My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Dari Mata, Turun ke............? (Kayla)


__ADS_3

Ah, hari ini aku mengalami kejadian yang memalukan sekali tadi pagi. Bayangkan saja, aku sedang ganti baju dan si kutub malah masuk dalam keadaan telajang dada. Spontan, aku melemparkan baju yang kupakai ke arahnya. Rasanya, aku tidak ingin mengingat kejadian itu dan sekarang, aku malas untuk pergi ke kantin saking malunya dengan kejadian tadi. Dasar Laily, dia malah meninggalkanku dan memilih pergi dengan Andre, sahabat dari si kutub.


“Mungkin aku akan menyusul Laily ke kantin, mumpung perutku minta demo untuk mengisi asupan harian.” Aku berdiri dan meninggalkan kelas untuk ke kantin. Keadaan kantin cukup ramai dan aku memutuskan untuk membeli air putih sebelum membeli bakso Bu Iyem. Untung saja, kantin Bu Sholeh tidak terlalu ramai sehingga aku tidak perlu susah payah mengantri lebih lama di sana. Saat aku ingin meneguk air putihnya, seseorang menabrakku dan airnya mengenai rokku dan untungnya, masih sempat aku melihat siapa pelakunya. Iris hitamku menangkap iris hazelnut yang sedang mencari sapu tangannya dan ia malah melemparkan sapu tangannya ke arahku lalu meninggalkanku begitu saja. Barusan, aku merasa de javu dengan kejadian ini. Ah, saat seminggu setelah MOS dan itu hari pertamaku masuk kelas X. Benar-benar takdir yang tidak terduga. Aku mengelap rokku dengan sapu tangan tersebut dan berjalan sambil mencari keberadaan Laily. Aku melihatnya berada di pojok kantin bersama Andre. Aku berlari ke sana dan memeluknya dari belakang.


“Laily,” ucapku manja sambil menenggelamkan kepalaku di bahunya.


“Apa sih Kay? Geli tahu.” usirnya dengan gaya alay.


“Gitu ya, aku ditinggalin dan kamu lebih memilih dia yang ternyata sekutu dari si kutub.” ambekku sambil memukul pelan bahu Laily.


“Gak usah alay, Kay. Kamu di depanku dan teman ekskul, dan nambah lagi di depannya Andre, kamu nunjukin tingkah manjamu. Sedangkan di depan Alex, kamu seolah menganggap dia musuh. Memang apa salahnya? Alex itu enggak sama dengan dia yang udah ninggalin kamu selama ini.” Pernyataan Laily membuatku tersenyum kecut. Memang benar, Alex berbeda dari dia, namun sejak kapan aku melihat Alex seperti dia? Aku menggelengkan kepalaku dan menatap ke arah mereka berdua.


“Benar apa yang dikatakan Laily, selebihnya itu rahasia.” jawabku sambil meminum air putihku dan memegang sapu tangannya.


“Bukannya itu milik Alex?” tanya Andre daan Laily menoleh ke arah sapu tangan yang kupegang.


“Iya, tadi dia tidak sengaja nabrak aku dan rokku menjadi basah. Jadi, dia memberikan sapu tangan ini dan pergi begitu saja tanpa tahu bahwa yang dia tabrak adalah aku.” jelasku kepada mereka dan mereka mengangguk paham.


“Kay, tadi Alex nitip flashdisk ke aku. Katanya, kita diskusi kelompok tanpa dia karena ada urusan.” kata Laily sambil memberikan flashdisknya kepadaku.


“Baiklah, nanti jam pelajaran wali kelas kita kan jamkos, langsung kumpul ke gazebo di dekat aula buat diskusinya dan bilang ke anak-anak ekskul, nanti pulang sekolah langsung kumpul di ruangan ekskul.” titahku lalu pergi ke warung Bu Iyem untuk membeli bakso. Sesampainya di sana, aku memesan bakso dan tak perlu menunggu terlalu lama, pesanan baksoku jadi dan langsung pergi menuju meja di mana Laily dan Andre berada. Di tengah perjalanan, baksoku jatuh karena senggolan dari Zaskia, salah satu antek-anteknya Anaya.


“Maaf ya, tanganku gak sengaja nyenggol.” katanya dengan senyum jahat. Hei, kukira aku takut hanya kamu antek-anteknya Anaya? Aku tersenyum ke arahnya dan tanpa ba bi bu, aku menarik kerahnya dengan kasar.


“Kembalikan baksoku atau hari ini akan aku hancurkan wajahmu dengan kuah bakso di bawah?” ancamku dengan senyum licik. Dia langsung melepaskan tanganku dari kerahnya dan mengambil sesuatu di dompetnya dan langsung melemparkan beberapa uang 100 ribu ke arahku.


“Ambil tuh uang buat gantiin bakso loe!” sarkasnya yang membuat seluruh anak-anak di kantin tertuju pandangannya ke arah kami. Aku memungut uang yang jatuh tadi dan menamparnya dengan uang yang kukumpulkan tadi.


“Maaf saja, uang sebanyak ini tidak akan bisa menggantikan apa yang kamu lakukan kepadamu.” sindirku lalu meninggalkannya yang sedang kesal. Emosiku tak bisa kutahan sejak tadi, namun kutahan karena aku sadar bahwa ini di sekolah. Ah, rasanya aku ingin melampiaskan emosi ini, tapi kepada siapa? Ya mana mungkin aku melampiaskannya kepada Laily yang paling gak suka kalau ada yang mengganggunya saat bersama cowok. Katanya, itu akan menentukan proses PDKT ke depannya. Aku tidak percaya dengan hal itu sejak dia meninggalkanku dalam lara yang ia ciptakan. Aku berlari dan tidak sengaja menabrak seseorang dan keluarlah semua yang kupendam tadi.


“Siapa sih yang nabrak? Situ gak pake mata liatnya. Tadi baksoku ditumpahin sama antek-anteknya Anaya, Zaskia dan aku pingin banget nabok mukanya yang sok kemayu dan norak gayanya dan parahnya, aku lagi pingin bakso dan aku sekarang lagi bokek.” curhatku kepada seseorang yang kutabrak.


“Lakukan saja.” Suara ini...........jangan bilang kalau itu si kutub? Aku menengok ke atas dan benar saja, itu adalah si kutub.


“Lari!” seruku sambil berlari menuju kelas dengan kecepatan penuh dan kulihat dia malah mengejarku.


“Tunggu!”

__ADS_1


“Gawat! Beruang kutub ngejar aku!” teriakku di koridor yang sedang ramai dan mereka semua melihat ke arahku dan seolah tahu apa yang kuinginkan. Mereka membuka jalan untukku sehingga aku bisa kabur darinya.


..................................................


Kakiku terasa sakit karena aksi kejar-kejaran tadi dan aku langsung pergi ke ruangan ekskul setelah berdiskusi masalah tugas yang diberikan Bu Wiwik. Sempat terjadi kesalapahaman karena Rio salah menuliskan bagiannya dan aku juga yang harus merevisinya. Aku berjalan melewati koridor yang sepi karena jam segini anak-anak sudah pulang dan sampailah di depan pintu yang bertuliskan Dandelion dan membukanya. Semua anggota telah berkumpul di sana, termasuk si kutub. Aku duduk di sofa yang memang sudah disediakan dan berdeham.


“Baiklah, kita akan melakukan pekerjaan kita membuat cerpennya dan aku akan membagikan bagiannya. Arnold, Andre,dan Tyo, kalian bagian pengawal cerita dan membuat konflik sampingan yang akan memunculkan konflik utamanya, Laily dan aku bagian......................” jedaku karena Dinda mengangkat tangannya.


“Ada yang perlu disanggah?” tanyaku.


“Aku mau sama kak Laily atau kak Tyo karena aku merasa agak sungkan jika harus bersama kak Alex.” jawabnya jujur. Aku tersenyum lebar dan mengiyakan pendapatnya tersebut.


“Baiklah, kita lanjut...............”


“Cie, pucuk dicinta ulam pun tiba. Bilang aja dari tadi, kamu bilang kayak gitu buat kode.” celetuk Arnold diikuti cengegesan Tyo. Aku melempar sepatuku ke arah mereka dan malah meleset. Arnold mengambil sepatuku dan memberikannya kepadaku dan aku menatap ke arahnya.


“Kita rombak untuk pembagian pengerjaan cerpennya, sekaligus beberapa hal untuk drama kita. Arnold, kamu urus bagian pembukaan dan konflik pertama, Aku sama Alex bagian konflik utama dan urusan panggung, Tyo sama Dinda, selesaikan bagian endingnya dan urus bagian kostum, dan Andre dan Laily bagian promosi dan hadiahnya.” jelasku. Andre mengangkat tangannya dan aku mempersilahkannya untuk berbicara.


“Untuk apa hadiah dan butuh berapa hadiah yang dibutuhkan? Saat aku melihat catatan keuangannya di Laily, pemasukan kita tersisa 250 ribu dan perkiraan anggaran yang dibutuhkan untuk acara ini sekitar 2 juta untuk hadiahnya, belum termasuk ukuran hadiahnya, biaya kostum, dan promosinya.” ungkapnyadan aku mempersilahkan dia duduk.


“Menurut pengamatanku, anak-anak di kelasku yang sebagian besar masuk ke dalam geng Anaya menggunakan dana milik papanya Anaya untuk penampilan mereka satu hari penuh dan itu akan dilakukan tanpa sepengetahuan OSIS karena hal ini akan dilaporkan langsung kepada kepala sekolah kita yang ternyata merupakan teman dari papanya Anaya. Perkiraan mereka ke sana saat jam pulang sekolah.” lapornya dan aku mengangguk dan tersenyum.


“Begitu ya? Untuk masalah Anaya, biar aku dan Alex yang memikirkannya dan jangan sampai kalian sampai ikut campur dan terima kasih atas laporannya, Dinda. Baiklah, lakukan tugas kalian dan khusus Arnold, lusa harus sudah selesai. Ada pertanyaan?” tanyaku dan mereka diam.


“Baiklah, kita akhiri rapat hari ini dan selamat sampai tujuan ya. Mata ashita minna san (sampai jumpa besok, semuanya)" pamitku kepada mereka.


“Mata ashita, kaichou (sampai jumpa besok, ketua).” Mereka pergi dari ruangan ekskul, disusul aku dan Laily yang keluar dari ruangan ekskul. Kami berjalan di koridor yang kulalui tadi sambil berbincang-bincang tentang banyak hal.


“Memang kamu bisa mencegah hal itu terjadi? Kamu sama Alex aja belum tentu ada yang mendukungnya.”


“Pasti bisa kok.” jawabku singkat.


“Tapi..............”


“Masih bisa dilakukan selama kita mau berusaha! Percayalah kepadaku.” jawabnya yang ternyata di belakang kami dan itu tentu saja membuat kami berdua kaget.


“Alex, ngapain nguping pembicaraan kami?” tanyaku datar.

__ADS_1


“Kalian terlalu kencang berbicaranya.” jawabnya datar juga. Lalu, ia mengeluarkan hpnya dan mulai menelpon seseorang.


*Tut


Tut*


Tut


“Ada apa Tuan Muda?”


“Bisa datang besok?”


“Untuk kepentingan apa? Apakah ini berhubungan dengan Tuan Besar?”


“Tidak, ini urusan sekolah dan ini sangat penting.”


“Hanya saya yang akan menemani Tuan Muda di sana?”


“Tidak, ada seorang gadis yang ikut, Kayla namanya dan pulang sekolah kamu harus berada di tempat.”


“Baiklah, segera saya laksanakan.” Aku mendengar senyap-senyap dari percakapan mereka. Tuan Muda? Sekaya apa dia sampai panggilannya seperti itu? Bodo amat dengan kedudukannya dia, yang penting, masalah Anaya bisa kuselesaikan. Saat dia ingin pergi, tiba-tiba tanganku memegang lengannya sehingga membuat Laily kaget dan ia menatapku tajam dan bisa kulihat iris hazelnutnya mengatakan sebaliknya dan ia seolah ingin aku mengatakannya.


“Em........Anu...........”


Krucuk


Malunya aku karena perut ini minta didemo karena sejak istirahat sampai sekarang, aku belum mengisi perutku. Kulihat ia menutup mulutnya seperti menahan tawa.


“Cepat, ikut aku!” ajaknya sambil menarik tasku.


“Lepasin gak? Aku sama Laily aja.” rajukku sambil menatap iba ke arah Laily.


“Ly, kamu pulang saja!” serunya datar dan Laily seolah menuruti perkataannya dan mulai pergi meninggalkanku. Ia tersenyum kecil dan mulai menarikku entah mau dibawa ke mana. Dan kulihat, dia membawa ke kantin dan mendudukkanku di bangku kantin yang kosong. Ia menghampiri warung Bu Iyem dan memesan sesuatu.


“Masa dia pesenin aku bakso? Ah, mana mungkin si kutub pesenin aku? Nanti aku dikira kegeeran.” pikirku dan kelamaan memikirkan hal tersebut, tak sadar kehadirannya dan memberikan semangkuk bakso dan es jeruk kepadaku. Mataku berbinar melihatnya dan tak lupa berdoa dan langsung menambahkan sambal ke dalam baksoku. Aku memakannya dengan lahap saking laparnya. Dia tersenyum kecil melihatku makan dengan lahap dan aku bodoh amat dengan senyumannya. Tak lama kemudian, makananku habis beserta minumannya dan aku memberikan 50 ribu kepadanya dan ia menolaknya sama seperti kemarin.


“Kamu pulang dulu.” ucapnya sambil mengelus kepalaku dan kulirik tatapannya terasa teduh seolah dia memberikanku sangkar yang bernama kenyamanan. Semburat merah muncul di pipiku dan aku mencoba memegang tangannya sebentar dan langsung menepisnya, lalu pergi meninggalkan dia dalam kesunyian kantin yang menjadi saksi apa yang ia lakukan kepadaku. Perutku serasa ada kupu-kupu terbang ke sana kemari dan jantungku berdetak lebih kencang. Apa ini ya rasanya dari mata turun ke hati dan perut?

__ADS_1


__ADS_2