
Aku membawanya ke UKS dan untung saja, Bu Linda sebagai guru penjaga UKS mengizinkannya sampai jam 7 malam. Aku di sini bersama dengan sekretaris dari perusahaan milik papanya Alex, Teuku Group.
“Terima kasih, Nona Kayla. Anda telah menyelamatkan saya dan Tuan Muda dari kejadian tadi.” ucapnya sambil menundukkan dirinya.
“Eh, tidak perlu seperti itu. Aku memang seharusnya menemaninya bersama Anda, namun.................” jedaku sambil mengingat kejadian tadi dan itu masih membekas di pikiranku seolah kilasan itu sangat membuat hatiku sakit dan senang dalam waktu bersamaan.
*2 jam yang lalu
Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah karena dia mengirim pesan kepadaku agar langsung ke sana dan ia memberi ancaman akan mempermalukanku di depan satu sekolah besok. Hais, dasar kutub tukang ancem! Memangnya dia papaku bisa melakukan hal kayak gitu? Aku pergi melewati lapangan basket dan tidak sengaja melihat seseorang membawa seseorang ke gudang olahraga. Aku berniat mengikuti mereka dan orang itu menaruh seseorang tersebut ke dalam gudang dan ia menelpon seseorang di seberang sana. Aku menguping pembicaraan mereka.
“Nona, sekretaris milik Alex sudah saya lumpuhkan. Haruskah saya melakukan tugas selanjutnya?”
“Lanjutkan dan usahakan map yang dimaksud itu kamu tukar.”
“Baiklah, Nona. Segera dilaksanakan.”
Siapa sebenarnya dalang di balik rencana busuk ini? Dan dia ingin menghancurkan rencanaku dan Alex ya? Menarik! Setelah orang itu mengunci dan meninggalkan kunci tersebut di semak-semak dan pergi menjauh, aku keluar dari tempat persembunyian dan mengambil kunci dari semak-semak dan membuka pintunya. Di dalam, seseorang sedang pingsan lalu aku mendekat ke arahnya dan menggoyangkan tubuhnya. Ia pun terbangun dan menerjapkan matanya mengatur cahaya yang masuk. Ia menautkan alisnya ketika melihatku.
“Saya di mana?” tanyanya.
“Anda ada di gudang olahraga dan seseorang telah membuat Anda pingsan.” jelasku dan ia menatap tajam ke arahku takutnya aku adalah orang jahat. Namun, seulas senyum terukir di bibirnya dan tiba-tiba berdiri karena melupakan sesuatu.
“Benar juga, saya harus pergi bersama Tuan Muda dan seorang gadis yang bernama Kayla untuk menemani ke ruang kepala sekolah.” Tuan Muda? Aku? Sepertinya dia mencariku dan seseorang. Sebentar, sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana?
“Sebentar, saya adalah Kayla dan Tuan Muda yang kamu maksud itu siapa?” tanyaku.
“Jadi kamu ya? Syukurlah kamu ada di sini. Tuan Muda Alex sekarang pasti dalam bahaya.” Alex? Oh ya, pantas aku pernah mendengarnya karena kemarin aku menguping pembicaraan mereka walau tak semua yang kudengar.
“Memangnya di mana Anda akan menemuinya?” tanyaku.
“Koridor sekitar kelas XII IPA 5.” jawabnya.
“Itu di sekitar kelasku. Ayo, kita segera ke sana.” ajakku sambil berlari dan orang itu mengikutiku. Ini bahaya! Benar-benar si kutub tidak bisa hati-hati. Nanti dia diapa-apain gimana? Kan nanti aku yang pusing sendiri. Bentar, ngapain aku khawatirin dia, sedangkan orang yang ikutin aku aja gak terlalu khawatir tentang dia, malah akunya yang khawatirnya kayak ibu nyari anaknya yang hilang. Sesampainya di sana, kami terlambat karena Alex pergi bersama orang yang mengunci orang yang bersamaku ini.
“Bagaimana ini? Apakah kita akan terlambat?” khawatir orang yang bersamaku.
“Anda ada hubungan dengan Alex?” tanyaku dan dia terdiam sesaat sambil melirik ke arahku.
“Saya adalah sekretaris dari Teuku Group dan ini adalah kartu nama saya.” Ia menyerahkan kartu nama tersebut kepadaku sebagai bukti bahwa ia jujur mengatakan hal tersebut. Aku mengerutkan keningku dan sedikit kaget karena aku dulu pernah menguping pembicaraan papa dan mama bahwa anak tunggal Teuku Group akan menjadi kandidat calon suamiku selain teman papa di Jepang. Berarti aku akan menikah dengan Alex karena perjodohan dan hidupku akan hancur seketika karena sikapnya. Di sisi lain, hatiku merasa senang jika memang Alex menjadi pendamping hidupku. Haish, kok malah ngelatur pikiranku? Tolonglah, aku ingin hidup tenang tanpa ada dia.
“Kok gini banget hidupku? Selalu saja terikat dengan si kutub yang menyebalkan banget.” gumamku sampai jiwaku ikut menangis.
“Ayo ikuti Tuan Muda, Nona Kayla.” ajaknya dan aku mengikutinya ke manapun Alex pergi. Kami bersembunyi di lorong yang jaraknya lumayan agar kami bisa menguping apa yang dibicarakan.
__ADS_1
“Ehm, Tuan Muda, bolehkah saya membawakan map tersebut?” Hah? Dia meminta map tersebut? Itu sama aja memancing macan keluar kandang. Alex menoleh dan kami langsung menyembunyikan diri agar tak kelihatan olehnya. Aku mencoba melihat sedikit dan Alex malah memberikan map tersebut kepada orang itu dan dia menukar kertas di dalam map dengan kertas kosong. Sebentar, trik ini yang dilakukan olehnya serasa tak asing. Ah, jadi dia ya, si cewek pemimpin geng Elgirls dan anak dari pemilik PT. Cakrawala, Anaya. Setelah mereka menjauh, aku mengajak sekretaris itu mengikutinya sampai ruang kepala sekolah. Aku menjaga jarak agar tidak ketahuan dan sampailah mereka bersama kami di belakang mereka di ruang kepala sekolah. Alex mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Kami agak kecewa karena tidak bisa masuk ke dalam dan langsung mengintrogasi mereka.
“Kita tidak bisa masuk sekarang.” Aku mengatakanya dengan nada agak kecewa dan sekretaris itu memukul dinding lorong saking kesalnya dan merasa bersalah telah melalaikan tugasnya.
“Saya harus melaporkan apa kepada Tuan Besar jika Tuan Muda kenapa-kenapa? Saya sangat takut.” Aku melihat ekspresinya dan menepuk pundaknya.
“Kita masih bisa menyelamatkannya.” Entah dari mana keyakinan ini, aku meyakinkannya agar tidak larut dalam rasa bersalahnya, ditambah adanya sebuah firasat jika ia di dalam sana tidak baik-baik saja.
“Anda memiliki bukti lain selain kertas di map tadi?” tanyaku dan dia mengangguk. Aku tersenyum puas dan terlintas ide yang cukup ekstrim di pikiranku.
“Apakah Anda ingin bekerja sama dengan saya? Mungkin ini agak sedikit beresiko bagi kita berdua.” pancingku dan ia menggeleng.
“Katakan, apa rencana nona?” tanyanya dan aku menyuruhnya untuk mengikutiku. Ia mengangguk dan kami pergi untuk mengambil tali pramuka di sanggar pramuka yang jaraknya tak jauh dari tempat kami berada. Setelah mengambil barang yang dibutuhkan, kami naik tangga menuju atap sekolah yang memang dimodel seperti di luar negeri. Akhirnya, kami sampai di pintu atap dan membukanya. Aku bisa merasakan angin bebas menyapu rambut sepunggungku dan firasatku mengatakan bahwa letak jendela ruang kepala sekolah berada di sebelah kiriku.
“Ikatkan tali di sebelah kiriku pada pagar kawat ini.” Aku memeritahkannya dan ia segera melakukan apa yang kusuruh. Setelah mengikatkan talinya di pagar kawat, aku menaiki pagar kawat tersebut dan ia sempat mencegahku melakukannya.
“Jangan! Anda tidak boleh melakukannya karena Anda seorang perempuan.” Aku mengertakkan gigiku dan menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sama seperti Alex.
“Lalu, aku tidak boleh melakukannya hanya karena genderku. Maka jika Alex ada di sini, dia tidak akan mencegahku melakukannya karena tujuanku adalah menyelamatkan hidup seseorang.” tegasku dan ia pun mengangguk pasrah. Kami menaiki pagar tersebut dan turun menuju jendela yang dimaksud sambil berpegangan dengan tali tadi. Aku mengintip setiap jendela dari atas ke bawah untuk memastikan di mana ia berada. Mataku melihat jendela yang di mana ada seorang laki-laki yang menutup mulutnya dan aku yakin bahwa itu adalah Alex. Aku memberi kode dengan cara memegang sepatu sekretaris tersebut dan aku masih memantau apa kejadian selanjutnya. Mataku terbelalak karena dia akan ambruk dan langsung saja, aku membuka paksa jendela tersebut dengan kakiku dan alhasil, jendelanya terbuka dan pecah. Aku mendarat dengan selamat dan langsung menghampiri dirinya yang terkulai lemas. Hatiku terasa sakit melihat keadaannya seperti ini bercampur senang karena dia baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Aku menatap tajam ke arah mereka yang terlibat dalam kasus ini dan sekretaris tersebut telah menyusulku dan mengeluarkan hpnya.
“Saya akan menelpon pengacara atas tuntutan suap dan penganiayaan Tuan Muda.”Baru saja ia menekan nomor yang dituju, Pak Broto menahan tangan sekretaris tersebut agar tidak menuntutnya. Anaya ingin melakukan hal yang sama, namun aku memegang lengannya dengan amarah yang sangat besar.
“Awh, sakit. Lepasin gak?” berontaknya, namun genggamanku kueratkan.
“Iya! Pak, batalin kesepakatan tadi dan saya gak akan ikut acara kayak begituan!” kesalnya dan meninggalkan ruangan tersebut.
“Terima kasih dan nanti jendelanya akan saya ganti.” Ucapku dan membawa si kutub bersama sekretarisnya ke UKS. Pak Broto mengangguk lemas dan duduk di kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Kami membawa Alex dan anehnya, dia memilih untuk memelukku.
Deg
Deg
Deg
Detak ini, malah muncul sekarang. Aku memberi kode dan ia mengerti maksudku dan mengambil alih Alex untuk dibawa olehnya. Perasaanku kalut karena detak ini selalu ada saat bersama dia. Semoga saja, dia tidak sama dengan masa laluku*.
..............................................
“Saya berpikir untuk menyembuhkan phobia Alex secara perlahan selain melakukan terapi dengan psikolognya.” Sekretaris itu terkejut saat aku mengatakan hal tersebut.
“Benarkah nona ingin melakukannya? Terima kasih banyak nona. Saya sangat bersyukur ada yang menunjukkan kepeduliannya kepada Tuan Muda. Selama ini, Tuan Muda selalu tertutup dalam hal apapun, padahal dulu Tuan Muda sangatlah terbuka kepada siapapun, termasuk kepada orang tuanya. Namun, sejak perceraian kedua orang tuanya, Tuan Muda berubah total menjadi orang yang dingin dan awal dari phobianya adalah karena Tuan Muda sempat dibawa oleh Tuan Besar dan dididik sedemikian rupa sebelum Tuan Muda bersama Nyonya saat ini.” Ia dengan nyamannya menceritakan sedikit masa lalu Alex kepadaku seolah ia sangat mempercayakan Alex kepadaku. Aku tersenyum kecut bahwa di dunia ini, tidak hanya aku yang merasa menderita karena masa lalu, ternyata dia juga harus menderita dan aku merasa bersalah atas kejadian yang selama ini terjadi.
“Saya juga memiliki masa lalu, namun tidak bisa saya ceritakan. Mungkin, saat dia benar-benar sembuh, aku akan menceritakannya dan.......................” jedaku karena Alex sadar. Sekretaris itu menghampirinya dan menanyakan kabarnya. Aku langsung mengambil tasku dan berniat untuk pulang, namun panggilan darinya menghentikanku.
__ADS_1
“Kayla, terima kasih atas semuanya.” Ia tersenyum dan pipiku merah seperti kepiting rebus dan langsung memalingkan wajahku ke arah lain.
“Ya.” jawabku dan langsung pergi dari sana. Ah, mataku rasanya tak kuat melihatnya tersenyum dan itu adala hal yang langka sekali. Ngomong-ngomong, senyumnya manis juga, seperti saat aku menantangnya di lapangan upacara. Namun, senyum ini terasa tulus dan agak gimana gitu. Argh, bisa gila aku memikirkannya. Aku menelpon Mang Ujang untuk menjemputku. Dewi malam dan bintang seolah menambah estetika langit yang gelap, sama sepertiku yang sedang berbunga-bunga dan sedang memikirkan bagaimana cara menyembuhkannya.
“Mungkin dengan cara mengajaknya jalan-jalan dan kuliner,” gumamku dan kulihat, jemputanku datang dan ia membuka pintu mobil dan aku masuk. Mang Ujang menutup pintunya dan mulai menjalankan mobilnya. Selama perjalanan, aku tersenyum sendiri dan menelpon sahabatku.
Tut
Tut
Tut
“Laily, seminggu ini jangan ada rencana jalan-jalan soalnya aku ada janji seminggu penuh.”
“Segitu pentingnya ya? Sampai aku terlupakan. Gimana sama nasib cerpennya di Arnold?”
“Kamu yang pegang dulu dan ini sangat penting demi masa depanku.”
“Emang kenapa sih? Gitu ya gak mau cerita ke aku? Padahal aku sahabatmu yang paling cantik seantero dunia.”
“Ceritanya panjang. Intinya, aku pingin sembuhin phobia si kutub. Kasihan banget ngelihatnya.”
“Bentar, kamu Kayla kan?”
“Iya, terus kenapa?”
“Tumben peduli sama Alex? Biasanya, aura bencimu tuh kentara kalau ketemu sama dia. Abis kesambet apaan sih?”
“Laily anaknya Bapak Wibowo yang pinter, bahkan anak kecil aja lebih pinter dari kamu, aku membantunya sebagai bentuk rasa kemanusiaan aja. Emang gak boleh?”
“Gak sih, tapi aku kasih saran nih. Jangan pernah kasih perhatian lebih ke dia, lakukan selayaknya kamu jadi dokternya dan dia pasiennya. Sebatas itu!”
“Emang kenapa?”
“Kita belum tahu ke depanya bagaimana dan pada saat itu tiba, kamu harus memilih dengan tegas.”
“Iya-iya, masalah itu bisa aku tangani.”
“Serah deh, pokoknya kamu harus menanggung konsekuensinya.”
“Oke, aku tutup dulu ya. Good night baby.”
“Good night.” Aku menutup telponnya dan sempat memikirkan perkataan Laily tadi. Membatasi perhatian ya? Aku tidak bisa melakukannya karena pada dasarnya, aku senang sekali perhatian kepada orang lain. Ah, aku bimbang banget. Tapi, nasi sudah menjadi bubur karena tekadku sudah bulat untuk menyembuhkan phobianya. Ganbatte kudasai! (semangat)
__ADS_1