My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Sisi Lain Si Kutub (Kayla)


__ADS_3

“Beb, kamu habis kasih pelet apa sih ke Alex sampai ngasih no Wa nya ke kamu? Itu tuh hal yang langka banget tahu gak.” cerocos Laily yang membuatku malas mendengarnya dan menyumpal mulutnya dengan bakso yang ukurannya sedang. Laily marah-marah gak jelas sambil mulutnya kusumpal tadi membuatku tertawa keras hingga semuanya melihat ke arah kami dan aku hanya mengacuhkan pandangan tersebut.


“Kantin sekolah emang enak makanannya, apalagi baksonya Bu Iyem adalah bakso terenak di sekolah.” jawabku sambil memakan bakso.


“Kita bahas Alex loh, kamu malah bahas kantin sama bakso. Aneh kamu deh.” kesal Laily dan melanjutkan memakan baksonya. Dari arah pintu masuk kantin, ada 4 cewek yang berlagak sok berkuasa dan banyak cowok yang mendekatinya. Aku melihatnya dengan tatapan malas dan seolah tidak ingin tahu menahu tentang hal tadi.


“Eh, itu Elgirls.” kata salah satu siswi dan aku mengangkat alisku dan melihat ke arah Laily.


“Siapa tuh Elgirls?” tanyaku.


“Elgirls itu cewek-cewek yang populer di sini dan anggotanya itu Cindy, Zaskia, Mona dan ketuanya itu Anaya yang cantiknya udah jadi rebutan aja. Masa kamu gak tahu?” jelas sahabatku dan aku hanya mengelengkan kepala.


“Kudengar, ada cewek yang sekarang lagi ngegebet si kutub, itu bener ya?” tanyaku.


“Kutub? Siapa itu?” tanyanya balik.


“Yang tadi hampir kupukul.” jawabku dan Laily mengangguk paham.


“Iya, si Anaya itu yang deketin Alex, tapi Alexnya gak mau. Parahnya lagi, Anaya godain Alex pake iming-iming apa gitu, terus tanggapan Alex tuh natap Anaya tajem dan Anaya sampai didorong di depan umum.” jelasnya dan aku tak bisa menahan tawaku.


“Hahahahahaha, tuh cewek apaan? Anaya tuh gak tahu malu apa ya, gaya aja selangit kek tower telkomsel, tapi bucin akut banget tahu gak. Dasar emang ketuanya Elgirls atau Elepant ya? Hahahahahahaha.” tawaku dan didengar oleh Mona. Mona menepuk bahu Anaya dan menunjuk ke arahku dan langsung saja Anaya berjalan cepat dan membawa air putih dari meja kantin dan kalian tahulah apa yang ia lakukan kepadaku. Yaps, dia menyiramkan air tadi ke atas kepalaku sampai seragamku basah.


“Ini akibatnya kalau loe ngejek gue. Emangnya loe tahu apa berita itu dan loe gak usah ikut campur urusan gue.” sinis Anaya. Aku berdiri dan mengajak Laily pergi dari kantin.


“Ayo Ly, kita pergi.” kataku dan ia menyiramiku lagi dengan kuah bakso yang tersisa di mangkuk meja kantin karena kesal denganku. Tawa mereka berempat mendominasi dan Laily nampaknya menahan amarahnya, sedangkan siswa yang lain hanya diam tak berkutik. Aku pun berbalik dan tersenyum sinis kepada mereka berempat.


“Kalian akan menyesal telah berurusan denganku. Laily, kamu panggilin si kutub ke sini. Penting! Cepetan.” kataku dan ia langsung berlari dari kantin menuju ruang OSIS.


“Culun banget manggil anak OSIS. Gak berani ngelawan Anaya sendiri?” sindir Mona.

__ADS_1


“Nanti kalian tahu sendiri kok.” jawabku dan langsung kubalas dengan siraman air di dekat mejaku ke arah Anaya. Aku tersenyum puas dengan balasan yang sebanding itu dan ekspresi yang kudapatkan sangat sesuai dengan perkiraanku.


“Girls, serang dia bersamaan.” titahnya dan antek-anteknya beraksi. Aku hanya diam saja dan kupastikan sebentar lagi bagianku akan dimulai dalam hitungan 3..............2......................dan..........


“Berhenti atau kalian akan kulaporkan ke BK!” peringat seseorang yang tak lain adalah ketua OSIS. Mereka berhenti dan Anaya akan memulai perannya, namun terlambat karena aku telah memulai peranku.


“Farhan, tolongin aku. Anaya udah nyiramin aku air sama kuah bakso. Kamu kan udah janji sama aku kalau kita bakal melindungiku dan nantinya kita menikah." aduku kepadanya dengan nada manja sambil memegang lengannya. Anaya melotot ke arahku dan aku memeletkan lidahku bahwa aku telah menang darinya. Hanya saja, aku lupa bahwa ini di kantin. Kurasakan ia gemetaran dan memaksakan dirinya untuk memegang bahuku dan mengajakku pergi dari kantin diikuti Laily entah akan diintrogasi ke mana aku. Anaya pergi dengan perasaan terbakar yang tak bisa kuukur berapa suhunya, yang pastinya sampai terasa ke tulang belulangku


"Siapa saja, tolong aku. Bodoh banget aku buat drama kayak gitu." gumamku sampai jiwaku ikut menangis. Laily mengelus punggungku sembari mengucapkan sabar terus kepadaku. Di koridor yang mulai sepi, Alex melihat ke arahku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan dan memberi kode kepada Laily melalui tatapannya dan Laily mengerti maksudnya.


"Kamu yang sabar ya. Aku tiba-tiba merasa aura dingin dari Alex dan selesaikan urusanmu ya." pamit Laily dan aku berniat menghentikannya, namun kecepatan larinya sangat cepat sehingga tinggallah aku dengan orang yang paling kubenci.


"Lepasin atau kamu ingin kupermalukan di sini?" tanyanya dengan nada sinis.


"Maaf saja, aku tidak bisa dipermalukan karena aku memegang rahasiamu dan baru saja aku menemukan sesuatu yang baru dari dirimu. Mungkin aku harus mengganti namamu dengan panggilan tadi?" jawabku dengan sinis juga dan kulihat wajahnya tetap datar namun kupastikan dia telah terpojok dengan perkataanku.


"Duh, sakit tahu gak?! Lepasin gak!" berontakku namun tak digubris olehnya. Ia menatapku tajam seolah ingin mengulitiku.


"Jangan pernah panggil aku dengan nama tadi dan aku akan bertanggung jawab untuk bagian rahasiaku dan mungkin aku menemukan rahasiamu dan bersiap-siap untuk tindakanku selanjutnya." peringatnya dengan nada sinis dan meninggalkanku sendirian di koridor. Aku terjatuh ke bawah dan tertawa cekikikan bercampur dengan tangisan.


"Wow, dia hiks benar-benar bikin hiks aku hiks tertawa hiks. Huhuhuhu." tangisku sambil menyembunyikan wajahku. Lalu aku memutuskan untuk pergi dari situ dan aku tidak merasakan ada yang mengintipku.


..................................................


Aku sampai di rumah dengan kelelahan karena banyak kejadian yang terjadi hari ini. Bisakah aku melaluinya? Mataku serasa bengkak sehabis nangis dari tadi.


"Hah, suka aneh deh. Sebentar, yang aneh itu aku apa dia? Bodo amat sama pertanyaan retoris itu dan mengapa aku spontan manggil dia dengan nama lain?” gumamku sambil melakukan kegiatan wajibku, yaitu mandi. Setelah 20 menit, aku keluar dari kamar mandi dan memakai baby doll warna merah putih dan keluar dari kamarku. Aku melihat sekeliling rumah dan kulihat 2 catatan kecil di pintu kamarku.


Kay, mama sama papa ada urusan di luar dan makanannya sudah disiapkan oleh Bi Ijah dan mama sama papa baru pulang 2 hari lagi. Kami sayang kamu selalu.😚

__ADS_1


Love, papa and mama.


Non, Bi Ijah izin pulang kampung 2 hari soalnya anak bibi sakit. Bahan\-bahan makanan sudah bibi siapkan stok 2 hari.


Bi Ijah


Aku menghela napas panjang karena 2 hari ke depan, rumahku sepi dan hanya aku yang menempatinya. Aku berpikir untuk membeli mie ayam yang berada di pertigaan kompleks perumahanku. Aku memakai jaket merah dan mengunci pintu rumahku. Aku pamit kepada satpam rumahku dan berjalan di saat senja menghampiri dan akan diganti oleh malam.


"Senja yang tenang belum tentu di bawahnya terasa tenang dan tentu ada kejutan di balik tenangnya senja." kataku sembari melihat sekelilng kompleks yang cukup tenang. Dari kejauhan, aku melihat sepeda motor ninja warna hitam terparkir di depan warung mie ayam langgananku. Aku sedikit berlari dan sesampainya di sana, betapa terkejutnya aku bahwa dialah yang makan di sana. Ia melihat ke arahku dengan tatapan khasnya dan melanjutkan makannya seolah aku tidak ada. Aku kesal dan menghampiri ke tukang mie ayam tersebut lalu memesan mie ayam jumbo. Setelah memesan, aku melihat seisi warung penuh sehingga yang kosong hanya bagian tempat duduk yang didudukinya. Dengan kesal, aku langsung duduk yang membuatnya kaget.


"Jangan ganggu orang makan!" peringatnya yang hanya kutanggapi dengan anggukan malas. Menunggu lama, akhirnya pesananku datang dan aku berdoa terlebih dahulu lalu melahap makananku. Ia melirik ke arahku dan kutatap tajam seolah aku tidak ingin membagikan makananku kepadanya. Ia kembali menyantap makanannya dan selesai lalu meninggalkanku. Aku merasa lega dengan perginya si Alex dan menghabiskan makananku. Setelah selesai, aku hendak membayar makanannya.


“Pak, berapa semuanya?” tanyaku.


“Gak usah neng, punya eneng udah dibayar.” Jawaban itu membuatku terkejut. Siapa yang telah membayar makananku?


“Siapa yang membayarnya?”


“Laki-laki yang pakai seragam dan pakai kacamata.” jawab bapak penjual tersebut. Alex? Ngapain dia bayarin makananku? Bodoh amat, nanti aku bilang makasih sama dia walaupun aku membencinya. Gini-gini, aku tetap berterima kasih kepada seseorang walaupun aku membenci orang tersebut. Aku keluar dari warung tersebut dan berjalan-jalan sebentar mengelilingi kompleks. Banyak hal yang kupikirkan, mulai dari mana aku secara spontan memanggil si kutub itu dengan nama Farhan seolah aku pernah mengenalnya. Entahlah, mungkin itu hanya sedikit hiburan bagiku. Tanpa sadar, senja berganti malam dan aku sampai di warung mie ayam tadi dan kuputuskan untuk kembali dan tidak sengaja menabrak seseorang.


“Woy, ngapain loe nabrak temen gue?! Minta maaf sana!” bentak laki-laki yang kuduga adalah preman.


“Kok jadi gini? Padahal aku berharap hari ini akan tenang setelah serentetan kejadian di sekolah.” gumamku sebal.


“Maaf.” kataku malas.


“Hah?! Gak tulus banget. Cepet minta maaf atau......” jeda preman itu sambil melihat dari atas rambut sampai ujung kakiku dan aku tahu maksudnya.


“Heh?! Jadi gitu ya? Silahkan saja.” tawarku sambil mengangkat tanganku. Mereka pun mendekatiku dan berniat menyerang mereka, bogeman mentah entah dari mana datangnya menghajar preman tersebut dan tentu saja aku kaget karena rencanaku gagal. Aku menoleh ke belakang dan tatapan kami bertemu.

__ADS_1


__ADS_2