
Aku memasuki rumah dan kulihat ada seorang wanita berusia separuh abad yang duduk di ruang tamu bersama dengan putrinya dan aku acuh dengan kehadiran mereka berhenti.
“Alex!” seru wanita tersebut dan aku menatapnya dengan datar lalu ikut duduk di depannya.
“Sampai kapan kamu menghindar dari tante dan Amira?” tanyanya mulai melembut dan hendak memegang tanganku, namun kutepis pelan dan ia pun mengerti maksudku.
“Untuk apa kamu masih menemani Tante Rayya yang sudah berpisah dengan Om Satya dan kamu tahu kan keadaan ibumu itu? Seharusnya, kamu bergabung dengan keluarga besar kami dan meneruskan perusahaan Om Satya dari pada mengurus Tante Rayya yang asal-usul keluarganya saja tidak jelas.” Ucapan kak Amira membuat emosiku tidak tertahankan dan menatapnya datar.
“Untuk apa ikut ke sana jika aku hanya bertemu pria yang membuat hidup Bunda seperti ini?” Aku menunjukkan senyum penuh sindiran saat mengatakannya sehingga mereka berdua tahu maksudku. Wanita itu menghela napas kasar dan memperbaiki posisi duduknya.
“Tante tahu, kamu masih memendam benci kepada ayahmu dan memilih tidak ingin menggantikan posisi ayahmu di perusahaannya. Tapi, setidaknya kamu tinggallah bersama kami dan urusan Bundamu, biar kami yang membawanya ke Psikolog ternama.” tawar wanita yang menyebut namanya tante.
“Maaf, aku menolak tawaran tante dan biar aku yang mengurus Bunda .” jawabku lalu pergi meninggalkan mereka menuju tangga.
“Kudengar, kamu menelpon sekretaris Om Satya untuk datang ke sekolahmu besok dan yang akan menemanimu selain dia adalah seorang gadis. Siapa dia dan sejak kapan kalian dekat?” Pertanyaan kak Amira menghentikan langkahku dan aku agak bingung mengatakannya.
“Masalah itu, kakak tidak perlu tahu, termasuk tante juga.” jawabku dan meneruskan langkahku menaiki tangga menuju kamarku.
“Ayah dan anak sama-sama terikat dengan seseorang yang asal-usulnya tidak jelas.” Pernyataan kak Amira membuat emosiku tidak bisa kutahan dan ingin sekali membungkam mulutnya, namun seolah ada yang menggenggam erat tanganku, aku menahannya dan meneruskan langkahku yang sempat tertunda. Sesampainya di lantai 2, aku melihat ke arah mereka dan mengatakan sesuatu.
“Pintu keluar terbuka lebar untuk kalian. Silahkan keluar, jangan sampai Bunda tahu akan hal ini.” jawabku datar lalu mereka seolah mengerti perkataan langsung angkat kaki dari rumahku dan kulihat tatapan kak Amira menajam ke arahku dan berlalu begitu saja bersama ibunya dan menutup pintunya dengan keras. Aku ingin ke kamar, namun Bunda keluar dari kamarnya dan aku segera turun ke bawah untuk membantu Bunda. Aku meraih kursi roda Bunda dan mencoba menanyakan kabarnya.
“Bunda gimana?” Yang kudapat hanya anggukan dari Bunda dan aku mencoba memahami keadaan Bunda.
“Bunda denger apa yang tante dan kak Amira katakan ya? Bunda jangan khawatir, aku akan terus menjaga Bunda dan gak akan ke mana-mana.” bujukku kepada Bunda dan Bunda menggelengkan kepalanya.
“Hilangkan rasa bencimu terhadap ayahmu dan buat keluarga ini seperti dulu.” Pernyataan Bunda tadi membuatku bingung karena hubunganku dengan ayah masih belum membaik dan itu terasa sebagai permohonan.
“Tapi, Bunda tahu kan keadaan kita sekarang seperti ini gara-gara pria itu dan sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkannya.” Aku mengatakannya dengan penuh kesal dan gara-gara dia, aku menjadi seperti ini dan sampai kapan aku seperti ini. Elusan di kepalaku menenangkan pikiranku dan kurasa, Bunda tidak terlalu takut terhadapku.
__ADS_1
“Maaf, Bunda tidak mau kamu terpuruk dengan keadaanmu sekarang. Segera berbaikan dengan ayahmu dan Bunda rasa, gadis yang akan membantumu akan beraksi besok.” Bunda mengatakannya dengan datar, namun aku bisa memakluminya dan aku membantu Bunda melakukan apa yang dia inginkan.
“Bunda rasa, gadis yang kamu bawa adalah gadis yang kelihatan dari luar licik, suka memggodamu, bahkan suka sensi sendiri karena ada kamu. Namun, Bunda yakin sekali, kalau dia gadis yang baik, pengertian, dan mungkin saja dia dan kamu mirip.” Perkataan Bunda membuatku agak tersinggung. Mengapa malah Kayla yang dibahas dan mengapa Bunda bisa tahu dia padahal mereka berdua belum pernah bertemu sekalipun? Bunda melihat ke arahku dan seolah tahu apa yang kupikirkan.
“Becanda kok, sepertinya kamu tahu siapa gadis itu. Antar Bunda ke kamar.” jawab Bunda agak datar karena ia tahu kalau aku sedang menyesuaikan pernyataan Bunda tadi. Aku mengantar Bunda ke kamarnya dengan mendorong kursi rodanya menuju kamar Bunda. Setelah itu, aku kembali menuju kamarku dan langsung tertidur karena saking capeknya hari ini. Aku sempat lupa untuk menghubungi seseorang dan langsung mengambil hpku di saku celana dan menekan nomor yang dituju.
“Iya Tuan Muda, ada apa?”
“Cari berkas keuangan yang akan diberikan Anaya kepada kepala sekolah dan serahkan kepadaku besok sepulang sekolah.”
“Baiklah Tuan Muda, segera dilaksanakan.” Aku menutup teleponnya secara sepihak dan langsung mandi.
..................................................
“Alex,” panggilnya manja sambil memegang lenganku dan langsung kutepis kasar.
"Menjauh atau tanganmu tidak akan utuh lagi!" peringatku dengan tatapan datar, namun sepertinya, hal itu tidak berpengaruh apa-apa kepadanya.
"Kangen sana sama baboon." jawabku datar lalu meninggalkannya yang sedang sebal. Tak sampai di situ saja, dia mengikutiku sampai di koridor kelasku. Banyak yang membicarakanku karena cewek gila ini dan di tengah perjalanan, tatapanku bertemu dengan iris hitam milik cewek itu. Aku memberitahunya lewat kontak mata dan ia paham dan langsung menghampiriku.
"Farhan, kamu ke mana aja sih? Aku cariin dari tadi. Eh, ada anak baboon nyasar. Ayo, kita tinggalin anak baboon di sini.” ucapnya jahil dan itu membuat Anaya sebal dan meninggalkan kami berdua. Setelah dia pergi, ia melepaskan pegangannya di lenganku dan menatapku datar.
“Akting lagi dan jangan lupa, lakukan tugas kita nanti.” Ia berlalu begitu saja dan memegang lengannya dan ia menatapku datar.
“Terima kasih.” ucapku dan langsung melepaskan peganganku di lengannya, lalu meninggalkannya. Ada apa dengan diriku? Mungkin saja, detak jantung yang kapan hari aku bahas dengan Andre dan Laily adalah tanda aku mengaguminya. Masalahnya, dari mana dan kapan aku mengaguminya? Aku mencoba berpikir positif bahwa aku hanya mengaguminya saat dia bisa menantang anak dari perusahaan besar seperti Anaya dan berani membalasnya tanpa takut resiko ke depannya bagaimana. Saat aku melamunkan hal tersebut, tanpa sengaja aku menabrak seorang siswa yang kulihat ternyata dia adalah orang yang kutelepon dan keadaan di koridor lebih ramai dari pada tadi.
“Samaranmu kurang bagus jika terungkap di sini. Ikut aku.” perintahku dan ia mengekoriku seolah dia adalah seseorang yang sedang berurusan denganku menurut pandangan siswa/i yang berpapasan dengan kami dan sampailah kami di lorong dekat tangga yang sepi.
“Aku menyuruhmu datang saat jam pulang sekolah, mengapa lebih awal kamu ke sini?” tanyaku dengan nada khasku.
__ADS_1
“Ini Tuan Muda.” jawabnya sambil memberikan map kepadaku dan kubuka isinya. Aku terbelalak dan langsung kututup sambil membuka kacamataku dan memijit pangkal hidungku.
“Biar kubawa map ini dan kamu pergi sekarang. Jangan lupa, temui aku di koridor saat kita bertabrakan tadi.” Ia pun menganggukdan meninggalkanku sendiri di sini.
“Benar-benar cewek yang cukup licik.” gumamku dan meninggalkan lorong tersebut dengan perasaan antara tak percaya dengan kenyataan tadi dan memastikan perasaanku terhadapnya yang terhalang phobia ini.
.........................................................
“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya terlambat karena ada meeting dadakan dengan perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Tuan Besar.” pintanya dengan napas tersengal-sengal dan aku mengangguk, lalu menyuruhnya mengikutiku menuju ruang kepala sekolah. Suasananya terasa hening dan pecah karena penawaran darinya.
“Ehm, Tuan Muda, bolehkah saya membawakan map tersebut?” Aku menolehnya ke arahnya dan menatapnya tajam dan entah kenapa, kurasakan hawa yang sepertinya kukenal sedang mengikutiku, namun kutepis perasaan tersebut dan memberikan map tersebut kepadanya.
“Terima kasih, Tuan Muda.” Aku mengangguk dan meneruskan perjalanan kami menuju ruang kepala sekolah. Kulihat, ada Andre yang menyapaku dan kujawab dengan anggukanku dan ia pun berlalu meninggalkanku dan sampilah kami di ruang kepala sekolah. Kuketuk pintu dan terdengar suara dari dalam ruangan.
“Masuk.” Aku pun membuka pintu dan di sana, kepala sekolah sedang duduk dan ada Anaya di sana. Aku menarik napas dan mengambil map darinya. Ia memberikannya kepadaku dan aku mulai membukanya. Tatapanku berubah menjadi bingung karena map yang kubawa berisi kertas kosong dan ke mana isinya.
“Ada apa?” tanya Pak Broto selaku kepala sekolah di sini dan Anaya tersenyum kepadaku.
“Tetap tenang dan lakukan seperti biasanya. Di mana Kayla? Katanya, dia mau menemaniku di sini. Dasar cewek ingkar janji.” gumamku sambil mengambil napas.
“Saya ingin melaporkan kinerja OSIS tahun ini seperti biasanya, selalu berjalan baik. Namun, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Pak Broto.” Lidahku terasa kelu saat ingin menyampaikan apa yang ingin kusampaikan tadi. Rasanya, suaraku terhalang oleh sesuatu dan perasaan tak enak menyelimutiku. Seperti ada sesuatu yang buruk terjadi di sini.
“Apa yang kamu sampaikan?” tanya Pak Broto sekali lagi. Aku menarik napas panjang dan menatap beliau dengan penuh ketenangan.
“Untuk acara ulang tahun sekolah kita, saya ingin mengajukan protes bahwa penampilan dari Anaya tidak dilakukan selama satu hari penuh. Alasannya sama dengan tujuan tema yang kita usung, yaitu menciptakan suasana sekolah yang meniadakan kesenjangan sosial dan mengembangkan bakat dan minat siswa beserta ekskul terkait agar mereka bisa unjuk gigi dan percaya diri dengan diri mereka sendiri.” jelasku. Pak Broto menatapku dan menghela napas kasar.
“Saya tahu maksud kedatanganmu ke sini untuk melakukan itu, namun saya tidak bisa memenuhi permintaan kamu. Maafkan saya.”
Deg
__ADS_1
Terasa sakit, entah ini terasa sakit sekali. Benarkah semuanya terlambat? Aku menunduk dan berniat pamit untuk pergi meninggalkan ruang kepala sekolah. Kulirik, Anaya tersenyum manis kepadaku, namun kutatap datar.
“Kalau begitu, saya keluar dari ruangan Bapak. Terima kasih telah mendengarkan keluhan saya.” Namun, orang yang menemaniku menahan tanganku dan aku menoleh ke arahnya. Ternyata, dia bukan orang yang kutemui tadi pagi dan ke mana dia sekarang? Mengapa aku ditinggal sendiri di sini? Keadaanku saat ini membuat perutku terasa mulas, keringat dingin mulai bercucuran, dan pandanganku sempat kabur. Apa ini? Phobiaku kumat lagi? Aku harus meminum obatnya, namun di sini ada Pak Broto, Anaya, dan orang yang menahan tanganku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini dan berharap ada yang menolongku. Siapapun, tolong aku. Aku melihat sinar putih yang besar mendekat ke arah sini melewati jendela dan seketika itu, pandanganku menggelap.