My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Rahasianya (Alex)


__ADS_3

Aku mengeluarkan uang 50 ribu untuk membayar tagihanku dan bapak penjual tersebut memberiku kembalian.


“Tidak usah, selebihnya untuk bapak dan bayar tagihan cewek yang tadi duduk bersamaku.” Bapak itu berterima kasih kepadaku dan aku menaiki motor ninjaku. Aku menghidupkan mesinnya dan melesat dengan kecepatan sedang. Aku berpikir untuk mampir membeli kesukaan Bunda, yaitu bubur sumsum di dekat sekolahku.


“Semoga saja belum tutup.” gumamku dan ternyata apa yang kuinginkan terwujud. Segera kuparkir motor ninjaku dan masuk untuk memesan bubur sumsum.


“Mas, bubur sumsumnya tiga dibungkus.”


“Siap dek, tunggu sebentar ya.” Aku pun mengangguk dan duduk di kursi yang telah disediakan. Aku mengusap peluhku sambil memikirkan kejadian tadi.


“Kenapa dia memanggilku nama itu? Padahal dia tidak tahu apa-apa soal masa laluku. Entah mengapa, genggamannya mirip dengan gadis kecil yang selalu menemaniku saat aku memiliki Gynophobia.” tanyaku dalam hati dan berputarlah kilasan masa lalu itu dengan lembaran-lembaran yang telah dilalui namun masih membekas di pikiranku.


*10 tahun yang lalu


Aku duduk di taman sendirian di bawah terik surya yang berada lurus di atasku karena aku takut pulang ke rumah takut Bunda marah-marah lagi.


“Bun, maafin Farhan hiks. Farhan janji gak akan nakal lagi. Hiks hiks hiks.” tangisku sambil mengusap-usap hidungku yang dipenuhi dengan banyak ingus. Lalu, bayangan menutupi tubuhku dan kudongakkan kepalaku dan langsung saja aku gemetaran dan takut sambil mencari perlindungan.


“Hei, kenapa kamu takut? Aku gak gigit kok.” jawab anak itu sambil tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Aku tetap gemetaran dan anak perempuan itu memegang lenganku dan langsung ketepis dengan keras.


“Pergi! Kamu perempuan jahat, suka nyakitin aku, bermuka dua.” sarkasku kepadanya dan anak perempuan itu hanya tersenyum polos.


“Kamu takut perempuan ya? Aku gak jahat kok. Ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanyanya.


“Namaku Teuku Farhan Alexandro, kamu bisa panggil aku Alex.” jawabku sambil menjaga jarak darinya.


“Namamu bagus kok. Kalau kupanggil Farhan gak pa-pa kan?” tanyanya dan aku mengangguk canggung.


“Yey, punya teman baru.” serunya sambil berjoget ria. Aku tertawa dan ia melihatku dengan polosnya. Aku pun menghapus jaraknya walaupun masih agak takut dengannya.


“Namamu siapa?” tanyaku dan ia tersenyum.


“Namaku*.................”


.....................................

__ADS_1


“Dek, dek, dek.” Panggilan penjual tersebut mengejutkanku dan aku segera mengambil pesananku.


“Berapa?” tanyaku dan penjual tersebut menunjukkan angka 10 di jarinya dan segera kubayar.


“Terima kasih dek, lain kali jangan ngelamunin pacarnya.” peringat penjual tersebut dan aku hanya tersenyum lalu menyalakan mesin motorku dan melaju membelah jalanan kota. Hanya membutuhkan waktu 20 menit, aku sampai di halaman rumahku dan menaruh motorku di garasi. Setelah menaruh sepeda, aku berjalan dan masuk ke dalam rumah. Mataku mencari keberadaan Bunda dan ternyata Bunda sedang mengambil piring di atas rak dengan tangan menumpu pada pegangan kursi roda. Aku menghampiri Bunda dan membantunya mengambilkan benda yang diinginkan Bunda. Bunda mengambilnya dari tanganku dan menghindar dariku dengan ekspresi datar. Tanganku sempat gemetar dingin karena sampai saat ini, aku masih tak bisa menyentuh tangan yang selalu menimang diriku saat masih bayi, tangan yang selalu menggenggam erat tangan kecilku saat aku takut, dan tangan yang bisa melakukan pekerjaan apapun bagaikan ibu peri dengan tongkat ajaibnya. Aku tersenyum kecut melihat sikap Bunda kepadaku. Aku menaiki tangga dan sampailah di pintu yang sebagian besar bertuliskan grafiti yang kubuat sendiri dan langsung masuk ke dalam sambil menaruh tasku. Aku mengambil handuk dan mandi dan tentu saja tak memerlukan waktu lama, aku telah selesai mandi dan mendapatkan chat dari Andre.


Andre_S


Jangan lupa nanti malam ke tempat biasa.


Aku paham maksud Andre dan langsung membalas chat dari Andre.


Alexandro


Iya.


Aku menaruh hpku di atas nakas dan tidur-tiduran di atas ranjangku. Huft, akhirnya aku bisa istirahat dan entah mengapa aku penasaran dengan buku bersampul merah itu. Aku turun dari ranjang dan mengambil buku tersebut di rak belajarku. Aku membuka halaman pertama buku itu dan kutemukan sebuah catatan kecil seolah kata-kata itu menyindir keadaanku saat ini.


Ada kalanya ketakutanmu menjauhkan orang-orang yang kamu sayangi darimu.


mana yang benar-benar menyayangimu


dan mana yang hanya memasang topeng padamu.


Jadi, tak perlu takut dan bertahanlah sebentar lagi.


Tes


Tes


Tanpa sadar, air mataku turun tanpa ada peringatan dan segera kuusap kasar.


Lalu, aku membuka lembaran selanjutnya dan menemukan kata-kata yang sekali lagi kata itu menunjukkan semua kelemahanku.


Terkadang, seseorang menyembunyikan dirinya.

__ADS_1


Di balik topeng maupun cermin yang ia buat


demi dunia yang tak tahu kefanaannya.


Bertahanlah seperti karang yang melawan ombak


walau ombak memaksanya terkikis.


Mengapa ia tahu keadaanku saat ini? Apakah ia mengalami hal yang sama denganku? Tidak mungkin, dia kan memang anaknya suka lebay gitu. Langsung kubuka lembar selanjutnya dan kutemukan sesuatu yang membuat ide terlintas di pikiranku untuk memojokkannya. Aku menandai hal tersebut dan mengambil jaketku. Aku keluar dari kamar kemudian menuruni anak tangga dan menemukan seseorang yang tak ingin aku temui sedikit pun. Dialah yang membuat Bunda menjadi sekarang dan juga telah membuatku membenci perempuan karena apa yang telah dia lakukan kepada Bunda.


“Kamu mau ke mana?” tanya seorang pria berusia sekitar 50-an dengan wajah yang terlihat seperti usia 30 tahun mencegahku pergi dan aku menatapnya cukup datar.


“Mengapa ayah baru pulang? Masih kurangkah ayah menyakiti bunda?” sindirku. Dia adalah ayahku, orang yang paling kubenci karena didikannya dan rusaknya “rumah” yang selama ini kuimpian adalah karenanya.


“Ayah ingin tahu keadaan Bunda.” jawabnya singkat. Aku tersenyum miring mendengar jawaban tersebut. Ke mana saja selama ini ia tak pernah mengunjungi Bunda?


“Silahkan saja dan jangan pernah sentuh Bunda seujung jari pun! Ia ada di kamar.” peringatku sambil menunjuk ke arah pintu yang dimaksud. Ayah hanya mengembuskan napasnya dengan kasar dan mencoba mencegahku pergi, namun aku langsung pergi dari rumah dan berjalan kaki menyusuri gelapnya jalan. Dari dulu, aku sangat ingin berdamai dengan Ayah dan memulai semuanya dari awal. Namun, logika dan kilasan masa lalu seperti tidak ingin aku membiarkanku berdamai dengannya. Kulihat bintang berkumpul bersama rembulan seolah mereka memiliki keluarga dan tatapanku berubah sendu melihat ke atas langit. Tanpa sadar, aku sudah berjalan sampai warung mie ayam tadi. Aku terpaksa berjalan lagi dan kudengar senyap-senyap ancaman dari seseorang.


“Preman ya?” pikirku dan aku mendekat ke arah suara dan mendengar dengan jelas suara tersebut.


“Hah?! Gak tulus banget. Cepet minta maaf atau......” Entah mengapa firasatku tidak enak dan kulihat ternyata para preman itu ingin melecehkan cewek itu.


“Heh?! Jadi gitu ya? Silahkan saja.” tawarnya dan tanpa ba bi bu, aku berlari dan melayangkan bogeman mentah ke arah mereka. Cewek itu kaget dan menoleh ke arah belakang. Iris hazelnutku menangkap iris hitam yang tentu saja kukenal dan aku melihat wajahnya dan sempat terpukau dengan wajahnya di bawah rembulan didukung dengan rambut sepunggungnya yang tertiup angin sepoi malam menambah sebuah kesan bagiku yang tak terasa asing bagiku.


“Cantik.” gumamku dan langsung tersadar dengan apa yang kuucapkan dan langsung kutunjukkan wajah yang menjadi khasku.


“Ngapain kamu ke sini?” tanyanya judes.


“Terserah.” jawabku datar.


“Gitu ya, ternyata kamu bisa melawan phobiamu ya?” sindirnya dan aku mengedikkan bahuku.


“Baiklah, aku pulang dulu.” pamitnya dan spontan tanganku memegangnya mencegahnya pergi. Aku langsung melepasnya dan mengalihkan pandanganku ke arah lain.


“Fu fu fu, ternyata ketua OSIS kita sedang mencari perhatianku. Ini suatu berita besar untuk besok.” Ucapannya membuatku sakit telinga, namun aku memiliki rahasianya. Ujung bibirku tertarik ke atas dan membuatnya bingung dengan maksudku.

__ADS_1


“Mungkin benar. Namun, jangan lupa aku memiliki sesuatu.” jawabku sombong dan mendekatkan diriku ke telinganya. Namun, rasa takut seolah mencegahku mendekatinya. Entah sebuah dorongan mana memberiku kekuatan dan bisa mengatasi masalah yang kuhadapi. Aku membisikkan sesuatu kepadanya dan sempat tersenyum penuh kemenangan lalu langsung lari dari hadapannya. Aku tidak peduli dengan ekspresinya dan pikiranku tak bisa menyingkirkan tentangnya? Entah, mungkin hanya perasaanku saja dan tetap berlari meninggalkannya.


__ADS_2