*


“Nona, ada yang bisa saya bantu.”


“Luangkan waktumu seminggu ke depan untuk eksekusi Anaya beserta gengnya karena tanganku sangat gatal.”


“Baik nona dan gadis cosplayer itu bagaimana?”


“Gadis itu bernama Joanna Martin Agustin. Segera selidiki dia.”


“Baik nona. Apakah perut dan pipi nona masih sakit?” Seketika aku terdiam sejenak cukup lama sambil menahan sakit di pipi serta perutku.

__ADS_1


“Tidak.” Aku menutup sepihak telepon tersebut dan hendak turun dari tangga, namun laki-laki itu menatapku tajam dan kuanggap keberadaannya bagai angin lalu. Namun, tangan besar miliknya menahanku dan langsung kutepis kasar.


“Maumu apa?” Ia mendekat ke arahku dan mengangkup pipiku dengan kedua tangannya. Kurasakan rasa hangat dan getaran dari tangannya, lalu kulepas perlahan.


“Jangan memaksa sesuatu dengan mudah karena takkan baik untuk dirimu.”


“Entah kenapa, pipimu terasa besar seperti bakpao. Mungkin kamu kebanyakan makan seminggu ini.” Perkataannya yang terkesan blak-blakan membuatku tertohok dan langsung memukul lengannya sehingga empunya meringis kesakitan.


“Balasan untuk tadi.” Sambil menjulurkan lidahku, aku berniat kabur namun tasku malah ditarik olehnya.


“Lepasin gak”


“Gak”


“Napa?”


“Aku tahu jika perut dan pipimu mengalami bekas luka yang cukup serius, seperti bekas pukulan.” Aku melolot ke arahnya dan sekilas, pertanyaan “mengapa dia tahu aku memiliki bekas itu?” membuat bulu kudukku berdiri.


“Kamu cenanyang atau siapa?” tanyaku sambil menatapnya datar.


“Seperti de javu.” Aku mengangkat alisku sebelah dan ia hanya menatapku datar sepersekian detik dan langsung kumajukan bibirku ke arahnya.


“Jawab dulu pertanyaanku.”


“Bukan. Yang tadi hanya tebakanku saja, sampai jumpa besok.” Ia pergi dan aku hanya mengangguk lalu menoleh ke arahnya. Aku hanya menyaksikan punggungnya bertambah jauh dari pandanganku dan aku memijit kepalaku.


“Aneh.” Satu kata yang menggambarkan dirinya saat ini dan aku langsung menuruni tangga menuju gerbang sekolah.


Dingin namun terasa hangat


Menyebalkan namun terus tersimpan di memori


Seolah tenang namun tersimpan lara yang tak bisa ditumpu


dengan punggung besarnya

__ADS_1


Tangan besarnya seolah pemberi kehangatan untuk


hati yang menutupi diri tentang apa arti percaya dengan laki-laki


__ADS_2