My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
New Student (Alex)


__ADS_3

Aku menguap setelah mendengar cerita dari Pak Jamal, guru BK yang lumayan membosankan bagiku saat membicarakan beberapa siswa/i, termasuk perlakuan istimewa OSIS kepada Kayla sejak separing.


“Lagi pula pak, saya menjadi penanggung jawab Kayla agar dia tidak melakukan kesalahan di sekolah ini sekaligus penjaminnya. Jika Kayla melakukan kesalahan, Pak Jamal bisa menghukum saya.” Mungkin kurang lebih itu jawabanku kepada beliau dan beliau langsung terdiam setelah tahu bahwa aku adalah penjamin darinya. Baru kali ini, aku rela menjadi penjamin seseorang, apalagi itu kepada Kayla. Kupikir, anggap ini sebagai rasa terima kasihku kepadanya atas apa yang dia lakukan kepadaku. Sudah 1 minggu sejak tour itu, aku dan Kayla tidak saling sapa dan rasanya damai sekali karena ia tak memacu emosiku dan entah kenapa, rasanya ada yang kosong. Mungkin hatiku? Aih, ngapain aku berpikir sejauh itu hanya karena cewek itu.


Kring


Kring


Bel berbunyi dan siswa/i mulai masuk ke kelas lalu di belakang mereka, Bu Wiwik datang dengan tatapan seperti biasanya.


“Selamat pagi anak-anak.”


“Selamat pagi bu.”


“Hari ini, kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk.” Seorang siswi dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan saat aku memperhatikannya ke atas, mataku terbelalak bahwa dia adalah gadis cosplayer yang meminta nomor hpku.


“Selamat pagi teman-teman. Perkenalkan, namaku Joanna Martin Agustin dan aku biasa dipanggil Joan atau Anna. Mohon kerja samanya,” kenalnya dan para laki-laki berebut untuk bertanya kepadanya dan aku hanya melihatnya dan tak sengaja, mata kami bertemu dan matanya langsung berbinar-binar setelah melihatku. Ia berlari ke arahku dan berniat untuk memegang tanganku, namun kerah seragamnya ditarik oleh Kayla.


“Lepasin gak?” berontaknya.


“Untuk apa?’ tanyanya datar.


“Aku ingin mendekati laki-laki ini karena dia telah menolongku.” Ia melihat ke arahku dan aku mengangguk saja dan biarkan alurnya dia yang membuatnya.


“Gomenasai Anna chan, watashitachi wa koibito darou. Dakara, kare kara te o hanashite! (Maaf ya Anna chan, kami ini sepasang kekasih. Maka dari itu, jauhkan tanganmu darinya!"


“Baka na! Anata wa? Shinjirarenai ne,(Tidak mungkin! Kamu ya? Tidak bisa kupercaya,)" sindirnya dan melepas paksa kerahnya. Aku saja tak tahu bahasa apa yang mereka gunakan, namun pastinya mereka akan bertengkar di kelas.


“Oh ya, untuk tur keliling sekolah, ajak aku juga karena aku tak yakin kamu aman bersama murid ini,” ucapnya sambil menunjuk murid baru itu.


“Cari masalah ya?” tanya murid baru itu dengan nada menantang dan Kayla menoleh ke arahnya lalu senyum terukir di wajahnya membuat lawan bicaranya bingung dengan apa yang dilakukannya.


“Kelas ini bakal jadi medan perang nih,” seru salah satu cowok di kelasku.


“Siapa yang bakal menang bro?”


“Kalau gua sih, anak baru soalnya baru kali ini ada yang berani deketin ketos kita dan dia lakuinnya di depan pacarnya, Kayla.” Aku mendengarnya dan menatap tajam ke arah mereka dan mereka langsung melihat ke arah lain.


“Menurut gua, Kayla yang menang. Kan dia sering tuh kena masalah apalagi ketos kita langsung turun tangan buat ngeladenin Kayla.”

__ADS_1


“Ayo Kay! Hajar tuh anak baru sama kata-katamu!”


“Ayo Anna, taklukkan Kayla dengan femininmu,” seru beberapa cewek kelas, kecuali Laily dan Rena yang tentu saja mendukung Kayla. Kedua cewek itu bertatapan tajam dan beradu seperti harimau dan singa yang ingin mempertahankan teritorinya. Aku hanya melihat ke arah lain dan mengabaikan apa yang terjadi selanjutnya karena aku tak ada hubungannya dengan mereka.


“Woi Lex, mau pilih Kayla musuh bebuyutan atau Anna murid baru?” tanya Steven, playboy kelas kakap dengan senyum khasnya yang membuat cewek mana pun meleleh seketika. Hanya saja, senyumnya tak mempan pada 3 cewek di kelas, yaitu Laily, Rena, dan Kayla. Aku menatapnya datar dan melihat ke arah lain tak ingin menjawab pertanyaan tak berbobot tersebut.


Brak


Pukulan di papan tulis membuat para murid menoleh ke arah sumber suara dan melihat wajah Bu Wiwik memerah dan menatap tajam ke arah kami lalu kami seolah mengerti apa yang tergambar di wajah beliau langsung duduk di tempat masing-masing, termasuk anak baru tersebut duduk di kursi kosong yang letaknya di belakangku. Aku menghela napas pendek dan memandang langit melalui jendela.


“Apa yang harus kulakukan sekarang? Bertambahnya cewek di sekitarku menambah beban di kepala. Cukup Kayla yang membuatku pusing dan ada sesuatu yang berbeda setelah beberapa kejadian yang kualami bersamanya. Dia sebenarnya siapa seolah aku dengan dia terhubung oleh sesuatu,” pikirku dan seseorang melempar bungkusan kertas kepadaku. Aku melihat sekitarku dan Kayla menatapku tajam lalu membuka bungkusan kertas tersebut.


Jangan lupa, ajak aku jika murid baru itu membuatmu menderita.


Bukan berarti aku peduli kepadamu, namun ini demi kesejahteraan setiap murid!


Kayla cantik


Aku menaruh kertas itu di saku celanaku dan mendengarkan beberapa ceramah dari wali kelas kami.


...............................................


“Alex.” Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya datar.


“Kamu ketua OSIS ya?”


“Hm.”


“Boleh bantu aku keliling sekolah?”


“Maaf, ada urusan penting,” pamitku namun ia malah menahan tanganku dan langsung kutepis kasar dan tanganku langsung bergetar. Aku berlari dan malah menabrak seorang cewek di depannya dan mataku melihat bahwa yang kutabrak adalah Kayla dan langsung kutarik tangannya dan berlari entah ke mana sambil menariknya. Pandangan aneh dari beberapa siswa/i dan komentar yang terdengar membuatku jengkel dan berhenti di koridor kelas XI lalu menatap tajam ke arah mereka. Mereka seolah mengerti tatapanku langsung terdiam dan aku melanjutkan aksiku dan aku membawanya sampai ke kantin. Aku melepas tangannya dan berniat membeli air mineral, namun ia memberikan botol minumnya kepadaku. Aku mengambil botol tersebut dan segera meminum obatku lalu menyerahkan botolnya dan duduk.


“Lebih baik?” tanyanya dan kujawab dengan anggukan kepala.


“Seharusnya bilang saja dari pada ada kejadian tadi,” peringatnya dan kuangguk lemah. Dia duduk di sampingku dan mengelus kepalaku.


“A....a....a...a...aku melakukan ini sebagai t....t...te....teman,” gugupnya dan aku menahan tawaku dan berujung mendapat pukulan di bahuku.


“Sepertinya kamu suka memukul.”

__ADS_1


“Tidak juga.” Alisku terangkat dan ia melihatnya lalu menghela napas kasar.


“Arnold, Tyo, dan Andre tak pernah kupukul karena mereka tidak menyebalkan sepertimu.” Rasa penasaran pun muncul, namun kututupi dengan wajah yang menjadi ciri khasku.


“Kutub, menyebalkan, seenaknya sendiri, sering membahayakan diri sendiri dan masih banyak lagi,” jelasnya.


“Aneh, muka dua, heboh, suka memaksa, baperan, dan masih banyak lagi.” Kulihat ia tertohok dengan perkataanku dan langsung mengembungkan pipinya lalu beranjak dari bangku kantin meninggalkanku. Ingin kumenghentikannya, namun kuurung takut dia berada dalam mood swing.


“Mengenai aneh, lebih aneh siapa aku dan dia? Dia aneh karena dari sananya, sedangkan aku aneh gara-gara siapa? Mungkin dia penyebar virus aneh.”


“Mungkin perkataanmu ada benarnya.” Aku beranjak dari bangku kantin karena kaget murid baru itu berbicara di belakangku sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Sedang apa ke sini?” tanyaku dengan nada khasku.


“Melihat kalian berdua dan ternyata, kalian sedekat itu,” jawabnya sambil tertawa kecil.


“Hanya itu?”


“Tidak juga, lagipula kamu harus menemaniku keliling sekolah.”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Ada urusan.” Aku pergi meninggalkannya dan ia malah mengikutiku ke mana pun aku pergi. Di depan, ada Anaya beserta ketiga temannya dan aku malah terjebak dengan cewek-cewek ini.


“Semoga ada penyelamat dadakan dan aku akan mengabulkan apa yang ia inginkan,” harapku dalam hati dan sebuah tarikan di lenganku menolongku dari para cewek yang telah menjadi kambuhnya phobiaku. Aku menoleh dan mendapati Rena yang melakukannya dan aku langsung menepis pelan. Aku menengok dan para geng cewek tadi pergi ke arah lain, sedangkan murid baru bertanya kepada siswa/i yang lewat, namun mereka tak tahu dan ke arah kantin. Aku menghembuskan napas lega dan menoleh ke arah Rena.


“Terima kasih.”


“Tunggu.” Ia menahanku dan aku menoleh.


“Coba periksa pipi Kayla yang terlihat besar,” pintanya dan aku mulai mengerutkan alisku seolah apa yang dikatakan Rena adalah bohong. Aku menggelengkan kepala dan Rena menunjuk pipinya.


“Seminggu yang lalu, pipinya terlihat besar sekali seperti bengkak dan sampai sekarang masih membesar, padahal porsi makannya biasa saja selama seminggu ini.” Aku mengangguk asal dan menatapnya tajam sampai ia menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik tubuhnya.


“Akan kulihat dan terima kasih,” pamitku dan hpku bergetar menunjukkan ada notif dari Andre.


Andre_S

__ADS_1


Segera kumpul di ruang ekskul!


Aku meluncur ke sana dengan rasa penasaran layaknya anak IPA yang ingin tahu tentang fenomena langka yang terjadi baru-baru ini dengan sekelebat pertanyaan tentang apa yang dikatakan Rena tadi.


__ADS_2