
“Dasar cewek heboh, ke mana dia saat ini? Bikin repot orang aja,” gerutuku sambil mencarinya di tempat terakhir aku bersamanya sambil memegang senter besar milikku. Ini terjadi begitu saja saat aku kembali ke villa.
*4 jam yang lalu
Aku baru saja kembali ke villa setelah hukuman tadi dan dinginnya malam membuatku menggigil dan berniat kembali ke sana untuk mengambil, namun tangisan dari Laily membuatku tertarik untuk menghampirinya.
“Kay mana hiks? Kalian kok gak kelihatan hiks dia?” racaunya sambil terduduk lemas di lantai dan Rena mencoba membantunya berdiri, namun gravitasi lantai menahan Laily untuk berdiri.
“Kok kalian hiks hiks tega ninggalin Kayla hiks. Salah apa dia hah?” tanyanya sambil menarik lengan baju Rena dan mencoba melepasnya, namun Andre menahan lengan Laily dan Arnold menjauhkan Rena dari jangkauan Laily yang sedang dikalang emosi saat ini. Aku menghampiri mereka dan mendekati Laily. Namun, tamparan darinya membuat semuanya di sana terkejut bukan main, begitu juga denganku dan aku menatapnya dengan dingin. Tatapan yang ia balas kepadaku lebih tajam, bahkan hampir mirip saat cewek itu menatapku.
“Kamu kan yang sama Kayla? Tanggung jawab!” emosinya meledak-ledak, bahkan sampai ia mendorongku keras sampai aku mundur beberapa langkah dan dengan sigap, Andre menahan Laily saat ini. Aku mengangguk dan melihatnya lagi lalu mendekatinya lagi dan ia masih melakukan hal yang sama kepadaku walaupun ia ditahan oleh Andre. Ternyata, kekuatan seorang cewek tak bisa kuremehkan saat ia emosi.
“Aku tidak ingin mencarinya, lagipula pasti dia ada di sekitar sini,” jawabku asal, namun tubuhku mulai bergetar hebat setelah ditampar dan didorong oleh Laily.
“Kenapa harus kumat di sini? Aku butuh obat sekarang!” gumamku dan berlari menuju kamarku menaiki tangga, namun tangan Laily menahanku dan pandanganku perlahan kabur.
“Cari Kayla atau kamu akan mati!” ancamnya dan aku mengangguk lalu melepas tangannya dariku.
“Andre dan Arnold, tenangkan mereka berdua dan bantu aku mencari Kayla setelah aku ke kamar ambil senter,” titahku dan mereka mengangguk lalu mengerjakan apa yang disuruh olehku. Untungnya, pandanganku tak terlalu kabur jadi aku masih bisa menaiki tangga walaupun jalanku masih memegang pegangan tangga. Aku mulai berlari dan menuju kamarku untuk mencari obat di dalam tasku. Aku pun menemukannya dan meminumnya degan air mineral yag kubawa sendiri dari rumah. Aku menghembuskan napas lega dan mencari senterku dan ternyata, senternya ada di atas nakas. Aku bergegas turun ke bawah dan keluar dari villa untuk mencarinya.
"Kay."
"Kay."
"Kay."
Aku mencarinya seorang diri karena Andre dan Arnold nampaknya masih kesusahan menenangkan Laily dan Rena. Saat ini, aku berada di kebun teh tempat aku dan ia dihukum. Aku mencoba menelponnya, namun yang mengangkatnya malah bukan dia.
“Apa Lex?”
“Kok hpnya ada di kamu?”
“Hpnya ketinggalan di kamar dan sekarang, Bu Wiwik sama Pak Wahid ikut nyariin Kayla.”
“Gitu ya.”
“Laily bilang kalau kamu harus membawa
kembali Kayla dan minta maaflah kepadanya.” Aku mengerutkan dahiku karena aku disuruh minta maaf kepadanya. Aku salah apa? Aku menghembuskan napas dan memberi jeda sesaat.
“Iya.”
“Oke, btw kontakmu diberi nama Kutub Ketos. Emang kamu gak marah?”
“Untuk apa marah? Lagipula, perasaan seseorang akan berubah seiring kamu terbiasa dengannya.” Aku mengatakannya seolah aku berbicara dengannya hari ini.
“Kamu kenapa Lex? Kayak bukan kamu yang biasanya.”
“Aku harus mencarinya lagi.” Aku mematikan teleponnya secara sepihak dan mulai menuruni jalan kebun teh dan mencari di setiap pelosok, namun hasilnya nihil dan aku hampir menyerah untuk mencarinya*.
..........................................
Aku terduduk sampai sekarang di kebun teh saat terakhir kali kami bertemu. Aku menggosok-gosokkan tanganku berharap ada kehangatan sedikit darinya. Aku menatap langit malam yang cukup terang karena sinar dewi malam. Angin malam seolah memberitahuku keberadaannya dan aku mulai berlari mengikuti apa katanya dan sampailah aku di depan hutan belantara dan entah kenapa, firasatku mengatakan bahwa ia ada di dalam sana.
“GYA!!!!!!!” Tanpa ba bi bu, aku masuk ke dalam hutan itu dan mencoba mencari sumber suara tersebut, namun yang kutemukan malah tanda X di setiap pohon yang kulalui. Mungkinkah ia sempat di sini dan dikejar oleh seseorang? Rasa penasaran pun muncul dan aku mencoba mengikuti tanda X ini ke mana, namun aku malah kembali ke tempat awal aku menemukan tanda tersebut.
*Srek
Srek
Srek*
Aku menoleh ke arah semak belukar dan mencoba menyinari tempat tersebut dengan senter, namun tak ada pergerakan di sana.
*Srek
Srek*
__ADS_1
Aku melakukan hal yang sama, namun karena pergerakannya cepat sekali dan tiba-tiba sosok hitam itu mulai mendekat dan aku mengambil ancang-ancang untuk melawannya dan sosok hitam itu mendekat dan aku memegangnya dengan mudah.
“Mas, tolong lepasin saya mas,” pintanya dan aku meneranginya dengan senterku dan ternyata, ia hanyalah seorang pemuda yang berperawakan agak tambun dan memakai kaos berwarna hitam dan celana pendek berwarna biru laut.
“Di mana Kayla?” tanyaku to the point dan ia ketakutan karena aku menatapnya dengan tajam bagai elang.
“Kayla? Saya gak tahu mas, kalau cewek sih saya lihat karena saya kira dia maling di sini yang sering neror warga, makanya saya kejar dia dan saya gak tahu lagi di mana dia,” jelasnya dan aku menatapnya dengan tajam lagi.
“Di mana?” tanyaku datar dan ia menunjukkan ke arah timur dari tempat kami sekarang.
“Ikut saya sekarang!” titahku dan ia mengangguk ketakutan. Aku mengarah ke arah timur dan mencarinya sambil memegang baju laki-laki tersebut takut ia malah kabur.
*Srek
Srek*
Aku mendengarnya dari semak belukar di depan sana dan aku menatapnya datar.
“Temanmu?”
“Bukan mas, saya sendiri aja.” Aku pun mencoba mendekatinya dan entah kenapa, jantungku berpacu kencang sekali dan meneguk salivaku untuk menutupi rasa takutku. Saat aku telah dekat dengan semak belukar tersebut, aku langsung menyenterinya dan seseorang dengan kantung mata hitam dan rambut panjang melihat ke arahku.
“GYA!!!! Hantu mamak,” teriak laki-laki tersebut dan aku menatapnya datar, namun seseorang lari ke pelukanku sambil menangis.
“Huwa, aku takut banget. Ada tengkorak di sana,” adunya sambil menangis. Tubuhku langsung bereaksi seperti sebelumnya, namun kutahan dan mengelus kepalanya.
“Akhirnya, kamu ketemu juga,” jawabku datar.
Deg
Deg
Deg
Kenapa? Rasanya lega sekali setelah aku menemukannya dan rasanya, aku ingin sekali menjadi pelindung baginya. Ia pun menoleh ke arahku dan langsung melepas pelukannya.
“Kamu cari siapa?” tanyanya dan aku menatapnya datar.
“Laki-laki yang bersamaku, mungkin dia sosok hitam yang mengejarmu,” jawabku singkat dan wajahnya berubah menjadi merah.
“Mana dia? Kucekik baru tahu rasa dia!” ancamnya dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Di mana tengkoraknya?” tanyaku to the point karena tak bisa menahan rasa penasaranku. Wajahnya berubah suram seketika dan menunjuk ke arah selatan dan aku mengulurkan tanganku kepadanya. Ia mengerutkan dahinya dan aku tetap melakukan hal yang sama.
“Kamu ingin phobiamu kumat ya? Aku bisa jalan sendiri.”
“Pegang saja.”
“Nanti kumat lagi, aku yang disalahkan sama Dr. Hayati.”
“Mendingan.”
“Apanya mendingan? Aku tahu phobiamu kumat dari reaksi tubuhmu.” Aku diam seribu bahasa seolah tak bisa menyangkal perkataannya.
“Mau kutinggal atau pegang tanganku?” Ekspresinya langsung berubah dan mulai menerima uluran tanganku.
“Bu....Bu...kan berarti aku su...su...ka kamu,” jawabnya gagap sambil mengembungkan pipinya dan menurutku kegemasannya meningkat.
“Iya, iya.” Akhirnya, kami menyusuri ke arah selatan sambil berpegangan tangan. Tangannya terasa kecil dan seolah tenggelam dalam genggamanku yang dari tadi bergetar karena phobia ini.
“Suatu saat, aku akan menggenggam tangan dengan benar. Tanpa phobia ini pastinya” cicitku dan aku tersadar apa yang kukatakan tadi.
“Apa yang kamu katakan tadi?”
“Lupakan.” Aku tak tahu lagi bagaimana merahnya wajahku saat ini dan aku bingung karena selalu ada rasa nyaman yang ada saat bersamanya.
“Inikah awal rajutan dari kisah kita berdua?” pikirku sambil menatap langit malam yang dihiasi dewi malam dan bintang seolah menatap kami kembali.
__ADS_1
...................................
“Di mana?” tanyaku dan ia menunjuk ke arah gua gelap di depan sana. Aku menariknya menuju ke sana, namun ia terdiam di sana sehingga aku harus menariknya dengan tenaga lebih.
“Gak mau!”
“Ke sana!”
“Enggak!”
“Ke sana!”
“Enggak!”
“Ke sana atau hukuman untukmu tetap diberlakukan?” ancamku dan sepertinya ia hanya bisa pasrah dan aku menariknya menuju gua tersebut. Gelap dan seram. Mungkin itulah kesan yang kuberikan untuk gua ini. Namun, kesan seram menurutku saat para cewek mengerubungiku dan mulai memegang tanganku, namun aku langsung tepis tangan mereka. Aku menyinari gua gelap tersebut dengan senter yang kubawa dan tiba-tiba, di salah satu dinding gua, tengkorak yang kepalanya tertancap oleh tombak menatap kosong ke arah kami seolah mencoba ingin menyapa kami.
“GYA!!!!!!” teriaknya dan aku menepuk kepalanya.
“Jangan berisik!” peringatku karena firasatku mengatakan ada yang aneh dengan tengkorak tersebut. Aku mendekatinya, namun Kayla menahanku dan aku mengelus kepalanya agar ia tetap tenang. Ia mengangguk lemah dan aku mendekat ke arah tengkorak tersebut dan melepaskan tombak tersebut darinya dan aku menemukan bekas telapak tangan di tombak tersebut dan jejak kaki yang samar-samar terlihat di lantai gua dan jejak kaki tersebut mengarah ke dalam gua.
“Sepertinya, kita harus masuk ke dalam gua lebih dalam lagi.” Ia menggelengkan kepalanya tak setuju dengan pernyataanku tadi.
“Kamu ingin kita mati ya? Di sini aja udah seram, apalagi di dalam.” Aku menoleh ke arahnya dan mencoba untuk membuatnya mengerti.
“Kemungkinan gua ini adalah tempat yang strategis bagi para pencuri untuk bersembunyi dan menyimpan barang curiannya karena gua ini memiliki kisah mistis dari masyarakat sekitar dan ia memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukannya,” jelasku dan tatapan matanya berubah menjadi berbinar-binar.
“Wah, kenapa kamu kok bisa menyimpulkan itu dengan gampang?” tanyanya dan aku menunjukkan tombak yang kucabut dari tengkorak tersebut dan jejak kaki yag kulihat tadi kusoroti dengan cahaya senter dan ia mengangguk paham.
“Jadi, tombak dan jejak kaki ini adalah petunjuk pencuri yang kita miliki sekarang? Mungkin mereka sudah tahu kita ada di sini dan mencoba melawan kita bukan?” tanyanya dan aku memgangguk.
“Intuisimu sebagai penulis mulai keluar ya? Sampai bisa segitunya ya?” tanyaku.
“Bisa jadi, namun semakin aku dekat denganmu, intuisiku bertambah tajam.” Aku hanya mengangguk malas mendengar alasannya. Kenapa ia menjadi lebih agresif sekarang? Kukira dia hanya ingin menyembuhkan phobiaku, tapi ia malah agresif mendekatiku. Aku menghela napas dan memilih untuk meneruskan penelusuran mengenai misteri ini. Aku menyusuri gua lebih dalam dan Kayla menggenggam bajuku dan tangannya bergetar menahan takut.
“Kalau takut, kita kembali saja. Kita laporkan kejadian ini kepada pihak berwajib dan perangkat desa sini.” Ekspresinya berubah sebal dan langsung memukul punggungku dan rasa sakitnya begitu terasa sampai tulang belulangku.
“Kuat juga nih anak, padahal gak ada catatan dia ikut bela diri,” pikirku sambil menahan sakit akibat pukulannya.
“Gak, dan lagipula, aku kasihan sama ketos kita ini karena selain memiliki Gynophobia, aku takut dia ada phobia lain selain yang kusebutkan tadi,” sindirnya dan aku menggarukkan kepalaku yang tidak gatal karena sifatnya yang kadang suka berubah-ubah seperti cuaca. Memangnya cewek itu sifatnya suka berubah-ubah?
*Brak
Brak*
Aku mendengar suara tersebut dan langsung berlari menuju sumber suara, namun di hadapanku ada 2 buah jalan yang sangat gelap dan jejak kakinya pun berakhir sampai sini.
“Hei, kenapa kamu meninggalkanku tadi? Eh, kok ada 2 jalan di sini?” tanyanya dan aku mengedikkan bahuku. Di mana sebenarnya jalan menuju sumber suara tadi?
“Kupikir jalur sebelah kiri ini jalan yang kamu cari.” Aku menengok ke arahnya dan ia memegang pundakku.
“Aku tidak bisa menjelaskannya, namun angin di dalam gua ini memberitahuku tentang itu,” jelasnya dengan bangga dan aku meatapnya ngeri karena tidak mungkin firasat seperti itu benar. Ia merebut senternya dariku dan aku melotot ke arahnya lalu ia menjulurkan lidahnya. Aku berdiam sejenak untuk menyimpulkan dengan 2 bukti yang kami temukan, namun jalan buntu menjadi akhir dari pemikiranku dan melihatnya berjalan agak jauh dan aku berusaha mengikutinya dari belakang dan udaranya semakin dingin saja.
*Brak
Prang*
“Kerja yang benar! Memangnya kalian ingin orang lain tahu kita menebar teror itu?” Senyap suara tersebut membuatku percaya bahwa firasat Kayla terkadang ada benarnya.
“Itu suara para penyebar teror sekaligus penyebab aku ketakutan tadi.” Ia pun berlari dan aku mengikutinya dan suara tersebut menjadi sangat jelas.
“Apaan sih? Tadi hampir aja ketahuan sama anak cowok tinggi yang pake kacamata dan serem banget anaknya, padahal dia masih SMA.”
“Alah, banyak alasan loe! Di sini, selain kita nyebar teror dan mencuri, kita culik aja tuh cewek yang loe kejar.”
“Ngomong kek gitu mah gampang, coba loe lakuin kayak gua. Capek bro, tuh cewek kenceng banget larinya.” Suara ini sepertinya aku kenal. Ia pun langsung menggrebek mereka tanpa aba-aba dariku.
“Dia ini cari mati ya? Malah nekat masuk sana,” gumamku dan langsung mengejarnya. Mataku menajam seketika melihatnya terkulai lemas dan mereka hendak memperlakukannya secara tak senonoh dan langsung menghajar mereka.
__ADS_1