
Aku melihat isi chatku dengan si kutub itu dan aku tak habis pikir mengapa ia mengatakan hal tersebut.
“Benar-benar aneh si kutub.” ucapku dan kurasakan ada yang melihatku. Aku mengambil bantal dan kulempar ke arah pintu kamarku.
“Gak usah sok sembunyi. Keluar kamu, Nay.” kesalku karena adikku, Nayla menguping tadi dan dibukanya pintuku dan di sana muncullah anak kecil berusia 9 tahun dengan boneka kucing yang ia bawa.
“Nayla laporin mama loh kalau kakak suka sama cowok.” jawabnya dengan nada gemas namun bagiku suara itu sangat menganggu telingaku.
“Bodoh amat, kakak gak punya gebetan. Lagian, nunggu si cowoknya serius sama kakak dan konsisten sama kata-katanya, kakak baru nerima dia.” jawabku asal.
“Beneran? Yaudah, aku mau keponakan sekarang.” pintanya dengan polos dan kubalas dengan pelototanku. Anak kecil zaman sekarang memang pintar, namun mengerikan.
“Kakak harus lulus SMA dulu.”
“Baru nikah ya?”
“Gaklah, kakak harus ke Jepang buat nerusin pendidikan kakak dan juga mungkin kakak dijodohin di sana sama teman papa.” jawabku sambil tersenyum kecut. Kulihat Nayla meneteskan air matanya dan berhambur ke pelukanku.
“Huwe................Kakak jangan pergi ke sana. Nanti Nayla sama siapa di sini kalau mama sibuk dan Nayla gak suka kakak dijodohin sama teman papa. Nayla mau kakak nikah sama pilihan kakak.” Aku mengelus kepalanya dan air mataku lolos begitu saja seolah aku ingin menentang keputusan itu. Namun, itu masih bisa diubah jika aku berusaha untuk menunjukkan bahwa aku mampu menemukan seseorang yang memberiku kekuatan selama ini. Aku masih tidak memiliki petunjuk apapun mengenai siapa anak laki-laki itu. Lalu, Nayla melepaskan pelukannya dan melihat ke arahku dengan senyum yang membuatku sedikit tenang.
“Kakak jangan nangis, nanti cowok kakak kabur lihat muka kakak.” Kata-katanya membuatku agak tenang dan sedikit terhibur. Bagiku, obat dari kesedihanku selain diriku adalah adikku dan tentu saja anak laki-laki itu. Bagaimana kabarnya sekarang dan apakah dia masih ingat denganku atau malah melupakanku? Terakhir kali aku bersamanya saat aku akan pindah ke Jepang saat aku di kelas 2 SD.
*10 tahun yang lalu
Tangis mendominasi di suatu kelas yang membuat sebagian siswa dan guru yang melewati kelas itu bertanya-tanya. Aku berdiri di depan kelas bersama orang tuaku sambil mengatakan sesuatu yang tentu saja mengiris hati mereka, namun bagi orang dewasa, itu adalah yang biasa terjadi di dalam hidup mereka.
“Teman-teman, aku akan pindah ke Jepang dan terima kasih atas segala perhatian dan senang telah berteman dengan kalian.” Aku mengatakannya dengan tenang seolah pindah merupakan hal yang biasa bagiku.
“Ayo anak-anak, kalian berpamitan dulu dengan Kayla sebelum Kayla pergi ya.” Bu Indah mempersilahkan anak-anak di kelas untuk berpamitan denganku. Kebanyakan dari mereka menangis dan memberikan makanan mereka kepadaku, kecuali satu anak yang dari tadi hanya diam di tempat. Aku hanya cuek dan pergi dari kelas bersama orang tuaku untuk segera berangkat ke bandara. Kudengar banyak tangisan seolah mencegahku pergi, namun apa dayaku seorang anak kecil yang hanya menurut kepada orang tuaku. Kami berjalan keluar dari gerbang sekolah, namun sesuatu membuatku menoleh ke arah sumbernya.
“Janji ya. Suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali dan sekolah ini akan menjadi saksi pertemuan kita!” seru anak laki-laki yang diam tadi sampai berlari ke arahku dengan napas tersenggal-senggal. Aku pun menghampirinya dan memberikan air minumku kepadaku. Ia menerimanya dan memberikan sesuatu kepadaku. Sebuah pembatas buku bermotif anime dan bunga mawar merah.
“Pokoknya, kamu jaga barang ini dan kita akan melakukan sesuatu dengan ini.” Janjinya sambil menunjukkan kelinkingnya dan aku menyambut kelingkingnya dengan melakukan hal yang sama.
“Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?” tanyaku dan senyumnya menjadi jawabannya.
“I......itu, nama kamu siapa?” tanyanya gugup. Aku tertawa kecil karena baru kali ini ada yang tidak mengenaliku, bahkan kita adalah teman sekelas.
“Aku Kayla. Kamu?”
“A...a...aku*.................”
........................................
Dering hpku mengangguku dan langsung kubuka chat yang ternyata baru dibentuk oleh Laily.
Dandelion 🌸🌸
*You added by Lai\_Ly cans*
Lai_Ly cans
Ayo ramaikan grup😘
Ar_fren 09
Apaan sih? Ganggu mabar
TyTo_gans
Ganggu belajar aja Kak Laily
Din_can
Kak Laily gak ada gebetan, makanya bikin grup kek gini😂
Lai_Ly cans
Maaf saja, aku jomblo berkelas😌😌
Ar_fren 09
Kelas teri maksudnya😂
*Andre\_Maulana added by Ar\_fren 09*
TyTo_gans
Kak Andre, welcome to the our group chat
Andre_Maulana
Yo, kutambahin Alex juga
Lai_Ly cans
Ok
__ADS_1
Kay_Kay
Enak aja masukin tuh kutub ke sini
Lai_Ly cans
Lah, dia kan anggota ekskul kita juga
Kay_Kay
Iya juga, aku lupa
*Ketos Kutub added by Andre\_Maulana*
Ketos Kutub
Grup apaan ini? Awas kalau isinya gak bener
Kay_Kay
Gak ngarep situ mau masuk ke grup ini juga 😛😛
Ketos Kutub
Mentang-mentang kamu ketua ekskul sok berkuasa. Lupa jabatanku siapa 😏
Kay_Kay
Bodoh amat sama jabatan situ dan situ gak punya hak nggantiin jabatanku 😛
Andre_Maulana
Nyimak kucing sama anjing bertengkar
Lai_Ly cans
Nyimak (2)
TyTo_gans
Nyimak (3)
Din_can
Nyimak (99+)
Ar_fren 09
Kay_Kay
Apaan sih? Nyimak mulu, belain aku napa
Ketos Kutub
Hanya seorang pengecut yang meminta pembelaan terhadap perkara yang tidak penting 😏
Kay_Kay
Lebih buruk seseorang yang mengetahui aib orang lain dan menyebarkan kayu bakar di sekitar orang lain
Ketos Kutub
Ia yang selalu senang tanpa tahu sakit adalah orang yang maniak dan sakit jiwa
Kay_Kay
Ia yang hanya cuek terhadap sekitarnya, sebenarnya adalah korban dari sejarahnya sendiri
Din_can
Maaf kalau menganggu acara sindiran kakak semua, aku punya judul yang cocok buat cerpen sama drama kita
Andre_Maulana
Akhirnya, sang penengah datang juga
Ar_fren 09
Apaan tuh @Din_can?
Din_can
Ide kak Arnold mengangkat rasa benci menjdi cinta, maka judulnya Kore wa Ai? Ringkasnya, bahwa ada seorang cewek yang memiliki trauma masa lalu dan merupakan bad girl di sekolahnya harus berurusan dengan ketua osis yang cueknya minta ampun. Namun, perlahan si cewek mulai merasakan sesuatu yang berbeda terhadap ketosnya itu dan banyak sekali tantangannya hanya untuk memastikan sesuatu yang berbeda itu. Gimana?
Andre_Maulana
Bagus juga idemu, untuk dramanya pake naskah cerpen yang akan kita buat ya?
__ADS_1
Lai_Ly cans
Boleh juga tuh, bagian konfliknya biar aku, Kayla sama Dinda yang kerjain. Sisanya, kerjain bagian awal dengan penyebab konfliknya
TyTo_gans
Pemeran utama dramanya siapa? Pokoknya, jangan aku yang bagian ketosnya. Kan aku baik hati gitu 😌
Lai_Ly cans
Dih, kagak milih situ juga kalik. Sok ngaku-ngaku baik 😑
Ar_fren 09
Hutangmu kurang 2 ribu buat beli es jeruk bu Gendut, balikin cepet
TyTo_gans
Pelit amat sih
Andre_Maulana
Udah, jangan bertengkar lagi. Pemeran utamanya cari yang memiliki kondisi yang hampir sama kayak gambaran Dinda
Lai_Ly cans
Kayla sama Alex aja, kan kondisi mereka hampir mirip tuh. Gimana setuju gak?
Kay_Kay
Enak aja, ogah main drama sama tuh ketos 😤
Ketos Kutub
Malas untuk bermain peran dengan cewek aneh
Kay_Kay
Kamu ingin mengajakku berkelahi ya? Ayo, besok kutunggu di depan lapangan upacara pas pagi
Ketos Kutub
Malam ini pun bahkan aku siap berkelahi denganmu
Lai_Ly cans
Diem kalian berdua! Aku setuju pokoknya. Gimana yang lain?
Andre_Maulana
Setuju (2)
TyTo_gans
Setuju (3)
Din_can
Setuju (99+)
Ar_fren 09
Setuju (999+)
Kay_Kay
Gak bisa gitu dong 😡
Ketos Kutub
Terima saja keputusan mereka dan besok akan kutunggu kamu di tempat yang kamu janjikan
Kay_Kay
Baiklah, kutunggu kamu 😏
Langsung saja, kubanting hpku dan untungnya saja, adikku telah pergi dari kamarku. Jika tidak, dia akan menjadi target kekesalanku. Aku mengambil hpku yang sempat kubanting dan menaruhnya di atas nakas. Aku menaruh kepalaku ke bantal dan mataku serasa berat seolah tak bisa diajak kerja sama, kemudian aku tertidur 5 menit kemudian.
..........................................................
Aku berjalan lemas menuju gerbang sekolah karena aku dibohongi oleh Nayla bahwa aku terlambat ke sekolah. Kalian bayangkan, betapa kaget dan kucelnya wajahku saat bangun tidur. Awas saja Nayla, aku akan membalasnya dengan lebih parah darimu. Mataku serasa berat untuk kubuka dan aku terpaksa membukanya sekian detik kemudian karena ada seseorang yang menarikku.
“Kamu dari mana aja sih Kay? Alex nungguin kamu di lapangan upacara.” Aku kenal suara ini, siapa lagi kalau bukan Laily. Mendengar nama yang ia sebutkan seolah kafein dalam hidupku dan langsung berlari kecil tanpa mempedulikan Laily yang meneriaki namaku. Akhirnya, aku sampai di sana dan banyak sekali siswa yang mengerubungi lapangan upacara, lalu dengan kecepatan kilat, gerombolan tadi kulewati tanpa peduli caci maki mereka. Setelah keluar dari desakan gerombolan tadi, kulihat laki-laki berpostur tinggi dan kacamata menghiasi wajahnya menunggu tepat di tengah-tengah lapangan upacara dan ia tersenyum sinis saat melihatku datang. Aku melangkah ke arahnya dan sampai di depannya dengan tinggiku hanya sedadanya.
“Ternyata kamu datang juga. Kukira kamu hanya menggertak saja tadi malam.” sinisku. Ia tersenyum dan membuat semua cewek di sana histeris.
“Ya ampun, seperti melihat idola saja melihatmu tersenyum. Kuakui, senyummu memang manis.” jawabku jujur tanpa memikirkan risiko saat ini. Ia tersipu dan membuat semuanya kaget dengan perubahan wajah tersebut. Ia menatapku datar dan mengatakan sesuatu yang ternyata membuatku cukup kaget.
__ADS_1
“Tidakkah kamu memiliki malu dengan mengatakan hal tersebut?! Ikut aku!” katanya sambil menarik lenganku dan aku serasa de javu dengan kejadian ini.
“Mungkin aku akan diintrogasi lagi. Ah, memang harus ya kalau dia suka sekali menyeretku😭” pikirku sampai hatiku ikut menangis. Banyak teriakan dan sindiran karena kejadian tadi dan aku tak bisa berpikir lagi karena sudah tidak bisa menahan rasa kantukku. Masih bisa kurasakan, genggamannya terasa bergetar dan aku tahu penyebabnya. Apa yang harus kulakukan agar ia terbebas dari phobianya? Hah, ngapain aku mengkhawatirkannya? Ini bukan urusanku dan seharusnya kubiarkan dia menderita saja. Namun, hati kecilku lagi-lagi tidak bisa diajak kompromi kalau masalahnya kayak gini. Entah mengapa, dunia seolah terasa kabur dalam pandanganku dan semakin lama semakin gelap dan aku tidak ingat lagi kejadian selanjutnya.