
Aku baru saja selesai mandi dan aku membuka laptopku untuk membuka tugas miliknya yang belum sempat kubaca. Besok adalah hari tersibuk karena aku harus diskusi kelompok, rapat OSIS, kegiatan ekskul basket dan juga Dandelion. Mengenai ekskul itu, aku sempat melihat karya-karya mereka semua di arsip perpustakaan kemarin. Kulihat, karya mereka cukup banyak dan kebanyakan itu adalah karya milik Kayla. Genre yang dia gunakan beragam, namun kebanyakan genrenya romantis, drama, slice of life, dan fantasy. Aku melihat ke arah buku bersampul merah yang tertata rapi di rak meja belajarku. Aku penasaran dengan halaman selanjutnya dan mulai mengambilnya. Aku membuka lembaran yang telah aku tandai dan menemukan sebuah diary tentang dirinya.
Senin, 25 Agustus 2013
Hari ini adalah hari yang cukup menyebalkan. Untuk pertama kalinya, aku berbicara dengan cowok yang paling dingin di kelas. Teuku Farhan Alexandro namanya dan ia biasa dipanggil Alex. Kesanku sangat buruk kepadanya mengingat aku sudah membuat masalah dengannya sejak pertama masuk sekolah setelah MOS. Dia selalu menjawab “hm.” saat kutanya apapun. Padahal, aku ingin akrab dengannya. Mungkin sejak kejadian itu, kebencianku mulai tumbuh.
Aku mulai menarik kesimpulan bahwa dari hari yang ia tulis, sudah mulai ada rasa benci tertanam padanya. Dan kulihat di halaman sebelahnya, kata-kata itu memperjelas halaman sebelumnya.
Senja yang tenang belum tentu di bawahnya tenang
Layaknya dirimu saat itu
Kuhanya bisa apa
Biarlah waktu yang memperbaikinya
Namun, benih benci mulai tertanam di dalam diri ini
Masih adakah harapan untuk masalah ini?
Aku mulai menandai halaman tersebut dan membuka halaman yang lain lalu mulai
membacanya. Tulisan di halaman-halaman berikutnya hanya berisi diary tentang dia beserta sahabatnya dan aku menemukan sesuatu yang menarik di sini.
Sabtu, 2 Juli 2014
2 minggu ke depan, aku harus membersihkan ruang OSIS sebagai gantinya aku telah mengacak-acak meja milik Alex hanya untuk mencari kertas izin pembentukan ekskulku. Untung saja, Delon tidak memberitahu kasus tersebut kepada si kutub. Konsekuensinya, aku harus menjadi bahan gosip satu sekolah dan bullyan dari
geng Anaya. Laily selalu marah-marah kepadaku karena aku tidak pernah melawan
bullyan geng Anaya dan aku hanya tersenyum, lalu mengatakan bahwa akan ada
saatnya aku membalas mereka. Anaya, aku mungkin diam saja saat kamu membullyku.
Akan kubalas 2 kali, bahkan 5 kali lipat atas apa yang kamu lakukan!
Aku baru tahu alasan ia setelah rumor yang dibuat oleh Anaya sampai menyebar selama
1 tahun lebih. Cewek yang cukup pemberani untuk melawan Anaya yang notabenenya
adalah anak dari pemilik usaha PT. Cakrawala yang terkenal dengan bisnis perdagangan global. Aku melanjutkan membaca buku tersebut dan kertas kecil tersemat pada halaman buku tersebut. Aku penasaran dan membukanya secara perlahan-lahan. Rasa penasaranku semakin bertambah karena dia menuliskan untuk seseorang.
*Apa kabarmu di sana?
Masihkah kamu mengingatku?
Kuharap kamu menerima surat kecil
dariku. Dari dulu, aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kamu pergi.
“Terima kasih atas rasa sakit ini.”
Karena rasa itu, aku masuk ke dalam
lubang kesedihan paling dalam. Suatu saat, aku akan membawa seseorang yang
membantuku keluar dari lubang ini.
Salam dari hati yang terluka
Kayla*
Sebenarnya, surat ini untuk siapa? Hais, ngapain aku memikirkan hal sepele ini? Fokuslah diriku dalam mengerjakan tugasnya. Aku menaruh kembali lembaran tersebut di tempatnya dan menaruh bukunya di rak bukuku. Aku memeriksa hasil kerja miliknya
dan mulai mencoba menggabungkan hasil kerjaku dengan miliknya.
.................................................
Surya menampakkan cahaya
malu-malunya di ufuk timur yang menghiasi dunia setelah sang dewi malam
melakukan pekerjaannya. Saat ini, aku melakukan latihan fisik serta latihan
basket untuk separing minggu depan.
“Priiiit..........................................”
Suara peluit kak Sergi memekik telinga anak-anak yang sedang istirahat setelah
melakukan lari keliling lapangan sekolah 10 kali. Anak-anak basket, termasuk
aku berkumpul ke sumber suara.
“Kalian tahu kan, kita akan melakukan separing dengan rival kita, SMA Bima Nusantara yang terkenal dengan formasinya dan ketua tim basket mereka.” kata Kak Sergi
dengan semangat 45. Aku tersenyum kecut mendengar kata ketua tim basket dari
SMA Bima Nusantara dan aku kenal siapa ketua tim basket SMA Bima Nusantara,
yaitu Dion Laksana Pratama sekaligus orang yang menjadi temanku saat SMP. Namun, itu cerita dulu karena dia melakukan sesuatu yang tidak bisa kumaafkan sekalipun dia harus bersujud kepadaku. Aku ingin tahu, bagaimana kabarnya dan apakah dia masih ingat denganku.
“Alex,” panggilnya sambil menepuk bahuku lalu pergi untuk beristirahat. Aku menghela
napas dan mulai membuka suara.
__ADS_1
“Beberapa tahun yang lalu, reputasi tim basket SMA Bima Nusantara turun karena banyaknya kasus yang kebanyakan dilakukan oleh anak tim basket. Namun, ketua tim basket yang baru, Dion telah membenahinya dari nol dan ia membuat reputasi timnya
melejit dalam waktu 1 bulan. Kita bermain dengan mereka beberapa kali dan hasil
pertandingannya selalu imbang. Kita harus meraih kemenangan walaupun ini hanya
separing.” Bisa kurasakan semangat membara dari diri mereka dan aku menaruh
tanganku di tengah, lalu mereka mengikuti apa yang kulakukan.
“Tim Shine Wish,”
“Yes!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriakan mereka membuatku cukup senang dan ingin rasanya istirahat, namun
kuurungkan karena kak Sergi sedang berbincang dengan cewek itu. Aku mendekat ke arah mereka dan kudengar mereka membicarakan sesuatu.
“Tumben kamu pagi banget berangkatnya? Mau mengurangi catatan telatmu di OSIS?”
“Mentang-mentang kak Sergi udah lulus, kakak tahu segalanya tentang diriku seolah kakak itu peramal.” jawabnya riang sambil tertawa kecil.
“Siapa yang gak kenal dengan kamu? Kayla yang tahun lalu yang pernah menghebohkan satusekolah dengan kemenangan perdanamu dalam bidang kepenulisan, padahal kamu anaknya suka bikin heboh satu sekolah gara-gara Alex.” Kak Sergi menoleh dan
melihatku dengan tatapan kasihan. Kayla menoleh ke arahku dan tersenyum.
Rasanya, senyumnya hari ini membuat jantungku berdetak tak karuan. Ia mengambil
tasnya lalu berniat meninggalkan kami berdua, namun dia berbalik ke arah kami
berdua.
“Kak Sergi, terima kasih atas sarannya dan.................” jedanya sambil menunjuk
ke arahku.
“Alex atau kupanggil Farhan ya? Terserah, pokoknya ingatlah satu hal! Jangan sampai
kamu jatuh cinta kepadaku, karena kamu tidak akan bisa kembali dan sesuatu yang
besar akan terjadi.” peringatnya sambil tersenyum sombong dan meninggalkan
lapangan basket.
“Jika aku sampai jatuh cinta kepadamu, apa yang akan kamu lakukan?” Pertanyaan
tersebut membuat kak Sergi melongo tak percaya dan Kayla tersenyum sesaat
setelah mendengarnya.
“Entah, itu semua tergantung dari tindakanmu dari sekarang.” jawabnya sambil
meninggalkanku dalam tanda tanya besar. Mungkinkah, dia masih belum bisa
Hayati kepadanya juga menjadi faktor
dari semua ini? Hais, ngapain aku mikirin dia lagi? Bodoh amat aku jatuh cinta
sama dia atau sebaliknya, selama dia memegang rahasiaku, hidupku tetap tenang
sebelum terbongkarnya rahasiaku. Karena terlalu lama melamun, kak Sergi menyiramkan air dingin ke arahku dan bajuku menjadi basah.
“Kak, mengapa kamu menyiram air dingin ke arahku?” kesalku sambil mengambil handuk dan mengelap tubuhku.
"Gue mau ngusir setan di dalam tubuh loe." Tanda tanya muncul di benakku.
Setan? Maksudnya apa? Mungkin saja.............
"Yang tadi ya?" tanyaku datar dan ia mengangguk. Aku menghela napas kasar sambil melanjutkan kegiatan tadi.
"Hanya mengetes dia." jawabku datar. Kak Sergi menepuk pundakku lalu merangkul
diriku.
"Bro, loe tuh gak perlu sembunyiin dari gue. Gue tahu, masa-masa kek gini loe
kebanyakan malu-malu kucing." Apa yang kak Sergi katakan? Kerutan di dahiku memperjelas semua keraguanku. Kak Sergi melirik dan menepuk bahuku sekali lagi.
"Maksud gue, loe suka gak sama Kayla bukan?" Pertanyaan tersebut membuatku
tertegun sejenak dan melempar handuk milikku ke arahnya.
"Gak, tadi cuma permisalan aja." Ternyata, jawabanku tidak memuaskan kak Sergi
dan mengembalikan handukku.
"Walaupun itu permisalan, semua cewek kalau ditanya gitu pasti jawabnya ke mana-mana sambil mengkhayal macem-macem."
"Masa? Tapi, Kayla kok beda?" tanyaku.
"Tergantung ceweknya lah, gini loh, menurut pandangan Sergio Delandro yang tentu saja
gantengnya seantero SMA Shine Wish, lebih baik loe PDKT aja. Itu solusi satu-satunya biar Kayla gak salah paham sama perkataan loe." saran kak Sergi menepuk bahuku lalu pergi meninggalkanku. Kapan kak Sergi menjadi seperti itu? Memang benar,kak Sergi terkenal playboy dan satu sekolah tahu tentang itu.
Namun, baru kali ini kak Sergi memberi wejangan tersebut kepadaku yang
notabenenya mungkin siswa/i mengira kak Sergi adalah salah satu musuh OSIS karena
__ADS_1
playboy di sini dianggap sebagai anak badboy/badgirl.
“Kak,” Yang kupanggil menoleh ke arahku. Aku melihat ke arahnya dan mencoba membuka
suaraku.
“Aku tidak akan melakukannya, karena aku masih belum yakin. Untuk sekarang, Kayla
pasti mengerti dengan maksudku.” jawabku yakin dan kak Sergi tersenyum
menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Itu tadi hanya saranku saja. Lagipula, kalian kelihatan cocok kok. Aku pergi ke
kampus dulu ya.” pamit kak Sergi. Aku mengambil tas dan handuk kukalungkan di
leherku untuk pergi ke kamar mandi dengan tujuan mandi dan mengganti kaos tim
basket dengan seragam. Aku berjalan tanpa memakai kacamata karena itu mengganggu saat bermain basket. Aku berada di 2 kamar mandi yang sampai sekarang aku lupa letak gendernya ditaruh di sebelah mana karena di sini satu-satunya jalan tercepat menuju kelasku dan waktu masuk kelas kurang 30
menit. Ada yang di sebelah kiri dan satunya di sebelah kanan, lalu aku memilih yang kiri karena aku kurang jelas melihat apakah kamar mandi in untuk cewek atau cowok. Aku masuk di sana lalu membuka kaosku sehingga terpampang dada
bidang milikku. Aku mengambi handuk beserta alat mandi dan kubuka pintu. Mataku
terbelalak karena siapa yang sedang ganti baju di sana.
“Kya!” teriaknya dan kulihat wajahnya memerah dan melempar baju yang sudah ia pakai ke arahku dan itu mengenaiku.
“Ngapain kamu ke sini?” tanyanya dengan raut menahan malu dan menutupi bagian atas
tubuhnya dengan tangannya.
“Seharusnya aku yang bertanya, di sini kan kamar mandi cowok.” tegasku.
“Ke mana kacamatamu? Pantas saja, kamu tidak melihatnya. Kamar mandi cowok di sebelah kanan.” jawabnya kesal. Aku mengangguk kasar dan berniat meninggalkan kamar mandi tersebut. Namun, suara cewek dari kejauhan membuatku kalap dan cewek itu menarikku beserta tasku ke dalam kamar mandi yang ia tempati. Suara cewek tersebut
terdengar jelas dan ia mulai mengunci kamar mandi tersebut.
“Eh, kamu tahu kak Kayla kan? Dia itu cewek ganjen yang suka banget bikin ribut sama
kak Alex. Emang sih, dia punya prestasi yang cukup membanggakan karena sekolah
kita jarang ada yang menang di bidang kepenulisan. Menurut rumor yang beredar, kak Kayla deketin kak Alex cuma karena pelampiasan.”
“Pelampiasan gimana maksudmu?”
“Aku kata temenku yang merupakan adik kelasnya kak Kayla. Kabarnya, ada cowok yang membuat kak Kayla percaya sama dia dan si cowok itu ninggalin kak Kayla.”
“Alasannya apa?”
“Paling gara-gara dia kan emang aneh dari sananya. Hahahahahaha.” tawa mereka terdengar jelas dan aku merasa ingin membungkam mulut mereka, namun apa dayaku terhalang oleh phobia ini. Kulihat ia mencoba menahan tangis dan mataku sedikit sendu melihatnya. Tidak seharusnya mereka membicarakan seseorang di belakangnya,
apalagi itu adalah itu adalah hal yang privasi. Tunggu, kudengar bahwa ada seorang cowok yang sampai membuat Kayla percaya dan meninggalkannya. Bukankah dia adalah cowok yang ia tulis di suratnya? Siapa dia dan apa tujuannya melakukan hal tersebut? Ia berniat untuk membuka kuncinya, namun kutahan dan ia melotot ke arahku.
“Diam dan biarkan mereka melakukan sesukanya.” Ia pun mengangguk dan menunggu di dalam bersamaku. Aku memakai kaosku kembali dan kudengar langkah kaki mereka meninggalkan kamar mandi tersebut. Kami menghela napas lega dan ia membuka pintunya lalu menaruh tasku di depan kamar mandi cowok. Ia melihat ke arahku dan menarik lenganku menuju di depan kamar mandi cowok.
“Di sini yang benar. Lain kali, jangan sampai salah masuk. Untung saja itu aku yang
melihatnya.” Kulihat, pipinya merah dan aku tersenyum kecil. Ia pergi meninggalkanku dan kurasakan, gemetar yang biasanya kualami jika melakukan kontak fisik dengan cewek, malah tidak terlalu berpengaruh kepadaku jika dia yang memegangnya.
Deg
Deg
Deg
Perasaan apa ini? Ini seperti sesuatu yang terasa asing setelah sekian lama aku memendam rasa ini kepada gadis kecil itu. Kira-kira, bagaimana kabarnya dan di mana ia
sekarang? Semoga saja, aku bisa bertemu dengannya dan segera kubawa dia ke
hadapan Bunda bahwa dialah yang membuatku bisa bertahan sampai sekarang. Aku masuk ke kamar mandi dan mandi.
.............................................................................
“Dre, kalau suara detak jantung kita berdetak lebih kencang, artinya apa?” tanyaku yang membuat Andre melongo.
“Lah, kamu kan anak IPA, seharusnya tahu lah artinya apa.” jawabnya disertai anggukan
dari Laily yang sedang memakan baksonya di kantin. Aku menggaruk kepalaku dan
mulai memasang tatapan khasku.
“Kalau misalnya, detak jantung terasa lebih cepat saat bersama lawan jenis, artinya
apa?” Mereka berdua meneguk saliva sambil melihat ke arah satu sama lain.
“Lex, kamu lagi suka sama siapa?” tanya Laily gugup dan aku menatap tajam ke arahnya
seolah tidak boleh menanyakan hal seperti itu. Laily pun mengangguk sambil
ketakutan dan memakan kembali baksonya.
“Tergantung sama kondisi, kamu tahu kan kondisi yang kumaksud.” Sebenarnya aku tidak tahu apa yang dimaksud Andre, namun kutanggap dengan anggukan agar masalahnya cepat selesai. Aku melihat jam di hpku dan aku menyudahi makanku, lalu melemparkan flashdisk ke arah Laily.
“Tolong kalian diskusikan hasil kerja kelompok kita dan di situ hasil kerjaku sama
__ADS_1
Kayla. Aku ada urusan dulu.” pamitku dan langsung memasukkan hpku di saku
celana dan sedikit berlari melewati desakan di kantin. Aku tidak sengaja menabrak seseorang dan roknya menjadi basah karena tumpahan air putih. Aku langsung melemparkan sapu tangan yang selalu kubawa dan kuberikan ke dia lalu sedikit berlari meninggalkan dia tanpa tahu siapa yang kutabrak.