My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Ada Apa Dengannya? (Alex)


__ADS_3

Sinar surya menyinari kamarku yang tertutup gorden hitam dan mataku menyesuaikan cahaya yang masuk. Aku bangkit dan melihat jam wekerku yang menunjukkan jam 05.45. Aku mengambil handuk dan mandi. Tidak perlu memakan waktu lama, aku keluar dan memakai seragam sekolah lalu menyiapkan pelajaran hari ini dan makalah yang sudah dikirim oleh Laily dan kuprint. Aku turun ke bawah dan di sana, Bunda bersama Bu Yeni sedang menyiapkan sarapan. Bu Yeni adalah pembantu sekaligus orang kepercayaan Bunda dan beliau sudah kuanggap sebagai ibu sendiri setelah Bunda.


"Pagi Bunda, pagi Bu Yeni." aku salim kepada keduanya dan duduk mengambil piring untuk sarapan.


“Pagi,” ucap mereka dan melanjutkan kegiatan tadi.


“Kata Yudha, phobia Den Farhan kambuh lagi ya?” tanya Bu Yenni yang menghentikan aksiku mengambil nasi dan lauk untuk sarapan. Benar juga, Yudha telah mengantarku pulang dan aku sempat pingsan karena keadaan terdesak tersebut. Yudha adalah sekretaris muda kepercayaan Ayah dan selalu membantuku tanpa memberitahu segala kegiatanku kepada Ayah. Bisa dibilang, dia adalah seseorang yang bisa kupercayai saat ini dan tak lupa, aku seharusnya memberikan sesuatu kepada Kayla sebagai ucapan terima kasih. Aku adalah tipe orang yang kurang nyaman mengucapkan terima kasih saja, jadi aku harus memberikan sesuatu untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepadanya. Aku mengambil kotak makan di rak piring dan mengambil nasi beserta lauk pauknya lalu memakannya. Bunda dan Bu Yeni melihatku kebingungan karena baru pertama kali aku membawa bekal.


“Itu untuk siapa?” tanya Bunda.


“Hanya untuk teman.” jawabku.


“Buat Den Andre ya?” tanya Bu Yeni dan aku menggelengkan kepala. Bunda dan Bu Yeni memandang ke arah satu sama lain bingung siapa temanku selain Andre. Aku menghela napas dan mengatakannya walau harus menanggung malu.


“Ini buat cewek yang Bunda maksud. Aku ke atas dulu.” Aku bergegas membawa kotak bekal tersebut ke dalam kamar dan mengambil tas dan kontak sepeda motorku lalu turun kembali.


“Aku berangkat dulu, assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Aku langsung ke garasi dan menghidupkan motorku untuk berangkat ke sekolah. Pak satpam membuka gerbang untukku dan kubunyikan klakson sebagai tanda terima kasih dan ia mengangguk. Motorku melaju cukup kencang membelah jalanan kota saat orang-orang sedang mempersiapkan diri atau masih berada di alam mimpi mereka. Saat di perjalanan, aku melihat seorang nenek yang berdiri di lampu merah hendak ingin menyeberang jalan. Aku berhenti 10 meter dari nenek tersebut dan mematikan mesin motorku. Aku berlari pelan menuju nenek itu dan memegang lengannya, namun nenek itu menggelengkan kepalanya.


“Nenek tidak mau saya bantu ya?” tanyaku dan nenek itu menggelengkan kepalanya lagi.


“Baiklah, sa....................”


“Nenek!” seru seorang cewek yang suaranya serasa tak terasa asing bagiku. Aku diam saja dan berpikir bahwa itu adalah Kayla dan ternyata itu benar ia karena aku hafal rambut sepunggungnya yang tersapu oleh angin dan bisa kurasakan aroma shampo miliknya.


“Nenek lama ya nungguin Kayla?” tanyanya dan nenek itu mengganggukkan kepalanya. Ia tersenyum lebar dan aku menepuk pundaknya dan alhasil, ia menoleh ke arahku dengan tatapan datar.


“Oh, kamu gak berangkat?” tanyanya datar dan tentu saja itu membuatku kesal. Saat ia berniat menyeberangkan nenek itu, aku menarik tasnya dan ia menatap kesal ke arahku. Nenek itu melihat ke arah kami dan aku mengambil alih tangan nenek itu dan membantunya menyebrang jalan sambil menarik tas milik Kayla.


“Lepasin gak?” rontanya, namun aku acuh dan membantu nenek tersebut menyebrang jalan. Setelah kubantu, nenek itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikanku 2 kantong kecil biskuit dan aku menerimanya dengan senang hati.


“Terima kasih nek,” ucapku sambil tersenyum dan nenek itu tersenyum juga.

__ADS_1


“Jangan lupa, berikan biskuit itu kepada gadis yang kamu tarik karena dia sering membantu saya,” jawab nenek itu dan pergi meninggalkan kami berdua. Aku menatap tajam ke arahnya dan ia membalas tatapanku dengan tatapan yang sama.


“Sini kueku,”


“Sebentar, yang membantu nenek itu siapa?”


“Kamu,”


“Lalu, nenek itu memberikan kue ini kepada siapa?”


“Kamu,”


“Berarti ini punyaku,” jawabku datar dan ingin meninggalkannya di sini, namun dia malah teriak-teriak.


“Tolong! Ada maling kue di sini.” Langsung kubungkam mulutnya dengan tanganku dan menariknya paksa agar tidak terjadi keributan, namun takdir malah mengatakan sebaliknya. Beberapa orang mengerumuni kami dan aku menatap mereka datar dan mereka seolah mengerti arti tatapanku dan pergi meninggalkan kami berdua. Ia menggigit tanganku dan otomatis, aku melepas bungkamannya dan meniup-niup tanganku yang sakit.


“Huft, akhirnya bebas juga,” gembiranya sambil joget ria tanpa tahu malu sedikit pun. Aku tertawa kecil dan entah kenapa, bayangan gadis kecil itu seolah menyatu dengan dengan diri Kayla saat ini. Sebentar, kenapa aku berpikir bahwa gadis itu dan Kayla adalah orang yang sama. That’s a big problem! Mungkin aku harus melakukan sit up 100 kali, push up 100 kali, dan lari keliling lapangan 100 kali agar tidak berpikir seperti tadi.


“Aku hadir di kehidupanmu baru 2 tahun yang lalu dan aku tidak akan memiliki teman masa kecil sepertimu.” Aku terkejut karena Kayla berada di sampingku dan suaraku terdengar keras ya? Entah kenapa, berada di sampingnya, terkadang membuatku berpikiran negatif tentangnya.


“Kamu itu cenayang atau siapa?” tanyaku sambil melihat kanan kiri jalan untuk menyeberang jalan.


“Bukan, aku hanya berbicara begitu karena aku harus menghafal drama online yang kulakukan dengan Laily nanti malam,” jelasnya dan aku menghembuskan napas lega karena ia tidak mendengar yang kukatakan tadi.


“Kenapa? Kamu membicarakanku di belakang ya? Ternyata, ketua OSIS kita memiliki sikap tersebut dan itu bisa mencemarkan nama baik seseorang. Ah benar juga, aku kan selalu menjadi perbincangan buruk di kalangan siswa/i di sana dan hanya sedikit yang ingin benar-benar berteman denganku hanya karena aku aneh.” Perkataannya tadi, terasa berat untuk kudengar dan kulihat ke arahnya, air matanya menetes tanpa permisi membasahi pipinya dan itu membuatku tersentuh. Tanganku mencoba menghapus air mata itu, namun tubuhku terasa bergetar karena phobia ini. Tch, aku benci dengan phobia ini dan kuberanikan menghapus air mata itu dengan tanganku walaupun harus melawan phobia ini. Keringat dingin mengucur dari dahiku dan selalu saja, secuil keraguan menghalangi niatku dan kupaksa diri ini melakukannya dan berhasil. Tanganku berhasil menghapus air mata itu dan ia menoleh ke arahku dan langsung kulepas tanganku lalu melemparkan kue dari nenek tadi kepadanya. Aku bergegas pergi menyeberang karena lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau bagi pejalan kaki. Aku meninggalkannya dalam ramainya orang-orang yang berlalu lalang di sini dan sampailah aku di tempat di mana motorku kuparkir dan satu lagi yang membuatku kaget adalah ia duduk di motor ninjaku sambil menatapku dan memajukan bibirnya.


“Oi, sejak kapan kamu di situ?” tanyaku jengkel.


“Kamu lambat kayak siput dan hari ini, kita bolos aja dan masalah izinnya, aku bilang ke Bu Wiwik kalau aku izin sakit dan kamu izin mengurus mamamu. Oke, melaju ke tempat cosplayer di kota sebelah,” ajaknya dengan mata berbinar-binar dan aku mengangguk pasrah dari pada dia marah-marah gak jelas dan melemperkan benda-benda di dalam tasnya itu. Aku menaiki motorku dan menyalakan mesinnya. Deru motorku terdengar dan mulai membelah jalanan kota saat ini dan aku merasa bersalah karena telah bolos untuk pertama kalinya dan kenapa aku tak bisa menolak ajakannya? Mungkin ini juga untuk balasan kejadian tempo hari yang lalu, dan aku teringat kotak bekalnya belum kuberikan. Mungkin nanti saja saat sampai di sana. Dia merentangkan tangannya dan tertawa lebar seolah bebannya terlepas dan tentu saja aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan tingkah anehnya. Entah mengapa, aku merasa tenang dan senang saat bersamanya. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu setidaknya 1 jam dan pemandangan berupa gedung pencakar langit dan deretan taman kota sebelah yang lumayan banyak tersebar di pinggir jalan serasa menyejukkan mata yang memandangnya dan kulihat dari spion ia menunjuk ke arah kanan jalan yang mengarah pada taman kota yang ramai orang. Aku mengangguk paham dan melajukan motorku ke sana dan sampailah kami di tempat cosplayer yang dia maksud. Aku memarkirkan motorku di tempat yang telah disediakan dan ia bergegas turun dari motorku.


“Sebentar, untuk apa kita ke sini dan rela harus bolos sekolah?” tanyaku pura-pura kesal dan ia menoleh ke arahku.


“Kamu akan tahu jawabannya.” Jawabannya menyimpan misteri terselumbung di dalamnya.

__ADS_1


“Jangan sampai dia melakukan hal di luar nalar dan buatlah ia tenang saat di dalam,” pikirku dan ia menarik tanganku untuk masuk ke taman tersebut. Aku merasa de javu lagi dengan genggaman ini. Bah, jangan berpikiran negatif terus Alex. Kamu harus kuat! Kamu harus kuat! Kamu harus kuat!


“Yokoso onii-chan to onee-chan de kosupureibento,(Selamat datang, kakak (laki²) dan kakak (perempuan) di acara cosplayer)” sambut 2 cosplayer yang berpakaian ala maid menyambut kami. Aku bingung mereka memakai bahasa apa dan Kayla tersenyum ramah kepada mereka.


“Anata wa futarinokoibitodesu ka? (apakah kalian berdua adalah sepasang kekasih). Di sini, Anda bisa masuk gratis jika kalian adalah pasangan,” tawar salah satu maid tersebut. Aku ingin mengatakannya, namun Kayla mengatakan sebaliknya.


“Hai. Watashitachiha koibitodesu (Iya, kami adalah sepasang kekasih).” jawabnya dengan percaya diri dan merangkul lenganku. Ia memberikan kode melalui matanya agar membenarkan perkataannya.


“I...iya, kami berdua adalah sepasang kekasih,” jawabku kikuk dan 2 cosplayer tadi tersenyum puas kepada kami.


“Wakarimashita. Soredewa, atarashī koibito o tanoshinda kudasai, (Baiklah. Kalau begitu, selamat bersenang-senang, pasangan baru)” sambut mereka berdua sambil tersenyum lebar dan kami membalasnya dengan senyuman pula. Kami masuk ke dalam dan matanya berbinar-binar melihat keramaian di dalamnya. Aku menggaruk kepalaku karena apa yg kukatakan tadi benar. Ia bertingkah di luar nalarku. Ia selfie dengan seorang cosplayer tampan berbaju zirah, foto bersama sekumpulan laki-laki yang kuduga itu adalah perkumpulan dari acara ini dan hanya dia saja perempuannya dan tentu saja, ia mengajak para cosplayer perempuan dengai berbagai karakter berfoto bersamanya. Benar-benar aneh cewek satu ini. Aku menghampirinya dan para cosplayer perempuan berteriak ke arahku.


“Kya! Ada laki-laki tampan yang datang ke event ini dan ini adalah pertama kalinya ada laki-laki-laki tampan yang datang dan juga dia masih memakai seragam sekolah,” seru mereka dan mereka sangat berisik seolah tidak pernah melihat laki-laki tampan saja. Ia melihat ke arahku dengan tatapan jijik dan aku menatapnya datar. Salah satu cosplayer dari mereka menghampiriku dan memberikan hpnya kepadaku. Aku melihatnya dari atas kepala sampai kakinya, entah mengapa rasanya aku tidak asing dengannya. Saat aku mendekatkan diriku ke arahnya, lemparan sepatu mengenai kepalaku dan aku tahu siapa pelakunya. Ia berlari menuju ke arahku dan menjewer telingaku.


“Oi, sakit,” aduku datar dan ia menatapku tajam. Aura di sekitarnya serasa ada api yang membakar dirinya.


“SIAPA DIA?” serunya sambil menarik dasiku.


“A...a....anu,” sela gadis cosplayer itu dan ia melihat tajam ke arahnya.


“APA?” teriaknya dan si gadis cosplayer itu kaget dan ingin menangis. Aku menarik kembali dasiku dan menghampirinya.


“Kamu gak pa-pa?” tanyaku kepadanya dan gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan saat ia menoleh ke arahku, aku kaget siapa dia. Seorang gadis berambut hitam dengan iris serta perawakannya hampir sama dengan gadis kecil itu. Benarkah ini dia? Aku memberanikan diri memegang lengannya, namun tak bisa karena phobia ini menghalangiku. Mengapa di saat yang tepat ini, malah phobiaku kambuh lagi?


“Ah, jadi kamu gitu ya. Baiklah kalau itu maumu, kita berakhir di sini,” Aku menoleh ke arahnya dan kulihat air mata yang sama tak sengaja menetes di matanya dan berlari keluar dari acara tersebut. Melihat kepergiannya, membuat rasa iba yang kumiliki meleleh dan aku berusaha mengejarnya tanpa mempedulikan gadis itu dan ramainya orang yang datang membuatku tak bisa mengejarnya. Sial, mengapa harus begini jadinya? Seolah aku di sini yang mematahkan hatinya. Tunggu, memangnya dia siapanya aku sampai aku bersikap berlebihan seperti ini? Namun, dia telah membuat dinding yang kupertahankan sejak aku membenci perempuan perlahan retak dan telah ada kemajuan. Ah, aku bimbang tentang ini semua. Entah apa, dorongan di lubuk hati memutuskan untuk mengejarnya.


......................................................


Aku mencarinya di segala sudut kota dan tidak ada dia. Ke mana dia sebenarnya? Mana di sini awan hitam berkumpul pertanda hujan akan menghampiri. Aku mempercepat laju motorku dan hujan rintik-ritik turun. Hujan semakin deras dan aku tak menyerah untuk mencarinya.


“Semoga dia baik-baik saja,” gumamku dan dari balik helmku, aku melihat sosok yang kucari tengah duduk di halte sambil menatap kosong ke arah hujan. Aku mendekat ke sana dan mematikan mesin motorku lalu mendekatinya. Ia basah kuyup dan matanya terlihat bengkak serta pipinya memerah. Asap putih tipis keluar dari mulutnya sambil menggosokkan kedua tangannya berharap ada sedikit kehangatan dari kedua tangannya yang memutih menahan dingin. Aku melepas jaketku yang tidak basah karena terbuat dari kulit asli dan memakaikannya. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum lebar, lalu tertidur di bahuku. Aku pun memeluknya agar kehangatannya tetap ada dan tidurnya nyenyak. Di bawah hujan deras ini, aku sibuk memikirkan 2 gadis sekaligus, Kayla dan gadis itu. Apa hubunganku dengan mereka bertiga? Entahlah, aku menunggu waktu menjawabnya agar aku tahu bagaimana tindakanku nanti.


Halo, author kembali lagi setalah aktivitas yang menguras pikiran dan terima kasih atas likenya😘😆

__ADS_1


__ADS_2